Tabel 2.7
Komparasi Capaian Sasaran Renstra SKPD
terhadap Sasaran Renstra SKPD Provinsi dan Renstra K/L
No Indikator Kinerja Capaian Sasaran Renstra SKPD Kabupaten/Kota Sasaran pada Renstra SKPD Provinsi Sasaran pada Renstra K/L (1) (2) (3) (4) (5) 1 Usia Harapan Hidup 64.45 *) 64.9 *) 70.59 *) 2 Angka Kematian Bayi 199 (10.32) *) 1.070 (10) ; *) (57 : SDKI 2012) 19 (2012) 3 Angka Kematian Ibu Melahirkan 18 (93.36) *) 111 (106) *) (237 : SDKI 2012) 359 (SDKI 2012)
4 Cakupan Desa UCI 100 86.96 81.82
5 Bayi dengan Imunisasi lengkap 97.81 88.17 86.9 6 Persalinan oleh tenaga kesehatan di fasilitas kesehatan 89.46 89.95 88.64 7 Prevalensi Gizi Kurang 15.5 16.78 13.9 8 Prevalensi Gizi Buruk 4.96 4.83 5.7 *) 2014
RENSTRA DINAS KESEHATAN KABUPATEN LOMBOK TENGAH Page 40
Umur Harapan Hidup
Dalam kurun waktu 20112014, Angka Harapan Hidup di Kabupaten Lombok Tengah menunjukkan peningkatan dari tahun ke tahun. Pada tahun 2011, Angka Harapan Hidup Lombok Tengah mencapai 63,79 tahun yang berarti anak yang lahir di Lombok Tengah berpeluang untuk hidup hingga berusia 63 tahun. Angka harapan hidup tersebut terus meningkat hingga mencapai 64,45 pada tahun 2014. Peningkatan terendah terlihat pada periode 2013 – 2014 dimana angka harapan hidup hanya meningkat 0,15 poin. Capaian UHH Lombok Tengah bila dibandingkan dengan UHH provinsi NTB sudah mendekati/sama tetapi masih jauh bila dibandingkan UHH Nasional.
Gambar 2.18 : Angka Harapan Hidup di Kabupaten Lombok Tengah Tahun 2011-2014
Sumber: Inkesra Lombok Tengah, 2015
Angka Kematian bayi
Indikator angka kematian yang berhubungan dengan anak yakni Angka Kematian Neonatal (AKN), Angka Kematian Bayi (AKB), dan Angka Kematian Balita (AKABA). Perhatian terhadap upaya penurunan angka kematian neonatal (028 hari) menjadi penting karena kematian neonatal memberi kontribusi terhadap 59% kematian bayi. Berdasarkan hasil Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) tahun 2012, secara nasional angka Kematian Neonatus (AKN) pada tahun 2012 sebesar 19 per 1.000 kelahiran hidup. Angka ini sama dengan AKN berdasarkan SDKI tahun 72007 dan hanya menurun 1 point dibanding SDKI tahun 20022003 yaitu 20 per 1.000 kelahiran hidup.
RENSTRA DINAS KESEHATAN KABUPATEN LOMBOK TENGAH Page 41
Angka kematian bayi di Kabupaten Lombok Tengah dalam kurun waktu 20112015 mengalami fluktuasi sebagaimana pada gambar berikut.
Gambar 2.19 : Angka kematian ibu dan bayi dalam kurun waktu 2011-2015
Sumber: Laporan Capaian MDGs Kabupaten Lombok Tengah, 2015 Angka Kematian Ibu
Terdapat beberapa indikator yang digunakan untuk mengukur status kesehatan ibu pada suatu wilayah, salah satunya yaitu angka kematian ibu (AKI). AKI merupakan salah satu indikator yang peka terhadap kualitas dan aksesibilitas fasilitas pelayanan kesehatan. Berdasarkan Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) tahun 2012, AKI (yang berkaitan dengan kehamilan, persalinan, dan nifas) sebesar 359 per 100.000 kelahiran hidup.
AKI di Lombok Tengah juga terus mengalami penurunan yang cukup signifikan dari 107 100.000 kelahiran hidup pada tahun 2012 menjadi 84,68 100.000 kelahiran hidup pada tahun 2015. Perhatian pemerintah dalam rangka menekan AKI terus menampakkan hasil. Identifikasi faktor risiko kehamilan sejak dini, dengan semakin meningkatnya kunjungan antenatal, deteksi dini komplikasi, perencanaan persalinan sampai masa nifas merupakan faktor penting dalam upaya menekan angka kematian ibu. Dukungan Jaminan persalinan juga meningkatkan akses terhadap pelayan persalinan oleh tenaga kesehatan.
