BAB IV ANALISIS HASIL PENELITIAN
B. Analisis Hasil Penelitian
3. Analisis Statistik
3.1 Uji Asumsi Klasik
Model regresi yang diperoleh dari metode kuadrat terkecil biasanya merupakan model regresi yang menghasilkan estimasimator linier tidak bias yang terbaik. Kondisi ini akan terjadi jika dipenuhi beberapa asumsi klasik meliputi uji normalitas data, uji autokorelasi dan uji heteroskedastisitas.
a. Uji Normalitas
Uji normalitas dilakukan untuk mengetahui apakah dalam sebuah model regresi, variabel terikat dan variabel bebas keduanya mempunyai distribusi normal ataukah tidak normal. Model regresi yang baik adalah memiliki distribusi data normal atau mendekati normal. Untuk menguji apakah distribusi data normal atau tidak, dapat dilakukan dengan uji statistik. Normalitas dapat dideteksi dengan melihat penyebaran data (titik) pada sumbu diagonal dan grafik dengan melihat histogram dari residualnya. Dasar pengambilan keputusannya adalah :
1. Jika data menyebar diantara garis diagonal dan mengikuti arah garis diagonal atau grafik histogramnya menunjukkan pola berdisitribusi normal, maka model regresi memenuhi asumsi normalitas.
2. Jika data menyebar jauh dari diagonal dan tidak mengikuti arah garis diagonal atau grafik histogram tidak menunjukkan data berdistribusi normal, maka model regresi tidak memenuhi asumsi normalitas.
Uji normalitas dilakukan melalui analisis grafik dan analisis Kolmogorov- Smirnov (K-S). Hipotesisnya sebagai berikut :
H0 : data residual berdistribusi normal
H1 : data residual tidak berdistribusi normal
Bila signifikansi > 0,05 dengan α = 5% berarti data normal dan H0 diterima, sebaliknya bila nilai signifikansi < 0,05 berarti data tidak normal dan H1 diterima.
b. Uji Autokorelasi
Uji ini bertujuan untuk melihat apakah dalam suatu model regresi linier ada korelasi antar kesalahan pengganggu pada periode t dengan kesalahan pada periode t-1 atau sebelumnya. Jika terjadi korelasi maka dinamakan ada problem autokorelasi. Model regresi yang baik adalah regresi yang bebas dari autokorelasi.
Untuk mendeteksi terjadi autokorelasi atau tidak dalam suatu model regresi dilakukan dengan melihat nilai dari statistik Durbin Watson (D-W) test. Cara yang dapat digunakan untuk mendeteksi masalah autokorelasi adalah dengan menggunakan nilai Durbin Watson (DW) menurut Ghozali (2006:100) dengan ketentuan sebagai berikut:
Tabel 3.3
Keputusan Durbin Watson (DW)
Hipotesis Nol Keputusan Jika
Tidak ada autokorelasi positif Tolak 0 < DW < dl Tidak ada autokorelasi positif No decision dl ≤ DW ≥ du Tidak ada autokorelasi negative Tolak 4 - dl < DW < 4 Tidak ada autokorelasi negative No decision 4 - du ≤ DW ≤ 4 - dl Tidak ada autokorelasi positif
dan negative
Tidak
ditolak du < DW <4 – dl Sumber : Aplikasi Analisis Multivariate
Keterangan : du = batas atas, dl = batas bawah
Berdasarkan tabel keputusan DW tersebut maka dapat ditentukan suatu data penelitian terbebas dari autokorelasi atau tidak.
c. Uji Heteroskedastisitas
Uji heteroskedastisitas bertujuan menguji apakah dalam model regresi terjadi ketidaksamaan variance dari residual satu pengamatan ke pengamatan yang lain (Ghozali,2006:125). Jika varians residual satu pengamatan ke pengamatan yang lain tetap, maka disebut homoskedastisitas dan jika berbeda disebut heteroskedastisitas. Model regresi yang baik adalah yang homokedastisitas. Pemeriksaan terhadap gejala heteroskedastisitas dalam suatu model regresiadalah dengan uji Glejser dan melihat pola diagram pencar dengan ketentuan sebagai berikut :
1. Jika diagram pencar ada membentuk pola-pola tertentu yang teratur pada suatu sudut atau bagian maka model regresi mengalami gangguan heterokedastisitas.
