BAB III METODE PENELITIAN
E. Teknik Analisis Data
2. Analisis Regresi Linier Berganda
Teknik analisis yang digunakan adalah analisis regresi linier berganda dengan tingkat signifikan 0,05 dengan penerimaan pendapatan asli daerah (X1), dana alokasi umum (X2), dan penerimaan lain-lain
pendapatan daerah yang sah (X3) pada Belanja Daerah (Y) Kabupaten Bengkayang. Persamaan regresi yang digunakan adalah :
Y= α +β1 X1 +β2 X2+β3 X3+βn Xn Dimana :
Y = Belanja Daerah
X1 = Pendapatan Asli Daerah X2 = Dana Perimbangan
α = Konstanta
β = Koefesien Regresi 3. Uji Hipotesis
a. Uji Koefisien Determinasi (R2)
Uji Koefesien Determinasi untuk mengetahui seberapa besar presentase sumbangan pengaruh variabel independen secara bersama-sama terhadap variabel dependen. Cara yang dilakukan dengan melihat nilai R2 pada output tabel Model Summary.
b. Uji F
Uji F untuk mengetahui apakah variabel-variabel independen secara bersama-sama (simultan) berpengaruh terhadap variabel dependen. Cara yang dilakukan dengan membandingkan nilai F hitung dengan F table dengan ketentuan sebagai berikut :
Ho = 0, berarti tidak ada pengaruh signifikan dari pendapatan asli daerah, dana perimbangan, dan lain-lain pendapatan yang sah terhadap belanja daerah secara simultan (bersama-sama);
Ho > 0, berarti ada pengaruh yang signifikan dari pendapatan asli daerah, dana perimbangan, dan lain-lain pendapatan yang sah terhadap belanja daerah secara simultan (bersama-sama).
Tingkat kepercayaan yang digunakan adalah 95% atau taraf signifikansi 5% (α = 0,05) dengan kriteria penilaian sebagai berikut: 1) Jika F hitung > F tabel, maka Ho ditolak dan Ha diterima yang
lain-lain pendapatan yang sah secara bersama-sama mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap belanja daerah.
2) Jika F hitung < F tabel, maka Ho diterima dan Ha ditolak yang berarti bahwa pendapatan asli daerah, dana perimbangan, dan lain-lain pendapatan yang sah secara bersama-sama tidak mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap belanja daerah.
c. Uji t
Uji t untuk mengetahui pengaruh masing-masing variabel independen secara parsial (individu) tehadap variabel dependen. Uji t dilakukan dengan membandingkan t hitung terhadap t tabel dengan ketentuan sebagai berikut:
Ho = 0, berarti bahwa tidak ada pengaruh dari pendapatan asli daerah, dana perimbangan dan lain-lain pendapatan yang sah terhadap belanja daerah secara parsial;
Ho > 0 berarti bahwa ada pengaruh dari pendapatan asli daerah, dana perimbangan, dan lain-lain pendapatan yang sah terhadap belanja daerah secara parsial.
Tingkat kepercayaan yang digunakan adalah 95% atau taraf signifikansi 5% (α = 0,05) dengan kriteria penilaian sebagai berikut: 1) t hitung > t tabel, maka Ho ditolak dan Ha diterima yang berarti
bahwa ada pengaruh yang signifikan dari pendapatan asli daerah, dana perimbangan, dan lain-lain pendapatan yang sah terhadap belanja daerah secara parsial.
2) t hitung < t tabel, maka Ho diterima dan Ha ditolak yang berarti bahwa tidak ada pengaruh yang signifikan dari pendapatan asli daerah, dana perimbangan, dan lain-lain pendapatan yang sah terhadap belanja daerah secara parsial.
