BAB IV PENERAPAN HUKUM TERHADAP TINDAK PIDANA
C. AnalisisPutusan Nomor. 65/Pid.Sus/2017/PN/Trt
4. Pertimbangan Hakim
1) 1(satu) baju berlengan pendek dengan kerah berwarna biru dengan tulisan berwana biru pada pundak/belakang baju SMP Perg. Hang Kesturi Medan;
2) 1 (satu) buah besi dengan ukuran lebih kurang 25 cm dengan salah satu ujung besi runcing dan sisi lainnya dibengkokkan;
3) 1 (satu) bilah parang tanpa gagang dengan panjang 60 cm
4) 1 (satu) lembar kartu keluarga asli denga nomor 121609085120173 dengan nama kepala keluarga Hassadin Lase
5) Terdakwa telah didakwa penuntut umum dengan dakwaan tunggal Pasal 44 ayat (2) UU No 23 Tahun 2004 tengan penghapusan KDRT yang ancaman
hukumannya maksimal 10 Tahun dengan denda 30 juta . berdasarkan pasal 44 tersebut, maka unsur pasal 44 telah terbukti
6) Pertimbangan hakim bahwa yang menjadi korban kekerasan KDRT yang dilakukan terdakwa adalah anak kandung pelaku
7) Korban telah dilakukan terhadapnya Visum Et Repertum (VER) sebagai bukti telah terjadinya kekerasan yang diberikan oleh Dokter dirumah sakit
8) Perbuatan terdakwa telah menyebabkan luka berat dan traumatik kepada korban
9) Terdakwa telah ditangkap, ditahan dan diperiksa dengan sah. Dan terdakwa sebelumnya telah pernah dihukum karena kejahatan yang berbeda
Berdasarkan pertimbangan hakim diatas, penjatuhan putusan kepada pelaku adalah sebatas 2 Tahun 6 bulan penjara dan dikurangi masa tahanan.
Menurut Sudikno Mertukusumo, kemandirian hakim adalah mandiri tidak tergantung kepada apa atau siapapun dan oleh karena itu bebas dari pengaruh apapun atau siapapun. Hakim atau peradilan yang merupakan tempat orang-orang mencari keadilan, harus mandiri, independen, dalam arti tidak tergantung atau terikat siapapun, sehingga putusannya tidak memihak siapapun atau objektif. Kemandirian itu menuntut pula bahwa hakim dalam memeriksa dan memutus perkara harus bebas.
Dengan demikian kemandirian hakim tidak dpat dipisahkan dari kebebsan hakim, tetapi merupakan sebuah kesatuan.71
71Sudikno Mertukusumo, Kapita Selekta Ilmu Hukum, Op.cit. hal. 58
Kebebasan hakim adalah bebas memeriksa dan memutus perkara menurut keyakinannya serta bebas pula dari pengaruh pihak manapun (ekstra yudisial). Hakim bebas menggunakan alat-alat bukti dan bebas menilainya, hakim bebas untuk menilai terbukti tidaknya suatu peristiwa konkret berdasarkan alat bukti yang ada, bebas untuk berkeyakinan mengenai jenis hukuman apa yang dijatuhkan dan bebas pula dari campur tangan dari pihak ekstra yudisial.72
Menurut Sudikno Mertukusumo, kebebasan dan kemandirain hakim dibatasi baik secara makro maupun mikro. Faktor –faktor yang membatasi kebebasan dan kemandirian hakim secara makro adalah sistem politik sistem pemerintahan, sistem ekonomi, dan sebagainya. Faktor-faktor yang membatasi hakim sacara mikro adalah Pancasila, UUD 1945, Undang-Undang, ketentuan umum, kesusilaan, kepentingan para pihak.73
Didalam pelaksanaan hukum ditengah-tengah masyarakat, seringkali para profesi hukum dihadapkan dengan peristiwa-peristiwa atau konflik yang harus segera diselesaikan. Hukum terhadap peristiwa tersebut harus dicari dan ditemukan. Dalam kehidupan bermasyarakat diperlukan suatu sistem hukum untuk menciptakan kehidupan masyarakat yang harmonis dan teratur. Kenyataannya hukum atau peraturan perundang-undangan yang dibuat tidak mencakup seluruh perkara yang timbul dalam masyarakat sehingga menyulitkan penegak hukum untuk menyelesaikan perkara tersebut.
