• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB V. ANALISIS PERENCANAAN DAN PERANCANGAN

B. ANALISIS PERANCANGAN PERPUSTAKAAN

1. Analisis Pola Sirkulasi Pada Perpustakaan

Tujuan :

Mendapatkan pola sirkulasi dalam bangunan perpustakaan, yang utama adalah pola sirkulasi yang mendukung kegiatan mencari bahan pustaka yaitu ruang penyimpanan bahan koleksi pustaka.

Dasar Pertimbangan :

§ Pola sirkulasi yang aman dan memudahkan pengguna dalam memperoleh bahan pustaka (kemudahan pencapaian).

§ Pola sirkulasi berdasarkan pada alur kegiatan mencari bahan pustaka.

§ Pola sirkulasi yang memudahkan pengguna dalam berinteraksi secara sosial maupun antar individu.

§ Pola kelancaran sirkulasi sehingga tidak terjadi crowded. Sclupture Parkir pengunjung Parkir pengelola Bangunan publik Bangunan pengelola Bangunan perpustakaan Plaza Outdoor Vegetasi

commit to user a. Pola Sirkulasi Bangunan

Sirkulasi pada bangunan menggunakan penggabungan antara pola cluster, radial, dan linear. Pola radial digunakan pada area penerima menuju cluster - cluster zona pemanfaatan bahan pustaka, area outdoor, dan pendukung perpustakaan.

Pada zona pemanfaatan bahan pustaka menggunakan pola linear vertikal, agar pengunjung tidak mengalami disorintasi dan pengelom- pokkannya jelas.

b. Pola Sirkulasi Ruang

1) Sirkulasi Area Membaca Privat

Pada ruang membaca serius diterapkan pola sirkulasi linear, hal ini dimaksudkan agar dihasilkan arah sirkulasi yang jelas, tidak banyak orang berlalu-lalang sehingga tidak mengganggu kenya- manan dalam membaca.

Sedangkan penerapan bilik pada tiap ruang baca dimaksudkan agar teritori dan privasi tiap pengguna dapat tercapai. Setiap bilik diarahkan ke view luar bangunan untuk menambah pembentukkan suasana yang nyaman bagi psikologis pembaca.

Gambar V.21. Sirkulasi Area Membaca Private

commit to user 2) Sirkulasi area baca santai

Pada area baca santai diterapkan pola sirkulasi grid dan diletakkan terbuka di sekitar area penyimpanan koleksi pustaka. Hal ini dimaksudkan agar nanti pengunjung dapat memiliki gerak bebas dalam mengakses koleksi pustaka.

Furnitur yang digunakan berupa sofa disusun melingkar, sehinga pengunjung dapat membaca secara berkelompok dan santai.

3) Sirkulasi area diskusi

Area diskusi didesain dengan cluster yang diletakkan di sekitar area koleksi pustaka. Dengan pola melingkar pada tiap clusternya, diharapkan dapat terjadi interaksi yang lebih intim dari tiap pemakai ruang diskusi.

Gambar V.22. Sirkulasi Area Membaca Santai

Sumber : dokumen pribadi

Gambar V.23. Sirkulasi Area Diskusi

commit to user

Tiap ruang diskusi dipisahkan dengan bilik rendah sehingga menciptakan teritori ruang yang menyatu. Penggunaan bilik juga bertujuan agar dapat meredam noise yag dihasilkan ketika diskusi berlangsung.

4) Sirkulasi area baca anak

Area baca anak didesain menggunakan pola sirkulasi cluster radial. Letak tiap cluster terbuka dengan penataan koleksi pustaka yang atraktif. Dengan pola tersebut, anak lebih leluasa dalam memilih bahan pustaka dan langsung memanfaatkannya.

