• Tidak ada hasil yang ditemukan

HASIL DAN PEMBAHASAN

5.3 Analisis Model Struktural

5.3.2 Analisis Pengaruh antar Variabel

Untuk mengetahui pengaruh antar variabel laten bebas dan variabel laten terikat perlu dilakukan analisis lebih lanjut yaitu analisis pengaruh antar variabel atau analisis model struktural. Beberapa kriteria yang harus dipenuhi agar pengaruh antar variabel dapat dikatakan dignifikan/berpengaruh positif maka harus memenuhi beberapa syarat. Diantaranya t-valuepada taraf nyata 5% harus ≥ 1.96. Semakin besar t-value maka semakin menunjukkan bahwa pengaruh variabel laten terikat dengan variabel laten bebas semakin signifikan. Selain itu, semakin besar nilai loading factor (λ) yang merupakan koefisien yang menunjukkan besarnya tingkat kontribusi variabel indikator terhadap variabel latennya. Untuk menunjukkan seberapa besar variabel indikator dapat mempengaruhi variabel laten, maka dapat dilihat nilai Square Multiple Correlation (SMC). Semakin besar nilai SMC, semakin menunjukkan variabel indikator mempunyai kontribusi yang terbesar dalam mempengaruhi variabel laten. Begitu juga halnya pengaruh antara variabel laten terikat terhadap variabel laten bebas.

Untuk persamaan struktural yang pertama yaitu pengaruh variabel laten bebas modal sosial terhadap variabel laten terikat OCB adalah 3.30 > 1.96 dengan koefisien lintasan modal sosial menuju OCB yaitu 0.45 adalah signifikan (berpengaruh positif). Nilai SMC yang dihasilkan untuk menunjukkan besarnya pengaruh modal sosial terhadap OCB adalah 0.20 yang artinya modal sosial memberikan pengaruh sebesar 20% terhadap pelaksanaan OCB pegawai. Hasil tersebut sesuai dengan apa yang menjadi hipotesis dalam penelitian ini yaitu ada hubungan atau pengaruh signifikan antara modal sosial dan OCB. Hal tersebut juga sesuai dengan yang menjadi hasil dari penelitian yang telah dilakukan oleh Bolino et al. (2000), yang menyatakan bahwa “Tingginya Modal Sosial yang dimiliki individu akan mendorongnya melakukan kegiatan diluar standar minimal pekerjaannya (OCB), sehingga dapat meningkatkan keefektifan organisasi”. Jadi

dalam penelitian ini menolak hipotesis nol pertama yang menyatakan bahwa tidak ada pengaruh yang signifikan antara modal sosial dan OCB. Individu pegawai yang memiliki modal sosial yang kuat, akan lebih mudah untuk mendapatkan informasi yang dibutuhkan dan juga bantuan dari rekan kerjanya dalam hal-hal yang berkaitan dengan pekerjaan, sehingga merekapun juga tidak akan segan-segan menunjukkan kinerja yang melebihi standart formal dari pekerjaannya.

Untuk persamaan struktural yang kedua yaitu pengaruh variabel laten bebas modal sosial terhadap variabel laten terikat kepercayaan memiliki nilai-t sebesar 4.55 > 1.96 dengan koefisien lintasan modal sosial menuju kepercayaan yaitu 0.45 adalah signifikan (berpengaruh positif). Nilai SMC yang dihasilkan untuk menunjukkan besarnya pengaruh modal sosial terhadap kepercayaan adalah 0.20 yang artinya modal sosial memberikan pengaruh sebesar 20% terhadap kepercayaan. Hasil tersebut sesuai dengan hasil penelitian sebelumnya yang telah dilakukan oleh McAllister (1995) yang menyatakan bahwa kepercayaan merupakan anteceden dan sekaligus hasil dari suksesnya aksi kolektif (modal sosial) dari suatu komunitas/organisasi. Diperkuat dengan hasil penelitian dari Adler dan Kwon (2002) yang menyatakan bahwa “Dalam konteks organisasi untuk keefektifan organisasi, kepercayaan dan modal sosial merupakan konstruk yang saling menguatkan”. Jadi dengan semakin kuatnnya modal sosial yang melekat pada diri setiap individu pegawai yang ada di PDAM Tirta Kahuripan Kabupaten Bogor akan membuat individu pegawai tersebut memiliki kedekatan satu sama lain dan merasa menjadi bagian dari keluarga besar PDAM Tirta Kahuripan Kabupaten Bogor, sehingga akan menumbuhkan rasa saling mempercayai antar sesama pegawai maupun dengan pihak manejemen bahwa tidak ada pihak yang dirugikan dalam hubungan kerjasama tersebut dan kerjasama yang ada adalah untuk mencapai kepentingan bersama.

