• Tidak ada hasil yang ditemukan

KUALITAS PELAYANAN

ANALISIS DATA DAN PEMBAHASAN A. Deskripsi Data

B. Hasil Pengujian Instrumen

2. Analisis Regresi

A. Hasil Uji Asumsi Klasik

i. Uji Normalitas

Uji statistik yang dapat digunakan untuk menguji

Normalitas residual adalah statistic non-parametrik Kolmogorov-Smirnov. Metode pengujian Netral tidaknya distribusi data dilakukan dengan melihat nilai signifikansi

variabel, jika signifikan lebih besar 5% maka menunjukan

51

Tabel V.8 Hasil Uji Normalitas

Berdasarkan hasil pengujian pada Tabel V.19, hasil

pengujian One Sample Kolmogorov - Smirnov Test

menghasilkan asymptotic significance ≥ 0.05. Hasil dari perhitungan spss sebesar (0,185 ≥ 0.05). Berdasarkan hasil tersebut maka dapat disimpulkanbahwa model regresi telah

memenuhi asumsi kenormalan.

ii. Uji Heteroskesdastisitas

Uji heterokedastisitas dilakukan untuk menguji apakah

dalam sebuah regresi terjadi ketidak samaan varians

residual dari satu pengamatan ke pengamatan lain. Model

regresi yang baik adalah non heteroskedastisitas. Dasar

pengambilan keputusan adalah dengan melihat ada tidaknya

pola tertentu antara Y yang diprediksi dengan residual.

One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test

Unstandardize d Residual

N 100

Normal Parametersa,b Mean 0E-7

Std. Deviation 28,31799006

Most Extreme Differences

Absolute ,109

Positive ,044

Negative -,109

Kolmogorov-Smirnov Z 1,091

Asymp. Sig. (2-tailed) ,185

a. Test distribution is Normal. b. Calculated from data.

52

a) Jika ada pola tertentu seperti titik – titik yang ada membentuk suatu pola tertentu yang teratur maka terjadi

heteroskedastisitas.

b) Jika ada pola yang jelas serta titik – titik menyebar di atas dan di bawah angka 0, maka tidak terjadi

heteroskedastisitas.

Berdasarkan hasil pengolahan SPSS 20 For windows

didapatkan kurva pengujian heteroskedasitas seperti terlihat

pada gambar dibawah ini:

Dari hasil gambar grafik antara nilai sumbu Y (Nilai Y

yang diprediksi) dan sumbu X (Nilai residual) menunjukan

53

bawah sumbu Y secara tidak teratur sehingga tidak

terjadinya heteroskedastisitas.

B. Analisis regresi sederhana

Berdasarkan perhitungan regresi sederhana antara Kualitas

Pelayanan dan Brand Image dengan menggunakan program

SPSS 20, diperoleh hasil sebagai berikut.

Tabel V.9

Hasil analisi regresi sederhana

Coefficientsa Model Unstandardized Coefficients Standardized Coefficients t Sig. B Std. Error Beta 1 (Constant) 1,385 ,329 4,204 ,000 KUALITAS PELAYANAN ,591 ,080 ,598 7,392 ,000

a. Dependent Variable: BRAND IMAGE

Dari hasil perhitungan Tabel V.18, dapat dilihat ke dalam

bentuk persamaan regresi sederhana sebagai berikut:

Y = 1,385 + 0,591X

dimana:

Y = Brand Image

54

C. Uji Hipotesis

Untuk mengetahui ada tidaknya pengaruh variabel bebas

terhadap variabel terikat maka dilakukan pengujian terhadap

hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini. Metode pengujian

terhadap hipotesis yang diajukan, dilakukan pengujian secara

parsial.

i. Uji t (Secara Sendiri-sendiri)

Tabel V. 10 Hasil Uji t

1. Variabel Kualitas Pelayanan a) Menentukan hipotesis

Ho : b1 = 0, artinya tidak ada pengaruh Kualitas Pelayanan terhadap Brand Image

Ha : b1 ≠ 0, artinya ada pengaruh Kualitas Pelayanan terhadap Brand Image

b) t tabel= t (a) ; (n – k – 1) atau 100-1-1 = 98 k = jumlah variabel independen

n = jumlah sampel

c) Ho diterima, jika t hitung ≤ t tabel atau -t hitung ≥ -t tabel. Ho ditolak, jika t hitung > t tabel atau -t hitung < -t tabel.

Coefficientsa Model Unstandardized Coefficients Standardized Coefficients t Sig. B Std. Error Beta 1 (Constant) 1,385 ,329 4,204 ,000 KUALITAS PELAYANAN ,591 ,080 ,598 7,392 ,000

55

d) Kesimpulan

Dari hasil perhitungan statistik yang menggunakan

SPSS 20 yang tertera pada Tabel V.13, diperoleh nilai t untuk Kualitas Pelayanan sebesar 7.392 dengan tingkat signifikansi

0.000. Nilai signifikansi yang dihasilkan tersebut lebih kecil

dari 0,05 dan nilai t untuk Kualitas Pelayanan lebih besar dari

pada 1.661 (7.392 > 1.661 ) maka Ho diterima. Maka

kesimpulannya adalah Kualitas Pelayanan mempunyai

pengaruh terhadap Brand Image.

ii. Koefisien Determinasi (� )

Ditemukan pula koefisien determinasi (� ) sebesar 0.351 sesuai yang tertera pada Tabel V.14

Tabel V.11

Yang berarti bahwa sekitar 35.1% pada variabel Brand Image

mampu diterangkan oleh variabel Kualitas Pelayanan. Sedangkan

sisanya yaitu sebesar 64.9% diterangkan oleh variabel lain di luar

model. Model Summary Model R R Square Adjusted R Square Std. Error of the Estimate 1 ,598a ,358 ,351 ,387

56 D. Pembahasan

Hasil uji hipotesis digunakan untuk menjawab tujuan dari penelitian.