2. Jika diagram pencar tidak membentuk suatu pola atau telihat acak maka regresi tidak mengalami gangguan heterokedastisitas.
1.2Regresi Sederhana
Regresi sederhana digunakan untuk menganalisis pengaruh kebangkrutan bank dengan Z-Score terhadap harga saham. Rumus yang digunakan adalah diadopsi dari Algifari (2000:9) sehingga terdapat dapat dirumuskan sebagai berikut : Y = a + bX
Keterangan : Y = Harga Saham (Variabel Dependen) a = Konstanta
b = Koefisien Variabel Independen X = Nilai Z-Score (Variabel Independen)
1.3Koefisien Determinasi
Dalam uji regresi dianalisis pula besarnya koefisien determinasi (R2). Koefisien determinasi (R2) ini digunakan untuk mengukur dan mengetahui persentase pengaruh variabel independen terhadap perubahan variabel dependen. Jika nilai R2 mendekati 1 maka dapat dikatakan semakin kuat kemampuan variabel bebas dalam model regresi tersebut dalam menerangkan variasi variabel terikatnya. Sebaliknya jika R2 mendekati 0 maka semakin lemah variabel bebas menerangkan variasi variabel terikat.
G. Jadwal Penelitian
Pada awal bulan september pengajuan penelitian ini dimulai, kemudian pada akhir oktober penelitian tersebut diseminarkan. Mulai dari bulan oktober sampai januari pengumpulan data dan bimbingan penelitian dilakukan. Dan pada pertenganhan februari penelitian diselesaikan. Pada minggu ketiga dibulan februari diadakan ujian meja hijau. Adapun jadwal penelitian yang telah direncanakan dapat dilihat dalam Tabel di bawah ini :
Tahapan Penelitian Sep 2010 Okt 2010 Nov 2010 Des 2010 Jan 2011 Feb 2011 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 Pengajuan Proposal Skripsi Bimbingan Proposal Skripsi Seminar Proposal Skripsi Pengumpulan dan Pengolahan Data Bimbingan Skripsi Penyelesaian Skripsi Ujian Meja Hijau Sumber : Hasil Olahan Penelitian
BAB IV
ANALISIS HASIL PENELITIAN
A. Data Penelitian
Populasi yang diteliti dalam penelitian ini adalah perusahaan perbankan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia selama tahun 2005 sampai dengan tahun 2009. Perusahaan yang dijadikan sampel berjumlah 20 perusahaan dari 30 perusahaan perbankan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia. Sampel tersebut terlebih dahulu dihitung nilai altman z-score masing-masing dengan rumus :
Z = 1,2 ( )+ 1,4 ( )+ 3,3 ( ) + 0,6 ( + 1 (
Dimana : X1 = Working Capital / Total Assets X2 = Retairned Earnings / Total Assets
X3 = Earning Before Interest and Taxes / Total Assets
X4 = Market Value of Equity / Book Value of Total Liabilities X5 = Sales / Total Assets
Penelitian ini adalah termasuk penelitian populasi yang ingin melihat dan meneliti semua populasi. Sedangkan populasi sasaran dalam penelitian ini adalah perusahaan perbankan di Bursa Efek Indonesia. Perbankan merupakan perusahaan yang berperan sebagai perantara keuangan (financial intermediary) antara pihak yang memiliki dana dan pihak yang memerlukan dana serta sebagai lembaga yang berfungsi memperlancar lalu lintas pembayaran.
