• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV ANALISIS DAN PEMBAHASAN

4.2 Analisis Statistik Deskriptif dan Perhitungan Skor Variabel Penelitian

Dalam penelitian ini yang menjadi variabel bebas adalah kesadaran wajib pajak, kualitas pelayanan pajak, dan sanksi pajak variabel terikatnya adalah kepatuhan wajib pajak. Berikut ini data statistik deskriptif masing-masing variabel.

Tabel 4.3 Hasil Uji Statistik Deskriptif

Descriptive Statistics

Berdasarkan pada hasil uji statistik deskriptif seperti yang ditampilkan pada tabel 4.3. Statistik Deskriptif bahwa telah dilakukan pengujian terhadap data penelitian dengan total 100 responden.

38

Pertama, pada variabel independen yaitu kesadaran wajib pajak (X1) memiliki nilai rata-rata yaitu sebesar 22,02. Kemudian nilai maksimum yaitu sebesar 25 dan nilai minimum yaitu sebesar 9. Selain itu, terdapat nilai standar deviasi yaitu sebesar 3,075.

Kedua, pada variabel independen yaitu kualitas pelayanan pajak (X2) memiliki nilai rata-rata yaitu sebesar 25,38. Kemudian nilai maksimum yaitu sebesar 30 dan nilai minimum yaitu sebesar 14. Selain itu, terdapat nilai standar deviasi yaitu sebesar 3,848.

Ketiga, pada variabel independen yaitu sanksi pajak (X3) memiliki nilai rata-rata yaitu sebesar 21,13. Kemudian nilai maksimum yaitu sebesar 25 dan nilai minimum yaitu sebesar 6. Selain itu, terdapat nilai standar deviasi yaitu sebesar 3,538.

Keempat, pada variabel dependen yaitu kepatuhan wajib pajak (Y) memiliki nilai rata-rata yaitu sebesar 25,79. Kemudian nilai maksimum yaitu sebesar 30 dan nilai minimum yaitu sebesar 11. Selain itu, terdapat nilai standar deviasi yaitu sebesar 3,574.

39 4.3 Uji Kesesuaian Data

4.3.1 Uji Validitas

Peneliti melakukan uji validitas (validity) terhadap masing-masing item pernyataan pada kuesioner dengan cara membandingkan nilai rhitung dengan nilairtabel. Item-item pernyataan terkait dengan variabel yang digunakan dalam penelitian ini dinyatakan valid apabila nilai nilai rhitung < rtabel. Tabel 4.4 menyajikan hasil uji validitas dari setiap pernytaan terkait dengan variabel penelitian.

40

Tabel 4.4 Uji Validitas Variabel

Sumber : Data Olahan SPSS,2021

Berdasarkan data yang disajikan pada tabel diatas, nilai r-tabel yang dipakai dalam penelitian ini yaitu 0,1966 untuk sampel (n) berjumlah 100 orang pada nilai signifikasi 0,05 dan degree of freedom (df = n-2) sebesar = 98. Dari perhitungan dengan menggunakan aplikasi SPSS, peneliti memperoleh rhitung untuk setiap item pernyataan variabel penelitian yang tercantum pada kuesioner. Dengan membandingkan nilai rhitung dan nilai rtabel yang disajikan pada tabel 4.4 peneliti menyimpulkan bahwa semua item pernyataan terkait dengan variabel yang tercantum pada kuesioner penelitian semuanya valid karena nilai rhitung semua item pernyataan lebih besar dari pada rtabel.

No Variabel / Indikator R Hitung R Tabel Keterangan

1 Kesadaran Wajib Pajak ( X1)

2 Kualitas Pelayanan Pajak (X2)

Indikator 1 0.896 0.1966 Valid

4 Kepatuhan Wajib Pajak (Y)

Indikator 1 0.855 0.1966 Valid

41 4.3.2 Uji Reabilitas

Peneliti melakukan uji reabilitas (reliability) terhadap masing-masing item pernyataan yang tercantum pada kuesioner untuk mengukur variabel penelitian dengan cara menggunakan Cronbach Alpha. Peneliti menghitung koefisien Cronbach Alpha dengan menggunakan aplikasi SPSS. Tabel 4.5 menyajikan data

koefisien Cronbach Alpha yang dijadikan patokan ketika melakukan uji reabilitas.

