• Tidak ada hasil yang ditemukan

B. Analisis Pertimbangan Hukum Hakim Terhadap Pertanggungjawaban

1. Analisis Pertimbangan Hakim Ditinjau Dari Konsep

1. Analisis Pertimbangan Hakim Ditinjau Dari Konsep Pertanggungjawaban Pidana.

Pertanggungjawaban pidana pada dasarnya mengarah pada pemahaman pemidanaan terhadap pelaku tindak pidana. Sebagaimana telah diungkapkan diatas, tindak pidana merupakan perbuatan yang dapat dikenakan hukuman, yang mana perbuatan tersebut mengacu baik pada pelakunya maupun akibat perbuatannya. Hubungan ini demikian eratnya, dimana seseorang melakukan suatu perbuatan yang diancamkan pidana terhadapnya, maka ia harus pula menanggung akibat dari perbuatan itu dalam bentuk pemidanaan.

Pemahaman menanggung akibat pemidanaan inilah yang dimaksud sebagai pertanggungjawaban pidana. Dengan kata lain, pertanggungjawaban pidana dimaksudkan untuk menentukan dapat atau tidaknya seseorang (dalam hal seseorang tersangka atau terdakwa) dimintakan pertanggungjawaban atas suatu tindak pidana yang dilakukan olehnya.

Unsur-unsur yang menentukan seseorang yang dapat dimintakan pertanggungjawaban atas perbuatan yang dilakukannya secara pidana dilihat dari

Perbuatan melawan hukum, kesalahan, kesengajaan dan kemampuan

memiliki kesalahan, dan mampu bertanggungjawab yang dapat dimintakan pertanggungjawaban pidananya (dihukum).122

a. Perbuatan Melawan Hukum

Hoffman menerangkan bahwa untuk adanya suatu perbuatan melawan hukum harus dipenuhi empat unsur, yaitu:

1. Er moet een daad zijn verricht (harus ada yang melakukan perbuatan); 2. Die daad moet onrechtmatig zijn (perbuatan itu harus melawan

hukum);

3. Die daad moet aan een ander schade heb bentoege bracht (perbuatan itu harus menimbulkan kerugian pada orang lain);

4. De daad moet aan schuld zijn te wijten (perbuatan itu karena kesalahan yang dapat ditimpakan kepadanya).123

Sejalan dengan Hoffman, Mariam Darus Badrulzaman mengatakan bahwa syarat-syarat yang harus ada untuk menentukan suatu perbuatan sebagai perbuatan melawan hukum adalah sebagai berikut:

1. Harus ada perbuatan. Yang dimaksud dengan perbuatan ini baik yang

bersifat positif maupun yang bersifat negatif, artinya setiap tingkah laku berbuat atau tidak berbuat;

2. Perbuatan itu harus melawan hukum; 3. Ada kerugian;

4. Ada hubungan sebab akibat antara perbuatan melawan hukum itu

dengan kerugian; 5. Ada kesalahan;

Berkaitan dengan sifat perbuatan melawan hukum, jika dilihat berdasarkan studi putusan Mahkamah Agung No.330K/pid/2012. Perbuatan Terdakwa Indra Fajar melakukan perkawinan kembali dengan Witri Ningsih tidak memenuhi syarat dan mengikuti prosedur yang disyaratkan oleh Undang-

122

S.R Sianturi, Asas-asas Pidana Indonesia dan Penerapannya, (Jakarta: Alumni Ahaem- Petehaem, 1996), hal. 244

123

undang No 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan, Peraturan Pemerintah No 9 Tahun 1975 tentang Pelaksanaan Undang-undang Perkawinan dan Kompilasi Hukum Islam, maka perbuatan Terdakwa Indra Fajar merupakan sifat perbuatan melawan hukum.

Hal ini dapat dilihat bahwa perbuatan Terdakwa Indra Fajar tersebut telah bertentangan dengan Pasal 40 jo Pasal 45 ayat 1 (satu) huruf a Peraturan Pemerintah No 9 Tahun 1975 tentang Pelaksanaan Undang-undang No 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan dan perbuatan Terdakwa Indra Fajar tersebut juga bertentangan dengan ketentuan Pasal 279 ayat 1 (satu) KUHP. Perbuatan Terdakwa tersebut telah memenuhi elemen dari sifat perbuatan melawan hukum yaitu melanggar Undang-undang berlaku.

b. Kesalahan

Dipidananya seseorang tidaklah cukup orang itu telah melakukan perbuatan yang bertentangan dengan hukum atau bersifat melawan hukum. Jadi meskipun perbuatanya memenuhi rumusan delik dalam undang-undang dan tidak di benarkan, hal tersebut belum memenuhi syarat untuk penjatuhan pidana.Untuk itu pemidanaan masih perlu adanya syarat, yaitu bahwa orang yang melakukan perbuatan itu mempunyai kesalahan atau bersalah (Subjective guilt).