Perusahaan perbankan mengalami banyak masalah sejak terjadinya krisis multidimensional di Indonesia. Krisis moneter yang terus-menerus mengakibatkan krisis kepercayaan dan banyak bank yang terlikuidasi. Dalam hal ini agar setiap bank mampu bertahan maka diperlukan suatu perhitungan untuk memprediksi apakah bank akan tetap beroperasi atau dilikuidasi. Informasi kebangkrutan sangat penting adanya sehingga perlu diukur dan dianalisis. Salah satu cara untuk menilai tingkat kesehatan perusahan adalah dengan melihat aspek finansialnya. Dengan membandingkan elemen-elemen aktiva disatu pihak dengan pasiva dilain pihak maka akan dapat diperoleh banyak gambaran tentang finansial suatu perusahaan. Selanjutnya membandingkan laporan keuangan antara periode yang satu dengan periode yang lain akan dapat menganalisis perkembangan, kondisi keuangan dan kesehatan perusahaan.
B. Analisis Hasil Penelitian
1. Analisis Deskriptif
Dalam statistik deskriptif memberikan gambaran atau deskripsi suatu data yang dilihat dari nilai rata-rata (mean), standar deviasi, varian, maksimum, minimum, sum, range, kurtosis dan skewness (kemencengan distribusi) (Ghozali,2006:19). Statistik deskriptif variabel penelitian dari sampel perusahaan selama periode pengamatan mulai tahun 2005 sampai dengan tahun 2009 disajikan pada Tabel 4.1 berikut ini :
Tabel 4.1
Statistik Deskriptif Variabel Penelitian
Sumber : Hasil Olahan SPSS 16
Tabel 4.1 menunjukkan hasil ouput SPSS mengenai statistik deskriptif variabel penelitian tahun 2005-2009 dengan jumlah sampel keseluruhan sebanyak 20 perusahaan perbankan yang terdaftar di BEI.
Berdasarkan analisis data perusahaan perbankan di Bursa Efek Indonesia diperoleh nilai rasio keuangan yang dapat dideskripsikan. Working capital tertinggi pada tahun 2005 diperoleh Bank Mandiri (Persero) Tbk yaitu sebesar Rp. 24.911.756.000.000, pada tahun 2006 diperoleh Bank Central Asia Tbk sebesar Rp. 14.816.090.000.000, pada tahun 2007 diperoleh Bank Mandiri (Persero) Tbk sebesar Rp. 42.617.828.000.000, pada tahun 2008 tetap diperoleh Bank Mandiri (Persero) Tbk sebesar Rp. 43.768.097.000.000, dan pada tahun 2009 juga diperoleh Bank Mandiri (Persero) Tbk sebesar Rp. 47.559.096.000.000. Working capital terendah pada tahun 2005 diperoleh Bank CIMB Niaga Tbk sebesar Rp. - 32.668.559.000.000, pada tahun 2006 diperoleh Bank Mutiara Tbk (d/h Bank Century Tbk) sebesar Rp.‐5.096.340.000.000, pada tahun 2007 diperoleh Bank Eksekutif International sebesar Rp.-129.342.228.858, pada tahun 2008 diperoleh
Descriptive Statistics
N Minimum Maximum Mean Std. Deviation
WCTA 100 -.786 .923 .08472 .197386 RETA 100 -1.594 .080 -.00887 .203116 EBITTA 100 -1.286 .046 -.00006 .130860 MVEBUL 100 .000 4.857 .38445 .768563 STA 100 .075 .195 .11217 .019636 Zscore 100 -2.865 4.229 .57241 .839724 H.Saham 100 34.000 7670.000 1.28841E3 1636.718530 Valid N (listwise) 100
Bank Mutiara Tbk (d/h Bank Century Tbk) sebesar Rp.-682.169.000.000, sedangkan pada tahun 2009 diperoleh Bank Eksekutif International sebesar Rp. ‐ 69.680.768.725.
Nilai total assets tertinggi dari tahun 2005 sampai dengan tahun 2009 diperoleh Bank Mandiri (Persero) Tbk yaitu tahun 2005 diperoleh sebesar Rp. 263.383.348.000.000, tahun 2006 diperoleh sebesar Rp. 319.085.590.000.000, tahun 2007 diperoleh sebesar Rp.319.085.590.000.000, tahun 2008 diperoleh sebesar Rp. 358.438.678.000.000, dan pada tahun 2009 diperoleh sebesar Rp. 394.616.604.000.000. Nilai total assets terendah dari tahun 2005 sampai dengan tahun 2008 diperoleh Bank Swadesi Tbk yaitu tahun 2005 sebesar Rp. 925.664.000.000, tahun 2006 sebesar Rp.972.457.000.000, tahun 2007 sebesar Rp.1167.744.345.349, tahun 2008 sebesar Rp.1.359.880.323.678, sedangkan tahun 2009 total assets terendah diperoleh Bank Eksekutif International Rp.1.425.575.821.141.
