4.2 Temuan Penelitian
4.2.1 Analisis Performansi, Teks, Ko-teks, dan Konteks
Performansi tradisi batagak pangulu di Jorong Gando, Nagari Piobang, Kecamatan Payakumbuh, Kabupaten Lima Puluh Kota, Provinsi Sumatera Barat dapat dikelompokan menjadi (1) acara adat/inti, (2) seremonial, dan (3) hiburan. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel 4.2 di bawah ini.
Tabel 4.2
Temuan Data Performansi
No. Kelompok Acara Bentuk Kegiatan
1. Acara Adat (Acara Inti)
a. Penyembelihan kerbau
b. Malewakan gala pangulu oleh F Dt. Patiah Baringek dengan pidato adat dan dilanjutkan dengan pidato pasambahan yang melibatkan Dt. Patiah Baringek, Dt. Kiraiang/Dt. Sirah, Dt. Tan Marajo, dan Dt. Sidi Panduko.
c. Pemasangan deta (destar) oleh A. Dt. Rajo Baguno selaku pucuak adat nagari yang sebelumnya dilakukakan pemukulan gong tujuh kali oleh niniak mamak empat suku, yaitu: A. Dt. Ajo Simarajo, M. Dt. Mangkuto, Prima Ali, S.H. Dt. Pobo, A. Dt. Sidi Marajo.
d. Pembacaan nama-nama penghulu yang baru beserta perangkatnya oleh sekretaris KAN Piobanag F. Dt. Bijo kemudian dilanjutkan penyerahan surat tanda penghulu secara simbolis kepada empat niniak mamak yang baru dilewakan.
e. Amanat pucuk adat Nagari Piobang A. Dt. Rajo Baguno
2. Acara Seremonial a. Arak-arakan penghulu yang mau dikukuhkan dan rombongan dari Balai Adat Gando ke Balai Adat Piobang berjarak lebih kurang 1,5 km untuk menjeput penghulu pucuk dan penghulu empat suku Setelah arak-arakan itu kembali lagi ke Balai Adat Gando
b. Penyambutan gubernur yang diwakili oleh staf ahli Gubernur Provinsi Sumatera Barat Prof. Dr. Rahman Sani, M.Sc. dan Bupati Lma Puluh Kota beserta unsur muspida, anggota DPRD, dan undangan lainnya dengan tari pesembahan.
c. Pembacaan wahyu ilahi oleh
Ismet dan saritilawah Ibu Mulia lalu dilanjutkan pembacaan doa oleh Ustad Hendri.
d. Sambutan dari niniak mamak
yang baru dilewakan disampaikan oleh R. Dt. Rajo Nan Panjang.
e. Laporan panita baralek pangulu oleh Bapak Iskandar.
f. Laporan panitia pelaksana
pemugaran Balai Adat Gando yang disampaikan oleh Japilus Simbara
g. Sambutan Wali Nagari Piobang Prima Afni, S. H. Dt. Pobo.
h. Sambutan Gubernur Sumatera Barat diwakili oleh staf ahli gubenur Prof. Dr. Rahman Sani, M. Sc.
i. Sambutan Bupati Lima Puluh Kota Sekaligus sebagai Ketua Lembaga Kerapatan Adat Alam Minangkabau (LKAAM) Kabupaten Lima Puluh Kota dr. Alis Marajo Dt. Sorimarajo.
j. Peresmian Balai Adat Gando yang ditandai dengan penguntingan pita oleh staf ahli gubenur Prof. Dr. Rahman Sani, M. Sc.
k. Pelepasan tamu diringi dengan tari (anak Jorong Gando punya kreasi) dan kemudian dilajutkan dengan foto bersama penghulu yang baru dilewakan.
3. Acara Hiburan a. Pada malam hari pertama
diadakan acara kesenian saluang samalam suntuak dan diselingi dengan tari-tarian oleh muda-mudi Jorong Gando.
b. Pada malam hari kedua diadakan acara kesenian talempong oleh Sanggar Seni Tradisional Tolang Pitunang dan tari-tarian yang ditampilkan oleh muda-mudi Jorong Gando.
