BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
B. Analisis Penulis
Hal-hal yang meringankan:
a. Terdakwa sopan dan berterus terang dalam memberikan keterangan
b. Terdakwa mempunyai tanggungan keluarga.
Menimbang, bahwa berdasarkan hal-hal tersebut diatas, hemat majelis hakim pidana sebagaimana pada amar putusan sudah layak dan setimpal serta cukup adil dijatuhkan kepada terdakwa
Menimbang, bahwa mengenai barang bukti sebagaimana tersebut diatas, statusnya akan disebutkan dalam amar putusan
Menimbang, karena terdakwa akan dijatuhi pidana, maka harus pula dibebani membayar biaya perkara yang jumlahnya akan diebut dalam amar putusan.
Memperhatikan Pasal 2, Pasal 3, Pasal 9, Pasal 18 UU No. 31 Tahun 1999 jo UU NO. 20 Tahun 2001 tentang perubahan atas UU No. 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana korupsi, Pasal 55 ayat (1) ke -1 KUHP, Pasal 22, 193, 197 dan 222 KUHAP, serta ketentuan hukum lain yang bersangkutan.
sebagai hal yang harus dimuat dalam putusan misalnya dakwaan JPU, keterangan terdakwa, keterangan saksi, barang-barang bukti, dan pasal-pasal dalam hukum pidana.
Tindak pidana yang telah diperbuat oleh terdakwa menurut penulis merupakan kejahatan yang luar biasa sehingga sudah sangat relevan apabila terdakwa dijatuhi pidana hukuman sesuai dengan aturan Pasal 3 UU No. 31 Tahun 1999 jo UU No.
20 Tahun 2001 tentang perubahan atas UU No. 31 tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi. Dengan memperhatikan fakta yang terungkap dipersidangan, bahwa Negara dalam hal ini Kementerian Kesehatan RI telah mengalami kerugian sebesar Rp. 4.321.776.400,- (empat milyar tiga ratus dua puluh satu juta tujuh ratus tujuh puluh enam ribu empat ratus rupiah ).
Tetapi didalam persidangan juga terungkap fakta bahwa terdakwa tidak pernah menikmati atau menerima uang yang berasal dari kejatahan tersebut sehingga hakim mempertimbangkan bahwa terdakwa tidak patut untuk dikenakan uang pengganti kerugian negara.
Menurut hemat penulis penjatuhan pidana penjara selama 1 (satu) tahun dan 2(dua) bulan terhadap terdakwa sudah sangat relevan dengan perbuatan atau tindak pidana yang diperbuatnya. Sehingga pengambilan Putusan yang
diambil oleh Majelis Hakim terkait dengan perkara ini sudah sangat adil dan sesuai dengan aturan hukum yang ada.
BAB V PENUTUP A. Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan diatas, maka penulis menyimpulkan beberapa hal sebagai berikut :
1. Pengaturan terkait pengadaan barang dan jasa oleh pemerintah diatur dalam Peraturan Presiden Nomor 54 Tahun 2010 tentang Pengadaan barang dan jasa pemerintah jo. Pepres No. 35 Tahun 2011 tentang perubahan atas Pepres No. 54 Tahun 2010 tentang pengadaan barang dan jasa pemerintah Jo. Pepres No. 70 Tahun 2012 tentang Perubahan Kedua atas Pepres No. 54 Tahun 2010 tentang pengadaan barang dan jasa pemerintah. Terkait hubungannya antara tindak pidana korupsi dengan proyek pengadaan barang dan jasa yaitu adanya beberapa tindak pidana korupsi yang dapat terjadi dalam proses pengadaan barang dan jasa tersebut, diantaranya: dapat merugikan keuangan dan perekonomian Negara, penyelewengan jabatan, suap menyuap, benturan kepentingan dalam pengadaan, gratifikasi, perbuatan curang dan pemerasan.
2. Penerapan hukum pidana materiil terhadap tindak pidana korupsi yang dilakukan seccara bersama sama pada
putusan Nomor : 34/Pid.Sus-TPK/2015/PN.Mks telah sesuai dan memenuhi unsur delik, sebagaimana dakwaan alternative kedua yang telah dipilh oleh majelis hakim yang menyatakan terdakwa bersalah melakukan tindak pidana korupsi. Dan juga telah tepat dalam perkara ini diterapkan Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP karena dalam perkara ini terdakwa telah melakukan tindak pidana secara bersama-sama.Pertimbangan hukum oleh majelis hakim dalam menjatuhkan putusan terhadap terdakwa sudah sangat sesuai dengan aturan hukum yang berlaku, karena apabila dilihat telah sesuai dengan unsur-unsur tindak pidana korupsi, keterangan saksi, ahli, keterangan terdakwa dan barang bukti yang diperoleh saat proses persidangan , serta hal – hal yang memberatkan dan meringankan terdakwa.dan majelis hakim berdasarkan fakta persidangan
berpendapat bahwa terdakwa mampu
mempertanggungjawabkan perbuatannya serta tidak ada alasan penghapusan pidana.
