• Tidak ada hasil yang ditemukan

4.3 Hasil Penelitian dan Pembahasan

4.3.3 Analisis Scenes 3

Frame 3-1-menit: 00:29:40 Frame 3-2-menit: 00:29:55

Gambar 4.0.12 Bagian Scenes 3

Frame 3-1 : Tiga orang kelompok chelsea menyerang Matt seorang touris yang berasal dari Amerika dengan berkata “Pernah mendengar seringai Chelsea?”

Frame 3-2 : Tiga orang holigans ini menyumpal mulut Matt dengan menggunakan kartu kredit dengan berkata “katakan pada GSE agar tidak begitu ceroboh”.

Penyerangan (sign)

Touris (Object) Matt sebagai touris diserang kelompok Chelsea dan mulutnya disumpal dengan kartu kredit (Intepretant)

Table 4.0.3 Pembagian Tanda Scenes 3

Sign Qualisign Tiga orang supporter chelsea yang menyerang matt sebagai touris

Sinsign Latar yang menunjukkan tempat yang berada dibalik bangunan yang sepi, dan kartu kredit yang digunakan sebagai penyumpal mulut touris.

Legisign Menarik matt kepojok bangunan.

Object Ikon Tiga orang suporter chelsea dan satu touris dari Amerika. Indeks Laki-laki yang menggunakan jaket hitam dan tutup kepala

yang memegangi matt.

Simbol Ekspresi wajah matt yang ketakutan dan kesakitan. Interpr

etan

Rheme Dilihat dari keseluruhan gambar yang menandakan terjadinya tindak anarkisme.

Dicent Touris yang diserang oleh suporter chelsea.

Argument Perilaku penyumpalan mulut matt dengan kartu kredit menunjukkan tindakan anarkis.

Dari gambar di atas tanda-tanda non verbal yang didapatkan berupa warna pada latar, tiga supporter, gesture tangan yang memegangi turis, raut wajah korban yang takut dan kesakitan. Teknis pengambilan gambar yang diambil pada scene ini adalah medium shot dan close up. Ardiansyah pada tahun 2005 menjelaskan bahwa teknik medium shot menjelaskan hubungan antarpersonal, hubungan antara satu dengan yang lainnya, sedangkan teknik

close up menjelaskan bagaimana ekspresi.

Pesan sign dari film ini ditunjukkan dengan beberapa bentuk. Pesan yang tak berkode yang pertama adalah gambar lelaki yang berjaket biru dongker sebelah kanan gambar yang sedang menatap turis yang yang sedang dipegangi oleh temannya. Sikap pergerakan dari ketiga laki-laki ini seakan saling memberi kode terhadap teman-temannya. Sedangkan ekspresi wajah laki-laki berjaket hitam yang pas berada ditengah memperlihatkan senyum lebar ekspresi kebahagiaan kearah turis tersebut. Ketiga lelaki pada gambar menggunakan pakaian yang casual, meperlihatkan ke holiganismean mereka. Pada potongan gambar lelaki berjaket hitam terlihat sedang memegangi turis yang terlihat memberi perlawanan. Laki-laki berjaket hitam dan coklat tua terlihat mengenakan penutup kepala sedangkan laki-laki berjaket biru dongker memiliki kepala yang botak. Background pada scene ini lebih didominasi oleh situasi yang sepi dari masyarakat.

Adegan dimana tiga supporter Chelsea yang menyerang matt, dilihat dari cara geraknya dapat memahami maksud dan tujuan. Seorang berbadan tinggi besar menggunakan jaket tebal berwarna gelap dan penutup kepala dapat menandakan bahwa dia kuat, memiliki keberanian untuk memberi ancaman kepada orang yang membuat dirinya merasa terusik atau terganggu. Dan seorang yang berkepala tanpa rambut yang menggunakan jaket berwarna biru dengan melipat lengan didadanya, menandakan bahwa ingin melihat sebatas mana perlawanan korban terhadap tindakan yang diperbuat, memiliki rasa meremehkan kemampuan orang yang mendapat tekanan. Sedangkan lelaki yang berbadan tinggi, berkulit hitam, menggunakan jaket coklat, dan penutup kepala di adegan ini menjelaskan, seorang kulit hitam merupakan orang yang tidak bisa dianggap remeh, memiliki sifat yang keras dan mudah emosional, dan dapat memberi ancaman kepada siapa saja yang membuat dirinya merasa kesal (Marcel Danesi 2004: hal 292-297).

