BAB IV ANALISIS DAN PEMBAHASAN
E. Analisis Regresi Berganda
peran pasangan dari wirausaha) terhadap variabel terikat (keberhasilan usaha). Menurut Sugiyono (2004:204) model regresi berganda digunakan:
Dimana :
Y = skor tingkat keberhasilan usaha. b0 = konstanta.
b1, b2, b3 = koefisien regresi.
X1 = skor dimensi variabel peran orang tua sebagai pendiri. X2 = skor dimensi variabel peran saudara.
X3 = skor dimensi variabel peran pasangan dari wirausaha.
e = standar error.
Penelitian ini mempunyai beberapa pengujian yaitu:
1. Uji F (Uji Serentak): untuk membuktikan hipotesis awal tentang pengaruh ketiga variabel bebas, peran orang tua sebagai pendiri, peran saudara, peran pasangan dari wirausaha terhadap keberhasilan usaha. Kriteria pengujian yang digunakan adalah sebagai berikut:
Ho: b1=b2=b3=0, artinya tidak ada pengaruh variabel peran orang tua sebagai pendiri, peran saudara dan peran pasangan dari wirausaha terhadap keberhasilan usaha.
H1: b1≠b2≠b3≠0, artinya ada pengaruh variabel peran orang tua sebagai pendiri, peran saudara kandung dan peran pasangan dari wirausaha terhadap keberhasilan usaha.
Nilai F hitung akan dibandingkan dengan nilai F tabel. Kriteria pengambilan keputusan yaitu:
H0 diterima jika F hitung < F tabel pada α = 5% H1 diterima jika F hitung > F tabel pada α = 5%
2. Uji t (Parsial): pengujian ini dilakukan untuk mengetahui apakah setiapa variabel bebas mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap variabel. Dengan kriteria pengujian yang digunakan adalah sebagai berikut:
Ho: b1=b2=b3=0=0, artinya tidak ada pengaruh variabel peran orang tua sebagai pendiri, peran saudara dan peran pasangan dari wirausaha terhadap keberhasilan bisnis.
H1: b1≠b2≠b3≠0, artinya ada pengaruh variabel peran orang tua sebagai pendiri, peran saudara dan peran pasangan dari wirausaha terhadap keberhasilan bisnis.
Dengan kriteria pengambilan keputusan:
H0 diterima jika t hitung < t tabel pada α = 5% H1 diterima jika t hitung > t tabel pada α = 5%
3. Pengujian Koefisien Determinan (R2)
Determinan digunakan untuk melihat seberapa besar pengaruh variabel bebas terhadap variabel terikat. Dengan kata lain koefisien determinan digunakan untuk mengukur besarnya pengaruh variabel bebas yang diteliti (X1, X2, X3) yaitu peran orang tua sebagai pendiri, peran saudara, peran pasangan dari wirausaha terhadap variabel terikat yaitu keberhasilan usaha (Y) koefisien determinan berkisar antara nol sampai dengan 1 (0 < R2 < 1). Hal ini berarti bila R2 = 0 menunjukkan tidak adanya pengaruh variabel bebas terhadap variabel terikat dan bila R2 mendekati satu menunjukkan semakin kuatnya pengaruh variabel bebas terhadap variabel terikat.
c. Uji Asumsi Klasik
Uji asumsi klasik dilakukan untuk menguji suatu model yang termasuk layak atau tidak latak digunakan untuk penelitian. Uji asumsi ini meliputi:
1. Pengujian normalitas data: pengujian ini digunakan untuk melihat dalam model regresi, variabel dependen dan independennya memiliki distribusi normal atau tidak. Model yang paling baik adalah mendekati normal.
2. Heterokedastisitas: digunakan untuk menguji apakah dalam model regresi terjadi ketidaksamaan variasi dari residual pengamatan yang
lain. Jika varians residual dari suatu pengamatan lain tetap, maka disebut homokedastisitas, jika varians berbeda disebut heterokedastisitas. Model yang paling baik adalah tidak terjadi heteroskedastisitas.
