• Tidak ada hasil yang ditemukan

4.3 Hasil Penelitian dan Pembahasan

4.3.2 Analisis Scenes 2

Frame 2-1 menit 00:02:19 Frame 2-2 menit: 00:02:20

Frame 2-1 : bovver mengayunkan kepala musuhnya kearah tiang pipa air

Frame 2-2 : bovver memukuli dan membuli salah satu anggota tothenham sampai babak belur

Anarkisme (sign)

Anggota tothenham (Object) Tindak anarkisme ditunjukkan oleh supporter dengan perkelahian dan pengerusakan (Intepretant)

Table 4.0.2 Pembagian Tanda Scenes 2

Sign Qualisign Seorang pemuda yang menganiaya lawan yang sudah babak belur tidak sanggup melawan.

Sinsign Latar yang gelap menandakan hari sudah malam dan lokasi yang sepi

Legisign Memukuli seseorang hingga babak belur melanggar hak asasi Object Ikon Dua orang pemuda yang berkelahi

Indeks Tangan yang memegangi kepala bagian belakang Simbol Raut wajah kedua pemuda

Interpr etan

Rheme Dilihat dari keseluruhan gambar yang menandakan terjadinya tindak anarkisme

Dicent Pemuda yang dihajar hingga tidak berdaya

Argument Seorang pemuda yang terus menikam lawan yang sudah tidak dapat melawan sama dengan penganiayaan.

Dari gambar di atas tanda-tanda non verbal yang didapatkan berupa warna pada latar, dua supporter, gesture tangan yang meregas kepala bagian belakang, raut wajah yang penuh dengan amarah, raut wajah korban yang sudah tidak sanggup memberikan perlawanan. Teknis pengambilan gambar yang diambil pada scene ini adalah mediumclose up. Teknik medium shot

untuk menjelaskan hubungan antarpersonal, hubungan antara satu dengan yang lainnya.

Pada gambar diatas jika dilihat berdasarkan klasifikasi sign,

menurut peneliti mendapatkan beberapa tindak keanarkismean yang dilakukan seorang pemuda west ham terhadap pemuda totthenham. Dilihat dari warna latar yang terlihat gelap menandakan bahwa hari sudah malam, menandakan lokasi yang sepi dari masyarakat. Perkelahian yang melibatkan dua kelompok supporter ini mengakibatkan salah seorang anggota

totthenham terluka parah dan tak sanggup untuk melakukan perlawanan. Perkembangan pola pikir kepemudaan berkembang melalui masyarakat disekitarnya. Perilaku yang digambarkan diatas menandakan bagaimana pola pikir yang sudah keliru. Mereka memukuli orang hingga babak belur seperti orang yang kesetanan tanpa memikirkan dampak apa pun, hal ini merupakan perbuatan yang melanggar hak asasi manusia. Yang mereka fikirkan hanyalah martabat dan harga diri firma (kelompok). Keterlibatan pemuda di dalam kelompok supporter adalah bagian bentuk dari fanatisme supporter dimana dalam komunitas memiliki sebuah ikatan dan integritas yang kuat. Pada umumnya mereka melakukan pembelaan pada klub secara berkelompok dengan mengesampingkan kesalahan atau kualitas klub yang merupakan wujud adanya collective consciousness

(kesadaran kolektif) pada komunitas supporter. Maka tidak jarang ada hal yang menyulut amarah dan memancing emosi supporter tidak jarang melakukan aksi diluar akal sehat. Dapat dikatakan kelompok ini menjadi

begitu ekstream tatkala dihadapi pada konflik yang mereka tidak bisa terima.

Pada umumnya permasalahan anarkisme pemuda dalam konteks supporter sepakbola sebagian besar didominasi oleh faktor fanatisme. Hal ini seringkali dimaknai anak muda sebagai cara pandang hidup yang bersifat sesaat. Parsons (1942, 1943), menyatakan bahwa anak muda merupakan kategori social yang muncul bersama perubahan peran keluarga yang tumbuh dari perkembangan kapitalisme. Kemunculan orang dewasa di dalam struktur kapitalis membuat terjadinya suatu diskontinuitas antara keluarga dan masyarakat (Wirawan S 2008: hal 8). Masa transisi inilah yang terkadang sering disalah artikan oleh para kaum muda. Posisi sosial dimana pada masa ini anak muda berada di antara anak-anak yang masih bergantung pada orang-orang dewasa.