Menurut Vos kesalahan mempunyai 3 tanda khusus yang terdiri atas beberapa unsur antara lain:

1. Adanya kemampuan bertanggungjawab pada si pembuat (Schuldfahigkeit atau Zurechnungsfahigkeit): artinya keadaan jiwa si pembuat harus normal.

2. Hubungan batin antara si pembuat dengan perbuatanya berupa

kesengajaan (dolus) atau keapaan (culpa): ini di sebut bentuk-bentuk kesalahan.

3. Tidak adanya alasan yang menghapus kesalahan atau tidak ada alasan

pemaaf.124

Kalau ketiga unsur tersebut ada, maka orang yang bersangkutan bisa di nyatakan bersalah atau mempunyai pertanggungjawaban pidana, sehingga bisa di pidana. Sekalipun kesalahan telah di terima sebagai unsur yang menentukan pertanggungjawaban pembuat tindak pidana, tetapi mengenai bagaimana memaknai kesalahan masih terjadi saling perdebatan di kalangan para ahli.Pemahaman yang berbeda mengenai makna kesalahan, dapat menyebakan perbedaan dalam penerapanya.

Pengertian tentang kesalahan dengan sendirinya menentukan ruang lingkup pertanggungjawaban pembuat tindak pidana. Dalam pengertian tindak pidana termasuk pertanggungjawaban pidana. Tindakan pidana hanya menunjuk kepada dilarang dan di ancamnya perbuatan dengan suatu pidana. Namun orang yang melakukan tindak pidana belum tentu di jatuhi pidana sebagaimana yang di ancamkan, hal ini tergantung pada “ apakah dalam melakukan perbuatan ini orang tersebut mempunyai kesalahan,“yang merujuk kepada asas pertanggungjawaban dalam hukum pidana.” “Tiada pidana tanpa ada kesalahan (Geen Straf Zonder Schuld: Actus Non Facit Reum Nisi Mens Sir Rea)”.

124

Dwidja Priyatno, Kebijakan Legislasi Tentang Sistem Pertanggungjawaban Pidana

Pengertian kesalahan dalam kehidupan sehari-hari dapat dilihat dari berbagai perspektif seperti filsafat agama, dan hukum pidana. Dalam kesalahan selalu ditemukan ketercelaan tertentu yang umumnya diungkapkan dengan kata “salah” atau “lalai”. Hal ini dapat dimengerti karena seseorang yang telah melakukan kesalahan baik tertulis maupun tidak tertulis akan dianggap bersalah oleh masyarakat. Dalam kamus Umum belanda Bahasa Indonesia karangan Poerwadarmita, pengertian kesalahan dibagi dalam 4 macam yaitu:125

a. Kekeliruan, kekhilafan, sesuatu yang salah. b. Perbuatan yang salah.

c. Kena salah, mendapat salah, dipersalahkan, dan d. Tidak sengaja.

Jadi kesalahan secara umum tidak diperhatikan mengapa sipelaku melakukan perbuatannya, akan tetapi lebih memperhatikan perbuatan yang dilakukan atau akibat yang ditimbulkan dari perbuatan pelaku. Sedangkan menurut S.R Sianturi, kesalahan secara umum dapat diartikan sebagai:126

a. Mengatakan yang tidak benar. b. Menyatakan ketercelaan.

c. Melakukan suatu perbuatan, tetapi tidak dengan suatu kehendak

mengenai kelanjutan perbuatannya atau akibatnya, misal; seorang yang melempari buah dipohon tapi kemudian terkena kaca jendela rumah. Untuk itu ia akan mengatakan itu adalah salah saya”.

d. Melakukan suatu tindakan/ perbuatan terlarang sesuai dengan

kehendaknya atau akibatnya itu diikutinya, missal; sengaja mencuri, sengaja membunuh.

Sementara itu, Satochid Kartanegara mengartikan kesalahan sebagai berikut:127

125

W.J.S, Poerwadarminta, Kamus Bahasa Indonesia, (Jakarta: Balai Pustaka, 1987), hal. 56

126

Sianturi, op cit. hal. 160-161

127

”Hubungan antara jiwa seseorang, yaitu yang melakukan perbuatan dengan perbuatannya, atau hubungan jiwa yang melakukan perbuatan dengan perbuatannya, dan hubungan jiwa itu adalah sedemikian rupa, hingga perbuatan itu akibat dari perbuatan yang dilakukannya itu berdasarkan pada jiwa si pelaku, dapat dipersalahkan kepadanya. Jadi disini keadaan psikis dari sipelaku sedemikian rupa hingga perbuatan itu dapat dipertanggungjawabkan kepadanya”.