3. Multikolinearitas: digunakan untuk menguji apakah model regresi ditemukan adanya korelasi antar variabel independen dengan variabel dependen. Untuk mendeteksi adanya multikolinearitas, digunakan ketentuan sebagai berikut: jika nilai Varuante Inflantion Faktor ( VIP) lebih besar dari 5, maka terjadi multikolinearitas.
BAB II
RANGKAIAN TEORITIS
A. Penelitian Terdahulu
Juharah (2006) melakukan penelitian yang berjudul “Analisis Peran dan Hubungan keluarga bagi anggota keluarga dalam bisnis keluarga” (Studi Kasus usaha keluarga di Toko Emas Sinar Agung Medan). Variabel peran dan hubungan keluarga sebagai berikut : Orangtua sebagai pendiri, pasangan suami istri di dalam bisnis keluarga, anak-anak di dalam bisnis, kerjasama dan persaingan antara saudara kandung, dan pasangan wirausaha. Dengan menggunakan analisis statistik Skala Likert menunjukkan bahwa pasangan dari wirausaha mempunyai nilai rata-rata tertinggi yaitu 26,5. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa pasangan dari wirausaha mempunyai peranan yang penting di dalam menjalankan bisnis keluarga.
Masrudin (2007) melakukan penelitian yang berjudul “Pengaruh Spirit of Entrepreneur terhadap keberhasilan usaha pada usaha makanan di Jl. Dr. Mansyur Medan” pada tahun 2007, dengan indikator dari Spirit of Entrepreneur
adalah Self Directed (mendisiplinkan diri sendiri), Self Nurturing (percaya pada ide yang didapatnya), Action Orientid (orientasi pada tindakan), dan Highly Energetic (semangat yang tinggi). Berdasarkan penelitian yang diperoleh bahwa
spirit of entrepreneur mempunyai hubungan positif dan signifikan berpengaruh terhadap keberhasilan usaha makanan pada Jl. Dr. Mansyur Medan. Dengan menggunakan unsur keberhasilan usaha secara kualitatif hasil uji analisis statistik regresi sederhana menunjukkan bahwa Y = - 4.4019 + 0,45991 x dengan nilai
t-Hitung 4.8594 dan t-Tabel adalah 2.1315. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan spirit of entrepreneur dan keberhasilan usaha yang signifikan. Hal ini dibuktikan dengan H0 ditolak jika t-Hitung (4,594) t-Tabel (2.1315).
B. Wirausaha
Wirausaha adalah seseorang yang menciptakan suatu bisnis baru dengan mengambil resiko dan ketidakpastian demi mencapai pertumbuhan dan keuntungan dengan cara mengidentifikasi peluang serta menggabungkan sumber daya yang diperlukan untuk mendirikannya (Scarborough dan Zimmerer (2002:3). Meredith menyatakan wirausaha adalah orang-orang yang mempunyai kemampuan melihat dan menilai kesempatan-kesempatan bisnis, mengumpulkan sumber daya yang dibutuhkan guna mengambil keuntungan dari padanya serta mengambil tindakan yang tepat guna memastikan kesuksesan (Anoraga dan Sudantoko, 2002: 137).
Timmons dan McClelland mengatakan karakteristik sikap dan prilaku seorang wirausaha yang berhasil (Suryana, 2003:16-17) adalah:
1. Commitment and determination, yaitu memiliki komitmen dan tekad yang bulat untuk mencurahkan semua perhatiannya pada usaha. Sikap yang setengah hati mengakibatkan besarnya kemungkinan untuk gagal dalam berwirausaha.
2. Desire for responsibility, yaitu memilki rasa tanggung jawab baik dalam mengendalikan sumber daya yang digunakan maupun tanggung jawab terhadap keberhasilan berwirausaha.
3. Opportunity Obsession, yaitu selalu berambisi untuk selalu mencari peluang. Keberhasilan wirausaha selalu diukur dengan keberhasilan untuk mencapai tujuan.
4. Toleransi for risk, ambiguity, and uncertainty, yaitu tahan terhadap resiko dan ketidakpastian. Wirausaha harus belajar untuk mengelola resiko dengan cara mentransfer resiko ke pihak lain seperti bank, investor, konsumen, pemasok dan lain-lain.
5. Self Confidence, yaitu percaya diri. Ia cendrung optimis dan memiliki keyakinan yang kuat terhadap kemampuan yang dimilikinya untuk berhasil.