Tabel 4.5 Uji Reabilitas Variabel

Sumber : Data Olahan SPSS,2021

Uji reliabilitas digunakan untuk mengetahui kestabilan dan konsistensi responden dalam menjawab pertanyaan suatu kuesioner. Suatu kuesioner dikatakan reliabel atau handal jika jawaban seseorang terhadap pertanyaan adalah konsisten atau stabil dari waktu ke waktu. Data kuesioner dinyatakan handal apabila memiliki nilai Cronbach alpha > 0,60. Berdasarkan Tabel 4.5 menunjukkan bahwa item pernyataan semua variabel memiliki nilai Cronbach alpha >0,60 maka dapat disimpulkan bahwa item pernyataan dalam kuesioner

Variabel Koefisien

42

penelitian reliabel karena nilai Cronbach Alpha dari masing-masing variabel

>0,60

4.4 Uji Asumsi Klasik 4.4.1 Uji Normalitas

Uji normalitas bertujuan untuk menguji apakah sampel yang digunakan mempunyai distribusi normal atau tidak. Pengujian normalitas data menggunakan Test of Normality Kolmogorov-Smirnov dalam program SPSS. Dasar pengambilan

keputusan dapat dilakukan dengan melihat berdasarkan probabilitas (Asymtotic Significanted),

a. Jika probabilitas > 0,05 maka distribusi dari model regresi adalah normal.

b. Jika probabilitas < 0,05 maka distribusi dari model regresi adalah tidak normal

Gambar 4.1 Grafik Normal P-Plot

43 Sumber : Data Olahan SPSS,2021

Berdasarkan gambar 4.1 dapat terlihat bahwa titik-titik dari nilai residual yang dihasilkan oleh metode regresi yang digunakan dalam penelitian ini menyebar disekitar garis dan mengikuti garis diagonal. Dengan demikian grafik Normal P-Plot tersebut menunjukkan bahwa nilai residual dari penelitian ini terdistribusi secara normal.

Selain itu tes one sample Kolmogorov-Smirnov juga dapat dilakukan untuk mengetahui apakah data yang disajikan dipenelitian ini memiliki nilai residual yang terdistribusi secara normal. Tabel 4.6 menyajikan hasil yang diperoleh dari tes one sample Kolmogorov-Smirnov dengan menggunakan SPSS antara lain sebagai berikut.

Tabel 4.6 Hasil Tes One Sample Kolmogorov-Smirnov

One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test

Unstandardized Residual

N 100

Normal Parametersa,b Mean .0000000

Std. Deviation 1.95606789 Most Extreme Differences Absolute .088

Positive .049

Negative -.088

Test Statistic .088

Asymp. Sig. (2-tailed) .056c

Sumber: Data Olahan SPSS,2021

Berdasarkan Tabel 4.6 dapat diketahui bahwa nilai signigfikasi (Asymp.Sig.

(2-tailed)) yang diperoleh dari hasil tes one sample Kolmogorov Smirnow adalah sebesar 0,056. Berdasarkan hal tersebut dapat disimpulkan bahwa berdasarkan tes

44

one sample Kolmogorov-Smirnov data tersebut memiliki nilai residual yang terdistribusi secara normal.

4.4.2 Uji Heteroskedastisitas

Dalam penelitian ini, peneliti menguji terjadi heteroskedastisitas dengan uji Glejser ini, apabila Pada uji heteroskedastisitas dengan uji Glejser ini, apabila nilai Sig. (signifikansi) dari seluruh variabel penjelas tidak ada yang signifikan secara statistik (p > 0,05), maka dapat dikatakan model persamaan regresi tidak terjadi heteroskedastisitas. Tabel 4.7 menyajikan hasil yang diperoleh dari uji Glesjer dengan menggunakan SPSS.

Berdasarkan hasil uji heteroskedastisitas tabel 4.7 dapat diketahui bahwa nilai signifikansi dari variabel kesadaran wajib pajak (𝑋1) yaitu sebesar 0,982 , signifikansi variabel kualitas pelayanan pajak (𝑋2) yaitu sebesar 0,778 dan signifikansi variabel sanksi pajak (𝑋3) yaitu sebesar 0,511 lebih besar dari 0,05.

Dari hasil tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa tidak terjadi gejala heteroskedastisitas dalam metode regresi yang digunakan dalam penelitian ini.