B. Saran
Berdasarkan uraian sebelumnya, maka penulis menyakankan beberapa hal, sebagai berikut :
1. Diharapkan bagi para pelaku tindak pidana korupsi agar diberikan atau dijatuhi hukuman yang lebih memberatkan
dikarenakan tindak pidana korupsi merupakan perbuatan atau kejahatan yang luar biasa sehingga dapat menimbulkan efek jera terhadap pelaku.
2. Terkait proses pengadaan barang dan jasa yang diatur dalam Pepres sudah sangat jelas dan dapat dimengerti namun perlu adanya sanksi tegas yang diatur didalam pepres agar kedepannya para pihak bisa lebih teliti dan cermat dalam mengadakan proyek pengadaan barang dan jasa.
3. Para aparat penegak hukum baik kejaksaan, kepolisian, peradilan dan aparat penegak hukum lainnya agar lebih mengetahui tentang pemahaman terkait ilmu hukum yang baik agar dalam menangani atau memutus suatu perkara sesuai dengan tindak pidana yang dilakukan oleh terdakwa .
DAFTAR PUSTAKA
Buku
Amiruddin. 2010. Korupsi Dalam Pengadaan Barang Dan Jasa. Genta Publishing: Yogyakarta.
Andi Hamzah. 1994. Asas-Asas Hukum Pidana (Edisi Revisi).PT. Rineka Cipta: Jakarta
Djoko Prakoso. 1987. Pembaharuan Hukum Pidana Di Indonesia. Liberty:
Yogyakarta
Evi Hartanti. 2012. Tindak Pidana Korupsi, Sinar Grafika: Jakarta
Erdianto Effendi. 2011. Hukum Pidana Indonesia - Suatu Pengantar, PT.
Refika Aditama: Bandung
Ermansjah Djaja. 2010. Memberantas Korupsi Bersama KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi) Sinar Grafika: Jakarta
Guse Prayudi. 2010. Tindak Pidana Korupsi Dipandang dalam Berbagai Aspek. Pustaka Pena: Yogyakarta.
Hamzah, A. Pemberantasan Korupsi melalui hukum Pidana Nasional dan Internasional. Ed. Revisi, 3.Jakarta: PT Raja Grafindo Persadaa, 2007.
Hamzah Hatrik. 1996. Asas Pertanggungjawaban Korporasi Dalam Hukum Pidana Indonesia. Raja Grafindo: Jakarta
Ikak G.Patriastomo. Pengadaan Barang / Jasa Pemerintah Keppres No.
80 Tahun 2003.Pusat Pengembangan kebijakan Pengadaan Barang / Jasa Publik
KPK, Buku Saku Memahami Untuk Membasmi Korupsi, Jakarta.
P.A.F. Lamintang. Dasar-dasar Hukum Pidana Indonesia, (Bandung: PT.
Citra Aditya Bakti, 1997)
Sudikno Mertokusumo, Mengenal Hukum : Suatu Pengantar, Universitas Atmajaya, Yogyakarta, 1993
Wirjono Prodjodikoro. 1986. Asas-asas Hukum Pidana Indonesia. PT Eresko: Bandung
Yopie Morya Immanuel. 2012. Diskresi Pejabat Publik Dan Tindak Pidana Korupsi, CV Keni Media: Bandung
Adrian sutedi,2012, Aspek Hukum Pengadaan Brang dan Jasa dan Berbagai Permasalahannya, ed.2 cet. 1,Sinar Grafika, Jakarta
Jurnal
Jurnal Hukum Amanna Gappa, Hubungan Indonesia dengan prinsip Non Refoulement Dalam Perspektif Hukum Internasional, Vol. 20 Nomor 2, 2012. Fakultas Hukum Universitas Hasanuddin.
Jurnal Hukum Amanna Gappa, Jejak Demokrasi Lingkungan Dalam Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009,Vol. 21 Nomor 2. 2013.
Fakultas Hukum Universitas Hasanuddin.
Peraturan Perundang-undangan
UU No 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi
UU No 30 Tahun 2002 tentang Komisi Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi
UU No 20 Tahun 2001 tentang Perubahan Atas UU No 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi
PEPRES No. 4 Tahun 2015 tentang Perubahan Keempat atas Peraturan Presiden No. 54 Tahun 2010 tentang Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah
PEPRES No. 54 Tahun 2010 tentang Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah
PEPRES No. 172 Tahun 2014 tentang Perubahan ketiga atas peraturan Presiden No. 54 Tahun 2010 tentang Pengadaan Barang/Jasa pemerintah
PEPRES No. 70 Tahun 2012 tentang perubahan kedua atas pepres No.
54 Tahun 2010 tentang Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah
Undang-Undang No 1 Tahun 1946 Tentang Kitab Undang-Undang Hukum Pidana
Undang-Undang No 8 Tahun 1981 Tentang Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana