• Tidak ada hasil yang ditemukan

a. Terhadap Keterangan Para Saksi.

1. Keterangan saksi Ruarid Kurniawan alias Ruri

Dari keterangan saksi Ruarid Kurniawan alias Ruri dapat diketahui bahwa pada dasarnya ia tidak tahu siapa pelaku pencurian kabel listrik tersebut hanya saja ia diberitahu oleh pihak kepolisian bahwa terdakwa Kohiruddin telah mengaku sebagai pelakunya.

Di dalam Pasal 185 ayat (1) KUHAP disebutkah bahwa keterangan saksi sebagai alat bukti ialah apa yang saksi nyatakan di sidang pengadilan. Kemudian dalam penjelasan Pasal 185 ayat (1) KUHAP dinyatakan bahwa dalam keterangan saksi tidak termasuk keterangan yang diperoleh dari orang lain atau testimonium de auditu. Maksudnya adalah bahwa keterangan saksi yang diperoleh dari orang lain bukanlah alat bukti yang sah.67

Dengan demikian, berdasarkan Pasal 185 ayat (1) KUHAP maka keterangan saksi Ruarid Kurniawan alias Ruri ini tidak dapat dijadikan sebagai alat bukti untuk menyatakan terdakwa sebagai pelaku tindak pidana

67

sebab ia hanya diberitahu oleh pihak kepolisian bahwa terdakwa yang telah mengaku sebagai pelaku yang telah mengambil kabel listrik itu.

2. Keterangan Saksi R. Hasibuan (Verbalisan).

Saksi R. Hasibuan merupakan penyidik pembantu yang juga ikut memeriksa terdakwa di kepolisian. Saksi menerangkan bahwa terdakwa (Kohiruddin) ada menandatangani Berita Acara Pemeriksaan di kepolisian dan itu dilakukan terdakwa (Kohiruddin) tanpa ada paksaan dari siapapun dan selama pemeriksaan tidak ada dipukul. Pada dasarnya keterangan yang disampaikan saksi R. Hasibuan ini tidak perlu di pertimbangkan oleh majelis hakim sebab keterangan yang disampaikan oleh saksi R. Hasibuan ini tidak bernilai pembuktian.

Saksi adalah orang yang dapat memberikan keterangan guna kepentingan penyidikan, penuntutan dan peradilan tentang suatu perkara pidana yang ia dengar sendiri, ia lihat sendiri dan ia alami sendiri (Pasal 1 butir 26 KUHAP).

Selanjutnya Pasal 1 butir 27 KUHAP menyebutkan bahwa keterangan saksi adalah salah satu alat bukti dalam perkara pidana yang berupa keterangan dari saksi mengenai suatu peristiwa pidana yang ia dengar sendiri, ia lihat sendiri dan ia alami sendiri dengan menyebut alasan dari pengetahuannya itu.

Keterangan saksi yang memiliki nilai pembuktian adalah keterangan saksi mengenai peristiwa pidana yang dilihat sendiri, didengar sendiri dan dialami sendiri serta menyebutkan alasan dari pengetahuannya.

Dengan demikian maka dapat disimpulkan bahwa keterangan yang disampaikan R. Hasibuan di persidangan sama sekali tidak mengandung nilai pembuktian karena keterangan itu ia berikan tidak berdasarkan atas apa yang ia lihat, ia dengar maupun ia alami sendiri bahkan seharusnya R. Hasibuan tidak dapat dijadikan sebagai seorang saksi karena ia tidak memenuhi kapasitas sebagai seorang saksi sebab ia tidak melihat, tidak mendengar dan tidak mengalami sendiri peristiwa pidana sebagaimana dakwaan jaksa penuntut umum.

Dengan demikian maka hanya ada satu keterangan saksi yaitu keterangan saksi yang dikemukakan oleh saksi Ruarid Kurniawan alias Ruri, bahwa perusahaan ada kehilangan kabel listrik namun ia tidak tahu siapa yang mencurinya. Meskipun keterangan yang disampaikan oleh saksi Ruarid Kurniawan alias Ruri ini pun pada dasarnya tidak memenuhi ketentuan batas minimum pembuktian.