Untuk persamaan struktural yang ketiga yaitu pengaruh variabel laten terikat kepercayaan terhadap variabel laten terikat OCB memiliki nilai-t sebesar 3.71 > 1.96 dengan koefisien lintasan kepercayaan menuju OCB yaitu 0.61 adalah signifikan (berpengaruh positif). Nilai SMC yang dihasilkan untuk menunjukkan besarnya pengaruh kepercayaan terhadap OCB adalah 0.37 yang artinya kepercayaan memberikan pengaruh sebesar 37% terhadap OCB. Hasil tersebut

sesuai dengan hasil penelitian sebelumnya yang telah dilakukan oleh Wisnu Prajogo (2005) yang menyatakan bahwa kepercayaan akan mempengaruhi OCB secara langsung.

Sedangkan untuk menjawab hipotesis kedua dalam penelitian ini yang berkaitan dengan pengaruh variabel moderasi dari kepercayaan didapatkan dari Persamaan 3.8 yang merupakan hasil perkalian antara koefisien lintasan persamaan struktural kedua dengan koefisien lintasan persamaan struktural ketiga dari model struktural yang terbentuk. Sehingga didapatkan nilai koefisien lintasan dari variabel moderasi adalah 0.27 (0.45 x 0.61). Nilai SMC yang didapat adalah 0.073. Nilai-t dari pengaruh variabel moderasi kepercayaan dapat dilihat dari nilai hasil keluaran LISREL pengaruh interaksi tak langsung modal sosial ke OCB yaitu sebesar 3.13. Yang berarti hipotesis nol kedua dari penelitian ini yang menyatakan tidak ada pengaruh signifikan dari peran pemoderasian kepercayaan dalam hubungan antara modal sosial dan OCB ditolak.

Jadi bisa dikatakan bahwa variabel moderasi kepercayaan memberikan pengaruh signifikan terhadap hubungan antara modal sosial dan OCB yaitu sebesar 7.3%. Adanya kepercayaan akan semakin memperkuat modal sosial dalam mendorong pegawai menunjukkan OCB dalam bekerja, yaitu sebesar 7.3% lebih besar dibandingkan dengan tidak adanya kepercayaan (pengaruh langsung modal sosial terhadap pelaksanaan OCB). Hasil tersebut juga mendukung hasil penelitian terdahulu yang telah dilakukan oleh Adler and Kwon (2002) yang menyatakan bahwa “Dalam konteks organisasi, untuk kepentingan efektivitas organisasional modal sosial dan kepercayaan berfungsi saling menguatkan”. Hal tersebut diperkuat dengan pendapat dari Fukuyama (1995) yang menyatakan bahwa pegawai yang memiliki kepercayaan (harmony, reliability, concern) tinggi di lingkungan kerjanya akan dapat bekerjama secara lebih efektif, oleh karena ada kesediaan diantara mereka untuk menempatkan kepentingan kelompok di atas kepentingan individu, sehingga mereka lebih mudah bekerjasama dengan rekan kerjanya dan memiliki loyalitas pada perusahaan, sehingga akan memperkuat modal sosial yang melekat pada setiap individu pegawai yang pada akhirnya mereka akan secara sukarela memperlihatkan OCB dalam bekerja dengan berkinerja melebihi apa yang dipersyaratkan secara formal oleh pekerjaannya. Hasil analisis model struktural modal sosial, kepercayaan dan OCB secara

keseluruhan dengan nilai koefisien estimasi, nilai-t dan nilai SMC bisa dilihat pada Tabel 20.

Tabel 20 Nilai-t, Koefisien Estimasi, dan SMC Model Struktural

Jalur Koefisien

Estimasi

Nilai-t SMC Kesimpulan

Pengaruh

Modal Sosial => OCB 0.45 3.30 0.20 Signifikan

Modal Sosial => Kepercayaan 0.45 4.55 0.20 Signifikan

Kepercayaan => OCB 0.61 3.71 0.37 Signifikan

Pengaruh Moderasi dari Kepercayaan

0.27 3.13 0.073 Signifikan