BAB IV TEMUAN PENELITIAN
5.1 Analisis Pemahaman (Kognitif) Remaja tentang
Anwar (dalam Rakhmat, 2000:233) menyebutkan bahwa tidak akan ada teori sikap atau aksi sosial yang tidak didasarkan pada penyelidikan tentang dasar-dasar kognitifnya. Dengan kata lain, sikap seseorang ditentukan oleh pengetahuan kognitifnya. Demikian pula pada remaja. Pemahaman remaja terhadap suatu fenomena akan menjadi dasar sikapnya.
Berkaitan dengan pengetahuan remaja tentang internet, hal ini tidak dapat dipisahkan dari perkembangan TIK dan kondisi sosial yang terjadi. Pada masyarakat modern, internet telah menjadi satu kesatuan integral dalam kehidupan. Ia hadir di berbagai aspek kehidupan, memberikan pengaruh positif maupun negatif, dan menyebar begitu cepat secara global. Ada kalanya,
masyarakat yang belum memiliki pengetahuan yang cukup, sudah harus menghadapi terpaan internet yang belum ia pahami.
Oleh karena itu, Metzger dalam Nabi dan Robin (2009: 562) memaparkan bahwa kita harus membicarakan efek internet pada bentuk yang spesifik dan pada aplikasi tertentu. Ini berarti bahwa untuk melihat efek internet, tidak bisa dilakukan secara global namun harus melihat pada hal yang spesifik.
Berkaitan dengan Cyberbullying, pemahaman tentang fenomena ini pada masyarakat Indonesia masih sangat minim. Hal ini dapat dilihat dari berbagai kasus penindasan virtual yang masih terus terjadi tanpa ada pencegahan yang berarti. Praktik Cyberbullying terus mengemuka seiring dengan kejadian-kejadian sosial politik yang memanas dan kadang meruncing kepada perpecahan.
Dalam beberapa bulan ini, setelah Pilkada DKI Jakarta, mencuat kasus persekusi yang diawali dengan Cyberbullying terhadap orang-orang yang dianggap berseberangan dengan satu kelompok tertentu. Korban yang ditindas justru berasal dari kelompok paling rentan di masyarakat, perempuan dan anak-anak. Beberapa lama kasus ini menyita perhatian publik yang berujung pada penyelesaian secara hukum.
Meski telah diselesaikan secara hukum, di tataran masyarakat, perilaku persekusi ini seolah selesai sebagai pertentangan sikap politk semata. Sementara kajian lebih dalam terhadap sikap para pelaku persekusi itu sendiri tidak banyak diulas. Akibatnya, fenomena yang sama rentan kembali terjadi di momen sosial politik lainnya.
Cyberbullying yang menjadi bagian dari perilaku persekusi tersebut luput dari telaah. Sebagaimana diketahui bahwa Cyberbullying yang dialami justru menjadi awal dari tindakan-tindakan penindasan secara langsung yang dilakukan oleh kelompok ormas terhadap korban persekusi. Para pelaku persekusi mengawali aksi kriminalnya dengan memprovokasi melalui unggahan di grup ormasnya. Dari grup tersebut, orang-orang yang membaca kemudian beramai-ramai melakukan Cyberbullying terhadap korban.
Selama penindasan virtual tersebut terjadi, tidak ada sikap pencegahan yang dilakukan oleh aparat hukum. Bahkan ketika penindasan berlanjut di dunia nyata, tindakan hukum hanya ditimpakan kepada orang-orang yang melakukan kekerasan secara fisik. Ini memberikan makna kepada masyarakat bahwa kekerasan virtual tidak akan mendapat ganjaran hukuman apa-apa.
Dampak dari abainya aparat hukum terhadap penindasan virtual tersebut, masyarakat semakin tidak sadar bahwa perilaku Cyberbullying bukan hanya terjadi pada ranah politik. Cyberbullying dapat terjadi karena macam-macam alasan. Dalam dunia hiburan misalnya. Beberapa selebritis yang memiliki haters yang cukup banyak, terus-menerus dibuli secara virtual. Sayangnya, kita melihat bahwa baik artis yang dibuli maupun masyarakat umum menganggap hal tersebut sebagai hal yang biasa saja.
Setiap membuka media sosial, masyarakat dihadapkan dengan berbagai macam tindakan Cyberbullying yang semakin subur, bahkan dianggap hal yang biasa saja. Di dunia nyata, baik melalui institusi pendidikan maupun media, tidak
dibangun kesadaran tentang Cyberbullying. Maka wajar jika pengetahuan masyarakat tidak terbangun.
Bagi remaja yang aktif di media sosial, Cyberbullying bisa jadi dianggap sebagai peristiwa sehari-hari yang tidak memerlukan perhatian khusus. Di lingkungan pendidikan juga tidak ada usaha untuk menjelaskan perilaku penindasan virtual tersebut. Hal inilah yang tercermin dari hasil penelitian yang didapat.
