• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV ANALISIS PUTUSAN HAKIM DALAM MEMUTUS

7. Analisis Putusan Hakim

Dakwaan merupakan dasar penting dalam hukum acara pidana, karena berdasarkan hal yang dimuat dalam surat itu, hakim akan memeriksa perkara itu.

Pemeriksaan didasarkan kepada surat dakwaan dan menurut Nederburg, pemeriksaan tidak batal jika batasan-batasan nya dilampaui, namun putusan hakim hanya boleh mengenai peristiwa-peristiwa yang terletak dalam batasan-batasan itu, dalam hal ini ada beberapa pengertian surat dakwaan menurut para ahli sebagai berikut:

- Harun M Husein

Surat dakwaan adalah surat yang diberi tanggal dan ditandatangani oleh penuntut umum, yang memuat uraian tentang identitas lengkap terdakwa, perumusan tindak pidana yang didakwakan dengan unsure-unsur tindak pidana sebagaimana dirumuskan dalam ketentuan pidana yang bersangkutan, disertai uraian tentang waktu dan tempat tindak pidana

dilakukan oleh terdakwa, surat yang menjadi dasar dan batas ruang pemeriksaan disamping pengadilan.

- M. Yahya Harahap

Surat dakwaan adalah surat atau akta yng memuat rumusan tindak pidana yang didakwakan kepada terdakwa yang disimpulkan dan ditarik kesimpulan dari hasil penyidikan, dan merupakan dasar serta landasan bagi hakim dalam pemeriksaan di muka sidang pengadilan.

Surat dakwaan menempati posisi sentral dan strategis dalam pemeriksaan perkara pidana di pengadilan, karena itu surat dakwaan sangat dominan bagi keberhasilan pelaksanaan tugas penuntutan. Ditinjau dari berbagai kepentingan yang bekaitan dengan pemeriksaan perkara pidana, maka fungsi surat dakwaan dapat dikategorikan:

- Bagi pengadilan/hakim, surat dakwaan merupakan dasar dan sekaligs membatasi ruang lingkup pemeriksaan, dasar pertimbangan dalam penjatuhan keputusan;

- Bagi penuntut umum, surat dakwaan merupakan dasar pembuktian/analisis yuridis, tuntutan pidana dan penggunaan upaya hukum;

- Bagi terdakwa/ penasihat hukum, surat dakwaan merupakan dasar untuk mempersiapkan pembelaan.

Berdasarkan Putusan Nomor 2/Pid. B/2018/PNBul dakwaan yang di gunakan oleh Jaksa Penuntut Umum adalah dakwaan Alternatif. Dakwaan alternatif adalah dakwaan yang tersusun dari beberapa tindak pidana yang didakwakan antara tindak pidana yang satu dengan tindak pidana yang lain

bersifat saling mengecualikan. Dala dakwaan ini, terdakwa secara faktual didakwakan lebih dari satu tindak pidana, tetapi pada hakikatnya ia hanya didakwa satu tindak pidana saja. Biasanya dalam penulisannya menggunakan kata

„atau‟. Dasar pertimbangan penggunaan dakwaan alternatif adalah karena penuntut umum belum yakin benar tentang kualifikasi atau pasal yang tepat untuk diterapkan pada tindak pidana tersebut , maka untuk memperkecil peluang lolosnya terdakwa dari dakwaan, dipergunakan bentuk dakwaan alternative.

Biasanya dakwaan demikian, dipergunakan dalam hal antara kualifikasi tindak pidana yang satu dengan yang lain menunjukkan cirri yang sama atau hamper bersamaan, misalnya pencurian atau penadahan, penipuan dengan penggelapan, pembunuhan atau penganiayaan, atau pemerkosaan atau pencabulan.

Dakwaan alternatif yang digunakan oleh Jaksa Penuntut Umum primairnya adalah Pasal 310 ayat (1) tentang Pencemaran nama baik dan alternatifnya adalah pasal 311 ayat (1) tentang fitnah. Jika di analisis berdasarkan hasil penyidikan dan fakta persidangan terkemukakanlah bahwasanya pelaku dan saksi korban sudah tidak akur sejak lama dan pernah bertengkar 2 (dua) tahun yang lalu, tetapi akhirnya damai. Hal ini tentu menjadi pertanda bahwa antara pelaku dan saksi korban masih sama sama menyimpan dendam sehingga setiap ejekan yang keluar langsung dibesar-besarkan, apalagi berdasarkan keterangan terdakwa, saksi korban pernah mencoba mengganggu rumah tangga terdakwa.

Dakwaan yang dijatuhkan Jaksa Penuntut Umum kepada terdakwa dirasa sudah sangat tepat, dengan menggunakan dakwaan alternatif, antara Pencemaran nama baik dan fitnah, karena kebenaran tentang apa yang dikatakan oleh sipelaku belum terbukti, sehingga apa yang didakwakan Jaksa sudah sangat tepat.

