Earnings per Share (EPS)
3. Earning Per Share
4.2.1. Analisis Rasio
4.2.1.1. Analisis Rasio Likuiditas
Berikut ini diuraikan pembahasan hasil penelitian analisis rasio likuiditas yang diukur dengan menggunakan 3 rasio yaitu rasio lancar, rasio cepat, dan rasio kas.
1. Rasio Lancar (Current Ratio)
Berdasarkan hasil penelitian dapat diketahui kemampuan perusahaan dalam memenuhi kewajiban jangka pendeknya yang segera jatuh tempo dengan menggunakan seluruh aset lancar yang dimilikinya dapat dikategorikan kinerka keuangan dalam kondisi yang kurang baik. Hasil penelitian ini tidak mendukung penelitian Puspitasari (2012) dan Supit dkk (2016) yang mengemukakan bahwa kinerja keuangan berdasarkan rasio lancar PT. Astra International Tbkdikatakan cukup baik. Rasio lancar PT. Astra International Tbk dikatakan kurang baik
dikarenakan walaupun terjadinya kenaikan dari tahun ke tahun, tetapi di tahun 2013 sempat mengalami penurunan yang cukup banyak yaitu sekitar 0.15 kali dibandingkan dengan tahun sebelumnya dan sementara pada tahun-tahun berikutnya mengalami kenaikan yang masih lebih rendah dibandingkan dengan tahun 2012 serta masih jauh dari standar rata-rata industri yaitu sebesar 2 kali dan hal ini merupakan penyebab utama rasio lancar PT. Astra International Tbk dikatakan kurang baik. Hal ini sesuai dengan pernyataan Heri (2015:152) yang menyebutkan bahwa perusahaan yang memiliki rasio lancar yang kecil mengindikasikan bahwa perusahaan tersebut memiliki aset lancar yang sedikit untuk membayar kewajiban jangka pendeknya. Namun, apabila perusahaan memiliki rasio lancar yang tinggi, belum tentu perusahaan tersebut dikatakan baik. Oleh sebab itu, untuk dapat dikatakan apakah suatu perusahaan memiliki tingkat likuiditas yang baik atau tidak maka diperlukan suatu standar rasio, seperti standar rasio rata-rata industri dari segmen usaha yang sejenis.
2. Rasio Cepat (Quick Ratio)
Berdasarkan hasil penelitian dapat diketahuikemampuan perusahaan dalam membayar kewajiban tahun 2013 dikategorikan kurang baik. Hal ini disebabkan karena berkurangnya kemampuan perusahaan dalam memenuhi atau membayar kewajiban dengan aset lancar tanpa memperhitungkan nilai persediaan. Namun, pada 2 (dua) tahun terakhir dapat dikategorikan cukup baik dikarenakan terus mengalami kenaikan, dan sesuai dengan pernyataan Kasmir (2012:72) yang
mampu menutupi hutang lancar tetapi berdasarkan hasil penelitian standar rata-rata industri sebesar 1.5 kali yang menunjukkan bahwa nilai rasio cepat masih jauh dari standar rata-rata industri sehingga dapat disimpulkan bahwa kinerja keuangan PT. Astra International Tbk berdasarkan rasio cepat dikategorikan kurang baik. Akibatnya, kewajiban yang akan dibayar pada periode tahun 2011-2015 akan mengalami keterhambatan dalam pembayarandan menyebabkan perusahaan harus menjual persediaannya untuk melunasi pembayaran kewajiban lancar.Hasil penelitian ini mendukung penelitian Faizati (2013) yang mengemukakan bahwa kinerja keuangan berdasarkan rasio cepatPT. Astra International Tbkdikatakan kurang baik karena berada di bawah standar rata-rata industri.