Gambar V.24. Sirkulasi Area Baca Untuk Anak

Sumber : dokumen pribadi

Melalui penerapan pola radial, pengawasan tiap cluster dapat dilakukan dengan jelas. Dengan pengolahan ruang baca ber- kelompok maka anak dapat membaca bersama dengan teman sebaya sehingga terjadi interaksi intim yang membuat anak merasa nyaman karena tidak merasa “sendiri”.

commit to user 2. Analisis Eksterior Bangunan

a. Analisis Bentuk Dasar Massa Bangunan yang Rekratif 1) Sumbu Imaginer

Dalam penentuan tata letak dan bentuk massa dasar bangunan perpustakaan dalam site, harus memperhatikan sumbu imajiner yang terbentuk dari kondisi di wilayah sekitar site.

Penarikan sumbu imajiner site terhadap bangunan, dapat membuat penikmat bangunan dari luar site merasa nyaman secara psikologis, karena secara visual tidak mengagetkan mata pengunjung.

Gambar V.25. Sumbu Imajiner Ada Site

Sumber : dokumen pribadi

Dalam site terpilih terdapat dua sumbu imajiner, yaitu yang berporos pada tugu perlimaan pada bagian utara serta sumbu imajiner yang berporos pada jalan utama sebagai entrance utama. Dengan demikian, susunan masa bangunan harus dapat terlihat seimbang pada sudut pandang kedua poros tersebut.

Sumbu imajiner pertama Berporos pada tugu di hook perlimaan jalan bagian utara site

Sumbu imajiner kedua Berporos pada jalan utama sebagai akses utama menuju bangunan perpustakaan.

commit to user 2) Kesan Luwes da

Pada umumnya kaku dan forma yang cenderung pengunjung mer suasananya yang Ga Masa bangunan yang diletakkan berada di bagian entrane, dan perpust Secara keseluruh persegi yang me bentuk tersebut Untuk itu diber dinamis dan luw diperoleh lebih rekreatif.

an Tidak Monoton

ya perpustakaan di Indonesia didesain dengan mal mengingat fungsi utamanya adalah fasilitas ung terkesan serius. Akan tetapi hal ini justru m

erasa tidak betah berlama-lama di perpustakaan ang tidak rileks.

Gambar V.26. Desain Perpustakaan Pada Umumnya

Sumber : dokumen pribadi

unan perpustakaan yang direncanakanan adalah ti an berdasarkan sumbu imajiner site. Bangunan pe

ian main entrance, bangunan pengelola pada bag n perpustakaan pada zona dengan tingkat konsentrasi uruhan massa bangunan terbentuk dari susuna

memberikan kesan luas dan rapi bagi pegunjung but terkadang memberi efek samping yang m berikan tambahan bentuk massa lengkung agar n luwes. Dengan demikian bentuk masa yan

bih atraktif sehingga mampu mengesankan desa

gan bentuk tas edukasi u membuat kaan karena h tiga masa n penerima bagian site rasi tinggi. unan masa ung, namun monoton. ar terkesan ang nanti desain yang

commit to user

Secara psikologi, bentuk lengkung dapat membuat kesan ruang dan bagunan menjadi lebih dinamis dan luwes secara visual. Dengan susunan massa jamak, kegiatan dalam perpustakaan dapat lebih terklasifikasikan dengan jelas, selain itu dengan peletakan masa yang demikian, plaza pada bagian tengah dapat dimanfaatkan sebagai area lansekap yang dapat membuat citra bangunan menjadi lebih rekreatif.

3) Variasi Tinggi Bangunan

Bangunan dibuat rendah pada bagian depan dan semakin tinggi pada bagian belakang. Tiap ketinggian lantai berdasarkan zona yang telah ditentukan. Zona penerima dengan ketinggian bangunan rendah agar berkesan wellcome. Pada bagian tengah bangunan dibuat terbuka agar dapat memaksimalkan penggunaan cahaya matahari alami ke dalam bangunan. Dapat dimanfaatkan sebagai plaza ataupun area outdoor.