Berdasarkan uraian diatas, dihubungkan dengan studi putusan Mahkamah Agung No 330k/pid/2012, Bahwa elemen kesalahan dapat dilihat dari perbuatan tindak pidana Terdakwa Indra Fajar yaitu melakukan perkawinan lagi, padahal perkawinan yang telah ada menjadi penghalang yang sah untuk melakukan perkawinan lagi. Perbuatan Terdakwa Indra Fajar bertentangan dengan hukum dan patut dicela, karena perkawinan poligami yang dilakukannya tidak memenuhi syarat-syarat yang telah ditetapkan oleh Undang- undang dan akibat perbuatannya merugikan oranglain.

c. Kesengajaan

Menurut bahasa belanda kesengajaan disebut Opzet, sedangkan dalam bahasa inggris sengaja disamakan artinya dengan Intention. KUHP tidak merumuskan apa yang dimaksud dengan Opzet akan tetapi Memori van Teolichting (MvT) mencatat bahwa yang dimaksud dengan Opzet adalah menghendaki dan menginsyafi terjadinya suatu tindakan beserta akibatnya (Willen en Wetens Veroorzaken Van Een Gevolg).128

Pengertian menurut (MvT) ini dilihat dari sifat kesengajaan dikategorikan sebagai dolus manus. Dimana apabila seseorang melakukan

128

sesuatu tindak pidana dapat diartikan bahwa ia tidak saja hanya menghendaki (Willen ) dilakukannya tindakan tersebut, tapi juga ia menginsyafi/ mengetahui (Wetten) bahwa tindakannya itu dilarang oleh Undang-undang dan diancam dengan pidana.129

Akan tetapi Van Hattum tidak setuju dengan penjelasan menurut (MvT) yang menyamakan “Willen” dengan “Wetten” tersebut. Menurut beliau pemahaman “Willen” dan “Wetten” tidak sejajar kedudukannya, sehingga dengan sengaja belum tentu meliputi juga mengetahui/ menginsyafi bahwa tindakannya itu adalah suatu pelanggaran hukum. Seseorang yang hendak (Willen ) berbuat sesuatu belum tentu menghendaki juga akibat yang timbul dari perbuatan tersebut. Dalam arti, ia belum tentu mengetahui bahwa perbuataanya itu adalah suatu pelanggaran hukum yang karena akibat yang ditimbulkannya dapat diancam pidana.

Melihat pada sifatnya, pengertian kesengajaan seperti ini disebut kleurlose begrip yaitu suatu kesengajaan yang tidak mempunyai sifat tertentu. Artinya untuk membuktikan seseorang melakukan suatu tindak pidana cukuplah dengan membuktikan adanya hubungan yang erat antara kejiwaan pelaku (bathin) dengan tindakannya.130

1. Teori Kehendak (Wilstheories) yang dikemukakan oleh Von Hippel.

Teori ini menyatakan bahwa sengaja adalah kehendak untuk Sehubungan dengan sifat kesengajaan ini dikenal 2 macam teori:

129

Sianturi, op.cit, hal. 169

130

melakukan sesuatu dan kehendak untuk menimbulkan akibat.131

2. Teori membayangkan (Voorstellingstheoris) yang dikemukakan oleh

Frank dalam Festschrif Gieszen.

Teori ini sejalan dengan pengertian sengaja menurut prinsip dolus manus.

132

Teori ini menyatakan bahwa suatu akibat tidak mungkin dapat dikehendaki. Karena pada dasarnya manusia hanya memiliki kemampuan untuk menghendaki terlaksananya suatu perbuatan, tetapi tidak berkemampuan untuk

menghendaki akibat perbuatannya.133

Sebagaimana uraian diatas, maka dapat disimpulkan bahwa kesengajaan sebagai salah satu bentuk kesalahan pidana memiliki 3 unsur yaitu:

Teori ini sejalan dengan pengertian Kleurloss begrip.

134

1. Berupa tindakan dilarang.

2. Adanya akibat yang menjadi pokok alasan diadakannya larangan

tersebut.