6. Creativity and flexibility, yaitu berdaya cipta dan luwes. Salah satu kunci penting adalah kemampuan untuk menghadapi perubahan permintaan.
7. Desire for immediate feedback, yaitu selalu memerlukan umpan balik yang segara dan selalu menginginkan hasil dari apa yang dikerjakannya.
8. High level of energy, yaitu memiliki tingkat energi yang tinggi dibandingkan dengan orang kebanyakan.
9. Motivation to excel, yaitu memiliki dorongan untuk selalu unggul, selalu ingin lebih berhasil dalam mengerjakan apa yang dilakukannya melebihi standar yang ada.
10.Orentation to the future, yaitu beroentasi pada masa yang akan datang, untuk tumbuh dan berkembang, ia selalu berpandangan pada masa depan yang lebih baik.
12.Leadership ability, yaitu kepemimpinan dalam kepemimpinan, memiliki kemampuan untuk menggunakan pengaruh tanpa kekuatan (power), harus lebih menggunakan taktik mediator dan negotiator daripada diktator.
C. Kewirausahaan
Kewirausahaan adalah suatu nilai yang diperlukan untuk memulai suatu usaha (start-up phase) dan perkembangan usaha atau disebut venture growth
(Suryana, 2003:13). Kewirausahaan merupakan kemampuan dalam menciptakan sesuatu yang baru dan berbeda (Kasmir, 2006:17).
Presiden Republik Indonesia dalam Instruksinya No. 4 Tahun 1995, tanggal 30 Juni 1995 mengemukakan : kewirausahaan adalah semangat, sikap, perilaku, dan kemampuan seorang dalam menangani usaha dan atau kegiatan yang mengarah pada upaya mencari, menciptakan, menerapkan daya kerja, teknologi, dan produk baru dengan meningkatkan efesiensi dalam rangka memberikan pelayanan yang lebih baik dan atau memperoleh keuntungan yang lebih besar.
Hisrich dan Peters menyatakan dalam (Susanto, 2002:14), pada umumnya kewirausahaan mempunyai sikap yaitu :
1. Pengambilan inisiatif atau prakarsa.
2. Pengorganisasian dan upaya menggerakkan mekanisme sosial serta ekonomi untuk mengubah sumber daya atau keadaan menjadi lebih baik.
3. Keberanian dalam menerima resiko.
Lambing dan Kuehl dalam bukunya Entrepreneurship (2000:19), mengemukakan keuntungan dan kerugian kewirausahaan adalah:
a. Keuntungan kewirausahaan 1. Autonomi( kebebasan).
Yaitu kebebasan untuk membuat keputusan bisnis dan perasaan puas untuk menjadi bos didalam perusahaannya.
2. Challenge of start-up / feeling of achievement ( memulai sebuah tantangan / motif berprestasi).
Untuk sebagian besar wirausaha, tantangan untuk memulai usaha adalah sesuatu yang menyegarkan. Kesempatan untuk mengubah konsep bisnis ke bisnis yang menguntungkan merupakan kebanggaan dan tanggung jawab semata-mata dari ide bisnis yang telah direalisasikan.
3. Financial control (kontrol keuangan).
Wirausaha biasanya mempunyai modal sendiri yang independen, dan ini sering menjadi anggapan bahwa wirausaha biasanya adalah orang-orang yang kaya, tidak semua wirausaha semata-mata mencari kekayaan tetapi mereka lebih menekankan kontrol akan situasi keuangan perusahaan.
b. Kerugian kewirausahaan
1. Personal sacrifices (Pengorbanan Pribadi).
Pada awal beroperasinya perusahaan, wirausaha seringkali bekerja dengan ekstrim yaitu bekerja sepanjang hari mencapai 6 atau 7 hari kerja penuh dalam seminggu, tidak ada waktu berekreasi dan berkumpul dengan keluarga. Keadaan seperti ini dapat menyebabkan wirausaha menjadi stres, dengan pengorbanan pribadi wirausaha tersebut inilah yang membuat usahanya berhasil dan sukses.