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh Kualitas

Pelayanan terhadap Brand Image secara parsial. Berikut adalah penjelasan dari pengujian hipotesis:

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa variabel Kualitas Pelayanan

berpengaruh positif terhadap Brand Image Restoran Koki Joni. Hal ini terbukti dengan perhitungan pada uji t dengan t hitung sebesar 7.392

dengan tingkat signifikan 0,000. Artinya adanya pengaruh kualitas

pelayanan terhadap brand image diterima.

Pelayanan merupakan sebuah kegiatan yang memberikan manfaat

bagi seseorang sebagai akibat dari perubahan yang diinginkan. Pelayanan

dikatakan memuaskan jika layanan yang dirasakan sama atau melebihi

kualitas yang diharapkan. Ada 5 dimensi kualitas pelayanan yaitu

tangibels (bukti fisik), reliability (keandalan), responsineveness (daya tanggap), assurance (jaminan), dan empathy (empati).

Ada 5 kategori untuk menilai bahwa kualitas pelayanan dan brand image dapat dikatakan sangat rendah (SR), rendah (R), cukup (C), Tinggi (T), sangat tinggi (ST). Untuk skala kategori SR (1,00-1,79), kategori R

(1,80-2,59), kategori C (2,60-3,39), kategori T (3,40-4,19), dan kategori

ST (4,20-5,00). Jika melihat dari hasil penelitian yang sudah saya lakukan

57

ini berada dalam rentang 3,40-4,19 yang berarti T (tinggi). Ini menunjukan

bahwa kualitas pelayanan di restoran koki joni tinggi. Rata-rata untuk

dimensi tangibels (bukti fisik) diperoleh 4.07, reliability (keandalan) diperoleh 4.12, responsineveness (daya tanggap) diperoleh 4.12, assurance

(jaminan) diperoleh 4.19, dan empathy (empati) diperoleh 3.8. Dari semua rata-rata dimensi tersebut berada dalam rentang 3,40-4,19. Ini menunjukan

bahwa semua dimensi tergolong T (tinggi). Untuk variabel brand image

memperoleh rata-rata 3,8. Nilai ini berada dalam rentang 3,40-4,19 yang

berarti T (tinggi). Ini menunjukan bahwa brand image restoran koki joni tergolong tinggi. Rata-rata untuk setiap indikator brand image yaitu kesan profesional 4.1, kesan modern 3.5, melayani semua segmen 4, dan

perhatian pada konsumen 3.8. Nilai dari semua indikator brand image

berada dalam rentang 3,40-4,19 yang berarti T (tinggi). Namun pada

indikator kesan modern nilai rata-rata terendah dari indikator lainnya.

Pada penelitian saya ini bahwa untuk membangun brand image yang lebih baik lagi, hendaknya perusahaan meningkatkan kualitas

pelayanannya. Pada hasil yang sudah saya teliti bahwa untuk membangun

brand image restoran koki joni yang lebih baik, maka perusahaan hendaknya memprioritaskan dimensi empathy (empati) karena dimensi

empathy rata-ratanya terendah. Pada item pernyataan yang terendah didalam dimensi empathy (empati) terdapat pada item pernyataan ke-19

yang bunyinya “selalu memberikan informasi jika terdapat menu baru”

58

gangguan fasilitas (wifi dan mesin debit)”. Hal ini hendaknya menjadi

suatu prioritas restoran koki joni untuk meningkatkan brand image

restoran koki joni.

Pada dimensi empati ini membahas mengenai perhatian secara lebih

antara karyawan kepada konsumen akan kebutuhan pelanggannya, seperti

mengenai jika terdapat menu baru, karyawan secara langsung harus

memberi informasi kepada konsumen. Karena itu termasuk kedalam

perhatian lebih terhadap pelanggan. Perhatian lebih terhadap

gangguan-gangguan fasilitas restoran seperti wifi dan mesin debit/kredit, informasi

tersebut harus langsung dikatakan kepada konsumen agar konsumen

merasa diperhatikan dan mengerti tentang apa yang sedang dialami

restoran. Sehingga restoran koki joni harus meningkatkan dimensi

empathy (empati) dengan memberikan pelatihan dan bimbingan secara penuh kepada setiap pramusaji restoran koki joni. Perhatian lebih tersebut

juga dapat tumbuh dengan rasa inisiatif individu masing-masing tanpa

harus diberitahu. Hendaknya restoran koki joni merekrut

59 BAB VI

KESIMPULAN, SARAN DAN KETERBATASAN

Dokumen terkait