Retained earnings yang tertinggi dari tahun 2005 sampai tahun 2009 diperoleh Bank Central Asia Tbk yaitu tahun 2005 sebesar Rp.10.417.825.000.000, tahun 2006 sebesar Rp.11.556.474.000.000, tahun 2007 sebesar Rp.13.904.753.000.000, tahun 2008 sebesar Rp.18.338.392.000.000, dan tahun 2009 sebesar Rp.22.587.283.000.000. Retained earnings yang terendah dari tahun 2005 sampai 2007 diperoleh Bank Permata Tbk yaitu tahun 2005 sebesar Rp.-4.555.608.000.000, tahun 2006 sebesar Rp. -3.365.440.000.000, tahun 2007 sebesar Rp.‐3.224.838.000.000 sedangkan tahun 2008 sampai tahun 2009
diperoleh Bank Mutiara Tbk (d/h Bank Century Tbk) yaitu tahun 2008 sebesar Rp. -8.903.713.000.000, tahun 2009 sebesar Rp. ‐8.638.230.000.000.
Earning before income and tax yang tertinggi pada tahun 2005 diperoleh Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk sebesar Rp. 5.607.952.000.000, tahun 2006 diperoleh Bank Mandiri (Persero) Tbk sebesar Rp. 6.066.603.000.000, tahun 2007 dan 2008 diperoleh Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk yaitu tahun 2007 sebesar Rp.7.780.074.000.000 dan tahun 2008 sebesar Rp.8.822.012.000.000, sedangkan tahun 2009 diperoleh Bank Mandiri (Persero) Tbk sebesar Rp.10.824.074.000.000. Earning before income and tax yang terendah pada tahun 2005 dan 2006 diperoleh Bank Eksekutif Internasional Tbk yaitu sebesar Rp.- 65.580.000.000 dan Rp.19.039.000.000, tahun 2007 dan 2008 diperoleh Bank Mutiara Tbk (d/h Bank Century Tbk) yaitu sebesar Rp. -166.056.000.000 dan Rp. -7.180.684.000.000, sedangkan untuk tahun 2009 diperoleh Bank Eksekutif Internasional sebesar Rp.-112.690.649.332.
Market value of equity yang tertinggi tahun 2005 dan 2006 diperoleh Bank Central Asia Tbk yaitu sebesar Rp. 53.376.955.690.850 dan Rp. 70.108.539.837.822, tahun 2007 diperoleh Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk sebesar Rp. 91151723700000.00, tahun 2008 diperoleh Bank Mandiri (Persero) Tbk sebesar Rp. 42.333.936.770.700 dan tahun 2009 diperoleh Bank Central Asia sebesar Rp.202.045.324.465.036. Market value of equity yang terendah pada tahun 2005 dan 2006 diperoleh Bank Eksekutif Internasional Tbk yaitu sebesar Rp. 41.077.695.000dan Rp. 35.805.000.000, tahun 2007 dan 2008 diperoleh Bank Mutiara Tbk (d/h Bank Century Tbk) yaitu sebesar Rp.1.927.810.200 dan
Rp.1.417.508.850, sedangkan untuk tahun 2009 diperoleh Bank Eksekutif Internasional Tbk sebesar Rp.54.640.000.000.