38 BAB IV
GAMBARAN UMUM PEMERINTAH DAERAH
KABUPATEN BENGKAYANG
A. Sejarah Kabupaten Bengkayang
Kabupaten Bengkayang pada masa penjajahan Belanda merupakan bagian dari wilayah Afdeling Van Singkawang. Pada saat itu, pembagian wilayah administrasi Afdeling yang daerah hukumnya meliputi : Onder Afdeling Singkawang, Bengkayang, Pemangkat dan Sambas (Daerah Kesultanan Sambas), kemudian daerah Kerajaan/Panembahan Mempawah, serta daerah Kerajaan Pontianak yang sebagian daerahnya adalah Mandor. Setelah Perang Dunia ke-II berakhir, daerah tersebut dibagi menjadi daerah otonom Kabupaten Sambas yang ibu kotanya berada di Singkawang, Kabupaten Sambas dan membawahi 4 (empat) kawedanan, yaitu: Kawedanan Singkawang, Kawedanan Pemangkat, Kawedanan Sambas dan Kawedanan Bengkayang.
Pada masa pemerintahan RI, menurut Undang-Undang Nomor 27 tahun 1959 tentang penetapan Undang-Undang Darurat Nomor 3 tahun 1953 mengenai pembentukan Daerah Tingkat II di Kalimantan Barat, terbentuklah Kabupaten Sambas. Wilayah Kabupaten Sambas ini mencakup seluruh wilayah Kabupaten Bengkayang sekarang. Dengan terbitnya Undang-Undang Nomor 10 tahun 1999 tentang Pembentukan Daerah Tingkat II Bengkayang, secara resmi mulai tanggal 20 April 1999,
Kabupaten Bengkayang terpisah dari Kabupaten Sambas. Selanjutnya, pada tanggal 27 April 1999, Menteri Dalam Negeri dan Otonomi Daerah mengangkat Bupati Bengkayang yang pertama kali dijabat oleh Drs. Jacobus Luna. Pada waktu itu, wilayah Kabupaten Bengkayang meliputi 10 Kecamatan.
Keberadaan Undang-Undang Nomor 12 tahun 2001 tentang Pembentukan Pemerintah Kota Singkawang mengakibatkan Kabupaten Bengkayang dimekarkan kembali dengan melepas 3 kecamatan yang masuk kedalam wilayah pemerintahan Kota Singkawang sehingga tinggal menjadi 7 kecamatan. Kemudian pada tahun 2002, Kabupaten Bengkayang dari 10 kecamatan kembali bertambah dengan 3 kecamatan, yaitu: Kecamatan Monterado, Kecamatan Teriak dan Kecamatan Suti Semarang. Pada awal tahun 2004 dari 10 kecamatan, kembali dimekarkan menjadi 14 kecamatan barunya, yaitu: Kecamatan Capkala, Kecamatan Sungai Betung, Kecamatan Lumar dan Kecamatan Siding. Pada tahun 2006 dari 14 kecamtan tersebut dimekarkan kembali menjadi 17 kecamatan. Adapun 3 kecamatan yang baru terbentuk adalah Kecamatan Sungai Raya Kepulauan, Kecamatan Lembah Bawang dan Kecamatan Tujuh Belas.
B. Kondisi Geografis
Kabupaten Bengkayang merupakan salah satu Kabupaten yang terletak di sebelah utara Propinsi Kalimantan Barat. Secara geografis, Kabupaten Bengkayang terletak di 0033’00” Lintang Utara sampai 1030’00” Lintang Utara dan 108018’14” Bujur Timur sampai 110010’00” Bujur Timur. Secara administratif, batas-batas wilayah Kabupaten Bengkayang adalah sebagai berikut:
1. Utara : Kabupaten Sambas Serawak (Malaysia Timur) 2. Selatan : Kabupaten Pontianak
3. Timur : Kabupaten Landak dan Kabupaten Sanggau 4. Barat : Kota Singkawang dan Laut Natuna