Gambar V.27. Bentuk Susan Dasar Massa

Sumber : dokumen pribadi

Bangunan publik

Bangunan pengelola

commit to user

Gambar V.28. Bentuk Dasar Masa

Sumber : Dokumen Pribadi

Perpustakaan merupakan bangunan yang bersifat publik, sehingga bentuk bangunan yang berkesan wellcome dan mengundang sangat penting untuk dipertimbangkan. Kesan tersebut dapat diwujudkan dengan menerapkan skala rendah pada entrance bangunan, serta ketinggian bangunan yang bervariasi semakin tinggi pada bagian belakang.

4) Morfologi Icon Pustaka

Sebagai tambahan elemen bentuk yang rekreatif, dalam perancangan desain perpustakaan juga mengadaptasi dari berbagai macam elemen

Dasar masa bangunan dibuat bervariasi agar dihasilkan massa yang atraktif sesuai dengan prinsip desain yang rekreatif.

Ketinggian massa bangunan didesain tidak monoton.

commit to user

pustaka yang sering kita jumpai. Selain sebagai elemen estetik, bentuk elemen pustaka yang ditampilkan dalam bangunan juga dapat memberi identitas tersendiri terhadap bangunan secara visual.

Beberapa jenis icon yang diaplikasikan antara lain :

§ Globe

Bentuk globe dipilih karena mewakili ungkapan yang menyebutkan bahwa “perpustakaan adalah miniatur dunia”. Bentuk ini nantinya akan diadaptasi sebagai bentuk scluptur dan plaza.

§ Buku

Buku merupakan materi utama bahan pustaka. Sebuah perpustakaan identik dengan tempat penyimpanan buku. Pada desain perpustakaan, adaptasi bentuk buku diaplikasikan pada elemen tampilan bangunan berupa material kaca yang disusun menyerupai bentuk buku.

§ Education Quotes

Berbagai jenis education quotes yang mampu menambah gairah seseorang untuk terus membaca dan belajar, dan diaplikasikan langsung pada fasad bangunan.

Gambar V.29. globe

Sumber : google.com

Gambar V.30.

tumpukan buku

Sumber : google.com

Gambar V.31. Contoh Education Quotes

commit to user

b. Analisa Ekspresi Bangunan Secara Psikologis Tujuan

Mendapatkan konsep ekspresi dan tampilan bangunan Perpustakaan yang menerapkan konsep bangunan yang berkesan nyaman secara psikologis.

Dasar Pertimbangan :

§ Berpenampilan atraktif untuk menarik pengunjung.

§ Komunikatif dan representatif, mencitrakan hubungan bangunan perpustakaan yang nyaman dan tidak kaku.

§ Menciptakan kesan bangunan yang terbuka dan rekreatif.

§ Pendekatan citra bangunan sesuai kaedah psikologi arsitektur. Proses :

Bangunan Perpustakaan yang direncanakan adalah sebuah bangunan yang menerapkan unsur-unsur arsitektur yang dapat menciptakaan kesan bangunan yang rekreatif. Dalam pemikirannya, Psikologi Arsitektur diterapkan sebagai sebuah ilmu pencitraan bangunan yang dapat menjadikan suasana bangunan yang dapat mempengaruhi kesan psikologis pengguna sehingga user merasa betah dan rileks berada di dalam perpustakaan.

Dalam hal ini, bangunan perpustakaan yang direncanakan akan berusaha ditampilkan secara berbeda dari penampilan bangunan perpustakaan yang sudah ada (konvensional) guna menciptakan image atau citra baru bagi sebuah perpustakaan melalui penerapan tiga unsur psikologi arsitektur, yaitu warna, material, dan proporsi serta lima

commit to user

prinsip psikologi arsitektur ke dalam bangunan sehingga perwujudan desain yang rekreatif dapat terpenuhi dan menarik user untuk memanfaatkan perpustakaan secara kontinu.