2. Burden of responsibility / jack of all trade (Beban Tanggungjawab).
Wirausaha mempunyai beban tanggung jawab yang lebih berat dibandingkan dengan karyawan perusahaan. Karyawan biasanya dapat membagi informasi dengan sesama pekerja lainnya dan mempunyai rasa persahabatan, tapi wirausaha merasakan kesepian berada di puncak kekuasaan. Pekerja mempunyai spesialisasi didalam pekerjaannya, tetapi wirausaha harus mengatur dan memahami semua fungsi di dalam perusahaannya.
3. Little margin for error (Toleransi Tingkat Kesalahan yang Kecil).
Wirausaha harus mempunyai perhitungan yang tepat tentang lokasi, modal yang akan ditanam dan sebagainya dengan tingkat toleransi kesalahan yang sangat kecil.
D. Bisnis Keluarga
Bisnis keluarga adalah usaha yang dimiliki oleh satu atau lebih anggota keluarga (Hoover, 2000: 4). Menurut Petrina Faustine, ketua Indonesia Family Business Network (IFBN) untuk mencari batasan perusahaan keluarga adalah dengan menggunakan skala PEC ( Power, Experience, Culture).
Skala power (kekuatan) dilihat dari sejauh mana kepemilikan langsung atau tidak langsung sebuah keluarga, juga dari perbandingan jumlah anggota keluarga dan non keluarga yang terlibat dalan kepengurusan dan manajemen perusahaan tersebut. Skala Experience (pengalaman) dapat dilihat dari generasi kepemilikan yang aktif dalam manajemen serta jumlah anggota keluarga yang berkontribusi.
Sedangkan skala Culture (budaya) dapat dilihat dari sejauh mana nilai keluarga mempengaruhi nilai bisnis dan juga komitment perusahaan keluarga tersebut.
John L. Ward menyatakan, ada tiga hal yang harus diketahui oleh wirausaha keluarga yaitu:
1. Sukses bukanlah suatu kebetulan, kemakmuran dicapai setelah melalui beberapa generasi yang bekerja keras.
2. Perusahaan keluarga yang sukses adalah perencanaan yang dilakukan dengan sangat hati-hati. Wirausaha merencanakan masa depan usaha bisnis dan keluarga.
3. Melalui perencanaan, wirausaha mengantisipasi isu yang biasanya dihadapi dalam bisnis. Wirausaha membuat kebijakan untuk mengatasi isu tersebut, serta mengasuh naluri untuk kepentingan usaha dan keluarga (Susanto, 2002: 29).
Tabel 2.1
Ciri-ciri bisnis keluarga
No Kategori Bisnis keluarga
1 Kepemilikan 100% dimiliki oleh keluarga. 2 Pengawasan Oleh keluarga.
3 Motivasi Pada kepuasan pemilik
4 Pembuatan Cepat, berdasarkan intuisi, sukses atau gagal merupakan tanggung jawab. 5 Pendelegasian Tidak jelas.
6 Jam kerja Tidak terbatas.
7 Kepemimpinan Paternalistik, regenerasi didasarkan pada dukungan keluarga dan prestasi.
8 Pengembangan karir
Tidak jelas, kecil kesempatan untuk korupsi. Sumber (Susanto, 2002 : 30)
Aspek positif dalam bisnis keluarga adalah adanya komitmen yang tinggi dari anggota keluarga, rasa memiliki yang menyebabkan lebih cepatnya pencapaian tujuan perusahaan. Ada keserasian tata nilai dari anggota keluarga, memudahkan terciptanya budaya korporasi yang sama diantara mereka, hingga pemgelolaan perusahaan berjalan lancar. Dalam bisnis keluarga juga ada rasa saling percaya yang tinggi, dan hal ini menyebabkan proses pengawasan lebih cepat. Untuk sumber finansial, pada umumnya perusahaan didanai secara konservatif atau berasal dari dana pribadi. Biasanya pengelolaan keuangan perusahaan dilakukan secara hati-hati sebab menyangkut hajat hidup keluarga.