RENSTRA DINAS KESEHATAN KABUPATEN LOMBOK TENGAH Page 42
Adanya ambulan desa juga merupakan salah satu upaya meningkatkan akses pelayanan kesehatan khususnya kepada Ibu Hamil, untuk mengurangi risiko keterlambatan penangan saat ibu bersalin.
Gambar 2.20 : Angka Kematian Ibu dari tahun 2011 – 2015 dan Distribusinya
Penyebab utama kematian ibu di Lombok Tengah adalah toksemia 27,8%, infeksi 22,2%, perdarahan 11,1%, abortus 5,6%, dan sebab lain yang tidak dapat dijelaskan 33,3%.
RENSTRA DINAS KESEHATAN KABUPATEN LOMBOK TENGAH Page 43
Universal Child Imunization
Menurut Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor 1611/MENKES/SK/XI/2005, program pengembangan imunisasi mencakup satu kali HB0, satu kali imunisasi BCG, tiga kali imunisasi DPTHB, empat kali imunisasi polio, dan satu kali imunisasi campak. Imunisasi BCG diberikan pada bayi umur kurang dari tiga bulan; imunisasi polio pada bayi baru lahir, dan tiga dosis berikutnya diberikan dengan jarak paling cepat empat minggu; imunisasi DPTHB pada bayi umur dua bulan, tiga bulan empat bulan dengan interval minimal empat minggu; dan imunisasi campak paling dini umur sembilan bulan. Seorang anak semestinya telah mendapatkan semua jenis imunisasi tersebut secara lengkap sampai umur 1 tahun.
Cakupan imunisasi dasar lengkap secara Nasional terus mengalami perbaikan. Hasil Riskesdas 2013 NTB baru mencapai 75,4%, tidak sebesar seperti yang dilaporkan secara program, namun terdapat peningkatan yang cukup signifikan. Di Lombok Tengah cakupan desa dengan Universal Chid Imunization (UCI) sampai tahun 2015 telah mencapai target yaitu 100%, semua desa telah mencapai UCI. Pengerahan sasaran di Posyandu memegang peranan penting dalam peningkatan cakupan imunisasi, peran lintas sektor sangat penting dalam identifikasi dan mobilisasi sasaran imunisasi di posyandu dan menjamin tidak ada satupun bayi di wilayahnya tidak terimunisasi.
RENSTRA DINAS KESEHATAN KABUPATEN LOMBOK TENGAH Page 44
Imunisasi Lengkap
Hasil Riskesdas Tahun 2013 Cakupan anak diimunisasi lengkap secara Nasional hanya mencapai 59,2%. Sedangkan di Lombok Tengah berdasarkan catatan program imunisasi rutin telah mencapai 97,12% pada tahun 2015.Demikian halnya dengan cakupan anak yang diimunisasi campak secara Nasional pada tahun 2013 baru mencapai 82,1% dan NTB sebesar 90,6%. Sedangkan di Lombok Tengah pada tahun yang sama berdasarkan catatan program imunisasi rutin telah mencapai 100%. Adanya perbedaan tersebut memungkinkan terjadi karena adanya perbedaan dalam cara pengambilan data. Walaupun demikian hasil survei tersebut memberikan kita peringatan bahwa masih adanya kemungkinan anak yang tidak terimunisasi.
Gambar 2.23 : Cakupan Imunisasi Campak dan sebarannya di Lombok Tengah
Persalinan Oleh Tenaga Kesehatan
Setiap kehamilan dapat menimbulkan risiko kematian ibu. Pemantauan dan perawatan kesehatan yang memadai selama kehamilan sampai masa nifas sangat penting untuk kelangsungan hidup ibu dan bayinya. Proses persalinan dihadapkan pada kondisi kritis terhadap masalah kegawatdaruratan persalinan, sehingga sangat diharapkan persalinan
RENSTRA DINAS KESEHATAN KABUPATEN LOMBOK TENGAH Page 45
dilakukan di fasilitas kesehatan. Penolong persalinan oleh tenaga kesehatan yang kompeten merupakan salah satu indikator SPM. Tenaga kesehatan yang kompeten sebagai penolong persalinan (linakes) menurut PWSKIA adalah dokter spesialis kebidanan dan kandungan, dokter umum dan bidan. Kementerian Kesehatan menetapkan target 95 persen persalinan ditolong oleh tenaga kesehatan pada tahun 2015.