Ada dua kondisi alam yang membedakan wilayah Kabupaten Bengkayang. Kondisi alam yang pertama adalah pesisir pantai. Keseluruhan wilayah pesisir ini termasuk dalam wilayah administrasi Kecamatan Sungai Raya dan Kecamatan Sungai Raya Kepulauan. Kondisi alam yang kedua adalah daratan dan perbukitan yang terdiri dari Kecamatan Capkala, Samalantan, Monterado, Lembah Bawang, Bengkayang, Teriak, Sungai Betung, Ledo, Suti Semarang, Lumar, Sanggau Ledo, Seluas, Jagoi Babang, dan Siding. Ada tiga Daerah Aliran Sungai (DAS) utama yang melintasi wilayah Kabupaten Bengkayang, yaitu: DAS Sambas, DAS Sungai Raya, dan DAS Sungai Duri. Dari ketiga DAS tersebut, yang paling besar adalah DAS Sambas yang luasnya meliputi 722.500 hektar sedangkan DAS Sungai Raya sebesar 50.000 hektar dan DAS Sungai Duri hanya sebesar 24.375
hektar. Secara keseluruhan, luas wilayah Kabupaten Bengkayang adalah sebesar 5.396,30 km2 atau sekitar 3,68 persen dari total luas wilayah Propinsi Kalimantan Barat. Pada tahun 2009, daerah pemerintahan Kabupaten Bengkayang dibagi menjadi 17 kecamatan. Dari sejumlah kecamatan yang ada, Kabupaten Bengkayang dibagi lagi menjadi 2 kelurahan dan 122 desa definitif. Adapun luas wilayah, jumlah penduduk dan tingkat kepadatan masing-masing kecamatan di Kabupaten Bengkayang adalah sebagai berikut :
Tabel 2. Luas Wilayah, Jumlah, dan Kepadatan Penduduk Kabupaten Bengkayang
Dilihat dari luas masing-masing kecamatan, Jagoi Babang merupakan kecamatan yang paling luas di Kabupaten Bengkayang dengan cakupan wilayah sebesar 655 km2 atau sekitar 12,14 persen dari luas Kabupaten Bengkayang keseluruhan dan kecamatan dengan wilayah terkecil adalah Kecamatan Capkala dengan luas wilayah sebesar 46,35 km2 atau hanya sekitar 0,86 persen dari total luas Kabupaten Bengkayang.
Dilihat dari jarak tempuh terjauh dari ibukota Kecamatan ke ibukota Kabupaten di Kabupaten Bengkayang, Kecamatan Siding adalah Kecamatan dengan jarak tempuh terjauh, yaitu sekitar 103,68 km disusul Kecamatan Jagoi Babang dan Kecamatan Sungai Raya. Dilihat dari jenis tanahnya, sebagian besar daerah Kabupaten Bengkayang adalah jenis tanah poldosit merah kuning, yaitu sebesar 322.347 hektar dan yang paling sedikit adalah jenis OGH, yaitu sebesar 6.700 hektar. Walaupun hanya sebagian kecil wilayah Kabupaten Bengkayang yang merupakan wilayah perairan laut, Kabupaten Bengkayang juga memiliki sejumlah pulau, yaitu sebanyak 12 pulau. Dari sejumlah pulau tersebut, ada sebanyak 5 pulau masih belum berpenghuni dan 7 pulau sudah berpenghuni. Semua pulau yang ada terletak di wilayah perairan Laut Natuna. Pulau terbesar yang berpenghuni adalah Pulau Lemukutan dan Pulau Penatah Besar.
Tabel 3. Jumlah Kelurahan, Desan dan Dusun Di Kabupaten Bengkayang Menurut Kecamatan
Visi dan Misi Kabupaten Bengkayang
1. Visi
Visi adalah merupakan cara pandang jauh ke depan tentang kemana dan bagaimana organisasi akan diarahkan. Berdasarkan kedudukan, tugas pokok dan fungsinya dan kriteria tersebut diatas, maka visi yang ditetapkan Kabupaten Bengkayang adalah ” Terwujudnya Masyarakat Kabupaten Bengkayang Yang Sejahtera, Cerdas, Sehat, Beriman, Demokratis Dan Mandiri Dalam Keberagaman”.
Sumber: Badan Pemberdayaan Masyarakat, Pemerintah Desa, Pemberdayaan Perempuan dan Keluarga Berencana Kabupaten Bengkayang
2. Misi
Misi adalah sesuatu yang harus diemban atau dilaksanakan oleh Instansi Pemerintah, sebagai penjabaran visi yang telah ditetapkan. Misi Kabupaten Bengkayang adalah :
a. Membangun dan meningkatkan infrastruktur dengan tetap menjaga kelestarian lingkungan hidup dan mitigasi bencana.
b. Mempercepat pembangunan ekonomi yang berkeadilan melalui pengembangan sektor unggulan.