Produk :

Beberapa strategi desain pada perancangan Perpustakaan yang bersifat rekreatif dengan penerapan unsur desain psikologi arsitektur antara lain sebagai berikut:

1) Pemisahan Teritori

Pada bangunan perpustakaan yang direncanakan, pemisahan teritori pada tiap-tiap ruang dilakukan secara jelas, meskipun tidak seluruh ruangan terpisah secara masif. Pemisahan dilakukan antara lain melalui perbedaan level lantai, penggunaan warna dan material tertentu. Perletakan ruang pada perpustakaan yang berdasarkan pada zona ruang dengan mempertimbangkan fungsi tiap ruang, seperti area baca dewasa, remaja, maupun anak, area pameran, dan lain-lain. Pemisahan teritori ruang tersebut juga mempertimbangkan aspek hubungan masing-masing ruang agar tercipta kenyamanan individu user.

Gambar V.32. bentuk teritori massa

Sumber : dokumen pribadi

1. zona penerima 2. zona pengelola 3. zona dewasa 4. zona remaja 5. zona anak 6. plaza 3 2 1 5 4 6

commit to user

Pemisahan teori pada bangunan dapat dilihat dari pengelompokan bentuk pada tiap zona. Zona pemanfaatan bahan pustaka direncanakan sebagai point of interest dengan cara membedakan bentuk bangunan zona pemanfaatan, dengan bentuk bangunan pada zona yang lain.

2) Keterbukaan

Perpustakaan merupakan sebuah bangunan yang bersifat umum, untuk itu unsur keterbukaan sangat penting untuk turut menonjolkan citra bangunan yang luas dan wellcome serta menarik pengunjung untuk ikut masuk ke dalam bangunan. Konsep keterbukaan dapat diwujudkan dengan penggunaaan material kaca pada dinding luar sebuah ruangan yang bersifat publik, misalnya ruang baca, cafe, dan ruang lainnya.

Penggunaan kaca pada dinding luar bangunan juga dapat memberikan transparansi view yang berguna untuk memberikan

Gambar V.33. penggunaan material transparan

commit to user

kesan bahwa orang yang berada di dalam bangunan seolah-olah dekat dengan alam, karena dengan melihat alam maka dapat memberikan tingkat optimalisasi lebih tinggi pada kegiatan membaca. Dengan menggunakan kaca double-layer dan anti ultraviolet maka sinar matahari dapat masuk ke dalam ruangan sedangkan panasnya dipantulkan sehingga tetap memberikan kenyamanan.

Selain bagian eksterior, pada interior bangunan perpus- takaan kaca dapat digunakan sebagai partisi antar ruang dan skylight guna memberikan pencahayaan yang alami.

3) Pembentukan karakter

Ada dua unsur karakter yang dikenal dalam pembentukan sebuah karakter desain bangunan, yaitu maskulin dan feminin. Bangunan perpustakaan yang direncanakan menggabungkan kedua unsur tersebut untuk menghasilkan citra bangunan yang kuat tetapi tetap anggun. Penggabungan dua unsur persegi dan lengkung dapt dilihat seperti pada gambar di bawah ini :

Gambar V.34. elemen lengkung yang dinamis

commit to user

Karakter maskulin diwujudkan dengan pemilihan elemen material keras maupun ekspose kekakuan struktur pada bagian tertentu. Sedangkan tampilan kesan feminin terwujud dari bentuk masa yang dinamis dengan menghadirkan unsur lengkung, terbuka, dan ringan.

4) landsekap

Landsekap merupakan salah satu unsur penting dalam pembentukan suasana bangunan yang nyaman dan rekreatif. Pemilihan elemen vegetasi disesuaikan dengan kebutuhannya. Untuk pengarah menggunakan vegetasi jenis palem dan perdu. Sedangkan sebagai peneduh pada area baca outdoor menggunakan tanaman jenis akasia maupun angsana.

Atap bangunan dimanfaatkan sebagai rof garden dan area outdoor untuk menambah kesan sejuk dan suasana yang rileks.