Nilai book value of debt yang tertinggi tahun 2005 diperoleh Bank Mandiri (Persero) Tbk sebesar Rp.240.164.245.000.000, tahun 2006 sampai tahun 2008 diperoleh Bank Bumiputera Indonesia Tbk yaitu sebesar Rp.489.621.308.900.000, Rp.580.967.173.400.000, Rp.578.288.203.200.000 sedangkan tahun 2009 diperoleh Bank Mandiri (Persero) Tbk sebesar Rp.359.318.341.000.000. Nilai book value of debt yang terendah tahun 2005 diperoleh Bank Swadesi Tbk sebesar Rp.813.739.000.000, tahun 2006 diperoleh Bank Victoria International sebesar Rp.258.962.000.000 dan untuk tahun 2007 sampai tahun 2009 diperoleh Bank Swadesi Tbk yaitu tahun 2007 sebesar Rp.1.043.090.917.542 , tahun 2008 sebesar Rp.1.077.207.449.641 dan tahun 2009 sebesar Rp.1.234.899.142.899.
Nilai sales yang tertinggi dari tahun 2005 sampai tahun 2008 diperoleh Bank Mandiri (Persero) Tbk yaitu tahun 2005 sebesar Rp.23.577.554.000.000, tahun 2006 sebesar Rp.28.747.205.000.000, tahun 2007 sebesar Rp.27.091.139.000.000, dan tahun 2008 sebesar Rp.31.989.244.000.000, sedangkan untuk tahun 2009 diperoleh Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk sebesar Rp.38.603.725.000.000. Nilai sales yang terendah dari tahun 2005 sampai 2009 diperoleh Bank Swadesi Tbk yaitu tahun 2005 sebesar Rp. 91.852.000.000, tahun 2006 sebesar Rp.119.248.000.000, tahun 2007 sebesar Rp.108.552.066.138, tahun 2008 sebesar Rp.133.258.988.945, dan tahun 2009 sebesar Rp.167.724.337.445.
Disamping itu untuk perhitungan rasio keuangan Altman Z-Score, diperoleh rasio keuangan sebagai berikut:
a. Working Capital to Total Assets (WCTA)
Nilai rasio keuangan working capital to total assets (WCTA) yang tertinggi tahun 2005 diperoleh oleh Bank Mutiara Tbk (d/h Bank Century Tbk) sebesar Rp.0,130654271, tahun 2006 diperoleh Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk sebesar Rp.0,922750296, tahun 2007 diperoleh Bank Mayapada Tbk sebesar Rp.0,224829085, tahun 2008 diperoleh Bank Mega Tbk sebesar Rp.0,415262418, dan tahun 2009 diperoleh Bank Bumiputera Indonesia Tbk sebesar Rp.0,571416288. Nilai working capital to total assets (WCTA) yang terendah tahun 2005 diperoleh Bank CIMB Niaga Tbk sebesar Rp.-0,785682256, tahun 2006 diperoleh Bank Mutiara Tbk (d/h Bank Century Tbk) sebesar Rp.- 0,350324833, tahun 2007 diperoleh Bank Eksekutif Internasional Tbk sebesar Rp.-0,095828968, tahun 2008 diperoleh Bank Mutiara Tbk (d/h Bank Century Tbk) sebesar Rp.-0,122123601, dan tahun 2009 diperoleh Bank Eksekutif Internasional sebesar Rp.-0,048879034. Dalam hal ini dapat disimpulkan bahwa semakin tinggi nilai rasio WCTA yang dihasilkan maka memberikan indikasi semakin baik pula penggunaan modal kerja terhadap total asset perusahaan yang dimiliki dan semakin rendah rasio tersebut akan memberikan indikasi penggunaan modal kerja yang tidak maksimal dari total asset yang dimiliki.
b. Retained Earning to Total Assets (RETA)
Rasio keuangan retained earning to total assets (RETA) yang tertinggi tahun 2005 diperoleh Bank Danamon Tbk sebesar Rp. 0.073031103 dan mulai tahun 2006 sampai tahun 2009 diperoleh Bank Central Asia Tbk yaitu sebesar Rp.0,065365143, Rp.0,063781805, Rp.0,074676885, Rp.0,079985479. Retained earning (RETA) yang terendah tahun 2005 diperoleh Bank Mutiara Tbk (d/h Bank Century Tbk) sebesar Rp.-0.176597892, tahun 2006 diperoleh Bank Permata Tbk sebesar Rp.-0,088935107, dan dari tahun 2007 sampai 2009 diperoleh Bank Mutiara Tbk (d/h Bank Century Tbk) yaitu tahun 2007 sebesar Rp.-0,118238215, tahun 2008 sebesar Rp.-1,593964972, dan tahun 2009 sebesar Rp.-1,14700088. Semakin besar rasio tersebut maka semakin besar pula tingkat keuntungan yang dicapai oleh perusahaan tersebut dan semakin baik pula posisi bank tersebut dari segi penggunaan asset dan begitu pun sebaliknya.