c. Meningkatkan kualitas SDM, melalui peningkatan iman dan takwa serta penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi.
d. Meningkatkan keamanan dan keharmonisan kehidupan masyarakat.
e. Meningkatkan kapasitas aparatur pemerintah daerah dalam memberikan pelayanan yang prima untuk mewujudkan pemerintahan yang baik.
f. Meningkatkan partisipatif aktif masyarakat. C. Keadaan Penduduk
Jumlah Penduduk Kabupaten Bengkayang mencapai 228.771 orang yang terdiri dari 110.270 wanita dan 118.501 Pria. Perbandingan penduduk pria dan wanita mencapai 1,07:1 yang berarti setiap 1,07 penduduk pria terdapat 1 penduduk wanita. Jika jumlah penduduk dirinci menurut kecamatan maka jumlah penduduk yang paling besar berada di Kecamatan Bengkayang sebanyak 27.155 orang sedangkan jumlah penduduk yang paling sedikit
berada di Kecamatan Suti Semarang sebanyak 4.778 orang. Namun demikian, dilihat dari kepadatan penduduknya dari rasio penduduk, Kecamatan Sungai Raya memiliki tingkat kepadatan paling tinggi, yaitu sebesar 246 jiwa sedangkan Kecamatan Siding memiliki tingkat rasio paling rendah, yaitu sebesar 11 jiwa.
Tabel 4. Jumlah Penduduk Kabupaten Bengkayang
Lapangan Usaha 2009 2010 2011 2012 2013
Pertanian 47,27 47,24 47.58 47,02 46,59
Pertambangan 1,73 1,71 1,66 1,67 1,67
Industri Pengolahan 4,32 4,14 3,94 3,78 3,66
Listrik, Gas, & Air Bersih 0,12 0,12 0,13 0,12 0,12
Bangunan 7,16 7,39 7,66 8,17 8,56
Perdagangan, Hotel, & Restoran 25,57 25,14 24,74 24,55 24,59
Pengangkutan & Komunikasi 2,65 2,71 2,80 2,80 2,80
Keuangan, Persewaan & Jasa Perusahaan 4,11 4,12 4,10 4,16 4,24
Jasa-Jasa 7,06 7,32 7,39 7,74 7,77
Sumber: BPS Kabupaten Bengkayang
D. Perekonomian Daerah
Perekonomian Kabupaten Bengkayang pada tahun 2009-2013 didominasi oleh dua sektor. Sektor tersebut adalah pertanian, perdagangan, hotel, dan restoran. Kontribusi sektor pertanian pada PDRB Kabupaten Bengkayang tahun 2013 adalah sebesar 46,59 persen sedangkan sektor perdagangan, hotel, dan restoran memberikan kontribusi sebesar 24,59 persen pada tahun 2013. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa struktur perekonomian Kabupaten Bengkayang masih bersifat agraris karena kontribusi sektor tersebut paling besar dibanding dengan sektor yang lain. Dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya, sektor perekonomian yang mempunyai kontribusi pada PDRB Kabupaten Bengkayang masih relatif sama. Sektor lainnya hanya menyumbangkan sedikit seperti pertambangan, industri pengolahan, listrik, gas dan air bersih, bangunan, pengangkutan dan komunikasi, keuangan, persewaan dan jasa perusahaan, dan jasa-jasa.
Sumber perekonomian Kabupaten Bengkayang dilihat dari Produk Domestik Regional tahun 2009-2013 sebagai berikut:
E. Sumber Pendapatan Kabupaten Bengkayang dari Pendapatan Asli
Daerah, Dana Perimbangan, Lain-Lain Pendapatan Daerah Yang Sah.