Hal ini sesuai dengan ketentuan yang diatur dalam Pasal 185 ayat (2) KUHAP yang menyatakan bahwa keterangan seorang saksi saja belum dapat dianggap

sebagai alat bukti yang cukup untuk membuktikan kesalahan terdakwa, atau yang dalam istilah hukum di sebut dengan unus testis nullus testis.68

Sementara untuk saksi lainnya yaitu saksi korban Tan Thun Sie dan Toni Kuswoyo alias Toni, Jaksa Penuntut Umum tidak mampu menghadirkannya ke persidangan meskipun Majelis Hakim yang memeriksa dan memutus perkara dengan terdakwa Kohiruddin telah mengeluarkan penetapan tertanggal 13 November 2007, Nomor: 3212/Pid.B/2007/PN.Mdn yang memerintahkan agar Jaksa Penuntut Umum menghadirkan saksi-saksi sebagaimana tercantum dalam berkas perkara. Namun walaupun demikian ternyata Jaksa Penuntut Umum tetap tidak mampu menghadirkan saksi-saksi yang dimaksud terutama saksi korban.

Padahal menurut Irma Hasibuan menyatakan bahwa Jaksa Penunut Umum wajib menghadirkan seluruh saksi-saksi yang terdapat dalam Berita Acara Pemeriksaan ke sidang pengadilan kecuali bagi saksi-saksi sebagaimana yang diatur dalam Pasal 162 ayat (1) KUHAP. Lebih lanjut ia menjelaskan bahwa apabila ada saksi yang tidak mau hadir ke persidangan meskipun telah di panggil secara sah maka Jaksa Penuntut Umum dapat meminta kepada majelis hakim

68

Ini berarti jika alat bukti yang dikemukakan jaksa penuntut umum hanya terdiri dari seorang saksi saja tanpa ditambah dengan keterangan saksi yang lain atau alat bukti lain, “kesaksian tunggal” yang seperti ini tidak dapat dinilai sebagai alat bukti yang cukup untuk membuktikan kesalahan terdakwa sehubungan dengan tindak pidana yang didakwakan kepadanya. Perhatikan M. Yahya Harahap, Pembahasan Permasalahan Dan Penerapan KUHAP, Pemeriksaan Sidang

untuk mengeluarkan penetapan sebagai upaya paksa terhadap saksi agar hadir kepersidangan.69

Undang-undang juga mengatur bahwa dalam hal saksi tidak hadir meskipun telah dipanggil dengan sah dan hakim ketua sidang mempunyai cukup alasan untuk menyangka bahwa saksi itu tidak akan mau hadir, maka hakim ketua sidang dapat memerintahkan supaya saksi tersebut dihadapkan kepersidangan (Pasal 159 ayat (2) KUHAP).

Terhadap kewajiban saksi harus hadir kepersidangan, undang-undang juga memberi pengecualian sebagaimana yang diatur dalam Pasal 162 ayat (1) KUHAP yang menyatakan jika saksi sesudah memberi keterangan dalam penyidikan meninggal dunia atau karena halangan yang sah tidak dapat hadir di sidang atau tidak dipanggil karena jauh tempat kediaman atau tempat tinggalnya atau karena sebab lain yang berhubungan dengan kepentingan Negara maka keterangan yang telah diberikannya itu dibacakan.

Menurut Irma Hasibuan, keterangan saksi adalah apa yang saksi nyatakan di sidang pengadilan sebagaimana yang diatur dalam KUHAP sehingga kekuatan hukum atas keterangan yang disampaikan di persidangan dengan keterangan saksi yang terdapat dalam berita acara pemeriksaan yang dibacakan dipersidangan itu tidak sama namun terhadap keterangan saksi yang terdapat dalam berita acara pemeriksaan yang dibacakan dipersidangan tersebut, hakim

69

Hasil Wawancara Dengan Jaksa Irma Hasibuan di Kejaksaan Negeri Medan Pada Tanggal 21 Januari 2011.