72Ibid. hal.59
73Ibid, hal. 60
Hakim dalam memeriksa, mengadili dan memutus suatu perkara, pertama kali harus menggunakan Hukum Tertulis sebagai dasar putusannya. Jika dalam hukum tertulis tidak cukup, tidak tepat dengan permasalahan dalam suatu perkara, maka barulah hakim mencari dan menemukan sendiri hukumnya dari sumber-sumber hukum yang lain seperti yurisprudensi, dokrin, traktat, kebiasaan atau hukum tidak tertulis. 74
Undang-Undang No. 48 Tahun 2009 Pasal 10 ayat (1) tentang Kekuasaan Kehakiman menentukan, bahwa Pengadilan dilarang menolak untuk memeriksa, mengadili, memutus suatu perkara yang diajukan dengan dalil hukum tidak ada atau kurang jelas, melainkan wajib untuk memeriksa dan mengadilinya.75
Berdasarkan ketentuan pasal ini memberi makna bahwa hakim sebagai organ utama pengadilan dan sebagai pelaksana kekuasaan kehakiman wajib hukumnya bagi Hakim untuk menemukan hukumnya dalam suatu perkara meskipun ketentuan hukumnya tidak ada atau kurang jelas.
Undang-Undang No. 48 Tahun 2009 Pasal 5 (1) juga menjelaskan bahwa, Hakim dan Hakim Konstitusi wajib Menggali, mengikuti dan memahami nilai-nilai hukum dan rasa keadilan yang hidup dalam masyarakat.
Kata “menggali” biasanya diartikan bahwa hukumnya sudah ada, dalam aturan perundangan tapi masih samar-samar, sulit untuk diterapkan dalam perkara konkrit, sehingga untuk menemukan hukumnya harus berusaha mencarinya dengan
74Hasil wawancara dengan Rina Lestari Sembiring, Hakim Pengadilan Negeri Binjai
75Pasal 10 ayat (1) Undang-Undang Nomor 48 Tahun 2009 tentang Kekuasaan Kehakiman
menggali nilai-nilai hukum yang hidup dalam masyarakat. Apabila sudah ketemu hukum dalam penggalian tersebut, maka hakim harus mengikutinya dan memahaminya serta menjadikan dasar dalam putusannya agar sesuai dengan rasa keadilan yang hidup dalam masyarakat.
Dalam praktek Pengadilan, ada 3 (tiga) istilah yang sering dipergunakan oleh Hakim yaitu penemuan hukum, pembentukan hukum atau menciptakan hukum dan penerapan hukum. Diantara tiga istilah ini, istilah penemuan hukum paling sering di pergunakan oleh hakim, sedangkan istilah pembentukan hukum biasanya dipergunakan oleh lembaga pembentuk Undang-Undang (DPR). Dalam perkembangan lebih lanjut, penggunaan ketiga istilah itu saling bercampur baur, tetapi ketiga istilah itu berujung kepada pemahaman bahwa aturan hukum yang ada dalam Undang-Undang tidak jelas, oleh karenanya diperlukan suatu penemuan hukum atau pembentukan hukum yang dilakukan oleh hakim dalam memutus suatu perkara.76
Menurut Paul Scholten di dalam perilaku masnuai terdapat hukumnya. Jadi hukum itu tidak semata-mata terdapat didalam peraturan perundang-undangan saja.
“penggalian” inilah yang pada dasarnya dimaksud dengan penemuan hukum (rechtvinding, law making) dan bukan penciptaan hukum. Memang tidak tertutup kemungkinan bahwa hakim dalam menemukan hukum tanpa disadari, tanpa
76Andi Fatimah, Eksistensi Dissenting opinionDalam Perkara Tindak Pidana Korupsi, Tesis, Program Pasca Sarjana Universitas Hasanuddin,( Makasar, 2012), hal.67
disengaja menciptakan hukum tetapi dilarang untuk menciptakan peraturan yang mengikat secara umum ( Lihat AB.Pasal 21).77
Jazim Hamidi, mengatakan bahwa penemuan hukum pada intinya mempunyai cakupan wilayah kerja hukum yang sangat luas, karena penemuan hukum itu dapat dilakukan oleh siapa saja, baik itu perorangan, ilmuwan, peneliti hukum, para hakim, jaksa, polisi, advokat, dosen, notaris dan lain-lain.
