HASIL DAN PEMBAHASAN
IV.2 Analisis Comic Strip
IV.2.2 Analisis Semiotika Comic Strip Panji Koming edisi 14 April 2013 Tabel 2
Signifikasi Tahap Pertama (Macam Leksia)
Bingkai Tanda Denotasi
1 Long shot. Latar belakang bingkai dihiasi gambar bencana alam; ombak tinggi, pohon yang hampir tumbang, orang-orang yang menyelamatkan benda. Semakin ke depan, tampak Pailul yang menggendong Trinil (keponakan Koming) yang menangis, wajahnya panik, matanya terbelalak. Tidak jauh berbeda, Koming juga menggendong Bujel yang menangis, memandang ke arah yang sama dengan Pailul sambil menangis. Mereka juga membawa sesuatu di punggung mereka.
2 Latar kembali putih, fokus pembaca diarahkan pada dua pria yang sudah meninggal dalam keadaan miskin dan tua. Wajah mereka dihiasi garis keriput, janggut yang tidak tertata rapi, badan ditutupi tikar jorok. Koming mengatupkan tangannya, matanya tertutup, kepalanya tunduk seakan sedang berdoa dengan khidmat. Pailul memanggil seseorang. Sedang Mbah berdoa dengan serius, mata dipejam, tangan ditadah ke atas, mulutnya terbuka. Dari bingkai ini, jarak pandang yang digunakan ialah jarak pandang utuh hingka bingkai terakhir.
3 Rakyat miskin berkumpul; para pria bertelanjang dada, yang mengenakan bolero pun nampak lusuh, tulang dada bertonjolan, wajah cemberut, datar. Para perempuan baik tua maupun muda (hanya dibedakan warna rambut; hitam dan putih) terlihat kurus, pipi kempot, wajah dan badan tidak normal, terlalu kurus. Anak-anak nampak kurus namun buncit.
4 Preman dan abdi saling berpukulan. Sang abdi kerajaan adalah pria yang di sebelah kiri, tangan kirinya memegang pentungan, tangan kanannya menjambak preman yang setengah terjatuh. Preman digambarkan dengan bolero tanpa hiasan leher, dan ikat kepala dari kain putih. Di belakang preman tersebut, ada seorang preman lagi yang mengacungkan parang dengan marah, tangan kanannya dikepalkan. Di
belakang mereka, seorang pria berjalan ke arah kanan sambil berteriak kesakitan.
5 Pailul yang terluka di dahi dan bahu kiri (mungkin) sebab perkelahian sebelumnya, berjalan tergesa bersama Koming yang menggendong pria tua. Wajah Koming dan pria tua itu sama-sama nelangsa. Jika diperhatikan, celana Pailul koyak di bagian bawah.
6 Adipati mengenalkan burung baru di dalam sangkar. Di belakangnya, dua ekor tikus mengenakan baju manusia, keduanya berjalan seperti manusia; yang pria memakai topi, baju lengan panjang, hiasan leher, celana dan sepatu, yang perempuan berambut panjang, mengenakan baju, rok dan hiasan leher. Tikus pria seakan membisikkan sesuatu dengan telapak tangan yang berusaha menutupi mulut. Sedangkan tikus perempuan seperti malu-malu mengikuti mereka dengan efek garis di bawah mata dan tangan yang dikatupkan di depan perut.
Signifikasi Tahap Kedua (Kode Pembacaan)
1. Hermeneutika:
Di bingkai ini, digambarkan bencana yang tengah menimpa kerajaan. Bencana alam yang terjadi menyebabkan penduduk harus menyelamatkan sedikit barang miliknya seperti bawaan yang dipanggul Koming dan Pailul. Koming, Bujel dan Trinil menangis, sedang Pailul tampak bingung sambil mengatakan, “Sang Adipati..” dan ditanggapi dengan “Ruwet!”.
Bingkai kedua menggambarkan penduduk yang meninggal dalam kesusahan. Koming dan Mbah mendoakan, dengan cara yang berbeda. Sedang Pailul kembali memanggil, “Sang Adipati..” namun ditanggapi suara tidak berwujud yang sama, “Ruwet!”
Bingkai selanjutnya, para penduduk berkumpul. Tua, muda, pria, perempuan, anak-anak menjadi satu di sebuah tempat. Ada yang menengadahkan tangan, menggendong anaknya, atau sekadar duduk saja. Percakapan yang sama juga terjadi seperti di bingkai-bingkai sebelumnya. Lalu para hulubalang keraton malah terlibat baku hantam dengan preman,
mereka saling mengacungkan senjata yang mereka miliki, ada pentungan dan parang. Ada yang menangis, kesakitan dan marah. Setiap kali penduduk melapor kepada Adipati, hanya ditanggapi “Ruwet!” (bingkai 1-4).
Pailul yang terluka di bahu dan jidatnya bersama Koming yang menggendong Mbah meminta pertanggungjawaban Adipati. Ujung celana Pailul tampak robek, benang sabuk wolonya pun nampak keluar, sambil berjalan ia berkata “Duh, Sang Adipati.. Mohon bertindaklah untuk kami, rahayat yang menjadi tanggung jawab andhika.”