1. Pendapatan Asli Daerah a. Pendapatan Pajak Daerah
1) Hotel / Pengiapan
2) Restoran / Warung Makan 3) Hiburan
4) Reklame
5) Penerangan Jalan
6) Bea Perolehan Hak Atas Tanah dan Bangunan 7) Pajak Mineral Bukan Logam dan Batuan 8) Pajak Air Bawah Tanah
b. Hasil Retribusi Daerah
1) Retribusi Pelayanan Kesehatan
2) Retribusi Penggantian Biaya KTP dan Akte Catatan Sipil 3) Retribusi Pelayanan Parkir di Tepi Jalan Umum
4) Retribusi Pelayanan Pasar
5) Retribusi Pengujian Kendaraan Bermotor 6) Retribusi Pemakaian Kekayaan Daerah 7) Retribusi Terminal
8) Retribusi Tempat Rekreasi dan Olahraga 9) Retribusi Izin Mendirikan Bangunan 10) Retribusi Izin Gangguan/Keramaian
11) Retribusi Izin Usaha Perikanan
c. Hasil Pengelolaan Kekayaan Daerah yang Dipisahkan 1) Laba Penyertaan Modal ke Bank Kalbar
d. Lain-lain Pendapatan Asli Daerah Yang Sah
1) Hasil Penjualan Aset Daerah Yang Tidak Dipisahkan 2) Penerimaan Jasa Giro
3) Penerimaan Bunga Deposito
4) Tuntutan Ganti Kerugian Daerah (TGR) 5) Pendapatan Denda Keterlambatan 6) Pendapatan dari Pengembalian 2. Dana Perimbangan
a. Bagi Hasil Pajak/Bagi Hasil Bukan Pajak 1) Bagi Hasil Pajak
a) Dana Bagi Hasil Pajak Bumi dan Bangunan b) Dana Bagi Hasil Pajak PPh
2) Bagi Hasil Bukan Pajak
a) Bagi Hasil dari Iuran Tetap (Land-Rent) b) Bagi Hasil dari Provinsi Sumber Daya Hutan c) Bagi Hasil dari Pungutan Pengusahaan Perikanan d) Bagi Hasil dari Iuran Eksplorasi dan Iuran Eksploitasi b. Dana Alokasi Umum
c. Dana Alokasi Khusus
2) Bidang Kesehatan 3) Bidang Pendidikan 4) Bidang Pertanian
5) Bidang Infrastruktur Jalan 6) Irigasi
7) Bidang Lingkungan Hidup
8) Bidang Air Minum dan Penyehatan 9) Bidang Kehutanan
10) Bidang Keluarga Berencana
11) Sarana Prasarana Daerah Tertinggal 12) Sanitasi
13) Perdagangan
14) Bidang Keselamatan Transportasi Darat 15) Bidang Sarana dan Prasarana Perbatasan 16) Bidang Prasarana
3. Lain-Lain Pendapatan Daerah Yang Sah
a. Dana Bagi Hasil Pajak dari Provinsi dan Pemerintah Daerah Lainnya 1) Bagi Hasil Pajak Kendaraan Bermotor
2) Bagi Hasil Pajak Kendaraan Diatas Air
3) Bagi Hasil dari Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor 4) Bagi Hasil dari Bea Balik Nama Kendaraan Diatas Air 5) Bagi Hasil Penerimaan Partisipasi Pihak Ketiga 6) Bagi Hasil Pajak Bahan Bakar Kendaraan Bermotor
7) Bagi Hasil dari Pajak Pengambilan dan Pemanfaatan Air Permukaan
b. Dana Penyesuaian dan Otonomi Khusus 1) Dana Penyesuaian
a) Dana Tunjangan Profesi Guru PNS SD b) Dana Tunjangan Penghasilan Guru PNS SD
51 BAB V
ANALISIS DAN PEMBAHASAN
A. Deskripsi Data
Penelitian yang dilakukan di Kabupaten Bengkayang adalah untuk mengetahui pengaruh Pendapatan Asli Daerah, Dana Perimbangan, dan Lain-Lain Pendapatan Daerah Yang Sah terhadap Belanja Daerah pada tahun 2009 sampai 2014. Data yang diperlukan adalah data realisasi pendapatan asli daerah, dana perimbangan, lain-lain pendapatan daerah yang sah serta data realisasi belanja daerah dari tahun 2009 sampai 2014. Data diperoleh dari Badan Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah Kabupaten Bengkayang. Data yang sudah diperoleh kemudian diolah menggunakan uji asumsi klasik, linier berganda dan uji hipotesis dengan aplikasi SPSS 16.0.