dapat memberikan penilaian apakah ada persesuaian dengan alat bukti lain yang dihadirkan dipersidangan atau dengan kata lain keterangan tersebut dapat diketegorikan sebagai alat bukti petunjuk.70

Namun terhadap saksi korban Tan Thun Sie dan Toni Kuswoyo alias Toni yang tidak dapat dihadirkan oleh Jaksa Penuntut Umum kepersidangan, menurut majelis hakim pengecualian yang terdapat dalam Pasal 162 ayat (1) KUHAP tidak berlaku sehingga tidak ada alasan bagi para saksi untuk tidak hadir di persidangan sebagaimana yang tertuang dalam salah satu pertimbangan hakim yang menyebutkan:

Menimbang bahwa majelis dipersidangan telah mengingatkan jaksa penuntut umum tentang belum cukupnya bukti untuk menuntut terdakwa di persidangan dengan memerintahkan agar jaksa memanggil saksi-saksi lainnya terutama saksi korban sebagaimana yang tercantum dalam Berita Acara Pemeriksaan namun Jaksa Penuntut Umum menyatakan ia tidak akan memanggil lagi saksi-saksi tersebut, meskipun syarat-syarat sebagaimana disebutkan dalam pasal 162 ayat (1) KUHAP tidak terpenuhi.71

Dengan demikian, seharusnya Jaksa Penuntut Umum berdasarkan penetapan yang telah dikeluarkan oleh majelis hakim sebelumnya tertanggal 13 November 2007, Nomor: 3212/Pid.B/2007/PN.Mdn, dapat meminta bantuan pihak kepolisian untuk menghadirkan para saksi tersebut dan bila para saksi yang dimaksud tetap tidak mau hadir maka terhadap mereka dapat dituntut secara

70

Hasil Wawancara Dengan Jaksa Irma Hasibuan di Kejasaan Negeri Medan Pada Tanggal 21 Januari 2011.

71

pidana berdasarkan Pasal 224 KUHP dengan ancaman pidana salama-lamanya sembilan bulan.

b. Terhadap Barang Bukti.

Selain menghadirkan saksi-saksi, jaksa penuntut umum juga mengajukan barang bukti ke persidangan yaitu berupa 2 (dua) gulungan kabel listrik warna hitam dan biru, namun setelah diteliti oleh majelis hakim ternyata proses penyitaan barang bukti tanpa izin dari Pengadilan Negeri Medan.

Pasal 38 ayat (1) KUHAP menentukan bahwa penyitaan hanya dapat dilakukan oleh penyidik dengan surat izin ketua pengadilan Negeri setempat. Selanjutnya Pasal 38 ayat (2) KUHAP menyatakan dalam keadaan yang sangat perlu dan mendesak bilamana penyidik harus segera bertindak dan tidak mungkin untuk mendapatkan surat izin terlebih dahulu, tanpa mengurangi ketentuan ayat (1), penyidik dapat melakukan penyitaan hanya atas benda bergerak dan untuk itu wajib segera melaporkan kepada ketua Pengadilan Negeri setempat guna memperoleh persetujuannya.

Menurut M. Yahya Harahap, sebelum penyidik melakukan penyitaan, lebih dulu meminta izin ke Ketua Pengadilan Negeri setempat. Dalam permintaan tersebut, penyidik memberi penjelasan dan alasan-alasan pentingnya dilakukan

penyitaan, guna dapat memperoleh barang bukti baik sebagai barang bukti untuk penyidikan, penuntutan dan untuk barang bukti dalam persidangan pengadilan.72

Berdasarkan Pasal 38 KUHAP dan doktrin yang dikemukakan oleh M. Yahya Harahap tersebut maka jelas bahwa Jaksa Penuntut Umum tidak teliti didalam menerima limpahan berkas dari penyidik kepolisian terutama mengenai barang bukti yang mengakibatkan barang bukti tersebut tidak dapat dijadikan sebagai barang bukti di persidangan.

c. Terhadap Keterangan Terdakwa.

Terdakwa Kohiruddin menyangkal atau mencabut semua keterangannya dalam Berita Acara Pemeriksaan di kepolisian dengan alasan bahwa apa yang terurai di dalam Berita Acara Pemeriksaan tidak benar karena ia tidak pernah mencuri kabel di Perumahan Harjosari Indah di Jalan Harjosari I, Kecamatan Medan Amplas. Ia memang ada menandatangani Berita Acara Pemeriksaan tapi itu ia lakukan karena takut pada polisi sebab saat ditangkap, terdakwa dipukuli dan disuruh untuk mengaku.

Pasal 189 ayat (1) KUHAP menyatakan bahwa keterangan terdakwa adalah apa yang terdakwa nyatakan di sidang tentang perbuatan yang ia lakukan atau yang ia ketahui sendiri atau alami sendiri. Ayat (2) menyatakan bahwa keterangan terdakwa yang diberikan diluar sidang dapat digunakan untuk membantu

72

M. Yahya Harahap, Pembahasan Permasalahan Dan Penerapan KUHAP Penyidikan Dan

menemukan bukti di sidang asalkan keterangan itu didukung oleh suatu alat bukti yang sah sepanjang mengenai hal yang didakwakan kepadanya.

Terhadap bunyi Pasal 189 ayat (2) KUHAP, M. Yahya Harahap mengatakan, bentuk keterangan yang dapat diklasifikasikan sebagai keterangan terdakwa yang diberikan di luar sidang ialah:

1. keterangan yang diberikannya dalam pemeriksaan penyidikan, 2. dan keterangan itu dicatat dalam berita acara penyidikan,

3. serta berita acara penyidikan itu ditandatangani oleh penyidik dan terdakwa.73

Berdasarkan Pasal tersebut dan ditinjau dari segi yuridis, terdakwa dibenarkan untuk mencabut keterangan pengakuan yang diberikan dalam pemeriksaan penyidikan. Pencabutan dilakukan selama pemeriksaan persidangan pengadilan berlangsung. Undang-undang tidak membatasi hak terdakwa untuk mencabut kembali keterangannya asal pencabutan itu mempunyai landasan alasan yang berdasar dan logis.

74

Hal itu dapat dilihat dalam Yurisprudensi Mahkamah Agung Republik Indonesia (MARI) No. 1651K/Pid/1989 tanggal 16 September 1992 menyatakan bahwa keterangan terdakwa dalam Berita Acara Pemeriksaan kepolisian yang kemudian ditarik kembali dalam suatu persidangan dengan alasan terdakwa telah

73

Mohammmad Taufik Makarao dan Suhasril, Hukum Acara pidana Dalam Teori Dan

Praktek, (Jakarta: Ghalia Indonesia, 2004), hlm. 131.

74

M. Yahya Harahap, Pembahasan Permasalahan Dan Penerapan KUHAP Pemeriksaan

dipaksa dan dipukuli oleh penyidik dan alasan ini dibenarkan pula oleh saksi dan bukti baju yang bercak darah maka penarikan keterangan yang demikian itu adalah syah karena didasari alasan yang logis sehingga keterangan terdakwa dalam Berita Acara Pemeriksaan tidak mempunyai nilai pembuktian menurut KUHAP.75

Namun hakim tidak boleh sembarangan menolak atau menerima begitu saja alasan pencabutan Berita Acara Pemeriksaan oleh terdakwa. Hakim dituntut untuk mampu menguasai hukum pembuktian dan kemampuan memberikan penilaian kekuatan pembuktian sebagaimana yang diatur dalam KUHAP yang dipadukan dengan keyakinan hakim, dengan demikian ia mampu menilai dan mempertimbangkan alasan pencabutan berdasarkan peraturan penundang-undangan.