Hisrich dan Peters menyatakan pendapatnya dalam (Susanto, 2002:31) banyak hal yang menjadi latar belakang seorang wirausaha keluarga, namun beberapa hal yang telah dipastikan berpengaruh besar dalam pembentukan bisnis keluarga adalah berasal dari :
1. Lingkungan keluarga, mayoritas terdiri dari : a. Anak tertua (sulung).
b. Ayah atau Ibu.
c. Saudara dari pihak ayah dan Ibu. 2.Pendidikan terdiri dari :
a. Pendidikan formal. b. Pendidikan luar sekolah. c. Pendidikan dalam keluarga. 3. Nilai pribadi
Nilai pribadi biasanya berskala pada kepemimpinan, semangat, agresif, perbuatan baik, kecocokan, kreatifitas dan kejujuran.
4. Umur, terdapat perbedaan antara :
a. Wirausaha pria biasanya memulai berwirausaha pada awal usia 30 tahun. b. Wirausaha wanita biasanya memulai berwirausaha pada pertengahan usia
30 tahun.
c. Secara umum wirasaha memulai karirnya antara usia 22 hingga 55 tahun. Keuntungan keterlibatan anggota keluarga didalam bisnis menurut Longenecker,et al., (2001 : 37):
1. Kuatnya ikatan persaudaraan didalam bisnis keluarga.
2. Perusahaan dapat menggunakan tema keluarga bersangkutan didalam periklanan dan membuatnya berbeda dari pesaingan.
3. Anggota keluarga mau mengorbankan pendapatannya untuk keperluan perusahaan keluarga.
E.Suksesi dalam bisnis keluarga
Suksesi merupakan suatu proses yang harus dilalui oleh setiap perusahaan keluarga dengan tetap memberikan kesempatan kepada anggota keluarga dan orang lain untuk dapat menduduki posisi jabatan strategis dan non strategis (Lansberg, 2005: 12).
Suksesi merupakan suatu perjalanan atau mekanisme dari berjalannya roda bisnis dengan memberikan arah dan tujuan yang jelas terhadap pencapaian keberhasilan bisnis, suksesi memberikan pemahaman bahwa suksesi yang sebenarnya adalah kekuatan didalam perusahaan keluarga dan kekuatan itu adalah pemilik perusahaan sendiri. Di dalam perusahaan keluarga, organisasi bisnis sendiri cendrung mementingkan keluarga pemilik bisnis, dan kekuatan emosional sering menghalangi kemajuan dari perencanaan itu sendiri, padahal perencanaan suksesi membuat suatu perubahan yang akan memberikan keberhasilan pada kepemimpinan generasi baru.
Proses suksesi dalam keluarga ditekankan pada komunikasi yang kuat antara generasi tua dan muda sehingga tercapai kesamaan pandangan kedepan untuk bekerja bersama-sama dalam rangka mencapai tujuan usaha, adapun strategi dan perencanaan suksesi ( Lansberg, 2005: 167) adalah :
1. Bersikap aktif, mengutamakan musyawarah untuk dapat memilih opsi atau pilihan yang tepat serta konsekuensi terhadap implikasi dari setiap perencanaan suksesi. Perusahaan keluarga dalam menghadapi tantangan kedepan terutama pada proses suksesi, tetap mengunakan proses penggantian kepemimpinan secara bijaksana.
2. Menciptakan kondisi yang nyaman bagi anggota keluarga untuk membicarakan harapan dan impian dimasa mendatang. Ini merupakan sebuah pemikiran dari para pemilik perusahaan keluarga yang menginginkan sebuah kemajuan dan perkembangan pesat dari usahanya
3. Melanjutkan kembali penilaian terhadap kelayakan dari harapan atau impian. Mungkin ini merupakan intropeksi dari keluarga sendiri yang merasa skeptis terhadap harapan dan visi perusahaan.
4. Membuat perencanaan jangka panjang dan jangka pendek yang merupakan langkah menuju strategi perencanaan suksesi yang lebih menekankan pada kebutuhan perusahaan.
5. Pengembangan struktur dan proses kepemimpinan yang efektif. Struktur kepemimpinan yang menitikberatkan pada pengembangan kelembagaan dengan menentukan hak dan tanggung jawab dari setiap anggota keluarga.
6. Kelanjutan perencanaan yang digunakan untuk mengantisipasi tantangan dan perkembangan kebijakan sebelum hal-hal yang tidak diinginkan terjadi.