1. Realisasi Penerimaan Pendapatan Asli Daerah
Data realisasi penerimaan pendapatan asli daerah dalam jangka waktu 6 (enam) tahun, yaitu tahun 2009 sampai 2014.
Tabel 5. Realisasi Penerimaan Pendapatan Asli Daerah Tahun 2009 – 2014
Tahun Realisasi 2009 15,297,587,812.57 2010 11,725,450,409.05 2011 15,459,810,618.11 2012 17,887,747,406.06 2013 22,820,349,134.70 2014 36,644,908,163.35 Sumber: BPKAD Kabupaten Bengkayang
2. Realisasi Penerimaan Dana Perimbangan
Data realisasi penerimaan dana perimbangan dalam jangka waktu 6 (enam) tahun, yaitu tahun 2009 sampai 2014.
Tabel 6. Realisasi Penerimaan Dana Perimbangan Tahun 2009 – 2014
Tahun Realisasi 2009 366,584,135,604.00 2010 366,621,231,431.00 2011 429,273,733,397.90 2012 494,183,965,599.00 2013 573,787,506,295.00 2014 617,478,031,084.00 Sumber: BPKAD Kabupaten Bengkayang 3. Realisasi Penerimaan Lain-lain Pendapatan Daerah Yang Sah
Data realisasi penerimaan lain-lain pendapatan daerah yang sah dalam jangka waktu 6 (enam) tahun, yaitu tahun 2009 sampai 2014.
Tabel 7. Realisasi Lain-Lain Pendapatan Daerah Yang Sah Tahun 2009 – 2014 Tahun Realisasi 2009 9,618,102,906.51 2010 7,618,840,098.25 2011 16,212,000,000.00 2012 11,713,200,000.00 2013 22,856,200,000.00 2014 98,135,942,640.91
4. Realisasi Penerimaan Belanja Daerah
Data realisasi penerimaan belanja daerah dalam jangka waktu 6 (enam) tahun, yaitu tahun 2009 sampai 2014.
Tabel 8. Realisasi Belanja Daerah Tahun 2009 – 2014
Tahun Realisasi 2009 447,701,872,343.63 2010 438,373,381,311.09 2011 526,181,757,412.29 2012 541,669,728,689.27 2013 620,299,718,904.21 2014 806,055,374,677.75 Sumber: BPKAD Kabupaten Bengkayang B. Analisis Data
Pengujian yang dilakukan pada penelitian ini menggunakan transformasi data logaritma natural
1. Uji Asumsi Klasik
a. Uji Normalitas
Uji normalitas berguna untuk menentukan data yang telah dikumpulkan berdistribusi normal atau diambil dari populasi normal. Uji normalitas dilakukan dengan metode kolmogorov smirnov. Pengujian dengan kolmogorov smirnov digunakan untuk melihat angka yang lebih detail apakah suaru persamaan regresi yang akan dipakai lolos normalitas. Uji Kolmogorov Smirnov dengan tingkat nilai signifikan pada 0,05. Jika nilai signifikan yang dihasilkan lebih besar dari 0,05 maka terdistribusi normal. Hasil uji normalitas dapat dilihat pada tabel berikut ini.
Tabel 9. Hasil Uji Normalitas (Kolmogorov Smirnov)
Berdasarkan tabel One-Sample Kolmogorov-Smirnov, data berdistribusi normal karena mempunyai nilai signifikan lebih besar daripada 0,05 yaitu 0,906.
b. Uji Multikolinearitas
Uji Multikolinearitas bertujuan untuk menguji apakah model regresi ditemukan adanya korelasi antar variabel bebas. Model regresi yang baik seharusnya tidak terjadi korelasi diantara variabel bebas (independen). Untuk mendeteksi adanya multikolinearitas dapat dilihat melalui variance inflation factor (VIF). Cara yang digunakan untuk mendeteksi ada atau tidaknya multikolinearitas adalah dengan melihat nilai tolerance dan VIFnya. Jika nilai variance inflation factor (VIF) > 10 dan tolerance
One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test
Unstandardized Residual
N 6
Normal Parametersa Mean .0000000
Std. Deviation .00775928
Most Extreme Differences Absolute .231
Positive .163
Negative -.231
Kolmogorov-Smirnov Z .566
Asymp. Sig. (2-tailed) .906
a. Test distribution is Normal. Sumber: Data diolah
< 0.10 maka terjadi multikolinearitas. Hasil pengujian terhadap multikolinearitas dapat dilihat pada tabel berikut ini.
Tabel 10. Hasil Uji Multikolinearitas
Coefficientsa Model Unstandardized Coefficients Standardized Coefficients t Sig. Collinearity Statistics
B Std. Error Beta Tolerance VIF
1(Constant) 10.087 1.055 9.563 .011
L_PAD .083 .040 .233 2.086 .172 .046 21.544
L_DP .484 .046 .473 10.538 .009 .288 3.478
L_LLPYS .083 .029 .338 2.905 .101 .043 23.372
a. Dependent Variable: BD
Sumber: Data diolah
Berdasarkan tabel di atas, terlihat bahwa variabel independen yaitu pendapatan asli daerah, dan lain-lain pendapataan yang sah memiliki angka Variance Inflation Factors (VIF) lebih besar dari 10,00 dengan angka tolerance yang menunjukkan nilai kurang dari 0,10, dapat dikatakan bahwa model regresi memiliki masalah multikoliniearitas. Untuk mengatasi masalah mulltikolinearitas tersebut, digunakan metode stepwise (Stepwise Method). Metode stepwise merupakan salah satu metode untuk mengatasi adanya multikolinearitas. Metode Stepwise merupakan kombinasi antara metode forward dan backward. Metode stepwise memasukkan variabel bebas yang memiliki korelasi paling kuat dengan variabel terikat. Hasil pengolahan dapat dilihat pada tabel berikut :
Tabel 11. Hasil Uji dengan Metode Stepwise
Metode Spetwise dimulai dengan memasukkan variabel satu per satu variabel bebas, dan terlihat pada tabel di atas. Dari tiga variabel bebas, ada dua variabel yang layak masuk dalam model regresi.
Tabel 12. Hasil Uji Multikolinearitas dengan Metode Stepwise
Coefficientsa Model Unstandardized Coefficients Standardized Coefficients T Sig. Collinearity Statistics B Std.
Error Beta Tolerance VIF
1 (Constant) 10.625 1.488 7.139 .006
L_DP .489 .067 .477 7.314 .005 .288 3.471
L_LLPYS .139 .016 .562 8.613 .003 .288 3.471
a. Dependent Variable: L_BD
Sumber: Data diolah
Variables Entered/Removeda
Model Variables Entered Variables
Removed Method 1 L_DP . Stepwise (Criteria: Probability-of-F-to-enter <= .050, Probability-of-F-to-remove >= .100). 2 L_LLPYS . Stepwise (Criteria: Probability-of-F-to-enter <= .050, Probability-of-F-to-remove >= .100). a. Dependent Variable: L_BD
Tabel 12. Hasil Uji Multikolinearitas Metode Stepwise (Lanjutan) Coefficientsa Model Unstandardized Coefficients Standardized Coefficients t Sig. Collinearity Statistics
B Std. Error Beta Tolerance VIF
1 (Constant) 8.523 1.692 5.038 .015 L_PAD .189 .028 .533 6.632 .007 .313 3.199 L_DP .522 .082 .510 6.350 .008 .313 3.199 a. Dependent Variable: L_BD Coefficientsa Model Unstandardized Coefficients Standardized Coefficients t Sig. Collinearity Statistics
B Std. Error Beta Tolerance VIF
1 (Constant) 20.628 2.053 10.047 .002
L_PAD .101 .243 .286 .418 .704 .047 21.500
L_LLPYS .169 .169 .685 1.000 .391 .047 21.500
a. Dependent Variable: L_BD
Dari tabel di atas menunjukkan hasil bahwa variabel pendapatan asli daerah tidak masuk kedalam model regresi. Hal ini ditunjukkan dengan nilai t hitung yang lebih kecil dari t tabel dan nilai VIF berada di atas 10. c. Uji Autokorelasi
Uji autokorelasi digunakan untuk mengetahui ada atau tidaknya penyimpangan asumsi klasik autokorelasi yaitu korelasi yang terjadi antara residual pada satu pengamatan dengan pengamatan lain pada model regresi. Model regresi yang baik adalah regresi yang bebas dari autokorelasi. Untuk mendeteksi ada tidaknya autokorelasi maka digunakan uji Durbin-Watson (D-W). Uji DW dilakukan dengan cara membandingkan nilai DW dengan nilai tabel dengan menggunakan
derajat kepercayaan 5%, jumlah sampel 6 (enam) dan jumlah variabel independen 3 (tiga). Hasil pengujian terhadap autokorelasi dapat dilihat pada tabel berikut ini.