76

Apabila hakim dapat menerima alasan pencabutan, berarti keterangan yang terdapat dalam Berita Acara Pemeriksaan dianggap tidak benar dan keterangan itu tidak dapat digunakan sebagai landasan untuk membantu menemukan bukti di sidang pengadilan. Sebaliknya apabila alasan pencabutan tidak dapat dibenarkan, karena alasan pencabutan yang dikemukakan terdakwa tidak mempunyai alasan yang mendasar dan logis maka keterangan pengakuan yang tercantum dalam berita acara penyidikan tetap dianggap benar. Hakim dapat mempergunakannya sebagai alat untuk membantu menemukan bukti di sidang pengadilan.77

75

Syafruddin Kalo, Op. Cit, hlm. 24

76

M. Yahya Harahap, Pembahasan Permasalahan Dan Penerapan KUHAP Pemeriksaan

Sidang Pengadilan, Banding, Kasasi Dan Peninjauan Kembali, Op. Cit, hlm. 326

77 Ibid,

d. Terhadap Unsur-unsur Tindak Pidana.

1. Dakwaan pertama melanggar Pasal 363 ayat (1) Ke-4e KUHP mengandung unsur-unsur sebagai berikut:

a. Terhadap unsur barang siapa.

Barang siapa ialah orang subjek hukum yang melakukan perbuatan.78 Perbuatan yang dimaksud adalah perbuatan pidana. Menurut Moeljatno79

Berdasarkan fakta-fakta yang terungkap dipersidangan maka unsur barang siapa, tidak terpenuhi karena terdakwa Kohiruddin bukanlah orang yang harus dimintai pertanggungjawaban atas suatu peristiwa pidana yang tidak dilakukannya.

perbuatan pidana adalah perbuatan yang dilarang oleh suatu aturan hukum yang diancam dengan sanksi barupa pidana tertentu bagi barang siapa yang melanggar larangan tersebut.

b. Terhadap unsur mengambil sesuatu barang, yang sama sekali atau sebagian termasuk kepunyaan orang lain.

Unsur ini termasuk unsur objektif yaitu unsur yang berada diluar keadaan batin manusia/pelaku.80

78

Suharto RM, Hukum Pidana Materil, Unsur-Unsur Obyektif Sebagai Dasar Dakwaan, (Jakarta: Sinar Grafika, 2002), hlm. 38.

Menurut Noyon Langemeyer, mengambil sesuatu barang untuk dicuri adalah mengambil yang

79

Adami Chazawi, Pelajaran Hukum Pidana 1 Stelsel Pidana, Tindak Pidana, Teori-teori

Pemidanaan Dan Batas Berlakunya Hukum Pidana, (Jakarta: Raja Grafindo persada, 2002), hlm. 71.

80

eigenmachtig yaitu karena kehendak sendiri atau tanpa persetujuan yang menguasai barang.81 Mengambil juga dapat diartikan mengambil untuk dikuasai, maksudnya waktu pencuri mengambil barang itu, barang tersebut belum berada dalam kekuasaannya.82

Dengan memperhatikan keterangan dari para saksi baik yang dikemukakan oleh saksi Ruairid Kurniawan alias Ruri maupun R. Hasibuan maka tidak satupun dari keterangan para saksi yang menyatakan atau yang mengarah bahwa terdakwa telah mengambil kabel listrik milik Tan Thun Sie (korban).

c. Terhadap Unsur dengan maksud akan memiliki barang itu dengan melawan hak.

Unsur ini termasuk unsur subjektif yaitu unsur yang melekat pada batin seseorang /pelaku.83 Pada saat mengambil barang sebagaimana yang terdapat dalam unsur sebelumnya, itu dilakukan dengan sengaja dan dengan maksud untuk memilikinya. Unsur ini juga tidak terpenuhi.

81

Sebagaimana yang dikutip oleh Suharto, Loc. Cit. 82

R. Soesilo, Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) Serta Komentar-Komentarnya

Lengkap pasal demi Pasalnya, (Bogor: Politeia Bogor, 1994), hlm 250.

83

d. Terhadap unsur yang dilakukan dua orang bersama-sama atau lebih. Unsur ini menentukan bahwa pencurian itu harus dilakukan oleh dua orang atau lebih yang semuanya bertindak sebagai pelaku atau turut melakukan sebagaimana yang diatur dalam Pasal 55.