c. Earnings Before Interest and Tax to Total Assets (EBITTA)
Rasio keuangan earning before interest and tax to total assets (EBITTA) yang tertinggi mulai tahun 2005 sampai dengan tahun 2008 diperoleh Bank Rakyat Indonesia (Persero) yaitu sebesar Rp. 0.045676445, Rp.0,038175488, Rp.0,038187235, Rp.0,035850631, dan tahun 2009 diperoleh Bank Swadesi Tbk sebesar Rp.0,032939672. Earnings before interest and tax to total assets (EBITTA) yang terendah tahun 2005 dan 2006 diperoleh Bank Eksekutif Internasional Tbk yaitu sebesar Rp.-0,043954188 dan Rp.-0,014215985, tahun 2007 dan 2008 diperoleh Bank Mutiara Tbk (d/h Bank Century Tbk) yaitu sebesar Rp.-0,011646911 dan Rp.-1,285504011, sedangkan untuk tahun 2009 diperoleh
Bank Eksekutif Internasional Tbk sebesar Rp.0,079049215. Sama halnya dengan RETA maka semakin besar rasio tersebut akan semakin besar pula tingkat keuntungan yang dicapai oleh perusahaan tersebut dan semakin baik pula posisi bank tersebut dari segi penggunaan asset dan begitu pun sebaliknya.
d. Market Value of Equity to Book Value of Debt (MVEBUL)
Rasio keuangan market value of equity to book value of debt (MVEBUL) yang tertinggi tahun 2005 diperoleh Bank Central Asia Tbk sebesar Rp.3,973500325, tahun 2006 dan 2007 diperoleh Bank Permata Tbk sebesar Rp.1,97981705, Rp.1.950240101, tahun 2008 diperoleh Bank Internasional Indonesia Tbk sebesar Rp.3,470435241, sedangkan tahun 2009 diperoleh Bank Mutiara Tbk (d/h Bank Century Tbk) sebesar Rp.4,856800871. Market value of equity to book value of debt (MVEBUL) yang terendah tahun 2005 diperoleh Bank Artha Graha Internasional Tbk sebesar Rp.0,028506226, tahun 2006 sampai tahun 2008 diperoleh Bank Bumiputera Indonesia Tbk yaitu sebesar Rp.0,000919078, Rp.0,00112743, Rp.0,000536065, dan tahun 2009 diperoleh sebesar Rp.0,037112758. Semakin tinggi rasio tersebut maka semaikn baik pula kondisi perusahaan. Hal ini memberikan indikasi bahwa perusahaan mampu dalam memberikan jaminan kepada setiap hutangnya melalui modalnya sendiri. Semakin rendah rasio tersebut maka mencerminkan kondisi perusahaan yang kurang baik.
e. Sales to Total Assets (STA)
Rasio keuangan sales to total assets (STA) yang tertinggi tahun 2005 diperoleh Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk sebesar Rp.0,146432427, tahun 2006 diperoleh Bank Danamon Tbk sebesar Rp.0,160095197, tahun 2007 diperoleh Bank Eksekutif Internasional Tbk sebesar Rp.0,134325067, tahun 2008 diperoleh Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk sebesar Rp.0,124480882, dan tahun 2009 diperoleh Bank Danamon Tbk sebesar Rp.0,194733708. Sales to total assets yang terendah tahun 2005 diperoleh Bank Mutiara Tbk (d/h Bank Century Tbk) sebesar Rp.0,086568748 dan tahun 2006 sampai tahun 2009 diperoleh Bank Mandiri (Persero) Tbk yaitu tahun 2006 sebesar Rp.0,090092458, tahun 2007 sebesar Rp.0,084902421, tahun 2008 sebesar Rp.0,089246072,dan tahun 2009 sebesar Rp.0,096507158. Semakin tinggi rasio maka memberikan indikasi semakin meningkatnya penjualan yang diperoleh dari total asset yang dimilki perusahaan. Hal ini mencerminkan kondisi perusahaan yang baik. Namun sebaliknya semakin rendah rasio maka semakin rendah pula penjualan yang diperoleh jika dibandingkan dengan total asset yang dimiliki.