3. Rasio Kas (Cash Ratio)
Berdasarkan hasil penelitian dapat diketahuikemampuan perusahaan dalam mengukur seberapa uang kas yang tersedia untuk membayar hutang dapat dikategorikan kinerja keuangan dalam kondisi yang cukup baik dikarenakan cukupnya uang kas yang ada pada perusahaan untuk membayar hutang. Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai rasio kas mengalami peningkatan dari tahun ke tahun walaupun di tahun 2012 sempat mengalami penurunan tetapi di tahun berikutnya terus mengalami kenaikan dan juga menunjukkan walaupun nilai rasio kas masih dibawah standar rata-rata industri yaitu sebesar 50% tetapi nilai tersebut sudah melewati setengah ataupun mendekati standar rata-rata industri pada tahun 2015, hal inilah yang
menyebabkan nilai rasio kas PT. Astra International Tbk dikatakan cukup baik. Hasil penelitian ini mendukung penelitian Supit dkk (2016) yang mengemukakan bahwa kinerja keuangan berdasarkan rasio kasPT. Astra International Tbkdikatakan cukup baik. Namun, sesuai dengan pernyataan Kasmir (2012:72) yang menyebutkaan bahwa apabila kondisi rasio kas terlalu tinggi masih dapat dikatakan kurang baik karena ada dana yang menganggur atau yang tidak atau belum digunakan secara optimal sehingga perlu dilihat melalui standar rata-rata industri.
4.2.1.2. Analisis Rasio Solvabilitas (Leverage/Coverage)
Berikut ini diuraikan pembahasan hasil penelitian analisis rasio solvabilitas(Leverage/Coverage) diukur dengan 2 rasio yaitu Debt to Total Assets Ratio (DAR) dan Cash Debt Coverage Ratio.
1. Debt to Total Assets Ratio (DAR)
Berdasarkan hasil penelitian dapat diketahui kemampuan perusahaan dalam mengukur seberapa besar aset yang tersedia untuk membayar hutang dapat dikategorikan kinerja keuangandalam kondisi yang cukup baik dikarenakan nilai DAR berada jauh di atas standar rata-rata industri yaitu sebesar 35% yang mana menunjukkan bahwa PT. Astra International Tbk mampu menutup total hutang dengan aset yang dimiliki sehingga perusahaan memiliki total aset jauh lebih besar dari total hutang yang dimiliki dan berdasarkan hasil penelitian
semakin tinggi persentase debt to total assets ratio, semakin besar risiko perusahaan mungkin tidak dapat memenuhi kewajibannya yang jatuh tempo, dan sebaliknya semakin rendah persentase maka semakin kecil resiko perusahaan mungkin tidak dapat memenuhi kewajibannya yang jatuh tempo. Hasil penelitian ini mendukung penelitian Puspitasari (2012), Faizati (2013) dan Supit dkk (2016) yang mengemukakan bahwa kinerja keuangan berdasarkan DAR PT. Astra International Tbkdikatakan cukup baik.
2. Cash Debt Coverage Ratio
Berdasarkan hasil penelitian dapat diketahui kemampuan perusahaan dalam memenuhi kewajibannya dari kas bersih yang diperoleh dari aktivitas operasi perusahaan tanpa harus melikuidasi aset yang digunakan dalam operasinya dapat dikategorikan kinerja keuangan cukup baik dikarenakan mengalami peningkatan dari tahun ke tahun dan berada di atas standar rata-rata industri yaitu sebesar 20% pada tahun 2013 dan 2015 kecuali pada tahun 2012 dan 2014 yang sempat mengalami penurunan serta berada di bawah standar rata-rata industri. Hal ini sesuai dengan pernyataan Kieso, dkk (2011:211) yang menyebutkan bahwa semakin tinggi nilai rasio, maka semakin kecil kemungkinan perusahaan akan mengalami kesulitan dalam memenuhi kewajibannya. Hal ini merupakan sinyal apakah perusahaan dapat membayar utangnya dan bertahan hidup jika sumber dana eksternal menjadi terbatas atau terlalu mahal.
Berikut ini diuraikan pembahasan hasil penelitian analisis rasio aktivitas diukur dengan 2 rasio yaitu Inventory Turn Over (ITO) dan Cash Debt Coverage Ratio.