7. Melakukan kerjasama dengan semua anggota keluarga yang terlibat. 8. Selalu mencari informasi yang up-to date dan terus memperbaiki
sistim manajemen perusahaan dan pengembangan kualitas
9. Membangun rasa saling percaya dan mempunyai rasa belas kasih dan bertindak adil dan mengembangkan komunikasi baik vertikal maupun horizontal untuk dapat melaksanakan visi kedepan perusahaan.
F.Peran dalam Hubungan Keluarga.
Peran dalam hubungan keluarga menurut Gross, Mason dan McEachern adalah seperangkat harapan-harapan yang dikenakan pada individu yang menempati kedudukan sosial tertentu dalam keluarga, bila individu menempati kedudukan tertentu, maka mereka merasa bahwa setiap kedudukan yang mereka tempati akan menimbulkan harapan (expectations) dari orang-orang disekitarnya (Berry, 2003:114). Horton dan Hunt menyatakan, peran adalah prilaku yang diharapkan dari seseorang yang memiliki sesuatu status
Peran dalam hubungan keluarga (Longnecker, et.al., (2001:410) adalah:
1.Orang tua sebagai pendiri.
Pada umumnya, didalam usaha keluarga adalah seorang pria atau wanita yang mendirikan dan merencanakan untuk mewariskan bisnis kepada anak laki-laki atau anak perempuan. Pada kebanyakan kasus, bisnis keluarga bertambah secara serentak. Beberapa pendiri bisnis sulit mencapai keseimbangan antara bisnis dan tanggung jawab keluarga. Di dalam situasi yang lain orang tua juga harus bisa meluangkan waktu untuk berkumpul bersama anak-anaknya.
Pendiri bisnis keluarga yang memiliki anak usia remaja merencanakan anaknya untuk ikut serta dalam bisnis dan tujuh puluh delapan persen dari semua pendiri bisnis keluarga berniat untuk mewariskan bisnis mereka kepada anak-anaknya (Zimmerer dan Scarborough, 2002:56).
Peran orang tua dalam hubungan dengan anak akan semakin komplek karena orang tua di dalam menjalankan perannya akan banyak mengalami konflik. Di satu pihak orang tua sebagai pengendali bisnis keluarga mempunyai peran sebagai
atasan, tetapi dilain pihak orang tua mempunyai peran untuk menjadi kepala keluarga yang harus memelihara hubungan baik dengan anak-anaknya.
2. Peran saudara.
Keluarga dengan beberapa anak, dua atau lebih dari mereka mungkin akan terlibat didalam bisnis keluarga. Ini tergantung keinginan dari individu anak-anak. Pada beberapa kasus, orang tua merasa beruntung jika paling tidak satu anak-anak memilih untuk menjalankan bisnis keluarga. Namun, masalah akan timbul jikalau dua atau lebih anak-anak yang terlibat dalam bisnis keluarga. Yang terbaik adalah anak-anak bekerja menjadi suatu tim, setiap anak memberikan kontribusi pelayanan menurut kemampuan masing-masing. Sebagaimana pengalaman keluarga perusahaan terbaik dan kesatuan didalam hubungan keluarga, bisnis keluarga akan mendapatkan keuntungan dari kolaborasi yang efektif antara kakak dan adik.
Lambing dan Kuehl dalam buku Entrepreneuship (2000:39) menyatakan bahwa masalah akan timbul jika beberapa anak ingin terlibat didalam bisnis keluarga. Orang tua sebagai pendiri bisnis harus memutuskan anak-anak yang akan bergabung didalam menjalankan bisnis keluarga, dan disinilah potensial persaingan antara saudara kandung.
3. Peran pasangan dari wirausaha.
Bisnis keluarga yang pada awalnya hanya keluarga inti, setelah mengalami perkembangan akan merekrut karyawan dari lingkungan keluarga sendiri juga baik itu sanak famili, keponaan sampai pada pasangan dari wirausaha/menantu, walaupun mempekerjakan orang-orang yang mempunyai hubungan kekeluargaan menurut Raharja prinsip Good Corporate Governance (Tata Kelola Perusahaan
Yang Baik) harus tetap dijalankan, dalam bisnis keluarga pasangan wirausaha juga mempunyai peran yang sangat penting. Mereka bisa memberikan motivasi dan dorongan kepada wirausaha, menjadi pendengar yang baik, bisa menjadi mediator antara para wirausaha jika terjadi perbedaan pendapat, ikut serta memberikan masukan dan saran-saran untuk kemajuan bisnis dan juga membantu dalam menanggulangi masalah-masalah yang ada dalam bisnis.
