• Tidak ada hasil yang ditemukan

Analisis Pembagian Rumah Tradisional 1 Utuh

Dalam dokumen Sistem Pembagian Warisan dan Pengalihan (Halaman 60-68)

TINJAUAN WILAYAH DESA WISATA BRAYUT

JOGLO 3 PACUL GOWANG

5.1 Analisis Pembagian Rumah Tradisional 1 Utuh

1. Joglo 1

Joglo 1 merupakan salah satu rumah tradisional di desa wisata brayut yang di jadikan sebagai bangunan cagar budaya oleh pemerintah setempat. Meskipun demikian kepemilikan joglo 1 masih atas nama keluarga pemilik dan sekarang kepemilikan joglo 1 terdiri atas 3 nama

Salah satu cara pelestarian yang di lakukan untuk mempertahankan kearifan lokal akan budaya rumah tradisional khas jawa di desa wisata brayut ialah menjadikannya sebagai bangunan cagar budaya. Selain itu joglo 1 juga di gunakan sebagai salah satu homestay desa wisata brayut, terdapat 3 kamar yang dapat di gunakan pada joglo 1 yaitu sentong kanan, sentong tenggah, dan sentong kiri.

Untuk pusat kegiatan acara desa wisata dan warga brayut pun biasa di laksanakan di joglo 1.

JOGLO 1, dengan usianya yang sudah mencapai hingga 200 tahunan. Joglo 1 merupakan joglo yang menjadi ikon dari desa wisata brayut. Karena Joglo 1 telah di tetapkan sebagai bangunan cagar budaya, maka dari itu keberadaan dan kelestarian akan joglo 1 akan terus di pertahankan akan bentuk asli nya oleh pemerintah setempat. Meskipun status kepemilikan masih atas nama keluarga, namun joglo 1 sudah tidak dapat di ubah maupun di bongkar JOGLO 1 SENTONG KANAN SENTONG TENGAH SENTONG KIRI DAPUR RUANG MAKAN PENDOPO W C LUMBUNG PADI

61 2. Joglo 2

Meskipun bukan merupakan bangunan cagar budaya dan telah mengalami beberapa perubahan seperti lantai telah di keramik dan pengecatan ulang pada bagian tembok dengan tujuan untuk perawatan bangunan, namun demikian bentuk fisik bangunan joglo 2 tetap menciri khas kan rumah tradisional joglo khas jawa. Joglo 2 juga dijadikan sebagai salah satu homestay desa wisata, terdapat 3 kamar di joglo 2.

JOGLO 2

Berbeda dengan joglo 1 yang dijadikan sebagai bangunan cagar budaya. Pada joglo 2 tidak di jadikan sebagai cagar budaya karena sudah mengalami perubahan diantaranya seperti lantai berkeramik dan tembok dicat sehingga keaslian akan bangunan joglo kurang tercermin. Hal tersebut dilakukan karena menurut Ibu Arin yaitu pemilik dari bangunan joglo 2 ini

Perubahan yang terjadi pada joglo 2 dilakukan karena pertimbangan beberapa faktor, diantaranya ialah faktor kebersihan. Dengan pemasangan keramik maka joglo akan lebih mudah di bersihakan dan nampak terlihan bersih dan keset apabila di pandang mata. Salah satu upayah agar kelestarian Joglo maka joglo 2 dijadikan salah satu akomodasi homestay di desa wisata brayut.

62 3. Joglo 3

Berbeda dengan joglo 1 dan 2 , joglo 3 bukan merupakan joglo asli brayut karena menurut narasumber dan masyarakat brayut joglo 3 itu merupakan pindahan dari Ngawen. Joglo itu di beli oleh Pak Sastrosumarjo Orang tua dari bu Sri.

JOGLO 3

Kepemilikan Joglo 3 sekarang atas nama Pak Jhoni. Yang sekarang menjabat sebagai camat Pakem, namun diurus dan dirawat oleh saudaranya yaitu Ibu Sri. Dan ternyata Joglo 3 ini bukanlah asli rumah asli Dusun Brayut, melainkan hasil beli dan dipindahkan dari Ngawen lalu kemudian ke Dusun Brayut oleh orangtua Pak Jhoni dan Ibu Sri, yaitu Bapak sastro Sumarjo. Joglo 3 ini tidak ditetapkan sebagai cagar budaya karena sudah banyak perubahan dari mulai lantai yang sudah berkeramik dan juga sudah menggunakan plafon.

63 4. Ibu Siti Sutrisni

Rumah yang ditinggali oleh ibu Siti Sutrisni merupakan kepemilikan atas saudara ibu Siti Sutrisni yaitu paman dari suami Ibu Sutrisni. Kepemilikan rumah saat ini ialah atas nama alm.Bapak Suroto yang sudah menetap di Bandung. Dulu nya rumah dengan bentuk limasan ini merupakan bekas tempat ani-ani dan sekarang berubah fungsi menjadi salah satu homestay di desa wisata brayut.

LIMASAN

Rumah yang ditinggali oleh ibu Siti Sutrisni merupakan kepemilikan atas saudara ibu Siti Sutrisni yaitu paman dari suami Ibu Sutrisni. Kepemilikan rumah saat ini ialah atas nama alm.Bapak Suroto yang sudah menetap di Bandung. Dulu nya rumah dengan bentuk limasan ini merupakan bekas tempat ani-ani dan sekarang berubah fungsi menjadi salah satu homestay di desa wisata brayut

64 5. Ibu Wagiyah

Rumah Kampung dengan status kepemilikan ialah Ibu Wagiyah. Hingga saat ini Ibu Wagiyah tinggal sendiri di rumah miliknya. Ibu Wagiyah membeli tanah dan membangun. Rumah Ibu Wagiyah merupakan salah satu homestay desa wisata brayut. Hingga saat ini, belum ada perubahan pada fisik bangunan dan menurut nara sumber yaitu Ibu Wagiyah, beliau setuju apabila rumah nya tetap mencirikan kearifan lokal budaya jawa sebagai potensi perkembangan desa wisata brayut.