Dalam hal pengetahuan kognitif, menunjukkan bahwa remaja di kota Medan sangat minim pengetahuannya tentang Cyberbullying. SMA Bodhicitta adalah SMA yang menggunakan media sosial sebagai sarana interaksi dalam sekolah, bahkan tiap kelas harus mempunyai grup media sosial yang menggunakan situs Line atau Whatsapp. Di dalam grup ini, guru dan murid dapat berinteraksi di luar jam kelas. Guru pun dapat mengumumkan hal yang penting terkait kegiatan sekolah melalui media sosial ini. Tugas siswa pun sudah mlai dikirim melalui email, sehingga siswa yang mampu pun, dapat bebas menggunakan handphone ke sekolah.
Gambaran di atas menunjukkan bahwa siswa SMA Bodhicitta jelas terpapar kuat oleh media sosial namun mereka tidak mendapatkan informasi yang benar mengenai efek media sosial .Sosialisasi tersebut dilakukan hanya secara accidental, dan hanya mendapatkan sekali saja pembelajaran tentang efek media sosial. Mereka pun tidak lagi mendapat perulangan sebagai penguatan pengetahuan selanjutnya tentang Cyberbullying dari guru-guru.
Siswa tidak mengetahui secara jelas dengan apa yang dimaksud dengan Cyberbullying. Siswa juga tidak mengetahui jenis-jenis Cyberbullying. Mereka memang melihat bahwa banyak terjadi ejekan dan hinaan terhadap teman atau musuh melalui media sosial.
Salah satu efek media massa adalah cyberbullying di sekolah. Daari hasil kuesioner yang dibagikan kepada responden/siswa dapat dilihat bahwa fenomena cyberbullying terjadi pada mereka namun saying sebagian besar tidak menyadari bahwa mereka sedang diintimidasi.
Beberapa perilaku Cyberbullying pernah dilakukan di sekolah dengan akreditasi tertinggi se-Sumatera Utara ini. Salah satunya adalah penggunaan akun siswa oleh temannya untuk menghina orang lain bahkan guru sekalipun. Selain itu, ada pula penyebarluasan foto-foto mereka yang kurang pantas atau jelek ke media sosial sehingga kemudian dikomentari oleh orang lain. Ada pula siswa yang pernah dikucilkan selama 2 tahun oleh teman-teman sekelasnya atas ajakan seorang teman yang yang pernah bermasalah dengannya, bahkan ada seorang siswa yang mulai dari kelas 7 sampai dengan kelas 10 terus dirundung sehingga tidak mempunyai teman di kelas.
Hasil kuesioner rata-rata menunjukkan bahwa siswa tidak setuju dengan pernyataan bahwa cyberbullying merupakan suatu kekerasan. Mereka menganggap bahwa flaming(olok-olok, dimaki), harassment( penyebaran gambar/foto/video korban), denigration (penyebaran gossip/rumor) bahkan impersonation (pembajakan akun) adalah sesuatu yang wajar dilakukan oleh para pengguna dunia maya.
Pengetahuan tentang efek cyberbullying ini penting untuk diketahui oelh para remaja. Hasil kuesioner menunjukkan juga bahwa siswa menyetujui pendapat bahwa cyberbullying bukan kejahatan yang luar biasa yang dapat membunuh karakter seseorang. Hasil ini menunjukkan bahwa siswa menyepelekan dan menganggap biasa keadaan ini, padahal cyberbullying akan memberikan efek jangka panjang yang buruk termasuk turunnya kepercayaan diri, depresi, kemarahan, kegagalan di sekolah dan di beberapa kasus yang tragis, akan menyakiti diri sendiri dan bunuh diri (Willard, 2011).
Sekolah yang memberikan fasilitas internet di sekolah, seharusnya juga bertanggung jawab memberikan edukasi kepada guru dan siswa tentang tanggung jawab penggunaan internet. Wawancara yang dilakukan dengan Bapak Budiman sebagai wakil kepala sekolah mengakui bahwa SMA Bodhicitta dan komunitas sekolahnya tidak mengetahui apa yang dimaksud dengan cyberbullying.
Ketidaktahuan pihak sekolah dalam hal ini guru-guru akan membuat tindakan cyberbullying tumbuh subur karena tidak adanya sanksi terhadap pelaku dan pertolongan untuk korban. Wawancara dengan Jackson Teddy menunjukkan ada keengganannya untuk mengadu kepada guru atas perlakuan cyberbullying yang terjadi padanya. Ia menyatakan bahwa mengadu kepada guru tidak akan memberi efek apapun, karena intimidasi pada dirinya hanya terjadi di dunia maya dan tidak menyebabkan luka fisik.