Dari gambar yang divisualisasikan diatas peneliti mengklasifikasikan tindakan anarkisme berdasarkan object nya, yang meliputi icon, indeks, dan

symbol yang terdapat pada gambar tersebut. Pada gambar tersebut terdapat

icon yang menandakan dimana terdapat dua orang dewasa yang sedang berkelahi. Reaksi yang digambarkan pada pria berjaket hitam itu menjelaskan kebrutalannya terhadap seorang musuh. Bagaimana dia memukuli musuhnya seperti orang yang benar-benar kehilangan kendalai. Pada sisi indeks nya pada gambar tersebut bagaimana peria yang menggunakan jaket hitam itu memegang kepala bagian belakang musuhnya

yang menandakan, dalam posisi seperti ini apa pun bisa dia lakukan, bukan hanya membuat musuhnya terluka dia pun bisa membunuhnya. Dengan memegang kepala musuhnya pria berjaket hitam itu menghantam kepalanya ke tiang saluran air. Dengan raut wajah yang begitu penuh dengan amarah menurut peneliti ini adalah bagian dari symbol yang terdapat pada gambar tersebut.

Ekspresi wajah manusia juga dapat bersifat sadar dan tak sadar. Jenis ekspresi sadar pada efeknya merupakan jenis sinyal khusus. Pada tahun 1963, ahli psikologi Paul Ekman mendirikan Human Interaction Laboratory di jurusan Psikiatri, University of California, San Fransisco, yang bertujuan mempelajari sinyal wajah (Marcel Danesi 2004: hal 69-70). Pada efeknya, ekspresi wajah adalah penanda tak sadar universal yang menciptakan tanda wajah terhibur, marah, terkejut, dan sedih.

Berdasarkan Alex Sobur ( 2003: hal 44) Hasil dari analisis berdasarkan klasifikasi interpretan, peneliti dapat menjabarkan bahwa

Rheme adalah tanda yang memungkinkan orang menafsirkan berdasarkan pilihan. Rhame yang ada pada foto dalam penelitian dilihat dari keseluruhan foto menandakan terjadinya konflik kekerasan/keanarkismean yang dilakukan secara berutal. Dilihat dari latar belakang permasalahannya yang dimana seorang holigans akan bertindak kasar apabila dirinya sudah merasakan hal yang membuat diri dan kelompoknya kesal. Seperti hal nya yang divisualisasikan pada gambar diatas, tindakan yang tidak etis

dilakukan seakan itu adalah tindakan yang wajar untuk seorang musuh. Bagaimana musuh harus dilihat dengan sebelah mata dan hanya harus mendapatkan hinaan.

Jika dilihat dari dicentsign peneliti menjabarkan bahwa dicentsign

adalah tanda sesuai dengan kenyataan yang ada. Dicentsign pada foto diatas menurut peneliti merupakan suatu pamandangan yang sangat memilukan melihat seseorang yang sudah tidak bisa melawan tetapi terus menerus diberi hantaman di wajahnya. Keanarkismean yang terjadi ditempat umum membuat dan mencoreng nama baik suporter sepak bola. Yang pada akhirnya banyak masyarakat yang membenarkan hal itu, bahwa suporter sepak bola hanya segelincir kerumunan yang bisanya hanya membuat keanarkismean dan perusakan atas segala hal. Peneliti mendapatkan argument atas apa yang telah divisualisasikan dari gambar tersebut. Keanarkismean karena didasari atas hilangnya rasa empati dari masing-masing individu mau pun kelompok. Suporter sepakbola tidak pernah lepas dari stigma negatif. Dalam hal ini kita bisa melihat suporter sepakbola yang yang telah mendapat lebel dari masyarakat atas segala perilaku negatif yang pernah mereka lakukan seperti tindak kekerasan, tindak anarkis menyanyikan lagu yang bernuansa rasis dan provokatif, dan hal lainnya dimana pada akhirnya suatu kelompok suporter sepakbola mendapatkan lebel sebagai kelompok suporter yang anarkis.

Dokumen terkait