Dilihat dari sisi teori semiotika bahwa tubuh adalah sumber utama signifikasi, dan sarana untuk memahami hubungan antara alam dan budaya dalam kehidupan manusia. Ekspresi wajah yang bersifat universal dan lintas budaya serta diprogram pada diri kita oleh alam senantiasa diubah menjadi bentuk penandaan dalam cara-cara yang spesifik menurut budaya. Marcel Danesi (2004: hal 292-297) kita menggunakan tubuh, wajah, tangan, dan bagian tubuh lainnya untuk merepresentasikan dan

mengkomunikasikan maksud, peran, kesan, kebutuhan, dan seterusnya. Jika dilihat dari sisi keilmuan berdasarkan pandangan psikologi kerumunan, prilaku seperti ini terjadi karena timbulnya kekesalanan atau tekanan sosial, yaitu kondisi karena sejumlah besar anggota dan adegan ini pun menggambarkan, berkembangnya prasangka kebencian yang meluas terhadap suatu sasaran tertentu. Setiap komunikasi mempunyai efek yang dirasakan oleh satu orang atau keduanya (Walgito 2006: hal 84-85).

Secara object potongan gambar pada scene ini tiga laki-laki menggambarkan sebagai pelaku keanarkisan yang dilakukan kepada seorang turis. Tiga laki-laki ini memiliki badan yang terlihat kuat dan menyeramkan. Penggunaan tiga laki-laki ini menunjukkan pembuat film ingin menceritakan bagaimana perilaku holigans di Negara mereka. Secara pemikiran peneliti melihat bahwa tiga laki-laki sebagai pelaku tindak kekerasan dalam film tersebut merupakan ikon berkode yang berarti laki-laki sebagai holigans yang kuat dan terkadang membuat kerusuhan didalam lingkup masyarakat. Kekuatan dan keanarkisan supporter sepak bola digambarkan pada film.

Dilihat berdasarkan warna pakaian mereka dapat di jelaskan bahwa laki-laiki berpakaian jaket berwarna hitam memiliki kepribadian yang misterius, memiliki pendirian yang teguh, dan tidak suka membuang waktu dan selalu serius dalam melakukan sesuatu. Warna coklat menandakan kepribadian seseorang yang mencintai hal klasik, setia, dan dikenal sebagai

pribadi yang memegang teguh prinsip yang diyakininya. Warna biru sosok yang memiliki kepercayaan diri yang tinggi, dan dikenal sebagai orang yang serius, memegang teguh aturan, dan bisa diandalkan (http//www.fitiline.com/perilaku-seseorang-berdasarkan-warna-pakaian. Diakses pada 2014-18-02). Jika di hubungkan dengan potongan gambar diatas dari cara memilih warna pakaian yang mereka kenakan merupakan petanda seperti warna hitam menandakan dirinya berpegang teguh dengan perilaku hooliganisme yang ada pada dirinya. Warna coklat menandakan bahwa dirinya setia terhadap team kesayangannya, dia akan memberi ancaman kepada siapa pun yang mencoba meremehkan kesetiaanya. Sedangkan, warna biru tua menandakan bahwa dirinya memiliki kepercayaan diri yang tinggi, dan dikenal sebagai orang yang serius, memegang teguh aturan yang telah diperintahkan oleh ketuanya.

Pada pengklasifikasian intepretan pada gambar tersebut peneliti melihat lelaki yang terlihat kuat dan menakutkan dengan memperlihatkan perilaku kasar terhadap touris tersebut. Menginterpretasikan makna kekerasan dan kebrutalan para supporter Chelsea terhadap siapa pun dan dimana pun. Seperti yang ada pada gambar, kelompok supporter Chelsea yang menyerang touris yang berasal dari Amerika. Repsersentasi keanarkisan supporter sepakbola pada potongan gambar scene terlihat pada ketiga supporter Chelsea tersebut. Tiga lelaki dalam adegan ini digambarkan memiliki kekuatan yang lebih untuk melukai siapa pun.

Bentuk tindak anarkisme tergambar pada bagian dimana tiga lelaki tersebut membentak dan menyumpal mulut touris dengan kartu kredit.

Pembuat film bebas memanfaatkan kepribadian pemain sebagai daya Tarik untuk mengambil perhatian penonton. Dengan adegan seperti ini dengan secara tidak langsung menceritakan bagaimana perilaku buruk, perilaku anarkis sebuah supporter atau holigans kepada masyarakat luas. Ini lah yang membuat lebel holigans dipandang negatif.

Dokumen terkait