RUMAH KAMPUNG

Rumah dengan bentuk rumah kampung atas kepemilikan ibu wagiyah merupakan salah satu homestay di desa wisata brayut. Rumah Ibu Wagiyah bukan merupakan harta warisan, melainkan tanah yang dbeli sendiri oleh Ibu Wagiyah dan kemudian di bangun.

Mulai dari pembangunan rumah hingga saat ini, rumah Ibu Wagiyah belum mengalami perubahan.

Memang sudah dari awal pembangunan, rumah Ibu Wagiyah sudah bertembok dan berlantai keramik. Dijadikan sebagai homestay karena pertimbangan akan akomodasi kamar mandi yang cukup memadahi di rumah Ibu Wagiyah.

Ibu wagiyah pun mendukung akan perkembangan desa wisata brayut, dengan menjadikan desa wisata yang lebih dengan menjadikan rumah tradisional khas jawa sebagai homestay, guna tetap menjaga kelestarian lokal setempat.

65 6. Ibu Suparjo

Rumah Ibu Suparjo dengan jenis bentuk limasan pacul gowang ini merupakan warisan dari suami Ibu Suparjo, yaitu Alm.Bapak Suparjo. Saat ini rumah ibu suparjo pada bagian depan rumah dijadikan sebagai tempat belajar siswa SD Salsabila dan pada bagian tenggah merupakan tempat tinggal Ibu Suparjo bersama anak, menantu dan cucu nya. Kemudian pada bagian belakang merupakan dapur, dan toilet.

LIMASAN

Rumah Ibu Suparjo merupakan rumah dengan jenis bentuk limasan pacul gowang yang dipakai sebagai Sekolah Dasar Salsabila oleh warga brayut. Sudah 3 tahun lama nya rumah ini di jadikan sebagai sekolah. Meskipun kepemilikan rumah masih atas nama Ibu Suparjo dan rumah merupakan warisan dari alm. suami namun ibu suparjo tetap mempersilakan rumah nya digunakan untuk kepentingan bersama warga desa.

Selama ini rumah dengan bentuk limasan pacul gowang belum mengalami perubahan secara tampak, perubahan yang terjadi hanya dari segi pola tata ruang, dinding bertembok, lantai berkramik dan atap menggunakan plafon.

66 7. Bapak Awal Nurhandaru

Rumah Bapak Awal Nurhandaru merupakan salah satu hometay desa wisata brayut dengan jenis rumah kampung, dibangun tahun 2000 an oleh Bapak Awal Nurhandara dimana tanah merupakan warisan dari orang tua bapak Awal Nurhandaru. Kepemilikan rumah atas nama Bapak Awal Nurhandara. Selama ini keadaan rumah belum mengalami bentuk , hanya perubahan pada pola tata ruang dalam pada bangunan seperti sudah berkeramik. Respon dari Bapak dan Ibu Awal Nurhandaru pun setuju apabila rumah mereka tetap mencirikan kearifan lokal rumah tradisional jawa.

RUMAH KAMPUNG

Rumah dengan bentuk rumah kampung atas kepemilikan ibu Bapak Awal Nurhandaru, rumah ini merupakan homestay pada awalnya rumah ini merupakan sawah warisan dari orang tua dan kemudian di bangun.

Dari awal pembangunan hingga saat ini rumah dengan bentuk kampung sudah mengalami perubahan dengan penambahan ruangan dan bentuk rumah.

67 8. Bapak Sukarmin

Rumah dengan bentuk limasan, merupakan rumah dengan kepemilikan Bapak Sukarmin dengan warisan tanah dari orang tua bapak sukarmin dan kemudian di bangun. Setelah menjadi almarhum, sekarang rumah tersebut dijadikan sebagai sekolah dasar salsabila. Dari pihak keluarga pun setuju apabila rumah Bapak Sukarmin dijadikan sebagai fasilitas bersama warga desa.

SINOM

Rumah dengan bentuk sinom atas kepemilikan Bapak Sukarmin, merupakan rumah yang digunakan sebagai sekolah dasar salsabila. Baik dari pemilik maupun keluarga sudah memperbolehkan dan bersedia akan pemakaian rumah sebagai fasilitas bersama warga.

Rumah telah mengalami perubahan, dengan tetap mempertahankan bentuk asli rumah yaitu sinom. Perubahan yang terjadi yaitu pada bagian tembok, atap di plafon dan lantai berkamik serta pengecatan ulang pada tembok.

Sistem warisan yang berlaku pada rumah sinom SD Salsabila ini berstatus kepemilikan atas satu nama yaitu masih nama dari Bapak Sukarmin yaitu orang tua dari bapak poniman (kepala dusun brayut). Belum ada rencana kedepan nya akan bangunan tersebut. Sampai saat ini bangunan dengan bentuk sinom tetap di jadikan sebagai salah sekolah. Dari pihak kelurga pun setuju akan pelestarian kearifan lokal yaitu budaya rumah tradisional khas jawa.

68

5.1.2 Pecah

Dalam dokumen Sistem Pembagian Warisan dan Pengalihan (Halaman 60-68)

Dokumen terkait