Tabel 13. Hasil Uji Autokorelasi
Berdasarkan hasil dari tabel model summary, angka Durbin-Watson sebesar 2,516. Nilai dL = 0 dan dU = 0 pada tabel durbin-watson dengan α = 0.05. hal ini menunjukkan bahwa pada model regresi tidak terdapat autokorelasi.
d. Uji Heteroskedastisitas
Uji heteroskedastisitas bertujuan menguji apakah dalam model regresi terjadi ketidaksamaan varian dari residual satu pengamatan ke pengamatan yang lain. Jika varian residual atau pengamatan ke pengamatan lain berbeda, hal itu disebut heteroskedastisitas. Model regresi yang baik adalah tidak terjadi heteroskedastisitas. Uji heteroskedastisitas dengan melihat ada tidaknya pola tertentu pada grafik Scatterplot. Hasil pengujian terjadi tidaknya heteroskedastisitas dapat dilihat pada grafik scatterplot berikut ini.
Model Summaryb
Model R R Square
Adjusted R Square
Std. Error of
the Estimate Durbin-Watson
1 .999a .999 .997 .01227 2.516
Gambar 3: Hasil Uji Heteroskedastisitas
Berdasarkan hasil grafik scatterplot, terlihat bahwa tidak terdapat pola yang jelas serta titik-titik menyebar ke atas dan ke bawah 0 pada sumbu Y, dengan demikian dikatakan tidak terjadi heteroskedastisitas.
2. Analisis Regresi Linier Berganda
Analisis regresi linier berganda digunakan untuk mengukur pengaruh antara lebih dari satu variabel independen terhadap variabel dependen. Analisis ini menggunakan bantuan program bernama Statistical Package for Social Science (SPSS) 16.0 for windows. Analisis regresi linier berganda hanya menggunakan dua variabel independen yaitu dana perimbangan dan lain-lain pendapatan terhadap belanja daerah. Pada uji asumsi klasik (uji multikolinearitas) didapatkan hasil bahwa pendapatan asli daerah tidak layak masuk kedalam model regresi. Model regresi linier berganda dirumuskan sebagai berikut :
Y= α +β2x2 +β3x3 + βnxn Tabel 14. Hasil Uji Regresi Linier Berganda
Coefficientsa Model Unstandardized Coefficients Standardized Coefficients t Sig. B Std. Error Beta 1 (Constant) 10.625 1.488 7.139 .006 L_DP .489 .067 .477 7.314 .005 L_LLPYS .139 .016 .562 8.613 .003
Sumber: Data diolah
Dari hasil output model coefficients di atas dapat disusun persamaan regresi sebagai berikut:
Belanja Daerah = 10,625 + 0.489L_DP + 0.139L_LLPYS Dari persamaan di atas dapat dijelaskan bahwa :
a. Nilai konstanta (α) = 10,625
Artinya bila dana perimbangan (L_DP) dan lain-lain pendapatan daerah yang sah (L_LLPYS) sama dengan nol, maka besarnya belanja daerah (L_BD) sebesar Rp 10,625 satuan.
b. Dana Perimbangan (L_DP) = 0,489.
Artinya jika variabel independen lain nilainya tetap dan dana perimbangan mengalami kenaikan satu persen (1%) maka belanja daerah akan mengalamai peningkatan sebesar 0,489 persen.
c. Lain-lain Pendapatan Daerah Yang Sah (L_LLPYS) = 0,139
Artinya jika variabel independen lain nilainya tetap dan lain-lain pendapatan daerah yang sah mengalami kenaikan satu persen (1%), maka akan mengakibatkan peningkatan belanja daerah sebesar 0,139 persen