45 4.4.3 Uji Multikolinearitas

Peneliti menggunakan nilai VIF dan nilai tolerance untuk mengetahui ada atau tidak adanya gejala multikolinearitas pada metode regresi penelitian. Gejala multikolinearitas terjadi apabila metode regresi yang digunakan memiliki nilai VIF lebih dari 10 serta memiliki nilai tolerance kurang dari 0,10. Tabel 4.8 menyajikan nilai VIF dan nilai tolerance yang diperoleh dari perhitungan dengan menggunakan SPSS.

Tabel 4.8 Nilai VIF dan Nilai Tolerance Coefficientsa

Model Collinearity Statistics

Tolerance VIF

(Constant)

Kesadaran Wajib Pajak 0.460 2.176

Kualitas Pelayanan Pajak 0.840 1.191

Sanksi Pajak 0.424 2.356

Sumber : Data Olahan SPSS,2021

Berdasarkan data yang ditunjukkan pada tabel diatas, hal yang dapat disimpulkan dari nilai Varians Inflation Factor (VIF) dan nilai tolerance dari masing-masing variabel independen yang digunakan pada penelitian ini adalah sebagai berikut :

a. Variabel kesadaran wajib pajak (𝑋1) memiliki nilai VIF sebesar 2,176 dimana nilai tersebut kurang dari 10. Variabel kesadaran wajib pajak (𝑋1) juga memiliki nilai tolerance sebesar 0,460 dimana nilai tersebut lebih dari 0,10.

Dari dua kondisi nilai yang dimiliki oleh variabel tersebut dapat disimpulkan bahwa tidak ada gejala multikolinearitas pada variabel kesadaran wajib pajak.

46

b. Variabel kualitas pelayanan pajak (𝑋2) memiliki nilai VIF sebesar 1,191 dimana nilai tersebut kurang dari 10. Variabel kualitas pelayanan pajak (𝑋2) juga memiliki nilai tolerance sebesar 0,840 dimana nilai tersebut lebih dari 0,10. Dari dua kondisi nilai yang dimiliki oleh variabel tersebut dapat disimpulkan bahwa tidak ada gejala multikolinearitas pada variabel kualitas pelayanan pajak.

c. Variabel sanksi pajak (𝑋3) memiliki nilai VIF sebesar 2,356 dimana nilai tersebut kurang dari 10. Variabel sanksi pajak (𝑋3) juga memiliki nilai tolerance sebesar 0,424 dimana nilai tersebut lebih dari 0,10. Dari dua kondisi

nilai yang dimiliki oleh variabel tersebut dapat disimpulkan bahwa tidak ada gejala multikolinearitas pada variabel sanksi pajak.

Berdarkan hal tersebut dapat disimpulkan bahwa tidak terjadi multikolinearitas pada variabel kesadaran wajib pajak, kualitas pelayanan pajak, dan sanksi pajak apabila dilihat dari nilai VIF dan angka tolerance.

4.5 Analisis Regresi Linier Berganda

Analisis regresi berganda dilakukan untuk mengetahui hubungan sebab akibat dari variabel terikat (dependent variable) penelitian ini yaitu kepatuhan wajib pajak dalam membayar pajak bumi dan bangunan (Y) dengan variabel bebas (independent variable) penelitian ini yaitu kesadaran wajib pajak (𝑋1), kualitas pelayanan pajak (𝑋2), dan sanksi pajak (𝑋3). Tabel 4.9 menjabarkan hasil perhitungan regresi linier berganda yang diperoleh dari pengolahan data penilaian dengan menggunakan aplikasi SPSS.

47

Tabel 4.9 Analisis Regresi Linier Berganda

Coefficientsa

Peneliti menggunakan metode regresi unstandardized coefficients untuk mengukur data yang diperoleh dalam rangka mengukur dan mengetahui signfikansi antara variabel dependen dan variabel independen yang digunakan dalam penelitian ini. Berikut merupakan model persamaan regresi linier berganda dari penelitian ini yang didapatkan berdasarkan hasil perhitungan pada tabel 4.9 yaitu :

Y = a + 𝐵1𝑋1 + 𝐵2𝑋2 + 𝐵3𝑋3 + e

1) Konstanta dari persamaan regresi linier berganda penelitian ini adalah 3,041 Konstanta tersebut menunjukkan bahwa jika variabel kepatuhan Wajib Pajak dalam membayar Pajak Bumi dan Bangunan (Y) memiliki nilai 3,041 apabila

48

variabel kesadaran wajib pajak (𝑋1) kualitas pelayanan pajak (𝑋2), dan sanksi pajak (𝑋3) memiliki nilai yang tetap.