f. Harga Saham
Harga saham perusahaan perbankan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia pada tahun 2005 yang tertinngi diperoleh Bank Danamon Tbk sebesar 3658,1 dan yang terendah diperoleh Bank Eksekutif Internasional Tbk sebesar 44,8. Pada tahun 2006 harga saham tertinggi diperoleh Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk sebesar 5245 dan yang terendah Bank Eksekutif Internasional Tbk
sebesar 42,6. Tahun 2007 harga saham tertinggi diperoleh Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk sebesar 7365 dan yang terendah Bank Eksekutif Internasional Tbk sebesar 49,7. Tahun 2008 harga saham tertinggi diperoleh Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk sebesar 4597,5 dan yang terendah Bank Eksekutif Internasional Tbk sebesar 34. Sedangkan untuk tahun 2009 harga saham yang tertinggi diperoleh Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk sebesar 7670 dan yang terendah Bank Mutiara Tbk (d/h Bank Century Tbk) sebesar 50. Perubahan harga saham dipengaruhi oleh kekuatan permintaan dan penawaran yang terjadi di pasar sekunder. Semakin banyak investor yang ingin membeli atau menyimpan suatu saham, maka harganya akan semakin naik. Dan sebaliknya jika semakin banyak investor yang menjual atau melepaskan maka akan berdampak pada turunnya harga saham. Harga saham merupakan nilai suatu saham yang mencerminkan kekayaan perusahaan yang mengeluarkan saham tersebut.
Secara umum semakin baik keuangan perusahaan dan semakin banyak keuntungan yang dinikmati oleh pemegang saham, kemungkinan harga saham akan naik. Tetapi saham yang memiliki tingkat keuntungan yang baik juga bisa mengalami penurunan harga. Hal ini dapat disebabkan oleh keadaan pasar saham. Hal seperti ini tidak akan hilang jika kepercayaan pemodal belum pulih, kondisi ekonomi belum membaik ataupun hal-hal lainnya. Salah satu resiko dari pemegang saham adalah menurunnya harga saham. Hal ini dapat diatasi dengan cara menahan saham tersebut sampai keadaan pasar membaik.
2. Analisis Altman Z-Score
Berdasarkan hasil perhitungan nilai z-score pada perusahaan perbankan yang terdaftar di BEI maka nilai z-score tertinggi pada tahun 2005 diperoleh Bank Central Asia Tbk sebesar 4,229383623 dan nilai terendah diperoleh Bank CIMB Niaga Tbk sebesar -0,509458396. Sedangkan rata-rata nilai z-score tahun 2005 masih berada di bawah 1,8 sehingga semua bank masuk dalam klasifikasi sebagai perusahaan yang mengalami masalah keuangan yang serius.
Pada tahun 2006 nilai z-score tertinggi diperoleh Bank Permata Tbk sebesar 2,8781291 dan terendah diperoleh Bank Mutiara Tbk (d/h Bank Century Tbk) sebesar -0,218329406. Rata-rata nilai z-score tahun 2006 masih berada di bawah 1,8 sehingga semua bank masuk dalam kategori sebagai perusahaan yang mengalami masalah keuangan yang serius, terkecuali Bank Permata Tbk yang diklasifikasikan sebagai perusahaan yang memiliki sedikit masalah keuangan tetapi tidak serius.