1. Inventory Turn Over (ITO)
Berdasarkan hasil penelitian dapat diketahui kemampuan perusahaan dalam mengukur frekuensi rata-rata sebuah perusahaan yang menjual persediaan selama periode tahun 2011-2015 dapat dikategorikan kinerja keuangan dalam kondisi yang kurang baik. Hasil penelitian ini mendukung penelitian Puspitasari (2012) yang mengemukakan bahwa kinerja keuangan berdasarkan ITOPT. Astra International Tbk dikatakan kurang baik. Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa ITO mengalami penurunan dari tahun ke tahun walaupun pada 2 (dua) tahun pertama yaitu pada tahun 2011 dan tahun 2012 berada di atas standar rata-rata industri yaitu sebesar 10.9 kali namun pada 3 (tiga) tahun berikutnya terus mengalami penurunan dan berada di bawah standar rata-rata industri yang mana kurang baik bagiperusahaan karena menimbulkan banyaknya persediaan menumpuk di gudang.Hal ini sesuai dengan pernyataan yang terdapat dalam penelitian Ginting (2009) yang mengungkapkan bahwa semakin kecil rasioInventory Turn Over (ITO) maka akan semakin buruk bagi perusahaan dan juga sebaliknyakarena dianggap bahwa kegiatan penjualan berjalan lambat.
kinerja keuangan dalam kondisi yang tidak baik dikarenakan mengalami penurunan dari tahun ke tahun dan juga berada jauh di bawah standar rata-rata industri sebesar 1.8 kali. Hal ini disebabkan karena lambatnya perputaran aset yang menunjukkan adanya kemungkinan turunnya penjualan. Nilai rasio yang cenderung naik memberikan gambaran bahwa perusahaan semakin efisien dalam menggunakan aset, tetapi assets turn over yang tinggi juga dapat disebabkan karena aset perusahaan yang sudah tua dan yang sudah habis masa ekonomisnya, hal ini sesuai dengan yang terdapat dalam penelitian Michael (2013). Jadi, dengan mengetahui kondisi perusahaan baik atau tidaknya disesuaikan dengan standar rata-rata industri.Hasil penelitian ini mendukung penelitian Puspitasari (2012) yang mengemukakan bahwa kinerja keuangan berdasarkan assets turn overPT. Astra International Tbk dikatakan tidak baik.
4.2.1.4. Analisis Rasio Profitabilitas
Berikut ini diuraikan pembahasan hasil penelitian analisis rasio profitabilitas diukur dengan 3 rasio yaitu return on asset (ROA), return on equity (ROE)dan earnings per share (EPS).
1. Return on Asset (ROA)
Berdasarkan hasil penelitian dapat diketahui kemampuan perusahaan dalam aktivitas penjualan masih belum optimal dan dapat dikategorikan kinerja keuangan dalam kondisi yang kurang baik. Hal ini disebabkan karena banyaknya aset yang tidak produktif. Hasil penelitian ini tidak mendukung penelitian
Puspitasari (2012) yang mengemukakan bahwa kinerja keuangan berdasarkan ROAPT. Astra International Tbk dikatakan cukup baik. Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai ROA pada 3 (tiga) tahun pertama berada diatas standar rata-rata industri yaitu sebesar 9% dan nilai ROA yang paling baik berada pada tahun 2011, pada tahun 2014 berada setara dengan standar rata-rata industri, tetapi pada tahun 2015 berada 3% dibawah standar rata-rata industri. Nilai ROA PT. Astra International Tbk tahun 2011-2015 terus mengalami penurunan dari tahun ke tahun dan hal inilah yang menyebabkan nilai ROA perusahaan dikategorikan kurang baik. Hal ini sesuai dengan pernyataan Heri (2015:193) yang menyebutkan bahwa semakin rendah ROA berarti semakin rendah pula jumlah laba bersih yang dihasilkan dari setiap rupiah dana yang tertanam dalam total aset. Artinya, rasio ini digunakan untuk mengukur seberapa besar jumlah laba bersih yang akan dihasilkan dari setiap rupiah dana yang tertanam dalam total aset.