Berikut adalah hasil temuan analisis teks, ko-teks, dan konteks seperti terdapat pada table 4.3 di bawah ini.
Tabel 4.3
Temuan Data Teks, Ko-teks, dan Konteks Tradisi
Lisan
Analisis Unsur Uraian
Batagak Pangulu 1. Struktur Wacana a. Teks 1. Struktur Makro Tema
Melegitimasi gelar penghulu di Minangkabau
2. Super Struktur 1. Pendahuluan
a. Pembukaan dengan mengucapkan salam.
b. Penyampaian pantun yang berisi pusaka nenek moyang dari dahulu tetap dipakai dan sedikit pun tidak akan hilang.
c. Sejarah nenek moyang orang Minangkabau.
2. Isi
a. Ninik yang berdua Dt. Patiah nan Sabatang dan Dt. Katumangungan dibutlah adat dan lembaga. Rantau diberi beraja dan luak diberi berpenghulu. Luak di Minagkabau terdiri atas Luak Tanah Datar, Luak Lubuk Agam, dan Luak Lima Puluh. b. Penekanan delapan perkara untuk anak
laki-laki di Minangkabau sesuai dengan pepatah adat yang dikemukakan oleh Dt. Perpatih nan Sabatang dan Dt. Katumanggungan, yaitu: (1) menjadi tuanku; (2) kedua menjadi bilal; (3) menjadi khatib; (4) keempat menjadi imam; (5) menjadi hubalang; (6) menjadi pagawai; (7) menjadi penghulu; dan (8) menjadi raja.
c. Mengukuhkan atau meresmikan 16 orang ninik mamak atau penghulu di Jorong Gando.
d. Ninik mamak sudah sepakat menerima ninik mamak yang baru untuk dibawa seilir semudik.
3. Penutup
a. Adat sudah diisi dan lumbago sudah dituang oleh ninik mamak atau penghulu yang baru maka ninik mamak yang lama sudah bisa membawa seilir semudik.
b. Pengucapan salam penutup oleh penyampai pidato (F. Dt. Patiah Baringek)
3. Struktur Mikro
1. Pantun
a. si jorong menggali lambah mamakai baju bludru gandem kok terdorong saya menyembah sagari gawa mohon ampun b. di mana suluh pelita
dicanda saluang yang bertali di mana asal nenek kita ya di lereng Gunung Merapi c. orang Padang mengumpal benang
dikumpal oleh orang Pandai Sikek dirantang runding mau panjang dikumpal menjadi singkat d. Rama-rama si kumbang jati
Katik Endah pulang berkuda Patah tumbuh hilang berganti Pusaka diterima di yang muda e. Birik-birik turun ke semak
Tiba di semak ke halaman Dari ninik turun ke mamak Dari mamak turun ke kemanakan f. Birik-birik terbang ke sasak
Dari sasak ke halaman Dari ninik turun ke mamak Dari mamak turun ke kemenakan
2. Talibun
Ulama mudik ke hulu mati ditembak ikan tilam kenalah anak bada baling pusako ninik yang dahulu ada dibuhul dikenakan setitik berpantang hilang 3. Pepatah Petitih
a. Niniak mamak nan gadang basa batuah nan bapucuak sabana bulek nan baurek sabana tunggang.
b. Bundo kanduang limpapeh rumah nan gadang sumarak anjuang nan tinggi c. Kok bulek lah buliah digolongkan, kok
pipiah lah buliah dilayangkan. d. Gayung basambuik kato bajawok. e. Barek nan sapikua ringan nan
sajinjiang
f. Bulek aia lah ka pambuluah, bulak kato karano mufakaik, dicari bulek nan sagolek, dicari pipih nan salayang.
g. Karano cadiak pusako dulu, karano pandai pusako lamo, kok basiang dinan tumbuah, kok manimbang dinan ado.