Hasil Riskesdas 2013, persalinan di fasilitas kesehatan adalah 70,4% dan masih terdapat 29,6% di rumah/lainnya. Penolong persalinan oleh tenaga kesehatan yang kompeten (dokter spesialis, dokter umum dan bidan) mencapai 87,1%. Proporsi persalinan di fasilitas kesehatan NTB berada diatas ratarata nasional sekitar 82%.
Gambar 2.24 : Cakupan Persalinan di tolong tenaga kesehatan dan sebarannya di Lombok Tengah tahun 2011 – 2015
Berdasarkan laporan rutin Dinas Kesehatan angka persalinan oleh tenaga kesehatan di Lombok telah mencapai angka yang cukup menggembirakan walaupun masih fluktuatif dan cenderung mengalami penurunan yaitu dari 92,9% pada tahun 2011 menjadi 90% pada tahun 2015.
Dukungan Jaminan Persalinan Universal (JAMPERSAL) kelihatannya cukup sigifikan dalam meningkatkan persalinan tenaga kesehatan, dimana pada 2 tahun terakhir.
RENSTRA DINAS KESEHATAN KABUPATEN LOMBOK TENGAH Page 46
Apapun upaya pemerintah dalam meningkatkan pelayanan kepada ibu hamil termasuk dalam rangka persalinannya tidak akan optimal apabila tidak didukung oleh peran serta masyarakat, kader, tokoh masyarakat dan keluarga terdekat dari Ibu Hamil. Perencanaan persalinan sangat penting untuk mewaspadai kemungkinan komplikasi pada saat persalinan, sehingga resiko kematian ibu dan bayi dapat diminimalisir.
Peningkatan peran serta masyarakat dan keluarga ibu hamil dalam perncanaan persalinan menunjukan hasil yang menggembirakan dalam 5 tahun terakhir. Hal ini ditunjukkan oleh trend persalinan oleh tenaga kesehatan terus mengalami peningkatan, dari 78,2% pada tahun 2010 menjadi 89,5 pada tahun 2015. Sementara sebaliknya trend persalinan oleh dukun terus mengalami penurunan dari 8% pada tahun 2010 menjadi hanya 2,7% pada tahun 2015. Upaya untuk meningkatkan persalinan oleh tenaga kesehatan terlatih terus ditingkatkan dan menekan sekecil mungkin persalinan tidak aman.
Gizi Kurang dan Buruk
Secara nasional berdasarkan hasil Riset Kesehatan Dasar tahu 2013, angka kekurangan gizi Nasiona mencapai 19,6%. Sedangkan prevalensi kekurangan gizi di NTB sebesar 25% berada diatas angka nasional dan termasuk dalam kategori dengan Prevalensi mendekati amat tinggi.
Tabel : status gizi di Lombok Tengah tahun 2015
Indikator / Status Gizi Status Gizi BB sgt kurang/sgt pendek/sgt kurus BB Kurang/pende k/kurus Baik/norma l Gizi Lebih/gemuk BB/U 3,55 14,29 81,19 0,98 TB/U 14,89 23,46 61,65 BB/TB 2,30 4,83 84,64 8,23
Berdasarkan standar masalah gizi menurut Depkes RI 2009 dikategorikan menjadi masalah kesehatan yang serius. Besarnya masalah kekurusan (kurus dan sangat kurus) pada balita yang masih merupakan masalah kesehatan masyarakat adalah jika prevalensi kekurusan > 5%. Masalah kesehatan masyarakat sudah dianggap serius bila prevalensi kekurusan antara 10.1% – 15.0% dan dianggap kritis bila prevalensi kekurusan sudah diatas
RENSTRA DINAS KESEHATAN KABUPATEN LOMBOK TENGAH Page 47
15% (UNHCR). Secara keseluruhan di Kabupaten Lombok Tengah BB/TB balita mencapai 7,32%. Artinya masalah kekurusan pada anak balita di Kabupaten Lombok Tengah merupakan masalah kesehatan masyarakat yang perlu penanganan secara multisektoral.
RENSTRA DINAS KESEHATAN KABUPATEN LOMBOK TENGAH Page 48
BAB III