2) Variabel kesadaran wajib pajak memiliki (𝑋1) koefisien (𝐵1) sebesar 0,478.

3) Variabel kualitas pelayanan pajak (𝑋2) memiliki koefisien (𝐵1) sebesar 0,127 4) Variabel sanksi pajak (𝑋3) memiliki koefisien (𝐵3) sebesar 0,426.

5) Kondisi error pada persamaan regresi linier berganda dari penelitian ini adalah sebesar 1,718. Angka tersebut menunjukkan adanya selisih antara nilai hipotesis dan nilai hasil pengamatan sebesar 1,718 pada populasi penelitian.

4.6 Koefisien Determinasi (𝑹𝟐)

Peneliti melakukan pengujian pengujian koefisien determinasi (𝑅2) analisis koefisien determinasi (𝑅2) dilakukan untuk melihat seberapa besar persentase pengaruh variabel kesadaran wajib pajak, kualitas pelayanan pajak dan sanksi pajak.

Peneliti melakukan pengujian pengujian koefisien determinasi (𝑅2). Tabel 4.10 menunjukkan hasil perhitungan koefisien determinasi dengan menggunakan aplikasi SPPS.

Tabel 4.10 Koefisien Determinasi (𝑹𝟐)

Model Summary

Berdasarkan hasil uji koefisien determinasi diatas, nilai R square yang diperoleh sebesar 0.700 yang menunjukkan bahwa tingkat kepatuhan wajib pajak

49

dipengaruhi oleh variabel kesadaran wajib pajak, kualitas pelayanan pajak dan sanksi pajak 70% dan sisanya 30% dipengaruhi oleh variabel lain yang belum diteliti dalam penelitian ini.

4.7 Uji Signifikansi Seluruh Koefisien Secara Simultan (Uji F)

Uji statistik F pada dasarnya menunjukkan apakah semua variabel independen atau bebas yaitu kesadaran wajib pajak, kualitas pelayanan dan sanksi Pajak yang dimasukkan dalam model mempunyai pengaruh secara bersama-sama terhadap variabel dependen atau terikat yaitu berpengaruh terhadap kepatuhan wajib pajak dalam membayar pajak bumi dan bangunan. pada tabel 4.11 menunjukkan Hasil yang diperoleh dari perhitungan Uji F atau ANOVA dengan menggunakan aplikasi SPSS

Tabel 4.11 Hasil Uji Signifikansi Seluruh Koefisien Secara Stimultan (Uji F)

ANOVAa

Model Sum of Squares df Mean Square F Sig.

1 Regression 885.796 3 295.265 74.831 .000b

Residual 378.794 96 3.946

Total 1264.590 99

Sumber : Data Olahan SPSS,2021

Berdasarkan data yang disajikan pada tabel 4.11 Nilai Fhitung untuk penelitian ini adalah sebesar 74,831 adapun nilai Ftabel dari penelitian ini yang memiliki signifikansi sebesar 0,05 (df1= 3; df2= 97) adalah 2,70. Jika nilai Fhitung dengan Ftabel

dibandingkan maka nilai Fhitung lebih besar Ftabel (74,831> 2,70).berdasarkan hal tersebut dapat diketahui bahwa Ha akan diterima sedangkan H0 akan ditolak. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa kesadaran wajib pajak (𝑋1), kualitas pelayanan

50

pajak (𝑋2), da.n sanksi pajak (𝑋3) secara simultan berpengaruh signifikan terhadap kepatuhan wajib pajak dalam membayar pajak bumi dan bangunan.

4.8 Uji Signifikansi Koefisien Secara Parsial (Uji T)

Pengujian hipotesis yang telah dibuat sebelumnya dilakukan dengan melakukan uji signifikansi koefisien regresi secara parsial (uji t). Peneliti melakukan uji t agar dapat mengetahui signifikansi kesadaran wajib pajak (𝑋1), kualitas pelayanan pajak (𝑋2), dan sanksi pajak (𝑋3) terhadap kepatuhan wajib pajak dalam membayar pajak bumi dan bangunan (Y). Uji t dilakukan dengan membandingkan thitung dengan nilai ttabel. Hipotesis (Ha) yang dibuat pada penelitian akan diterima apabila memenuhi kriteria thitung lebih besar dari ttabel (thitung> ttabel). Tabel 4.12 menunjukkan hasil perhitungan Uji T dengan menggunakan aplikasi SPPS.