Menurut Sudikno Mertokusumo profesi yang paling banyak melakukan penemuan hukum adalah para hakim, karena setiap harinya hakim dihadapkan pada peristiwa konkrit atau konflik yang harus diselesaikan. Penemuan hukum oleh hakim dianggap suatu hal yang mempunyai WIBawa sebab penemuan hukum oleh hakim merupakan hukum yang mempunyai kekuatan mengikat sebagai hukum karena hasil penemuan hukum itu di tuangkan dalam bentuk putusan.
Masalah kebebasan hakim perlu dihubungkan dengan masalah bagaimana hakim dalam mengikuti yurisprudensi. Kebebasan hakim dalam menemukan hukum tidaklah berarti ia menciptakan hukum, Wirjono Prodjodikuro menolak pendapat orang yang mengatakan hakim menciptakan hukum. Menurut beliau hakim hanya merumuskan hukum. Pekerjaan hakim katanya mendekati pembuatan Undang-Undang tetapi tidak sama.
Lebih lanjut Wirjoni Prodjodikoro berpendapat bahwa walaupun Ter Haar menyatakan isi hukum adat baru tercipta secara resmi dianggap ada apabila ada beberapa putusan dari penguasa terutama para hakim, ucapan Ter Haar itupun tidak
77Sudikno Mertukusumo, Kapita Selekta Ilmu Hukum, Op.cit. hal. 91
dapat dianggap bahwa dengan putusan hakim dan lain penguasa itu terciptalah hukum adat, tetapi hanya merumuskan hukum adat itu Untuk menemukan hukum, hakim dapat bercermin pada yurisprudensi dan pendapat ahli hukum terkenal (doktrin).
Mengenai yurisprudensi, Van Apeldoorn berpendapat sejajar dengan Wirjono Prodjodikuro tersebut di muka. Negeri Belanda katanya, hakim tidak terikat kepada putusan hakim-hakim lain dan juga tidak kepada hakim yang lebih tinggi. Apabila suatu peraturan dalam putusan hakim diterima secara tetap dan nyata menjadi keyakinan hukum umum, atau dengan kata lain dalam suatu masalah hukum telah terbentuk suatu yurisprudensi tetap dan peraturan itu menjadi hukum objektif, bukan berdasarkan keputusan hakim tetapi sebagai kebiasaan. Berdasarkan garis tingkah laku hakim-hakim terciptalah keyakinan hukum umum.
Berdasarkan realitas dan bukti serta tindakan pelaku, maka seharusnya hakim dapat memberikan hukuman yang lebih besar kepada terdakwa.
Dalam hukum pidana Moelijatno pelaku tindak pidana itu mampu bertanggung jawab, mampu menginsafi makna perbuatannya atau menginsafi bahwa dia melakukan sesuatu yang tidak baik atau bertentangan dengan hukum.untuk menentukan bahwa terdakwa tidak mampu bertanggung jawab tidak cukup ditentukan oleh tabib atau hakim itu sendiri, tetapi harus ada kerja sama antara tabib dan hakim. Yang pertama menentukan adanya penyakit, sedang yang kedua mempernilai bahwa penyakit yang ada itu sedemikian besarnya, hingga perbuatan
tidak dapat dipertanggung jawabkan kepadanya78
Di dalam kasus ini, keadaan yang dapat menjelaskan kemampuan bertanggung jawab pidana, dapat dengan dua hal yakni :
a. Dengan berdasarkan Pasal 44 ayat (1) KUHP yang menentukan dua keadaan jiwa yang tidak mampu bertanggung jawab atas semua perbuatannya (tindak pidana).
Jika pada pelaku tidak dapat dua keadaan jiwa seperti cacat dalam pertumbuhan atau jiwanya cacat maka pelaku mampu bertanggung jawab.
b. Apabila menghubungkan pasal 44 ayat 1(satu) KUHP, orang yang mampu bertanggung jawab adalah dua syarat harus di penuh yakni :
c. Jiwa yang tidak terganggu atau keadaan jiwa yang sedemikian normal.
d. Keadaan jiwa yang normal sehingga mampu bertanggung jwab terhadap perbuatannya serta hasil perbuatannya
Tidak ada alasan pemaaf mampu menghapuskan sifat melawan hukum terdakwa akibat dari perbuatan yang di lakukannya, bahwa terdakwa telah memberikan keterangan yakni :
a. Bahwa benar terdakwa mengaku melakukan pemukulan terhadap Parmadu Salomo
b. Bahwa terdakwa mengaku terus terang menyesali perbuatannya
Bahwa dengan memberikan keterangan di atas, perbuatan yang dilakukan oleh terdakwa bersifat melawan hukum dan tetap merupakan perbuatan pidana oleh karena itu terdakwa dapat di pidana karena kesalahannya.
78Moelyatno, Op.cit. hal.183
Kenyataanya bahwa didalam Putusan Nomor 208/Pid.sus/2017/PN. Tarutung telah terjadi kekeliruan hukum. Hal ini jika dilihat dalam konteks victimologi dan penintensir, bahwa korban tidak diberikan perlindungan apa-apa dari negara akibat perbuatan pelaku. Dari sudut pandang penintensir, bahwa hukuman yang dijatuhkan 2 tahun 6 bulan itu sangat rendah dan tidak merepresentasikan kepastian, keadilan dan manfaat didepan hukum. Hakim juga tidak memberikan hukuman tambahan kepada pelaku.
Berdasarkan kenyataan tersebut, maka timbul kemungkinan bahwa telah terjadi praktik dagang perkara dipengadilan khususnya pada kasus putusan nomor 208/Pid.sus/2017/PN. Tarutung, karena hakim memberikan hukuman yang relatif rendah. Penjatuhan hukuman yang rendah oleh Hakim menjadi reseden buruk bagi penegakan hukum dalam penanganan tindak pidana kekerasan dalam ruang lingkup rumah tangga. Hal ini memberikan dampak buruk bagi penegakan hukum jika seorang terdakwa yang telah terbukti melakukan tindak pidana tetapi hanya diberikan hukuman yang sangat ringan sedangkan perbuatan yang dilakukannya adalah perbuatan yang telah menyebabkan korbannya dirugikan karena cacat fisik dan mengalami traumatik berkepanjangan.
C. Analisis Putusan Nomor 65/Pid.sus/2017/PN.Trtg
1. Posisi Kasus
Mangasa Sibarani aliar Mangasauli alias Pak Cindi pada hari minggu tanggal 12 Februari 2017 sekira pukul 19.00 bertempat di simpang Lumban Silaban Desa Aek Lung Kecamatan Dolok Sanggul Kabupaten Humbang Hasundutan dengan
sengaja dan dengan direncanakan lebih dahulu menghilangkan jiwa nyawa orang lain, yaitu korban Aldi Manata Sibarani. Perbuatan tersebut dilakukan oleh Mangasa Sibarani ( Terdakwa) dengan cara sebagai berikut:
Berawal pada hari minggu tanggal 12 Februari 2017 sekitar pukul 17. 00 wib sewaktu terdakwa beserta korban yang merupakan anak terdakwa bernama Aldi Manta Sibarani dan Andre Fransiscao Sibarni selasai makan, terdakwa menyuruh korban Aldi Manata Sibarani membeli rokok dengan mengatakan “ Aldi Tuhor jo sigaret dohot mancis” ( Aldi beli dulu rokok dan mancis) selanjutnya terdakwa menyerahkan uang sebesar Rp. 15.000 (Lima belas ribu rupiah) kepada korban (Aldi Manata S) selanjutnya Korban Aldi Manata Sibarani menjawab “ olo pa” (Iya Pak) sambil menanyakan kepada terdakwa dengan mengatakan “adong dope balikna bapa, asa jajan jo au? ( masih ada tidak kembaliannya pak, biar jajan aku?)
selanjutnya terdakwa menjawab dengan mengatakan “ adong dope Rp. 2.000 ( Dua Ribu Rupiah). Selanjutnya korban Aldi Manata Sibarani pergi menuju ke Kedai Lumban Sibarani Desa Aek Lung Kec. Dolok Sanggul Kab. Humbang Hasundutan.
Selanjutnya terdakwa menunggu kedatangan korban Aldi Manata Sibarani sekitar 30 menit akan tetapi korban Aldi Manata Sibarani tidak kunjung datang, sehingga pada saat itu terdakwa keluar dari halaman rumah terdakwa dan menanyakan ke anak-anak yang sedang bermain di halaman rumah terdakwa yaitu Rama Sibarani dan Ingot Purba dengan mengatakan “ Adong dibereng kamu si Aldi “ ( ada kalian lihat si Aldi) dan saat itu Rama Sibarani dan Ingot Purba menjawab dengan mengatakan “ Dang dibereng hami ( ga ada kami lihat ). Mendengar hal tersebut terdakwa kembali
ke rumah dan menunggu sekitar 3 (tiga) menit tetapi korban Aldi Manata Sibarani tidak kunjung datang.
Selanjutnya terdakwa mendengar suara sepeda motor dari rumah terdakwa dan selanjutnya terdakwa keluar dari rumah dan terdakwa menanyakan kepada saksi Marolop Purba dan Hotman Simamora dengan mengatakan “Adong Dibereng hamu si Aldi di dalan” ( Ada kalian lihat si Aldi dijalan), kemudian Marolo Purba dan Hotman Simamora menjawab dengan mengatakan “dang adong terberang hami ( nga ada terlihat kami). Selanjutnya terdakwa mendatangi ke rumah Tahi Manombang Sibarani dan terdakwa bertanya “adong tar bereng hami si Aldi, apra? Dan selanjutnya Tahi Manombang Sibarani menjawab” dong adong, nga di sukuni ho dakdanak di hutan on ? ( Nga ada, sudah kau tanya anak-anak di desa ini?). dan terdakwa menjawab “ nga hubereng pe sude? ( sudah kulihat semua), lalu saudara Lamhot Sibarani, mengatakan “attong sukkun jo manang di panuruhorang sigareti?”
manang dituhor mana do sigareti ( kalo nga, tanya dulu sama pembelian rokok itu?) apa jadi beli rokoknya itu.
Selanjutnya terdakwa menju ke rumah saksi Esron Sinaga Alias Pak Ronal dengan berjalan kaki bersama dengan Andre Fransisco Sibarani dan meminjam sepeda motor kepada Saksi Esron Sinaga Aliar Pak Ronal dengan mengatakan “ijo hu pake karetami, asa lao au jo manukkun si Lumban Batu ( sini dulu kupakai sepeda motor mu itu biar kutanyak dulu sama Lumban Batu), lalu terdakwa dan Andre Fransisco Sibarani menggunakan sepeda motor jenis Supra X berwarna hitam milik saksi Esron Sinaga dan pergi ke Kedai milik Marga Lumban Batu alias Pak Candra,
sesampainya di kedai Lumban Batu terdakwa menanyakan kepada saksi Nai Candra alias Romli Br Simatupang “ Nantulang, ro tuson si Aldi manaroh sigaret? ( Nantulang, datangnnya kesini Aldi membeli rokok?), lalu Nai Candra menjawab dengan mengatakan “ ro do tuson, dituhor do sigaret dohot mancis” ( datannya kesini beli rokok dan mancis) mendengar hal tersebut kemudian terdakwa bersama Andre Fransisco Sibarani pulang dan mengembalikan sepeda motor kepada Istri Esron Sinaga.
Kemudian sekitar 15 menit terdakwa dan Andre Fransisco Sibarani menunggu korban (Aldi M. Sibarani) di rumah ,tetapi Aldi M. Sibarani tidak kunjung pulang sehingga pada saat itu terdakwa berinsiatif untuk menghidupkan mobil dan mengajak Andre Fransisco Sibarani dan pada saat itu posisi Andre F. Sibarani berada didepan kemudian berangkat keluar dari Lumban Sibarani Desa Aek Lung Kec.