2. Return on Equity(ROE)
Berdasarkan hasil penelitian dapat diketahui kemampuan perusahaan dalam memaksimalkan penggunaan ekuitas untuk menciptakan penjualan dapat dikategorikan kinerja keuangan dalam kondisi yang kurang baik dikarenakan terlalu besarnya beban operasional serta beban lain-lain yang menunjukkan bahwa perusahaan belum mampu menghasilkan laba secara maksimal dari dana yang telah diberikan oleh pemegang saham.Hasil penelitian ini mendukung penelitian
Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai ROE pada 4 (empat) tahun pertama berada diatas standar rata-rata industri dan nilai ROE yang tertinggi berada pada tahun 2011, tetapi pada tahun 2015 berada 3% dibawah standar rata-rata industri. Nilai ROE PT. Astra International Tbk tahun 2011-2015 terus mengalami penurunan dari tahun ke tahun seiring dengan menurunnya nilai ROA perusahaan dan hal inilah yang menyebabkan nilai ROE perusahaan dikategorikan kurang baik. Hal ini sesuai dengan pernyataan Heri (2015:193) yang menyebutkan bahwa semakin rendah ROE berarti semakin rendah pula jumlah laba bersih yang dihasilkan dari setiap rupiah dana yang tertanam dalam ekuitas. Artinya, rasio ini digunakan untuk mengukur seberapa besar jumlah laba bersih yang akan dihasilkan dari setiap rupiah dana yang tertanam dalam total ekuitas.
3. Earnings per Share (EPS)
Berdasarkan rumus yang telah digunakan dalam menghitung EPS menyebutkan bahwa laba bersih dibagi dengan saham biasa yang beredar, namun laba bersih yang dipakai dalam EPS merupakan laba pemilik entitas saja hal ini sesuai dengan yang tertera pada laporan keuangan audited PT. Astra International Tbk tahun 2011-2015. Kondisi perusahaan menunjukkan seberapa besar laba yang diperoleh untuk pemegang saham biasa dapat dikategorikan kinerja keuangan dalam kondisi yang kurang baik dikarenakan mengalami fluktuasi walaupun terjadi kenaikan di tahun 2012, hal tersebut berarti manajemen kurang berhasil dalam mencapai keuntungan untuk pemegang saham. Hasil penelitian ini tidak mendukung penelitian Faizati (2013) yang mengemukakan bahwa kinerja keuangan berdasarkan EPSPT. Astra International Tbk dikatakan cukup baik.
Berdasarkan tabel 1.1menunjukkan bahwa laba tahun berjalan PT. Astra International Tbk tahun 2011-2015 terus mengalami penurunan walaupun di tahun 2012 sempat mengalami kenaikan dan pada tahun 2015 merupakan penurunan yang paling buruk. Hal inilah yang menyebabkan EPS pada tahun 2015 berada pada grafik yang paling rendah yang terdapat pada gambar 4.10 dan mengalami penurunan drastis dari tahun-tahun sebelumnya. EPS tidak memiliki standar rata-rata industri, hal ini sesuai dengan penelitian Patel dan Mehta (2012:6) yang mengungkapkan bahwa Earnings per share hanya menunjukkan profitabilitas perusahaan pada basis saham. Hal ini tidak mencerminkan berapa banyak yang dibayar sebagai dividen dan berapa banyak yang dipertahankan di dalam bisnis.
4.2.2. Uji Signifikansi Parsial (Uji-t)
Uji-t dilakukan untuk mengetahui seberapa jauh pengaruh satu variabel independen terhadap variabel dependen secara parsial. Uji ini dilakukan dengan membandingkan signifikasi thitung dengan ttabeldan α = 5% dengan ketentuan:
- jika thitung>ttabel, maka Ha diterima untuk α = 5% dan signifikansi < 0,05, - jika thitung<ttabel, maka Haditolak untuk α = 5% dan signifikansi > 0,05.
1. Return On Asset (ROA)
Berdasarkan tabel 4.11, diketahui bahwa nilai tingkat signifikan sebesar 0.002<0.05, maka ROA berpengaruh terhadap kinerja keuangan PT. Astra
tidak selaras dengan hasil penelitian Michael (2013) yang mengemukakan bahwa ROAtidak berpengaruh positif dan signifikan terhadap kinerja keuangan perusahaan.
2. Return On Equity (ROE)
Berdasarkan tabel 4.12, diketahui bahwa nilai tingkat signifikan sebesar 0.002<0.05, maka ROE berpengaruh terhadap kinerja keuangan PT. Astra International Tbk sehingga dapat disimpulkan ROE berpengaruh dalam peningkatan kinerja keuangan PT. Astra International Tbk.Hasil penelitian ini tidak selaras dengan hasil penelitian Patel dan Mehta (2013) yang mengemukakan bahwa ROEtidak berpengaruh positif dan signifikan terhadap kinerja keuangan perusahaan.