h. Karano licin cahayo alah datang, karano kilek alua alah labiah.
i. Dibawo sailia samudiak sepantang sepajapian, diimbaukan di labuah nan golong dipanggikan di pakan nan rami.
b. Kognisi Sosial Teks pidato adat dan pasambahan batagak pangulu di Minangkabau
disusun oleh tokoh-tokoh adat masa lalu. Kemudian dilanjutkan oleh para pemimpin adat pada masa sekarang. Berdasarkan hasil wawancara penulis dengan beberapa tokoh adat di Nagari Piobang disusun teks pidato dan pasambahan adalah untuk meligitimasi atau mengesahkan keberadaan penghulu di nagari.
c. Analisis Sosial Penghulu adalah pemimpin adat di Minangkabau. Jabatan penghulu adalah sebagai pemegang sako datuk secara turun-temurun menurut garis keturunan ibu dalam sistem matrilineal yang dianut oleh masyarakat Minangkabau. Sebagai pemimpin adat penghulu memelihara, menjaga, mengawasi, mengurusi, dan menjalankan seluk-beluk adat di nagari. Di samping itu, penghulu juga sebagai pemimpin dan pelindung kaumnya sepanjang adat.
2. Ko-teks a. Paralinguistik Intonasi b. Benda Material 1. Destar
2. Baju 3. Celana 4. Keris 5. Ikat Pinggang 6. Sisamping 7. Selempang 8. Tongkat 9. Gaba-gaba 10. Morawa 11. Tanduk Kerbau 12. Carano 13. Gong
3. Konteks a. Konteks Budaya Konteks budaya tradisi batagak pangulu di Jorong Gando kenagarian Piobang adalah untuk kelansungan budaya tradisi batagak pangulu dan menjaga kelestarian adat batagak pangulu. Adat yang sudah digariskan oleh Dt. Katumanggungan dan Dt. Perpatih Nan Sabatang sebagai nenek
moyang Minangkabau agar tetap dilestarikan. Dalam tataran adat Minangkabau batagak pangulu ini termasuk dalam adat yang diadatkan. Adat ini tidak mungkin diubah lagi karena nenek moyang yang menyusun dan berhak mengubahnya sudah tidak ada lagi (Dirajo, 2009:144). Kalau ada pihak-pihak lain yang mencoba menghapus atau mengubahnya akan menimbulkan celaka pada orangnya dan kalau adat yang diadatkan dihapus akan menghancurkan adat Minangkabau.
b. Konteks Sosial Konteks sosial tradisi batagak pangulu adalah bertujuan untuk melihat faktor-faktor sosial yang mempengaruhi tadisi batagak pangulu tersebut. Faktor sosial kaum menjadi bangga, derajat kaum menjadi terangkat, penghulu menjadi terhormat, dsb. c. Konteks Situasi Konteks situasi batagak panglu atau
malewakan gala di Minangkabau dilaksanakan pada hari kerja. Upacara batagak pangulu dilaksanakan pada hari Senin 10 Februari 2014. Tujuan dilaksanakan pada hari kerja adalah agar undangan terutama aparat perintah daerah dapat menghadirinya. Dalam acara ini dihadiri oleh aparat pemerintahan seprti staf ahli gubernur Sumatera Barat, Bupati 50 Kota, aparat muspida Kabupaten 50 Kota, anggota DPRD Kabupaten 50 Kota, Camat Payakumbuh, dan aparat muspika kecamatan. Kemudian tempat pelaksanaan di Balai Adat dengan halaman yang cukup luas untuk menampung undangan, ninik mamak, manti, cerdik pandai, bundo kanduang, dan anak nagari.
d. Konteks Idiologi Konteks idiologi terlihat mendominasinya pimpinan adat yang belum membawa sehilir
semudik penghulu yang belum dikukuhkan atau diresmikan untuk membicarakan masalah-masalah anak nagari yang menyangkut adat dan pembangunan.