Gambar V.35.roof garden pada bangunan

commit to user

Elemen air selain difungsikan sebagai penurun suhu sekitar, suara gemericik dari aliran air dimanfaatkan sebagai unsur akustik yang memberikan kesan rileks. Elemen air diletakkan di sekitar zona pemanfaat ruang dan areal tanam dalam perpustakaan.

3. Analisis Interior Perpustakaan Berdasarkan Unsur Psikologi Arsitektur a. Elemen warna

Secara garis besar, warna putih akan digunakan sebagai dasar pewarnaan bangunan yang memberikan kesan luas, ringan, dan bersih. Akan tetapi untuk membentuk kesan psikologis khusus pada ruang tertentu, disesuaikan dengan zona tiap pengguna, yaitu :

§ Zona anak : warna putih dikombinasikan dengan warna merah, orange yang merupakan perpaduan antara warna merah dan kuning sehingga akan memberi kesan akrab, warna hijau yang memberi kesan muda, dan warna cerah lainnya yang menciptakan kesan semangat, energik, dan kreatif. Warna diaplikasikan pada dinding maupun furniture.

Gambar V.36. jenis vegetasi peneduh

commit to user

Gambar di bawah ini merupakan sketsa salah satu sudut ruang baca anak yang didesain terbuka dengan perpaduan warna yang memberi kesan semangat pada furnitur kursi serta rak buku.

§ Zona remaja : warna putih dikombinasikan dengan hijau yang memberi kesan muda, abu-abu yang memberi kesan seimbang, dan ungu yang memberikan intelektual, tenang dan semangat yang terkontrol.

Gambar di atas adalah sketsa gambaran ruang baca pengunjung remaja. Furnitur berwarna merah yang disusun berkelompok menciptakan suasana akrab dan semangat. Dengan aplikasi warna rak yang berbeda pada tiap jenis buku yang disimpan, membuat pengunjung lebih mudah mendapatkan bacaan yang diinginkan.

Gambar V.37.

Furnitur Warna Pada Ruang Baca Anak

Sumber : dokumen pribadi

Gambar V.38. Aplikasi Warna Pada Ruang Baca Remaja

Sumber : dokumen pribadi

commit to user

§ Zona dewasa : warna putih dikombinasikan dengan warna tanah seperti coklat, serta kuning pastel sehingga diperoleh kesan tenang namun tetap semangat.

b. Elemen skala

Pada ruang penerima menggunakan skala intim. Hal ini perlu dilakukan agar pengunjung merasa “normal” dan tidak takut. Ketinggian plafon untuk entrance sekitar 2,5 meter. Sedangkan untuk hall yang juga difungsikan sbagai ruang pameran, menggunakan skala yang lebih tinggi ± 5 – 6 meter agar terkesan mewah, pembentukan skala tinggi bisa diwujudkan dengan menempatkan ruang tersebut tepat dibawah atrium. Pada zona anak menggunakan tinggi ruang 3 meter. Pada zona remaja menggunakan tinggi bangunan 3,5 meter. Sedangkan untuk zona dewasa menggunakan tinggi ruang 4 meter.

c. Elemen tekstur

Penggunaan tekstur pada interior berfungsi sebagai pembentuk citra ruang. Pada ruang anak sebagian besar menggunakan tekstur lembut, sedangkan untuk ruang bagi pengunjung dewasa menggunakan tekstur yang cenderung lebih bervariatif. Gambar di bawah ini merupakan sketsa ide ruang baca pengunjung dewasa dengan menonjolkan tekstur kayu sebagai elemen penutup dinding dipadukan dengan sofa pijat dengan pencahayaan artifisial berwarna kuning soft, sehingga nantinya diperoleh kesan ruang yang damai dan menenangkan.

commit to user

Gambar V.39. tekstur kayu pada ruang baca dewasa

Sumber : dokumen pribadi

Dokumen terkait