3. Earning Per Share (EPS)
Berdasarkan tabel 4.13, diketahui bahwa nilai tingkat signifikan sebesar 0.000<0.05, maka EPS berpengaruh terhadap kinerja keuangan PT. Astra International Tbk sehingga dapat disimpulkan EPS berpengaruh dalam peningkatan kinerja keuangan PT. Astra International Tbk.Hasil penelitian ini tidak selaras dengan hasil penelitian Patel dan Mehta (2013) yang mengemukakan bahwa EPStidak berpengaruh positif dan signifikan terhadap kinerja keuangan perusahaan.
BAB V PENUTUP 5.1. Kesimpulan
Berdasarkan hasil pembahasan pada bab 4.2 melalui analisis rasio keuangan dalam menilai kinerja keuangan PT. Astra International Tbkuntukperiodetahun 2011-2015 makadapatditarikkesimpulansebagaiberikut :
1. Kinerjakeuangan yang ditinjau dari rasio keuangan.
a. Kinerja keuangan yang ditinjau dari rasio likuiditas yang diukurdenganrasiolancar, rasiocepatdikatakan kurang baik dikarenakan walaupun terjadinya kenaikan dari tahun ke tahun, tetapi di tahun 2013 sempat mengalami penurunan yang cukup banyak, namun
rasiokasdikategorikandalamkondisi yang cukupbaikdikarenakancukupnyauangkas yang adapadaperusahaanuntukmembayarhutang.Pada 3 indikatordiatassemuanyamasihberadadibawahstandar rata-rata industri
yang menyebabkanrasiolikuiditas PT. Astra International Tbkbelumbisadikatakanbaik.
b. Kinerjakeuanganperusahaanyangditinjaudarirasiosolvabilitas
DAR mengalamipenurunandaritahunketahunsedangkannilaicash debt coverage ratiomengalamipeningkatanwalaupunsempatmenurunpadatahun
2012 dantahun 2014 namunhaltersebutmembuktikanbahwakinerjakeuanganperusahaanberdasar
kanrasiosolvabilitascukupbaik.
c. Kinerjakeuanganperusahaanyang ditinjaudarirasioaktivitas yang diukurdengan ITO danassets turn overdikategorikandalamkondisi yang kurangbaikdikarenakanterusmengalamipenurunandaritahunketahundanber adadibawahstandar rata-rata industri yang menyebabkanrasioaktivitas PT. Astra International Tbkbelumbisadikatakanbaik.
d. Kinerjakeuanganperusahaan yang
ditinjaudarirasioprofitabilitasdenganmenggunakan 3 indikatordapatdikategorikankurangbaikdikarenakannilai ROA, ROE, dan
EPSterusmengalamipenurunandaritahunketahunwalaupunberada di atasstandar rata-rata industri.
2. Kinerjakeuanganmelaluiuji-t berdasarkanpengaruhvariabelrasioprofitabilitas
(diproksidengan ROA, ROE, dan EPS) menunjukkanvariabelrasioprofitabilitasberpengaruhsignifikanterhadapkinerja
keuangan PT. Astra International Tbk.
5.2. Saran
Berdasarkanhasilpenelitiandanpembahasan, maka saran yang ingindisampaikanpenelitidalampenelitianiniadalahsebagaiberikut :
1. Padaperusahaandiharapkanuntuklebihmeningkatkankinerjakeuangan PT. Astra International Tbkmelaluipeningkatanrasiolikuiditas,rasioaktivitasdanrasioprofitabilitasdeng anberupayauntukmelipatgandakanpertumbuhanasetlancar, memperhatikanpengelolaanaktivitasnya, danmelakukanpengontrolanterhadapkegiatanoperasonal. 2. Padapenelitiaselanjutnyadiharapkandapatmencobamelakukanpenelitiandenga nmenggunakanbeberapaperusahaandanpenambahanperiodekarenauntukpeneli tianinihanyamenggunakan 1 (satu) perusahaandenganperiode 5(lima)
tahunyaitu 2011-2015danmenggunakanpengukuran yang berbedasepertirasiopenilaian.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA