ANALISIS DATA DAN PEMBAHASAN
A. Uji instrumen
2. Analisis Regresi Berganda. a.Uji Asumsi Klasik
Untuk menentukan analisis statistic yang akan digunakan dalam penelitian ini, maka dilakukan pengujian untuk membuktikan independensi masing-masing variabel bebas yang diteliti. Berdasarkan pengolahan data dengan menggunakan program SPSS 19.0 For windows, dapat dilakukan pengujian sebagai berikut.
1) Uji Normalitas
Uji normalitas dilakukan terhadap nilai standardized residual menggunakan One Sample Kolmogorov- Smirnov Test dengan signifikan sebesar 5%
Tabel V.9
One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test
Unstandardized Residual
N 100
Normal Parametersa,b Mean .0000000
Std. Deviation .18530082
Most Extreme Differences Absolute .080
Positive .080
Negative -.062
Kolmogorov-Smirnov Z .797
Asymp. Sig. (2-tailed) .549
a. Test distribution is Normal. b. Calculated from data.
Berdasarkan hasil pengujian pada Tabel V.9, hasil pengujian One Sample Kolmogorov- Smirnov Test menghasilkan asymptotic
significance ≥ 0.05 (0.549 ≥ 0.05). Berdasarkan hasil tersebut maka dapat disimpulkan bahwa model regresi telah memenuhi asumsi kenormalan.
2) Uji Heteroskedastisitas
Uji heterokedastisitas dilakukan untuk menguji apakah dalam sebuah regresi terjadi ketidak samaan varians residual dari satu pengamatan ke pengamatan lain. Model regresi yang baik adalah non heteroskedatis. Dasar pengambilan keputusan adalah dengan melihat ada tidaknya pola tertentu antara Y yang di prediksi dengan residual.
a) Jika ada pola tertentu seperti titik – titik yang ada membentuk suatu pola tertentu yang teratur maka terjadi heteroskedatis.
b) Jika ada pola yang jelas serta titik – titik menyebar di atas dan di bawah angka 0, maka tidak terjadi heteroskedatis.
Berdasarkan hasil pengolahan SPSS 19.0 For windows didapatkan kurva pengujian heteroskedasitas
Gambar V. 1 Uji Heteroskedastisitas
Dari hasil gambar grafik antara nilai sumbu Y (Nilai Y yang di prediksi) dan sumbu X (Nilai residual) menunjukan pola yang tidak jelas, serta titik menyebar di atas dan di bawah sumbu Y secara tidak teratur sehingga menunjukan tidak terjadinya heteroskedastisitas
3) Uji Multikolinearitas
Uji multikolinearitas dilakukan untuk menguji apakah ada model regresi ditemukan adanya korelasi antar variabel bebas. Model regresi yang baik adalah non multikolinear. Analisis ini ditentukan oleh besarnya nilai VIF (Varians Inflation Factor) dan Tolerance. Pedoman suatu model regresi yang bebas
multikoliearitas adalah mempunyai nilai VIF yang tidak lebih dari 10 dan mempunyai angka tolerance tidak kurang dari 0.1.
Berdasarkan hasil pengolahan SPSS 19.0 For windows didapatkan nilai VIF (Varians Inflation Factor) dan Tolerance untuk masing-masing variabel bebas pada table berikut ini:
Tabel V.10 Uji Multikolinieritas Model Collinearity Statistics Tolerance VIF 1 (Constant)
Lingkungan kerja fisik .992 1.008
Lingkungan kerja non fisik .992 1.008
Berdasarkan tabel V.10 di atas dapat diketahui bahwa besarnya nilai VIF (Varians Inflation Factor) dari masing-masing variabel independen memiliki nilai VIF tidak lebih dari 10 dan tolerancetidak kurang dari 0,1. Semakin tinggi nilai nilai VIF maka semakin rendah nilai tolerance sehingga dapat disimpulkan bahwa seluruh variabel tidak menunjukan adanya multikolinearitas.
4) Uji Autokorelasi
Uji autokorelasi dilakukan untuk mengetahui ada tidaknya korelasi antar variabel penggangu pada periode tertentu dengan variabel variabel pengganggu periode sebelumnya. Model regresi
Untuk mendeteksi ada tidaknya masalah autokorelasi dapat dalam model regresi dengan cara membandingkan nilai DW (Durbin-Watson) statistic dan nilai DW table.
Tabel V.11 Uji Auto korelasi
Model
Durbin-Watson
1 1.892
Pada tabel V.11 di atas, diperoleh nilai Durbin-Watson sebesar 1.892 dengan jumlah variabel (k) = 2 dan jumlah sampel 100. Berdasarkan uji di atas tampak bahwa nilai statistikc Durbin-Watson sebesar 1.892 terletak di antara angka -2 dan 2 sehingga dapat disimpulkan bahwa model regresi linear berganda terbebas dari asumsi klasik autokorelasi.
b. Persamaan Regresi
TABEL V.12
Rangkuman Hasil Regeresi Linier Berganda
Model Unstandardized Coefficients Standardized Coefficients t Sig. B Std. Error Beta 1 (Constant) .182 .420 .432 .666
Lingkungan kerja fisik .706 .042 .865 16.970 .000 Lingkungan kerja non
fisik
.290 .092 .161 3.153 .002 a. Dependent Variable: Semangat kerja
Berdasarkan hasil analisis regresi linier berganda pada Tabel V.12 diperoleh persamaan regresi sebagai berikut:
Y = 0.182 + 0.706 X1+ 0.290 X2
Setelah dilakukan analisis regresi dengan SPSS didapatkan nilai α0
sebesar 0.182, nilai β1 sebesar 0.706, dan nilai β2 sebesar 0.290. Pada persamaan diatas dapat dijelaskan juga bahwa Y mewakili semangat kerja, X1 mewakili persepsi karyawan pada lingkungan kerja fisik, dan X2 mewakili persepsi karyawan pada lingkungan kerja non fisik. c. Uji F (Secara Simultan)
Uji-F dilakukan untuk menguji signifikansi koefisien regresi seluruh prediktor (variabel independen) di dalam model secara serentak (simultan). Jadi menguji signifikansi pengaruh persepsi karyawan pada Lingkungan kerja fisik dan Lingkungan kerja non fisik, secara simultan terhadap Semangat kerja
Rumusan hipotesis nol (H0) dan hipotesis alternatif (Ha) mengenai pengaruh variabel persepsi karyawan pada Lingkungan kerja fisik dan Lingkungan kerja non fisik, secara simultan terhadap Semangat kerja adalah sebagai berikut:
H01 = Persepsi karyawan pada lingkungan kerja fisik dan non fisik tidak berpengaruh secara simultan terhadap semangat kerja.
Tabel V.13 Uji F Model F Sig. 1 Regression 145.326 .000a Residual Total
a. Predictors: (Constant), Lingkungan kerja non fisik, Lingkungan kerja fisik b. Dependent Variable: Semangat kerja
Dari hasil perhitungan statistik yang menggunakan SPSS yang tertera pada tabel V.13, diperoleh nilai F sebesar 145.326 dengan tingkat signifikansi 0,000. Dikarenakan nilai F hitung > F tabel (145.326 > 3.9361) dan Nilai signifikansi yang dihasilkan tersebut lebih kecil dari 0,05 (0.000 < 0.005) maka H0 ditolak dan Ha diterima. Hal ini berarti bahwa perubahan variabel Semangat kerja (Y) dapat dijelaskan secara signifikan oleh persepsi karyawan terhadap lingkungan kerja fisik (X1), dan lingkungan kerja non fisik (X2).
Jadi dapat disimpulkan bahwa variabel persepsi karyawan terhadap lingkungan kerja fisik dan lingkungan kerja non fisik, secara serentak atau simultan berpengaruh terhadap semangat kerja pada SP Aluminium, Yogyakarta.
d. Koefisien determinasi (R2)
Ditemukan pula koefisien determinasi (R2) sebesar 0.745 sesuai yang tertera pada Tabel V.14
Tabel V.14 Uji Determinasi Model R R Square Adjusted R Square Std. Error of the Estimate 1 .866a .750 .745 .18720
a. Predictors: (Constant), Lingkungan kerja non fisik, Lingkungan kerja fisik
b. Dependent Variable: Semangat kerja
yang berarti bahwa sekitar 74.5% variasi pada variabel Semangat kerja mampu diterangkan oleh kedua variabel (persepsi lingkungan kerja fisik dan lingkungan kerja non fisik) secara serentak atau simultan. Sedangkan sisanya yaitu sebesar 25.5% diterangkan oleh variasi lain di luar model.
e. Uji t (Secara Parsial)
Yaitu untuk mengetahui tingkat signifikasi dari pengaruh variabel independent secara keseluruhan terhadap variabel dependen. Dari hasil perhitungan, didapat nilai thitung untuk masing-masing variabel independent, dan nilai ttabelpada df = 100
1) Variabel persepsi lingkungan kerja fisik (X1)
a) Menentukan hipotesis nol dan hipotesis alternatif
H02 = Persepsi karyawan pada lingkungan kerja fisik tidak berpengaruh secara parsial terhadap semangat kerja. Ha2 = Persepsi karyawan pada lingkungan kerja fisik
berpengaruh secara parsial terhadap semangat kerja. b) Menentukan taraf signifikansi 0,05
c) Menentukan t hitung dan t tabel
(1) thitung adalah 16.970 diperoleh dari uji regresi linier berganda dapat dilihat pada tabel V.12.
(2) t tabel pada signifikansi 0,05/2= 0,025 (uji 2 sisi) dengan df= n-k-1 atau 100-2-1=97 (k adalah jumlah variabel independen) Di dapat ttabel dengan menggunakan program Ms Excel. Pada cell kosong ketik FINV (0,05;97) kemudian enter, jadi besarnya ttabel adalah 1.9847.
d) Pengambilan keputusan
t hitung t tabel atau – t hitung -t tabel jadi diterima. t hitung > t tabel atau – t hitung < -t tabel jadi ditolak. e) Kesimpulan
Dapat diketahui bahwa thitung (16.970) > ttabel (1.9847) jadi hipotesis nol ditolak, jadi dapat disimpulkan bahwa Persepsi karyawan pada Lingkungan kerja fisik (X1) berpengaruh terhadap semangat kerja (Y). Nilai koefisien dan thitung adalah positif sehingga persepsi karyawan pada lingkungan kerja fisik (X1) berpengaruh secara positif terhadap semangat kerja (Y).
Pengambilan keputusan berdasarkan signifikansi dapat dilihat pada tabel V.12, dari tabel dapat diketahui signifikansi adalah 0,000. Pengambilan keputusan signifikansi > 0,05 jadi Ho diterima, sedangkan signifikansi 0,05 jadi Ho ditolak.
maka hipotesis nol ditolak, jadi dapat disimpulkan bahwa persepsi karyawan pada lingkungan kerja fisik (X1) berpengaruh secara signifikan terhadap semangat kerja (Y). 2) Variabel persepsi lingkungan kerja non fisik (X2)
a) Menentukan hipotesis nol dan hipotesis alternatif
H03 = Persepsi karyawan pada lingkungan kerja non fisik tidak berpengaruh secara parsial terhadap semangat kerja.
Ha3 = Persepsi karyawan pada lingkungan kerja non fisik berpengaruh secara parsial terhadap semangat kerja. b) Menetukan taraf signifikansi 0,05
c) Menentukan t hitung dan t tabel
(1) thitung adalah 3.153 diperoleh dari uji regresi linier berganda dapat dilihat pada tabel V.12.
(2) t tabel pada signifikansi 0,05/2= 0,025 (uji 2 sisi) dengan df= n-k-1 atau 100-2-1=97 (k adalah jumlah variabel independen) Di dapat ttabel dengan menggunakan program Ms Excel. Pada cell kosong ketik FINV (0,05;97) kemudian enter, jadi besarnya ttabel adalah 1.9847.
d) Pengambilan keputusan
t hitung t tabel atau – t hitung -t tabel jadi diterima. t hitung > t tabel atau – t hitung < -t tabel jadi ditolak.
e) Kesimpulan
Dapat diketahui bahwa thitung (3.153) > ttabel (1.9847) jadi hipotesis nol ditolak, jadi dapat disimpulkan bahwa persepsi karyawan pada lingkungan kerja non fisik (X2) berpengaruh terhadap semangat kerja (Y). Nilai koefisien dan thitung adalah positif sehingga lingkungan kerja non fisik (X2) berpengaruh secara positif terhadap semangat kerja (Y).
Pengambilan keputusan berdasarkan signifikansi dapat dilihat pada tabel V.12. Dari table tersebut dapat diketahui signifikansi adalah 0,002. Pengambilan keputusan signifikansi > 0,05 jadi Ho diterima, sedangkan signifikansi 0,05 jadi Ho ditolak. Dan juga diketahui bahwa signifikansi 0,002 lebih kecil dari 0,05 maka hipotesis nol ditolak. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa persepsi karyawan pada lingkungan kerja non fisik (X2) berpengaruh secara signifikan terhadap semangat kerja (Y).
C. Pembahasan
Berdasarkan hasil analisis deskriptif dan regresi berganda penelitian di atas maka dapat diketahui bahwa:
1. Pembahasan hasil analisis
“Positif / Baik”, dan persepsi karyawan pada lingkungan kerja non fisik SP Alumuinium Yogyakarta masuk dalam kategori “Positif / Baik” 2. Pembahasan hasil analisis Regresi Berganda
Diketahui bahwa secara simultan persepsi karyawan pada lingkungan kerja fisik dan lingkungan kerja non fisik berpengaruh secara positif terhadap semangat kerja karyawan SP Alumunium Yogyakarta. Berdasarkan penelitian di atas juga didapati bahwa persepsi karyawan pada lingkungan kerja fisik dan lingkungan kerja non fisik berpengaruh positif terhadap semangat kerja karyawan SP Alumunium Yogyakarta secara parsial.
Dari hasil analisis bab V juga dapat diketahui bahwa persepsi karyawan pada lingkungan kerja fisik memiliki skor rata-rata 4.0900 dan persepsi karyawan pada lingkungan kerja non fisik memiliki skor rata-rata 4.0139. Skor tersebut masuk dalam rentang 3,40 – 4,19. Rentang tersebut menunjukkan bahwa persepsi karyawan pada lingkungan kerja fisik dan non fisik masuk dalam kategori baik.
Bila dilihat pada variabel lingkungan kerja fisik nilai rata-rata terendah sebesar 3.5400 terdapat pada aspek penataan peralatan kerja item ke 2 (Peralatan kerja ditata dengan rapi sehingga memudahkan operasional kerja saya). Untuk meningkatkan semangat kerja perusahaan SP Aluminium Yogyakarta perlu melakukan penataan peralatan kerja dengan lebih teratur dan rapi agar memudahkan operasional kerja
lingkungan kerja fisik semakin baik sehingga semangat kerja karyawan diharapkan meningkat.
Sedang bila dilihat pada variabel persepsi karyawan pada lingkungan kerja non fisik nilai rata-rata terendah sebesar 3.8500 terdapat pada aspek tekanan kerja item ke 2 (saya tidak melihat ada rekan kerja yang mendapatkan tekanan kerja yang berarti). Jadi meski nilai rata-rata variabel lingkungan kerja non fisik item ke 2 memiliki nilai rata-rata terendah dibanding item lain di variabel lingkungan kerja non fisik, skor tersebut tetap masuk dalam rentang kategori baik. Variabel lingkungan kerja non fisik item ke 2 yang sudah masuk dalam rentang kategori baik ini, tetap masih berpeluang/berpotensi untuk diperbaiki agar semangat kerja karyawan meningkat. Salah satu upaya yang dapat dilakukan oleh perusahaan untuk meningkatkan semangat kerja karyawan adalah dengan melakukan perbaikan terhadap tekanan kerja. Perbaikan tekanan kerja yang dimaksudkan adalah dengan memberikan kelonggaran kerja kepada karyawan. Dengan memberikan sedikit kelonggaran kerja kepada karyawan diharapkan persepsi karyawan pada lingkungan kerja non fisik semakin baik dan semangat kerja karyawan diharapkan akan meningkat.
BAB VI