2. Putusan Hakim

Putusan ialah pernyataan hakim yang dituangkan dalam bentuk tertulis dan diucapkan oleh hakim dalam sidang terbuka bentuk umum, sebagai hasil dari pemeriksaan perkara. Putusan dijatuhkan kepada pelaku yang terbukti bersalah, putusan yang dijatuhkan berupa pemidanaan sebagai mana yang diatur dalam pasal 10 KUHP, yaitu:

1. Pidana Pokok a. Hukuman Mati b. Pidana Penjara c. Pidana Kurungan d. Pidana Denda 2. Pidana Tambahan

a. Pencabutan Hak tertentu b. Perampasan hak tertentu c. Pengumuman putusan hakim

Adapun mengenai kualifikasi urutan-urutan dari jenis pidana tersebut didasarkan pada berat ringannya pidana yang diaturnya, yang terberat adalah yang disebutkan terlebih dahulu (pasal 69 KUHP)

Dalam putusan No. 2/Pid. B/2018/PNBul, terdakwa dijatuhi hukuman pidana penjara selama 1 (satu) bulan. Andi Hamzah menegaskan bahwasanya penjara merupakan bentuk pidana yang berupa kehilangan kemerdekaan. Pada umumnya hukuman penjara dijalani dalam suatu ruangan tertentu. Pada masa lalu, pidana penjara dipesoalkan di dunia barat, apakah si terhukum ditempatkan secara terpisah, yakni terasing dari sipelaku lainnya, ataukah tidak karena penjara

tersebut terbuat dari beton yang kokoh dan kuat, sehingga para pelaku terasing dari pergaulan masyarakat luas.50

Adapun tujuan dijatuhkannya pidana terhadap seseorang adalah dimaksudkan untuk mencegah terjadinya pengulangan tindak pidana, mencegah orang lain melkukan perrbuatan pidana yang sama seperti yang dilakukan sipelaku, menyediakan saluran-saluran untuk mewujudkan motif balas51

Roger hood berpendapat bahwa sasaran pidana disamping untuk mencegah si terpidana atau pembuat potensial melakukan tindak pidana juga untuk, pertama memperkuat kembali nilai-nilai sosial, kedua menentramkan rasa takut masyarakat terhadap kejahatan.52

Jika kita lihat lagi dalam putusan tersebut diatas, apa yang menjadi pertimbangan hakim dengan menjatuhkan vonis terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana Penghinaan sebagaimana diatur dan diancam pidana dalam Pasal 310 ayat (1) KUHP; yang dimana dalam Pasal 310 ayat (1) memiliki unsur sebagai berikut:

1. Barang siapa;

2. Dengan sengaja;

3. Merusak kehormatan atau nama baik seseorang dengan jalan menuduh melakukan sesuatu perbuatan dengan maksud yang nyata akan tersiarnya tuduhan itu.

Berdasarkan unsur tersebut, terdakwa sudah memenuhi segala unsurnya dan sudah memenuhi unsur untuk dikatakan telah melakukan perbuatan sebagaimana tertulis dalam Pasal 310 ayat (1) KUHP tentang Pencemaran nama

50 Marlina, Hukum Penitensier, (Bandung: Refika Aditama), 2011, hlm. 87

51Ibid, hlm. 23

52 Muladi dan Arif, Op.Cit, hlm. 21

baik. Tetapi terdakwa di vonis hakim selama 1 bulan penjara menurut analisis penulis belum sesuai dengan tujuan yang diharapkan dalam proses pemidanaan.Hukuman selama satu bulan menurut penulis terlalu ringan untuk dijatuhkan kepada pelaku melihat hinaan yang disampaikan terdakwa menggunakan bahasa-bahsa yang sangat kasar dan didengar oleh banyak orang yang.

Dengan fakta-fakta hukum yang diperoleh selama proses persidangan, tentu hakim seharusnya lebih peka terhadap keadaan yang terjadi, kondisi yang meringankan dan memberatkan bukan hanya berasal dari pelaku, tapi juga dari korban itu sendiri, penulis berpikir bahwa hukuman yang dijatukan hakim belum tentu akan menimbulkan efek jera, dan tujuan tujuan lain yang diinginkan oleh dilaksanakannya proses pemidanaan.

Jika kita bandingkan antara dakwaan jaksa dan putusan hakim ada sedikit perbedaan diantara keduanya, yaitu Tuntutan jaksa berbeda dengan putusan hakim, dan putusan hakim tersebut 1 bulan lebih ringan dari tuntutan Jaksa Penuntut Umum, dimana Jaksa menuntut pelaku selama dua bulan, sedangkan Hakim memutus satu bulan. hal ini pun penulis berpikir masih kurang tepat, dimana pertimbangan hakim yang petama bahwa pelaku melakukan penghinaan dengan bahasa yang kasar dan tidak pantas dengan suara yang keras sambil membawa parang dan batu.Yang kedua pelaku korban tentunya merasa malu karena apa yang disampaikan terdakwa didengar oleh banyak orang dan anak-anak. namun hakim tidak melihat pertimbangan dari sisi korban, dimana korban mengalami trauma dan menanggung malu, seharusnya hal ini dapat menjadi pemberatan dan penambahan hukuman bagi pelaku, karena perbuatan korban

dianggap dapat menimbulkan keadaan yang berkelanjutan, bahkan setelah sipelaku di penjara, maka seharusnya hakim perlu mempertimbangkan dari sisi korban itu sendiri diluar daripada kesalahan yang ditimbulkan oleh pelaku, demi terciptanya keaadilan dan keamanan serta memberikan efek jera yang nyata kepada masyarakat.

B. Studi Putusan Nomor 75/Pid.Sus/2018/PN.Sbg

Dokumen terkait