BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

D. Analisis Nilai Kesetiaan Tokoh Utama (Ibuk)

Pada bagian ini akan diuraikan mengenai nilai kesetiaan tokoh utama

(Ibuk). Dalam novel ini terdapat nilai kesetiaan seorang ibu terhadap anak-

anak dan suaminya. Nilai kesetiaan itu diwujudkan melalui perlakuan Ibuk

kepada suami dan anak-anaknya sehingga mereka dapat melalui tantangan,

cobaan, dan masalah yang dihadapi oleh Ibuk dan keluarganya. Nilai

kesetiaan yang terkandung dalam novel ibuk, karya Iwan Setyawan:

Berikut nilai kesetiaan yang ditunjukkan dalam kutipan secara

langsung maupun tidak langsung yang ada dalam novel ibuk, karya Iwan

Setyawan:

Ibuk selalu setia kepada Bapak dan anak-anaknya. Termasuk ketika

Bayek sakit, beliau selalu menjaganya. Bahkan bila Ibuk sakit, Ibuk tidak

mempedulikannya. Berikut kutipan secara langsung yang mendukung

pernyataan tersebut:

(1) Ketika Bayek terkena pilek atau batuk, kakak dan adiknya sering tertular sakit. Ibuk yang kadang ikut sakit juga membelikan Bodrexin untuk semua anaknya. Satu tablet buat berdua. Ia sendiri selalu membiarkan sakitnya (hlm. 37).

Setiap pagi Ibuk memasak untuk anak-anak dan Bapak. Ibuk selalu

menyiapkan seragam untuk anak-anaknya. Ibuk juga tak lupa menyiapkan

bak plastik kecil untuk mandi anak-anaknya. Berikut kutipan secara

langsung yang mendukung pernyataan tersebut:

(2) Cintanya, terbisikkan lewat nasi goreng terasi. Lewat tatapan mata yang syahdu. Lewat daster batik usangnya. Ah, begitu perkasa. Lima buah hati di tangan seorang perempuan yang penuh cinta dan ketulusan (hlm. 42).

Saat lulus SD, Isa masuk sekolah menengah pertama. Ibuk menjual

emas untuk membayar uang pangkal dan uang SPP. Berikut kutipan secara

langsung mendukung pernyataan tersebut:

(3) Lulus SD, Isa dengan mudah masuk ke sekolah menengah pertama paling bagus di Batu. Ibuk menjual cincin emas satu- satunya untuk membayar uang pangkal (hlm. 65).

Ketika Ibuk hamil, Ibuk tetap membantu dalam membangun

rumah. Berikut kutipan secara tidak langsung yang mendukung pernyataan

tersebut:

(4) “Nah, kamu ini hamil kok angkat-angkat air,” sapa Mbah Carik. Ibuk sedang hamil Rini mengangkat air di dua ember plastik warna merah dari rumah Lek Sanik ke rumah kecil yang sedang dibangun (hlm. 81).

Untuk mencukupi kebutuhan hidup keluarganya. Ibuk harus

berhutang demi mendapatkan uang untuk membelikan sepatu Nani.

Berikut kutipan secara tidak langsung yang mendukung pernyataan

tersebut:

(5) “Bang Udin, saya tadi kelupaan. Sebelumnya minta maaf ya. Cicilan kemarin belum lunas semua, tapi…..”

Ibuk menghela napas sejenak. “ Sepatu Nani jebol. Dan saya mau pinjam lagi sama Bang Udin. Bisa kan, Bang?” pinta Ibuk sedang sungkan (hlm. 88).

Untuk biaya sekolah Isa masuk SMA, Ibuk harus menggadaikan

gelang emasnya ke Penggadaian melalui perantara Mak Gini. Berikut

kutipan secara tidak langsungn yang mendukung pernyataan tersebut:

(6) “Mak, gelang emas ini kira-kira bisa berapa ya? Semoga bisa nambahin biaya sekolah Bayek dan Isa,” tanya Ibuk sambil mengeluarkan gelang emas yang masih tersimpan di dalam dompet dari Toko Mas Agung (hlm. 120).

Demi biaya kuliah Bayek di Bogor, Ibuk rela menjual angkot

kesayangan Bapak. Bapak akan bekerja di tetangga sebelah menjadi sopir

truk. Berikut kutipan secara tidak langsung yang mendukung pernyataan

tersebut:

(7) “Yek, kita jual angkot kita…,” kata Ibuk (hlm. 133).

Bayek akan wawancara kerja di Jakarta, Ibuk selalu mendoakan

Bayek. Sebelum wawancara, bayek menelepon Ibuk dulu. Bayek minta

doa restu Ibuk. Bayek hidup dalam doa Ibuk. Berikut kutipan secara tidak

langsung yang mendukung pernyataan tersebut:

(8) “Buk, doakan lancar ya, Buk. Doakan Bayek dapat kerjaan. Minta Bapak doain juga Buk. Bapak Mun, Mak Gini juga. Semuanya Buk, semuanya ya. Doakan lancar,” pinta Bayek lima menit sebelum wawancara kerja dimulai.

“Iya, Yek, Ibuk akan doakan. Yang penting kamu tenang. Yang penting kamu jujur,” balas Ibuk (hlm. 139).

Ibuk yang sekarang hidupnya lebih mapan, selalu menasehati

Ibuk juga berpesan agar selalu kuat dan tabah. Berikut kutipan secara tidak

langsung yang mendukung pernyataan tersebut:

(9) “Itulah hidup, Yek, memang mesti dijalani dengan kuat, tabah. Dengan usaha keras. Rasa enak itu baru terasa setelah kita melalui usaha keras itu,” kata Ibuk sebelum kembali ke dapur (hlm. 240).

Cinta Ibuk tidak pernah berhenti untuk keluarga, termasuk kepada

Bapak. Mereka melalui hidup selama 40 tahun dengan berbagai tantangan

dan cobaan yang tak mudah. Mereka melalui bersama dengan usaha keras

yang begitu hebat. Berikut kutipan secara langsung yang mendukung

pernyataan tersebut:

(10) Cinta Ibuk selalu segar untuk keluarga. Cinta Ibuk selalu terang untuk Bapak. dari pertemuannya di Pasar Batu 40 tahun yang lalu sampai kepergian sang playboy pasar yang telah menjadi suami, sahabat setia, dan belahan jiwanya. 40 tahun yang lalu mereka mulai membangun kepingan-kepingan hidup. Melalui perjalanan yang saling memperkaya, memperkuat, dan melengkapi satu sama lain. Cinta mereka telah melahirkan anak-anak yang penuh cinta.

Perjalanan cinta yang sederhana tapi kokoh. Cinta yang semakin merekah. Cinta yang semakin terang. Cinta yang tak pernah luntur. Sepanjang perjalanan mereka.

Cinta Ibuk telah menyelamatkan keluarga.

Cinta Ibuk yang akan menghidupkan Bapak. Selamanya (hlm. 285).

Ketika anak-anak sakit, Ibuk memberikan perhatian penuh kepada

anak-anaknya. Ibuk juga sangat peduli ketika anak-anaknya sedang sakit.

Bahkan kalau ia tidak mempedulikan dirinya sendiri. Berikut kutipan

secara langsung yang mendukung pernyataan tersebut:

(11) Ketika Bayek terkena pilek atau batuk. Kakak dan adiknya sering tertular sakit. Ibuk yang kadang ikut sakit juga membelikan Bodrexin untuk semua anaknya. Satu tablet buat

berdua. Ia sendiri selalu membiarkan sakitnya. Alam akan menyembuhkan, kata Ibuk (hlm. 37).

Kepedulian juga ditunjukkan ketika Ibuk bertekad agar anak-

anaknya mendapatkan penghidupan yang layak sama seperti anak-anak

lainnya. Berikut kutipan secara langsung maupun tak langsung yang

mendukung pernyataan tersebut:

(12) Aku ingin anak-anakku sama dengan anak-anak lain! tekad Ibuk (hlm. 89).

Tekad Ibuk yang begitu kuat, untuk menghidupi anak-anaknya

sehingga Ibuk pun segera membelikan sepatu untuk Nani dengan penuh

semangat. Berikut kutipan secara tidak langsung yang mendukung

pernyataan tersebut:

(13) “Ni, habis ini kita ke Bata ya, Nduk,” ajak Ibuk bersemangat (hlm. 89).

Ibuk pinjam uang kepada Bang udin untuk membelikan sepatu

untuk Nani. Berikut kutipan secara langsung yang mendukung pernyataan

tersebut:

(14) “Bang Udin, saya tadi kelupaan. Sebelumnya minta maaf ya. Cicilan kemarin belum lunas semua, tapi Ibuk menghela napas sejenak. “Sepatu Nani jebol. Dan saya mau pinjam lagi sama Bang Udin. Bisa kan, Bang?” pinta Ibuk dengan sungkan (hlm. 88).

Bayek juga minta dibelikan sepatu, namun karena uangnya belum

ada. Ia suruh pinjam sepatu teman-temannya. Berikut kutipan secara tidak

langsung yang mendukung pernyataan tersebut:

(15) “Yek, kalau belum bisa beli sepatu baru, coba pinjam sepatun temanmu, biar kelihatan sama dengan teman-teman di paduan

suara ya?” saran bu Guru ketika Bayek akan meminta Ibuknya. tapi memang uang tidak ada (hlm. 91).

Pelanggan angkot Bapak sangat baik hati. Ia sampai memberikan

mesin jahit merek Singer. Ibuk memanfaatkan mesin itu untuk

memperbaiki pakaian yang bolong. Berikut kutipan secara langsung yang

mendukung pernyataan tersebut:

(16) Seragam anak-anaknya selalu rapi. Ibuk memastikan tak ada kancing yang lepas. Celana seragam yang bolong ia jahit sendiri dengan mesin jahit tua merek Singer, pemberian salah satu langganan angkot Bapak. Kerah di baju hem Bapak sudah penuh tambalan. Demikian juga celana seragam Bayek. Tak ada pergi ke tukang jahit. Tak ada pergi ke salon. Ibuk harus pintar-pintar menyiasati uang yang ada (hlm. 98).

Bayek mendapatkan tawaran promosi menjadi senior manager

operations. Bayek merayakannya dengan membantu kakaknya, Nani

membeli rumah. Hal ini menunjukkan bahwa rasa solidaritas atau

kegotong-royongan tetap dibangun dalam keluarga ini. Berikut kutipan

secara langsung yang mendukung pernyataan tersebut:

(17) Di awal tahun 2005, Bayek kembali mendapatkan promosi menjadi senior manager operations. Kali ini ia merayakannya dengan membantu kakaknya, Nani membeli rumah kecil di Gang Buntu. Sementara untuk Bayek sendiri, ia merayakannya dengan berlibur ke Prancis, berkeliling ke kota-kota di sana, sendiri (hlm. 203).

Kejujuran itu ditemukan saat Ibuk menyatakan kalau dirinya masih

punya hutang dengan Bang Udin.walaupun Ibuk akhirnya pinjam uang lagi

kepada Bang Udin. Hati Ibuk tidak mau berbohong sedikit pun. Berikut

kutipan secara tidak langsung yang mendukung pernyataan tersebut:

(18) “Bang Udin, saya tadi kelupaan. Sebelumnya minta maaf ya. Cicilan kemarin belum lunas semua, tapi…” ibuk menghela

napas sejenak. “Sepatu Nani jebol. Dan saya mau pinjam lagi sama Bang Udin. Bisa kan, Bang?” pinta Ibuk dengan sungkan (hlm. 88).

Saat Bapak bekerja sebagai sopir di rumah juragan yang keturunan

cina. Bapak dan keluarga sempat diajak berlibur. Mereka keluarga yang

baik hati. Berkat kejujuran Bapak, Bapak dan keluarga diajak pergi ke

pantai. Berikut kutipan secara langsung yang mendukung pernyataan

tersebut:

(19) Ketika Bapak bekerja di rumah mewah itu, ia sempat membawa anak-anaknya berlibur. Saat itulah pertama kalinya Isa, Nani, dan Bayek melihat pantai yang selama ini mereka tahu dari buku pelajaran saja. Ibuk tidak ikut karena harus menjaga Rini dan Mira. Juragan Bapak baik sekali. Mereka meminta Bapak untuk mengajak anak-anaknya. Kebetulan mereka membawa dua mobil dan masih ada sisa tempat untuk keluarga Pak Sopir (hlm. 96).

Ibuk selalu mendoakan Bayek setiap waktu. Ibuk juga selalu

memberi nasehat kepada Bayek untuk berbuat jujur dalam bekerja. Berikut

kutipan secara tidak langsung yang mendukung pernyataan tersebut:

(20) “Iya, Yek, Ibuk akan doakan. Yang penting kamu tenang. Yang penting kamu jujur,” balas Ibuk (hlm. 139).

Kutipan (1) dan (20) merupakan wujud dari nilai kesetiaan seorang

Ibuk. Kutipan (20) adalah nasehat dari Ibuk untuk Bayek agar selalu jujur

dalam segala perbuatannya. Kejujuran akan selalu membuahkan hasil yang

baik. Apa yang kita tanam pasti akan kita tuai hasilnya. Begitu pula

kejujuran. Kejujuran akan mendatangkan banyak orang yang percaya

dengan kita. Nasehat dan perhatiaan Ibuk kepada Bayek merupakan bukti

Dalam novel ini terdapat nilai kesetiaan seorang ibu terhadap anak-

anak dan suaminya. Nilai kesetiaan itu diwujudkan melalui usaha

perhatian seorang ibu kepada kelima anaknya dan suaminya. Walaupun

suaminya hanya sopir angkot, ia tetap berusaha setia dengan cara

membantu menghidupi keluarganya. Misalnya dengan jual perhiasan yang

dimiliki dan hutang kepada penjual alat rumah tangga.

Dalam penelitian ini, penulis menggunakan pendekatan struktural.

Novel ini di dalamnya terdapat nilai kesetiaan. Sehingga dapat

disimpulkan bahwa nilai kesetiaan erat hubungannya dengan pendekatan

struktural yang terletak pada permasalahan dari karya sastra itu sendiri.

Dalam karya sastra itu terdapat nilai kesetiaan Ibuk terhadap

keluarganya. Hal ini tergambar dari tokoh Ibuk yang selalu setia kepada

kelima anaknya dan Cerita dalam novel ibuk, karya Iwan Setyawan ini

diangkat dari kisah nyata yang dialami oleh penulis novel ini yaitu Iwan

Setyawan.

Dalam dokumen Nilai kesetiaan tokoh utama dalam novel "ibuk," karya Iwan Setyawan dan relevansinya dalam pembelajaran sastra di SMA. (Halaman 122-129)