Rupanya, Adipati tengah memperkenalkan burung peliharaan barunya yang disimpan dalam sangkar, “Apapun yang ingin kalian sampaikan, sampaikan saja pada burung twitter ingsun ini . Dia yang akan menjawabnya.” Di belakang Adipati, dua orang abdinya, pria dan perempuan yang berwajah dan berbadan seperti tikus mengikuti. Tikus pria membisikkan Adipati dan tikus perempuan nampak malu-malu.
2. Proairetik :
Cara pengambilan long shot digunakan untuk menampilkan seluruh kejadian dan atau pemandangan. Air setinggi pinggang orang dewasa, ombak, bangunan dan tumbuhan yang rusak bukan hanya sebagai petanda banjir biasa. Bencana alam yang terjadi bisa berupa banjir bandang, angin puting beliung atau tsunami. Datangnya bencana yang hebat ini membuat para penduduk hanya membawa benda yang dimiliki seperlunya saja, seperti kantung yang dipanggul Koming dan Pailul. Ketiganya menangis sebab ketakutan dan kaget atas apa yang terjadi, ketika Pailul meminta pertolongan kepada pemimpin negerinya, hanya dijawab dengan kata ruwet yang berarti kalut,sulit, rumit dan dimaknai Adipati sedang sibuk sendiri.
Pada bingkai selanjutnya, terjadi wabah penyakit yang memakan korban jiwa, kedua korban tersebut ialah penduduk pria yang miskin dan lanjut usia. Kemiskinan yang melanda mereka ditunjukkan melalui kain rombeng yang menutupi mayat mereka. Kain itu pun tidak
cukup untuk menutupi seluruh tubuh mereka, wajahnya tampak tersiksa dan janggutnya pun belum dibersihkan. Mbah yang dianggap orang pintar di negerinya mendoakan mereka dengan khidmat. Cara Mbah berdoa identik dengan cara muslim, sedang Koming menirukan cara berdoa penganut Hindu. Pailul yang tidak berdoa, kembali memangil Adipati, namun masih tidak diacuhkan.
Rakyat miskin yang kelaparan hanya mampu menunggu dan berkumpul. Ada yang berusaha untuk meminta, tapi tidak ada gunanya. Ada sedang menggendong anaknya yang sudah tidak sadar lagi. Anak-anak busung lapar, tampak dari badannya yang kurus, tapi buncit. Pakaian mereka tidak jauh berbeda dari Koming dan Pailul, sama-sama tidak mengenakan alas kaki. Namun badannya kurus tidak terurus, rambut berantakan, pipi kempot. Adipati lagi-lagi dipanggil untuk menyelesaikan masalah kemiskinan, tapi hanya bisa berteriak dari kejauhan.
Para prajurit berkelahi dengan preman. Cara membedakan mereka ialah dari pakaiannya. Para prajurit mengenakan setelan bolero dan celana ditambahkan ikat kepala, kalung dan selop. Boleronya pun berhias warna putih di sudutnya. Sedang preman tidak menggunakan alas kaki, kalung dan ikat kepalanya hanya dari kain biasa. Salah satu prajurit tengah berteriak kesakitan, mulutnya menganga dan matanya tertutup. Prajurit yang menjambak rambut preman 1 sedang akan memukulnya dengan pentungan, preman 2 mengacungkan parang dan tinjunya pada prajurit dengan marah, matanya membelalak, mulutnya terbuka lebar. Saat Adipati dipanggil untuk meredakan amarah mereka, Adipati masih menjawab dengan ‘ruwet’.
Pailul, Koming dan Mbah menjadi korban perkelahian di bingkai sebelumnnya, badan Pailul luka dan Mbah yang sudah tua sampai digendong oleh Koming. Pailul pun meminta tanggung jawab Adipati sebagai pemimpin, (kata ‘andhika’ bermakna tuanku).
Para penduduk mengharapkan solusi dari Adipati atas masalah-masalah yang terjadi di negeri. Mulai dari bencana alam, wabah penyakit, kelaparan, pertikaian, dan lain-lain. Namun ‘panggilan langsung’ dari
rakyat tidak langsung ditanggapi oleh Adipati. Keinginan Adipati ialah agar rakyat mengadu pada burung peliharannya atau kepada bawahannya yang mengikuti dari belakang. Kedua pengikutnya adalah orang-orang yang ‘mengatur’ Adipati sebab penggunaan wajah tikus bermakna licik, tamak, dan mau menang sendiri. Pose berbisik yang dilakukan salah satu abdi tersebut berarti ia menyampaikan apa yang harus disampaikan oleh Adipati.
3. Simbolik :
• Segala permasalahan yang terjadi di suatu negara akan berimbas pada rakyat kecil. Seluruh masalah yang digambarkan (bingkai 1-5) memakan korban rakyat miskin, dilihat dari pakaian dan rupa para manusia yang digambarkan. Seakan nasib buruk lekat pada masarakat kecil. Bahkan perkelahian yang terjadi pun, dialami oleh abdi rendahan dan preman. Ciri-cirinya terlihat pada hiasan yang ada di tubuhnya tidak sebanyak dengan abdi yang dekat dengan Adipati (bingkai 6). Alas kakinya pun hanya sendal, berbeda dengan abdi pada bingkai 6 yang memakai sepatu.