Doloksanggul Kab. Humbang Hasundutan dari arah sebelah kiri ke rumah terdakwa dan pada saat dalam perjalan menju kedai milik Marga Lumban Batu alias Pak Candra, tepatnya di Simpang Lumban Silaban Desa Aek Lung Kec Dolok Sanggul Kab, Humbang Hasundutan, tiba-tiba korban Aldi M datang dari arah semak-semak kanan jalan hendak memotong jalan di depan terdakwa sehingga pada saat itu terdakwa menabrak korban Aldi Manata Sibarani dan mengenai Plang depan mobil terdakwa dan Korban Aldi Manata Sibarani posisinya tergeletak di pinggir sebelah kanan jalan. Melihat hal tersebut terdakwa meminggirkan mobil terdakwa dengan posisi berada di sebelah kanan jalan dan posisi korban Aldi Manata Sibarani berada di belakang mobil tersebut.
Selanjutnya terdakwa turun dari mobil dan melihat korban Aldi Manata Sibarani dibelakang mobil tersebut dengan posisi korban Aldi Manata Sibarani sudah posisi berdiri dan terdakwa langsung mencekik leher dengan menggunakan tangan kiri terdakwa sambil mengatakan kepada korban Aldi Manata Sibarani “ ai babanion dohape ( sambil mengambil rokok dan mancing di kantung celana korban Aldi Manata Sibarani serta uang logam Rp. 1.000 ( Seribu Rupiah), sian di ho leleng ho, ngasosundat omak mu mambaen susah pikiranku ( mulutnya ini rupanya, darimana kau lama, sudah mamakmu bikin susah pikiranku) dan selajutnya terdakwa memukul korban Aldi Manata Sibarani memukul kearah wajah korban Aldi M. Sibarani menggunakan tangan terdakwa dalam keadaan terkepal secara membabi buta.
Selanjutnya korban Aldi M. Sibarani terjatuh dengan posisi jongkok membelakangi mobil dan kemudian terdakwa mengahantukkan kepala bagian belakang korban Aldi M. Sibarani sebanyak 2 (dua) kali menggunakan kedua tangan terdakwa dan pada saat itu korban Aldi M. Sibarani terjatuh dengan posisi telentang lalu terdakwa menginjak bagian rusuk sebelah kiri korban dengan sekuat tenanga sebanyak 3 (tiga) kali pada saat itu korban Aldi M. Sibarani sudah tidak bergerak kemudian terdakwa merasa menyesal dan langsung mengangkat korban Aldi M. Sibarani yang pada saat tergeletak di jalan dan membawa ke mobil dan meletetakannya dengan posisi bersandar di bangku dibelakang supir. Dan membawa korban ke Poskesdes Desa Aek Lung Kec. Doloksanggul dan pada saat berjalan terdakwa menghidupkan rokok dan sesampainya di samping rumah marga Hutagalung, terdakwa turun dari mobil dan membuka pintu samping denga maksud menganggkat korban Aldi M. Sibarani, dan
melihat korban sudah tidak bergerak lagi, sehingga terdakwa memeriksa denyut nadi ditangan korban dan sudah tidak berdenyut lagi, dan pada saat itu terdakwa menyulutkan api rokok ke korban Aldi M.Sibarani untuk memastikan korban masih hidup atau tidak, tetapi korban Aldi M. Sibarani tidak bergerak lagi, kemudian terdakwa mengangkat Aldi M. Sibarani dari mobil dan mengangkat keluar mobil dan menyuruh anak terdakwa Andre F. Sibarani naik kepunggung terdakwa selanjutnnya terdakwa berjalan dari depan rumah bermarga Hutagallung ke arah ladang kopi milik Mangatas Simamora dan sesampainya di ladang tersebut terdakwa menurunkan Andre F. Sibarani karena terdakwa merasa lelah. Kemudian terdakwa meletakkan Aldi M. Sibarani di Parit Pembatas ladang kopi milik Mangatas Simamora dengan posisi kepala dibawah dan kaki diatas dan selanjutnnya terdakwa mengambil sepasang sandal milik korban dari kakinya yang pada saat itu dipakai korban dan terdakwa melemparkannya ke arah pinggir parit. Kemudian terdakwa menggendong kembali Andre Fransico Sibarani dan pulang ke arah mobil, kemudian sesampainnya dimobil terdakwa menghidupkan mobil dan pulang kerumah, akan tetapi terdakwa berhenti di gorong-gorong / parit saluran air kecil dengan kuburan dan selanjutnya terdakwa mencuci bagian belakang mobil dan bangku tempat Aldi Sibarani terdakwa sandarkan.