Didalam dakwaan pertama ini, jaksa penuntut umum tidak menjabarkan / menguraikan secara lengkap posisi tindakan terdakwa Kohiruddin terhadap tindak pidana pencurian yang dilakukan secara bersama-sama dengan Andi dan Ari (saat itu Andi dan Ari belum tertangkap) sehingga dalam dakwaannya, jaksa penuntut umum tidak menjelaskan siapa sebagai pelaku, siapa yang menyuruh melakukan pencurian, siapa yang turut melakukan pencurian dan siapa yang menganjurkan untuk dilakukannya perbuatan pencurian tersebut.

Seharusnya jaksa penuntut umum didalam dakwaan pertamanya menyebutkan melanggar Pasal 363 ayat (1) Ke-4e jo Pasal 55 KUHP, sebab dalam Pasal 55 disebutkan:

Ayat (1) Dihukum sebagai orang yang melakukan peristiwa pidana: 1e. Orang yang melakukan, yang menyuruh melakukan atau

turut melakukan perbuatan itu;

2e. Orang yang dengan pemberian, perjanjian, salah memakai kekuasaan atau pengaruh, kekerasan, ancaman atau tipu daya atau dengan member kesempatan, daya upaya atau keterangan, sengaja membujuk untuk melakukan sesuatu perbuatan.

Ayat (2) Tentang orang-orang yang tersebut dalam sub 2e itu yang boleh diopertanggungkan kepadanya hanyalah perbuatan yang dengan sengaja dibujuk oleh mereka itu, serta dengan akibatnya.

Menurut Utrech, Pasal 55 KUHP ini mengatur tentang penyertaan yang dibuat untuk menghukum orang-orang yang bukan pelaku artinya Pasal 55 KUHP ini dibuat untuk menuntut pertanggungjawaban orang-orang yang tidak memenuhi semua unsur-unsur tindak pidana.84

Dengan demikian maka dengan tidak dicantumkannya Pasal 55 KUHP dalam dakwaan jaksa penuntut umum maka dakwaan tersebut kabur (obscure libel) karena tidak cermat, tidak jelas dan tidak lengkap memuat tindak pidana yang di dakwakan sehingga harus dinyatakan batal demi hukum. Hal ini sesuai dengan putusan Mahkamah Agung Nomor: 1303 K/Pid/ 1985 yang menyatakan bahwa:

Dakwaan yang hanya mencantumkan unsur-unsur pasal yang didakwakan tetapi sama sekali tidak menguraikan bagaimana terdakwa melakukan perbuatan itu, secara keseluruhan tidak cermat, jelas dan lengkap. Dakwaan dapat dikwalifikasikan obscuur libel dan harus dinyatakan batal demi hukum.85

Terhadap fakta lain yang diungkapkan oleh Majelis Hakim dalam dasar pertimbangannya berdasarkan berita acara pemeriksaan saksi korban dikepolisian yang dibacakan dipersidangan menyebutkan:

Menimbang bahwa di dalam berita acara pemeriksaan saksi korban (Tan Thun Sie) ditemukan fakta lain yaitu dalam berita acara pemeriksaan angka 10 saksi korban memberikan jawaban atas

84

Mohammad Ekaputra dan Abdul khair, Percobaan Dan Penyertaan, (Medan: USU Press, 2009), hlm. 39.

85

H. Hamrat Hamid dan Harun M. Husein, Pembahasan Permasalahan KUHP Bidang

pertanyaan penyidik sebagai berikut: “adapun sebabnya Kamal (pagawai saksi korban) memohon kepada saya (saksi) untuk menyelesaikannya dan oleh istrinya (istri Kamal) mengatakan kepada saya bahwa yang mengambil dan membakar kabel tersebut adalah Iful namun saya (saksi korban) mengatakan tidak mau tau siapa yang ambil itu, itu tanggung jawab Kamal” hal itu dikatakan kepada saya (saksi korban) pada hari jum’at tanggal 5 Juni 2007.86

Dalam pertimbangan selanjutnya disebutkan bahwa:

Menimbang bahwa dari fakta tersebut diatas majelis tidak mendapatkan keyakinan bahwa terdakwa telah mengambil atau ikut serta mengambil kabel tersebut apa lagi penyidik tidak memeriksa Kamal dan istrinya atau seseorang yang bernama Iful tersebut, karenanya majelis berpendapat unsur kedua ini dipandang telah tidak terbukti secara hukum.87