G.Keberhasilan Usaha.
Nasution mengemukakan dalam bukunya “Pengembangan Wirausaha Baru” yang dikatakan keberhasilan dalam bisnis adalah jika hasil penjualan meningkat, keuntungan bertambah, perputaran dana berkembang cepat dan berkembangnya usaha.
kewirausahaan mempunyai pengaruh langsung positif terhadap keberhasilan usaha yang berimplikasi bahwa semakin berani seorang wirausaha kecil mengambil resiko, beradaptasi dan percaya diri untuk melakukan pembangunan usaha maka akan semakin meningkat kinerja usahanya.
Keberhasilan usaha usaha kecil dipengaruhi oleh kompetensinya, untuk itu usaha kecil harus memperhatikan sumber daya manusia dan sumberdaya lainnya yang terintegrasi pada organisasi yang oleh Hitt (1997) disebut komponen analisis internal (
Suryana (2003:55) keberhasilan itu ditentukan oleh: 1. Kemampuan dan kemauan.
2. Memiliki tekad yang kuat dan kerja keras. 3. Adanya kesempatan dan peluang.
Sulipan (2005) menyatakan bahwa keberhasilan dalam berwirausaha harus berdasarkan pada hal dibawah ini:
1. Bebas dari perasaan takut, cemas dan rendah diri dalam berusaha. 2. Disiplin dan berkepribadian yang kuat di dalam menjalankan usahanya. 3. Bekerja dan berusaha dengan tekun dan tekad yang kuat untuk maju. 4. Berusaha dengan penuh keyakinan.
5. Yakin pada kemampuan diri sendiri.
6. Mempunyai bakat serta mengembangkannya dalam berwirausaha. 7. Mempunyai semangat yang tinggi dan penuh kesungguhan.
BAB III
GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN
A. Toko Ima Brownies Medan 1. Sejarah Singkat Perusahaan
Toko Ima Brownies didirikan oleh Bapak Mizkan Nerwin bersama istrinya Ibuk Effti Ramadiah pada tahun 2000. Pada awal mereka baru menikah Bapak Mizkan pergi ke Yogya ke rumah saudaranya. Bapak Mizkan berangkat ke Yogya bertujuan untuk belajar bagaimana cara membuat Brownies, kebetulan saudaranya di sana membuat usaha kecil-kecilan dengan membuat usaha Brownies, kurang lebih 5 bulan di Yogya, Bapak Mizkan kembali ke Medan. Sesampainya di Medan Bapak bersama Ibuk Effti mencoba resep Brownies tersebut tanpa terpikirkan untuk menjual, namun ternyata penganan itu disukai banyak orang sehingga akhirnya Bapak Mizkan dan keluarga berani melempar kue tersebut ke pasar.
Pada awal merintis usaha brownies, Bapak Mizkan hanya menitipkan browniesnya dibeberapa toko. Toko tempat penitipan brownies awalnya ada 18 tempat, akan tetapi karena banyak produk yang tidak laku akhirnya hanya dititipkan di 6 tempat saja, dan itu menjadi tempat penitipan yang tetap. Bapak Mizkan tidak berhenti sampai disitu, dia dan keluarga mencoba penjualan dengan sistem sales. Pada awalnya Bapak Mizkan mempekerjakan 3 sales dari keluarga sendiri, sebagai penambah motivasi para sales tersebut, Bapak menjual penganan kepada 3 sales tersebut di bawah harga jual, akan tetapi ke 3 sales tersebut dapat menjualnya dengan harga yang lebih dari harga pasar. Melihat kemajuan dari penjualan tersebut Bapak Mizkan mulai memperluas pemasarannya dengan memasukkan atau menitipkannya di beberapa kantor, seperti Bank, Rumah Sakit,
kantor-kantor pemerintahan seperti: kantor Gubenur, Balai Kesehatan, kantor