Dan selanjutnya terdakwadan Andre F Sibarani pulang ke rumah sesampainya di rumah terdakwa memarkirkan mobil dan membersihkan bercak darah di jaket yang terdakwa gunakan pada saat itu.
Berdasarkan hasil pemeriksaan luar dijumpai keluar jaringan otak bercampur darah dari lubang telinga kanan, dijumpai luka memar pada dada dan anggota gerak atas. Pemeriksaan dalam dijumpai resapan darah pada kulit kepala bagian belakang dan samping kanan pada kulit leher bagian dalam, pada kulit dada bagian dalam, pada kantong dan dinding jantung dijumpai patah tulang samping kanan, patah tulang iga keenam kiri.
Dari pemeriksaan luar, dan dalam penyebab kematian korban, mati lemas akibat patah tulang kepala disertai pendarahan pada jaringan otak disebabkan oleh trauma (kekerasan) benda tumpul sesuai dengan visum et repertum Nomor : 05/II/IKF/2017 tanggal 20 Februari 2017 oleh dr. Ismurrizal, SH., Sp.F pada Rumah Sakit Bhayangkara TK II Kota Medan.
2. Dakwaan
Terdakwa diajukan ke persidangan oleh Penuntut Umum dengan didakwa berdasarkan surat dakwaan Primer yakni Perbuatan terdakwa diatur dan diancam pidana dalam Pasal 340 KUHPidana
Selain itu, dakwaan subsider Jaksa Penuntut Umum dalam Putusan 65/Pid.
Sus/2017/PN. Trt yakni Perbuatan terdakwa diatur dan diancam pidana dalam Pasal 338 KUHPidana
Lebih subsider terdakwa melanggar : a. Pasal 351 ayat (3) KUHPidana
b. Pasal 80 ayat (4) Jo Pasal 76 C RUU RI No 35 Tahun 2014 Perubahan ats UU RI No 23 Tahun 2002 tentang Perlindugan Anak.
c. Pasal 44 ayat (3) UU RI No. 23 tahun 2004 tentang Penghapusan Rumah Tangga 3. Alat Bukti
Jaksa penunut umum yang menangani kasus dalam perkara Nomor: 65/Pid.
Sus/2017/PN. Trt. dengan memberikan bukti-bukti terhadap penyelesaian perkaranya:
a. 1 (satu) potong celana Jeans berwarna abu rokok dengan ukuran 29 (dua puluh sembilan);
b. 1 (satu) potong baju kemeja berwarna merah maron kotak-kotak merk pepeda;
c. 1 (satu) potong jaket berwarna cream dengan dalam bercorak garis-garis merk Reiz XXI;
d. 1 (satu) pasang sandal berwarna coklat merk “Yumeida” dengan ukuran 42 (empat puluh dua);
e. 1 (satu) unit Mobil Zebra 1,3 berwarna biru dengan nomor polisi BK 7271 DJ;
f. 1 (satu) potong celana ponggol berwarna hijau kecoklatan dengan size 19 dengan tulisan SX Desing Technolog;
g. 1 (satu) potong baju Kaos berwarna kuning dengan Lis Leher berwarna ungu dan lengan berwarna ungu dengan tulisan dibelakang Ping Moo Collection 25 merk Ping Moo
h. 1 (satu) pasang sandal berwarna ungu dengan lis putih merk Sky Boat
i. 1 (Satu) Unit sepeda motor jenis Supra X berwarna hitam dengan nomor polisi BK
i. 1 (Satu) Unit sepeda motor jenis Supra X berwarna hitam dengan nomor polisi BK