Pada tahun 2007 nilai z-score tertinggi diperoleh Bank Permata Tbk sebesar 2,117119113 dan terendah diperoleh Bank Mutiara Tbk (d/h Bank Century Tbk) sebesar -0,045704135. Rata-rata nilai z-score tahun 2007 masih di bawah 1,8 yang tentu saja diklasifikasikan sebagai perusahaan yang mengalami masalah keuangan yang serius dan terkecuali untuk Bank Permata Tbk yang diklasifikasikan sebagai perusahaan yang akan mengalami masalah keuangan jika tidak melakukan perbaikan dalam manajemen maupun struktur keuangannya. Pada kondisi seperti ini, perusahaan mengalami masalah keuangan yang harus
ditangani oleh manajemen dengan cepat, jika terlambat maka akan mengakibatkan masalah keuangan yang serius.
Pada tahun 2008 nilai z-score tertinggi diperoleh Bank Internasional Indonesia Tbk sebesar 3,657750092 dan terendah diperoleh Bank Mutiara Tbk (d/h Bank Century Tbk) sebesar -2,865261242. Rata-rata nilai z-score ditahun 2008 di bawah 1,8 sehingga diklasifikasikan sebagai perusahaan yang mengalami masalah keuangan yang serius, terkecuali Bank Internasional Indonesia Tbk yang diklasifikasian sebagai perusahaan yang tidak mengalami masalah dengan kondisi keuangan.
Pada tahun 2009 nilai z-score tertinggi diperoleh Bank Mutiara Tbk (d/h Bank Century Tbk) sebesar 3,901917118 dan terendah diperoleh Bank Eksekutif Internasional Tbk sebesar -0,053059062. Rata-rata nilai z-score ditahun 2009 tetap berada di bawah 1,8 sehingga semua perusahaan perbankan di BEI diklasifikasikan sebagai perusahaan yang mengalami masalah keuangan yang serius meskipun masih ada dua Bank yang tidak termasuk yaitu Bank Mutiara Tbk (d/h Bank Century Tbk) diklasifikasikan sebagai perusahaan yang tidak mengalami masalah keuangan dan Bank Mega Tbk yang diklasifikasikan sebagai perusahaan yang akan mengalami masalah keuangan jika tidak melakukan perbaikan dalam manajemen maupun struktur keuangannya, dimana pihak manajemen harus menanggulangi masalah ini sedini mungkin untuk menghindari terjadinya masalah keuangan yang lebih serius.
Dari hasil perhitungan model altman z-score hampir semua perusahaan perbankan yang terdaftar di BEI dari tahun 2005 sampai dengan 2009 berada
dibawah 1,8 sehingga diklasifikasikan sebagai perusahaan yang mengalami masalah yang serius (bangkrut). Namun pada kenyataannya semua perusahaan tersebut masih tetap menjalankan kegiatan usahanya. Hal ini tentu saja dikarenakan pemerintah melakukan likuidasi pada suatu bank bukan menggunakan rasio keuangan model altman z-score tetapi menggunakan ukuran rasio model CAMEL dan berbagai pertimbangan lain seperti yang telah ditetapkan oleh Bank Indonesia.
3. Analisis statistik
a. Uji Normalitas Data
Uji data statistik dengan model Kolmogorov-Smirnov dilakukan untuk mengetahui apakah data sudah terdistribusi secara normal atau tidak. Ghozali (2005:115), memberikan pedoman pengambilan keputusan tentang data mendekati atau merupakan distribusi normal berdasarkan uji Kolmogorov Smirnov yang dapat dilihat dari:
a. Nilai signifikan atau probabilitas < 0,05, maka distribusi data adalah tidak normal,
b. Nilai signifikan atau probabilitas > 0,05, maka distribusi data adalah normal.
Hasil uji normalitas dengan menggunakan model Kolmogorov-Smirnov adalah seperti yang ditampilkan pada Tabel 4.3 berikut ini:
Tabel 4.2 Hasil Uji Normalitas
One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test
Unstandardized Predicted Value
N 94
Normal Parametersa Mean 6.4157354
Std. Deviation .74029398
Most Extreme Differences Absolute .098
Positive .069
Negative -.098
Kolmogorov-Smirnov Z .949