Pertimbangan ini bertentangan dengan pertimbangan sebelumnya yang menyatakan:

Menimbang bahwa majelis dipersidangan telah mengingatkan jaksa penuntut umum tentang belum cukupnya bukti untuk menuntut terdakwa di persidangan dengan memerintahkan agar jaksa memanggil saksi-saksi lainnya terutama saksi korban sebagaimana yang tercantum dalam Berita Acara Pemeriksaan namun Jaksa Penuntut Umum menyatakan ia tidak akan memanggil lagi saksi-saksi tersebut, meskipun syarat-syarat sebagaimana disebutkan dalam pasal 162 ayat (1) KUHAP tidak terpenuhi.88

Namun dalam kenyataannya majelis hakim menjadikan keterangan saksi korban yang dibacakan dipersidangan tersebut sebagai salah satu dasar pertimbangan dalam putusannya meskipun syarat-syarat yang

86

Putusan pengadilan Nomor: 3212/Pid.B/2007/PN. Mdn, hlm. 8 87

Putusan pengadilan Nomor: 3212/Pid.B/2007/PN. Mdn, hlm. 9. 88

terdapat dalam Pasal 162 ayat (1)89 KUHAP tidak terpenuhi dan berdasarkan Pasal 185 ayat (1) juga tidak dapat dijadikan sebagai alat bukti. Pasal 185 ayat (1) KUHAP menyatakan bahwa keterangan saksi sebagai alat bukti ialah apa yang saksi nyatakan disidang pengadilan.

2. Dakwaan kedua melanggar Pasal 480 ke 1e KUHP dengan unsur-unsur sebagai berikut:

a. Karena sebagai sekongkol.

b. Barang siapa membeli, menyewa, menerima tukar, menerima gadai, menerima sebagai hadiah, atau karena hendak mendapat untung, menjual, menukarkan, menggadaikan, membawa, menyimpan atau menyembunyikan sesuatu barang, yang diketahuinya atau patut disangkanya diperoleh karena kejahatan.

Menurut hemat penulis, unsur dalam pasal ini sebenarnya tidak perlu dibuktikan lagi sebab berdasarkan keterangan terdakwa ia ada menerima uang dari Andi (Daftar pencarian Orang) sejumlah Rp. 12.000,- (dua belas ribu rupiah) namun ia tidak mengetahui apakah uang itu hasil penjualan kabel curian atau tidak sementara saat itu Andi juga belum

89

Pasal 162 ayat (1) KUHAP menyatakan jika saksi sesudah memberi keterangan dalam penyidikan meninggal dunia atau karena halangan yang sah tidak dapat hadir di sidang atau tidak dipanggil karena jauh tempat kediaman atau tempat tinggalnya atau karena sebab lain yang berhubungan dengan kepentingan Negara maka keterangan yang telah diberikannya itu dibacakan.

tertangkap dan ditambah lagi tidak ada satu alat bukti lain yang dapat menunjukkan kesalahan terdakwa.

Hal ini sesuai dengan ketentuan yang diatur dalam Pasal 189 ayat (4) KUHAP yang menyatakan bahwa keterangan terdakwa saja tidak cukup untuk membuktikan bahwa ia bersalah melakukan perbuatan yang didakwakan kepadanya, melainkan harus disertai alat bukti lain.

Berdasarkan uraian tersebut di atas dan berdasarkan fakta-fakta yang terungkap dipersidangan maka dapat disimpulkan bahwa dasar pertimbangan majelis hakim dalam menjatuhkan putusan bebas Nomor: 3212/Pid.B/2007/PN. Mdn dengan terdakwa Kohiruddian telah sesuai dengan system pembuktian menurut undang-undang secara negative sebagaimana yang diatur dalam Pasal 183 KUHAP, sehingga patut dan beralasan secara hukum untuk membebaskan terdakwa dari segala dakwaan dan tuntutan Jaksa Penuntut Umum.

Dokumen terkait