• Rakyat yang memiliki kedekatan personal dengan pemimpin seringnya memiliki sifat yang tidak baik bak tikus. Rakus, penjilat dan memikirkan kepentingan pribadi. Tikus juga menjadi simbol dari sikap pengecut sebab kebiasaannya mencuri makanan di malam hari, sambil mengendap-endap.
4. Kultural :
Tenggang rasa dan tolong-menolong menjadi budaya masyarakat Jawa yang diwujudkan sebagai berikut; bantuan Pailul untuk menggendong ponakan Koming saat bencana melanda, kehadiran Koming dan Pailul saat kematian anggota masyarakat, panggilan-panggilan mereka saat ada masalah lain (bingkai 3 dan 4) juga bantuan mereka kepada Mbah yang lanjut usia di bingkai 5. Sisi spiritual masyarakat Jawa ditampilkan melalui kehadiran Mbah di bingkai 2 yang mendoakan kedua mayat, selain
itu pengaruh Hindu dan Islam juga digambarkan dengan baik melalui cara berdoa Mbah dan Koming. Budaya tersebut sangat melekat pada rakyat kecil dan berbanding terbalik dengan sikap pejabat di bingkai 6 yang terlihat bersembunyi di balik Adipati demi meraup keuntungan pribadi.
Salah satu fasafah hidup orang Jawa demi mencapai kehidupan yang harmonis ialah dengan memelihara burung (kukilo). Burung yang biasa dipelihara oleh masyarakat Jawa ialah Perkutut. Mereka memercayai bahwa Perkutut merupakan alat pencipta kepuasan atau kenikmatan pribadi. Suaranya dapat memberikan suasana tenang, teduh, santai, bahagia dan seolah-olah manusia dapat berhubungan dengan alam semesta secara langsung.
Budaya ini nampaknya bergeser menjadi kebiasaan ‘memelihara’ burung di media sosial (Twitter). Kicauan yang dulu biasa dilakukan oleh seekor burung, kini lebih sering dilakukan manusia melalui akun media sosialnya. ‘Kicauan’ ini dapat berupa tanggapan, keluhan, ungkapan rasa dan lain sebagainya.
5. Semik :
Inti dari cerita ini dapat diambil dari bingkai terakhir dari
comic strip ini. Semakin banyaknya pengguna media sosial Twitter di dunia maya ternyata turut menarik perhatian SBY. Sebuah akun atas namanya pun ia buat untuk mendekatkan ia dan masyarakat serta demi menampung aspirasi masyarakat yang ia pimpin.
Kembali ke cerita, hadirnya burung dalam sangkar peliharaan Adipati pun menjadi analogi dari akun Twitter SBY. Abdi yang berada di belakang Adipati diibaratkan sebagai administrator yang turut mengatur akun Twitter tersebut.
Kali ini, sosok perempuan dihadirkan oleh Dwi Koen sebagai tanda bahwa sifat jelek tidak hanya dimiliki oleh pria saja, perempuan pun dapat berlaku sama. Pada cerita ini, perempuan juga ambil andil dalam pemerintahan walau hanya tersipu dibalik pria.
Penggunaan muka tikus dan ekornya pada abdi Adipati bermakna kedua abdi tersebut ialah orang pengecut dan memikirkan keuntungan pribadi. Tikus menjadi simbol kepengecutan sebab caranya mencari makan ialah dengan mengendap-endap di malam hari dan mencuri makanan yang bukan miliknya.
Pria dan perempuan yang ada di belakang Adipati seakan mengatur kata-kata yang akan diucapkan oleh Adipati atau ada ‘pembisik’ kata-kata yang harus disampaikan SBY melalui akun Twitternya. Budaya bangsa semakin melorot ketika segala permasalahan hanya dibahas di media sosial, bukan langsung turun ke lapangan.
Setiap bingkai menjelaskan berbagai permasalahan yang terjadi di negeri Koming. Harapannya, pemimpin (Adipati) turut mengambil andil dalam penyelesaian masalah-masalah tesebut. Namun panggilan-panggilan dari rakyat hanya ditanggapi dengan kata “Ruwet!” Entitas ini menjadi cerminan bahwa keluhan yang disampaikan oleh masyarakat lebih sering tidak ditanggapi sebab pemimpinnya pun sedang sibuk sendiri (mengurus burung peliharaan, misalnya). Selain itu, kalimat Adipati “Apapun yang ingin kalian sampaikan.. Dia yang akan menjawabnya,” menjadi bukti bahwa tidak ada guna bagi masyarakat untuk menyampaikan pendapatnya melalui burung tersebut atau akun Twitter milik SBY sebab akun tersebut (yang dikelola lebih dari seorang) yang akan menjawab semua keluhan masyarakat.
IV.2.3 Analisis Semiotika Comic Strip Panji Koming edisi 21 April 2013