3. Bahwa tindakan tersebut melanggar.

Elemen kesengajaan yang dilakukan oleh Terdakwa Indra Fajar dapat dilihat dari kebebasan kehendak Terdakwa Indra Fajar yang menghendaki (Willen) dan menginsyafi (Wetten) melakukan perkawinan poligami tidak memenuhi syarat-syarat yang telah ditentukan oleh perundang-undangan

131

Mustafa Abdullah dan Ruben Achmad, op.cit, hal. 42

132

Utrecht Op.cit. Hal 307

133

Mustafa Abdullah dan Ruben Achmad, loc.cit, hal. 42-43

134

berlaku. Hal ini dapat dilihat dari perbuatan Terdakwa Indra Fajar melakukan perkawinan poligami secara sembunyi-sembunyi tanpa sepengetahuan istri yang sahnya dan tidak adanya itikad baik Terdakwa Indra Fajar dengan mengajukan permohonan ke pengadilan agama untuk mendapatkan perlindungan dan keabsahan perkawinan poligaminya. Perbuatan yang dilakukan Terdakwa Indra Fajar merupakan perbuatan yang dilarang oleh peraturan perundang-undangan berlaku.

d. Kemampuan Bertanggungjawab

Mengenai kemampuan bertanggungjawab (toerekeningsvatbaarheid) KUHP tidak memberikan perumusan. Akan tetapi kemampuan bertanggungjawab ditemukan dalam Memorie van Toelichting (Mvt) secara negatif menyebutkan mengenai pengertian kemampuan bertanggungjawab, yaitu tidak ada kemampuan bertanggungjawab pada sipembuat. Memorie van Toelichting (Mvt) hanya melihat dua hal orang dapat menerima adanya ontoerekeningsvatbaarheid (tidak ada kemampuan bertanggungjawab) yaitu:

a. Dalam hal pembuat tidak diberi kemerdekaan memilih antara berbuat

atau tidak berbuat apa yang oleh undang-undang dilarang atau diperintah, dengan kata lain dalam hal perbuatan yang dipaksa.

b. Dalam hal ada di dalam suatu keadaan tertentu sehingga ia tidak dapat menginsyafi bahwa perbuatannya dengan hukum dan ia tidak mengerti akibat perbuatannya itu, misalnya gila.135

Arti kemampuan bertanggungjawab sangat bergantung kepada ilmu pengetahuan, mengingat sulitnya sedemikian, yang membenarkan adanya penerapan sesuatu upaya pemidanaan, baik dilihat dari sudut umum maupun

135

dari orangnya. Kemampuan bertanggungjawab itu didasarkan pada suatu

keadaan dan kemampuan jiwa (verdelijke vermogens) orang tersebut.136

a. Ia mampu untuk mengetahui atau menyadari bahwa perbuatannya

bertentangan dengan hukum.

Seseorang mampu bertanggungjawab jika jiwanya sehat, yaitu apabila:

b. Ia dapat menentukan kehendaknya sesuai dengan kesadaran

tersebut.137

Dihubungkan dengan studi putusan Mahkamah Agung No 330K/Pid/ 2012, Elemen kemampuan bertanggungjawab dapat dilihat dari diri Terdakwa Indra Fajar berusia 36 tahun memiliki jiwa (bathin) yang sehat, dan tidak terdapatnya kondisi-kondisi tertentu yang dianggap sebagai kondisi-kondisi yang memaafkan, yang oleh oranglain dapat dimaklumi kenapa ia melakukan tindakan tersebut. Dengan perkataan lain tiada alasan yang meniadakan pemidanaan terhadap pelaku, yang dikenal sebagai dasar penghapus pidana meliputi alasan pemaaf dan alasan pembenar. Alasan Pemaaf termuat dalam ketentuan Pasal 44 ayat 1 (satu) KUHP berbunyi: “Barangsiapa melakukan perbuatan yang tidak dapat dipertanggungkan kepadanya karena jiwanya cacat dalam pertumbuhan atau terganggu karena penyakit, tidak dipidana”. Sedangkan Alasan pembenar termuat dalam ketentuan Pasal 50 KUHP berbunyi: “Barangsiapa melakukan perbuatan untuk melaksanakan ketentuan Undang-undang, tidak dipidana”.

136

Ibid, hal. 244-245

137

Oleh karena itu, perbuatan dari Terdakwa Indra Fajar melakukan perkawinan kembali dengan Witri Ningsih tanpa persetujuan isteri yang sah, jika dilihat dari konsep pertanggungjawaban pidana telah memenuhi elemen- elemen pertanggungjawaban pidana, sehingga patut diberikan pemidanaan atas perbuatan yang telah dilakukannya.

Dokumen terkait