• Tidak ada hasil yang ditemukan

METODE PENELITIAN

4.8 Instrumen Penelitian

4.9.3. Analisis SEM dengan PLS

Teknik analisis yang digunakan adalah model persamaan struktural

(Structural Equation Modeling – SEM) berbasis variance atau Component based

SEM, yang terkenal disebut Partial Least Square (PLS). PLS merupakan metode

analisis yang powerfull, oleh karena tidak mengasumsikan data harus dengan

pengukuran skala tertentu, jumlah sampel kecil, dan juga dapat digunakan untuk

konfirmasi teori (Ghozali, 2008).

Menurut Ghozali (2011) tujuan PLS adalah membantu peneliti untuk

tujuan prediksi. Model formalnya mendefinisikan variabel laten adalah linear

agregat dari indikator-indikatornya. Weight estimate untuk menciptakan

komponen skor variabel laten didapat berdasarkan bagaimana inner model (model

struktural yang menghubungkan antar variabel laten) dan outer model (model

pengukuran yaitu hubungan antara indikator dengan konstruknya) dispesifikasi.

Hasilnya adalah residual variance dari variabel dependen.

Adapun alasan penggunaan PLS dalam penelitian ini, adalah sebagai

1. PLS merupakan metode umum untuk mengestimasi path model yang

menggunakan variabel laten dengan multiple indicator.

2. PLS menangani model reflektif dan formatif, bahkan konstruk dengan item

(indikator) tunggal (Hair et al., 2010 dalam Ghozali, 2011). Dalam penelitian

ini, model struktural yang dianalisis memenuhi model rekursif dan semua

indikator dari variabel penelitian yakni: Jiwa Kewirausahaan (X1), Manajemen Agribisnis (X2), dan Keberhasilan (Y) menggunakan indikator reflektif. 3. PLS merupakan metode analisis yang dapat diterapkan pada semua skala data,

tidak membutuhkan banyak asumsi dan ukuran sampelnya tidak harus besar.

Besarnya sampel direkomendasikan berkisar dari 30 - 100 kasus (Ghozali,

2008). Dalam penelitian ini, unit analisis adalah Kelompok Tani Pelaksana

yang terdiri dari 84 responden sehingga memenuhi untuk penggunaan analisis

PLS ini.

4. PLS merupakan metode analisis untuk causal-predictive analysis dalam

situasi kompleksitas yang tinggi dan dukungan teori yang rendah.

Berdasarkan kerangka konseptual penelitian yang dibangun atas dasar

Gambar 4.1

Model Empirik Penelitian

Keterangan :

X1.1 : Sifat Instrumental X1.2 : Sifat Prestatif

X1.3 : Sifat Keluwesan Bergaul X1.4 : Sifat Pengambil Resiko X1.5 : Sifat Swakendali X1.6 : Sifat Kerja Keras X1.7 : SifaKeyakinan Diri X1.8 : Sifat Inovatif X1.9 : Sifat Kreatif

X1.10 : Sifat Kepemimpinan

X1.11 : Sifat Berorientasi pada Tindakan (action oriented) X1.12 : Sifat Berpikir Sederhana (Simple)

X1.13 : Sifat Fokus pada Usaha yang Digeluti

X2.1 : Perencanaan Usaha Agribisnis dalam Simantri X2.2 : Pengorganisasian Usaha Agribisnis dalam Simantri X2.3 : Pengembangan Usaha Agribisnis dalam Simantri X2.4 : Pengawasan Usaha Agribisnis dalam Simantri

Jiwa Kewirausahaan (X1) X1.12 X1.11 X1.10 X1.9 X1.8 X1.7 X1.6 X1.5 X1.4 X1.3 Manajemen Agribisnis (X2) X2.4 X2.3 X2.2 X2.1 Keberhasilan (Y) Y1 Y2 Y3 Y4 Y5 Y6 Y7 X1.13 X1.2 X1.1

Y1 : Berkembangnya Kelembagaan dan SDM

Y2 : Terciptanya Lapangan Kerja Melalui Diversifikasi Usaha Pertanian dan Industri Rumah Tangga

Y3 : Berkembangnya Intensifikasi dan Ekstensifikasi Usaha Tani

Y4 : Meningkatnya Insentif Berusaha Tani Melalui Peningkatan Produksi dan Efisiensi Usaha Tani

Y5 : Terciptanya dan Berkembangnya Pertanian Organik Menuju green economic

Y6 : Berkembangnya Usaha Ekonomi Pedesaan Y7 : Peningkataan Pendapatan Petani

Model evaluasi PLS berdasarkan pada pengukuran prediksi yang

mempunyai sifat non-parametrik. Evaluasi model terdiri atas dua bagian, yaitu

evaluasi model pengukuran dan evaluasi model struktural. Penjelasan lebih lanjut,

dapat dipaparkan sebagai berikut:

1) Evaluasi Model Pengukuran atau Outer Model

Evaluasi outer model disebut pula dengan evaluasi model pengukuran

dilakukan untuk menilai validitas dan reliabilitas model. Outer model dengan

indikator refleksif dievaluasi melalui validitas convergent dan discriminat untuk

indikator pembentuk konstruk laten, serta melalui composite reliability dan

cronbach alpha untuk blok indikatornya. (Chin, 1998 dalam Ghozali, 2008). Dalam penelitian ini semua variabel merupakan variabel laten dengan

indikator reflektif, sehingga evaluasi model pengukuran adalah sebagai berikut :

a. Convergent validity

Uji validitas convergent indikator refleksif dapat dilihat dari nilai loading

factor untuk setiap konstruk, dimana nilai loading factor yang direkomendasikan harus lebih besar dari 0,7 untuk penelitian yang bersifat confirmatory, dan nilai

dapat diterima. Indikator dianggap valid jika memiliki nilai outer loading > 0.7

dan nilai t-statistic > 2.64.

b. Discriminant validity

Cara untuk menguji validitas discriminant dengan indikator refleksif yaitu

dengan melihat nilai cross loading untuk setiap variabel harus > 0,70. Cara lain

yang dapat digunakan untuk menguji validitas discriminant adalah dengan

membandingkan akar kuadrat dari AVE untuk setiap konstruk dengan nilai

korelasi antar konstruk dalam model. Validitas discriminant yang baik

ditunjukkan dari akar kuadrat AVE untuk setiap konstruk lebih besar dari korelasi

antar konstruk dalam model. Direkomendasikan nilai AVE harus lebih besar dari

0.50 (Fornell dan Larcker, 1981 dalam Ghozali, 2012).

Rule of thumb uji validitas convergent dan discriminant dapat dilihat pada

Tabel 4.4.

Tabel 4.4

Ringkasan Rule of Thumb

Uji Validitas Convergent dan Discriminant

Validitas Parameter Rule of Thumb

Validitas Convergent Loading Factor a. > 0,70 untuk confirmatory research b. > 0,60 untuk exploratory research

Communality > 0,50 untuk confirmatory dan exploratory research

AVE (Average Variance Extracted)

> 0,50 untuk confirmatory dan exploratory research

Validitas Discriminant

Cross Loading > 0,70 untuk setiap variabel Akar kuadrat AVE dan

korelasi antar konstruk laten

Akar kuadrat AVE > korelasi antar konstruk laten

c. Composite Reliability dan Cronbach’s Alpha.

Uji reliabilitas suatu konstruk dengan indikator refleksif dapat dilakukan

dengan dua cara, yaitu Composite Reliability dan Cronbach’s Alpha. Penggunaan Cronbach’s Alpha untuk menguji reliabilitas konstruk akan memberikan nilai

yang lebih rendah (under estimate) sehingga lebih disarankan untuk menggunakan

Composite Reliability dalam menguji reliabilitas suatu konstruk.

Rule of thumb uji reliabilitas konstruk dengan indikator refleksif dapat dilihat pada Tabel 4.5.

Tabel 4.5

Rule of Thumb Uji Reliabilitas Konstruk

Parameter Rule of Thumb

Composite Reliability

a. > 0,70 untuk confirmatory research

b. 0,60 – 0,70 masih dapat diterima untuk exploratory research

Cronbach’s Alpha

a. > 0,70 untuk confirmatory research

b. 0,60 masih dapat diterima untuk exploratory research Sumber : Ghozali 2012

2) Evaluasi Model struktural atau Inner Model

Dalam menilai model struktural dengan struktural PLS dapat dilihat dari

nilai R-Squares untuk setiap variabel laten sebagai kekuatan prediksi dari model

struktural. Nilai Squares merupakan uji goodness fit model. Perubahan nilai

R-Squares digunakan untuk menjelaskan pengaruh variabel laten eksogen tertentu terhadap variabel laten endogen, apakah mempunyai pengaruh substantive. Nilai

R-Squares 0,67; 0,33 dan 0,19 untuk variabel laten endogen dalam model struktural menunjukkan model kuat, moderat, dan lemah (Chin, 1998 dalam

Hasil dari PLS R-Squares mempresentasikan jumlah variance dari

konstruk yang dijelaskan oleh model. Selain melihat besarnya nilai R-Squares,

evaluasi model struktural PLS dapat juga dilakukan dengan Q2 predictive relevance atau sering disebut predictive sample reuse yang dikembangkan oleh Stone (1974) dan Geisser (1975) dalam Ghozali (2012). Rule of Thumb model

struktural dapat dilihat pada Tabel 4.6.

Tabel 4.6

Rule of Thumb Evaluasi Model Struktural

Kriteria Rule of Thumb

R-Square 0,67; 0,33 dan 0,19 menunjukkan model kuat,

moderat dan lemah (Chin, 1998 dalam Ghozali, 2012).

Q2 predictive relevance Q2 > 0 menunjukkan model mempunyai predictive relevance dan jika Q2 < 0 menunjukkan bahwa model kurang memiliki predictive relevance. Sumber : Ghozali, 2012

3) Pengujian Hipotesis

Pengujian hipotesis dilakukan dengan uji statistik t (t-test). Kalau dalam

pengujian ini diperoleh p-value < 0,05 (alpha 5%), berarti pengujian

signifikan, dan sebaliknya kalau p-value > 0,05 (alpha 5%), berarti tidak

signifikan. Bilamana hasil pengujian hipotesis pada outer model signifikan,

hal ini menunjukkan bahwa indikator dipandang dapat digunakan sebagai

instrumen pengukur variabel laten. Sementara, bilamana hasil pengujian pada

inner model adalah signifikan, maka dapat diartikan bahwa terdapat pengaruh yang bermakna variabel laten satu terhadap variabel laten lainnya.

BAB V