Coefficientsa

Model

Unstandardized Coefficients

Standardized Coefficients

T Sig.

B Std. Error Beta

1 (Constant) 3.041 1.718 1.770 .080

Kesadaran Wajib Pajak .478 .096 .411 4.993 .000

Kualitas Pelayanan Pajak .127 .057 .137 2.242 .027

51

Tabel 4.12 Hasil Uji T

Sumber: Data Olahan SPSS,2021

Variabel kesadaran wajib pajak memiliki nilai thitung sebesar 4,4993. Adapun nilai ttabel adalah sebesar 1,98498. Apabila nilai thitung dibandingkan dengan ttabel, maka nilai thitung lebih besar dibandingkan dengan nilai ttabel (4,993> 1,98498) dengan tingkat signifikan sebesar 0,000 < 0,05. Hal ini menunjukkan bahwa hipotesis (H1) terdukung atau diterima. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa secara parsial, kesadaran wajib pajak berpengaruh signifikan terhadap kepatuhan wajib pajak dalam membayar pajak bumi dan bangunan.

Variabel kualitas pelayanan pajak memiliki nilai thitung sebesar 2,242. Adapun nilai ttabel adalah sebesar 1,98498. Apabila nilai thitung dibandingkan dengan ttabel, maka nilai thitung lebih besar dibandingkan dengan nilai ttabel (2,242> 1,98498) dengan tingkat signifikan sebesar 0,027 > 0,05. Hal ini menunjukkan bahwa hipotesis (H2) terdukung atau diterima. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa secara parsial, kualitas pelayanan pajak berpengaruh signifikan terhadap kepatuhan wajib pajak dalam membayar pajak bumi dan bangunan.

Variabel sanksi pajak memiliki nilai thitung sebesar 4,916. Adapun nilai ttabel

adalah sebesar 1,98498. Apabila nilai thitung dibandingkan dengan ttabel, maka nilai thitung

lebih besar dibandingkan dengan nilai ttabel (4,916> 1,98498) dengan tingkat signifikan sebesar 0,000< 0,05. Hal ini menunjukkan bahwa hipotesis (H3) terdukung atau diterima. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa secara parsial, kualitas sanksi pajak

Sanksi Pajak .426 .087 .422 4.916 .000

52

berpengaruh signifikan terhadap kepatuhan wajib pajak dalam membayar pajak bumi dan bangunan.

4.9 Pembahasan

4.9.1 Pengaruh Kesadaran Wajib Pajak Terhadap Kepatuhan Wajib Pajak dalam Membayar Pajak Bumi dan Bangunan

Berdasarkan pada hasil uji parsial (Uji t ) yang dilakukan diperoleh thitung

sebesar 4,4993 Adapun nilai ttabel adalah sebesar 1,98498 dimana nilai thitung lebih besar dari pada nilai ttabel. Selain itu kesadaran wajib pajak memiliki nilai signifikansi sebesar 0,000 dimana nilai tersebut lebih kecil dari 0,05. Berdasarkan hasil uji t tersebut dapat diketahui bahwa kesadaran wajib pajak berpengaruh signifikan terhadap kepatuhan wajib pajak dalam membayar pajak bumi dan bangunan.

Semakin tinggi kesadaran wajib pajak, maka akan semakin tinggi kepatuhan wajib pajak dalam memenuhi kewajiban perpajakannya. Dengan demikian pemerintah harus meningkatkan pelayanannya kepada wajib pajak. Pelayanan masyarakat merupakan salah satu tugas lurah desa, memberi pelayanan yang berkualitas telah menjadi obsesi yang selalu ingin dicapai. Motivasi adalah dorongan agar orang mau melakukan sesuatu dengan ikhlas dengan sebaikbaiknya. Kepemimpinan yang baik pelayanan yang berkualitas dan motivasi yang baik akan dapat mempengaruhi kesadaran masyarakat untuk membayar Pajak Bumi dan Bangunan.

53

Dalam hal ini keyakinan wajib pajak yang melonjak akan membuat wajib pajak mengerti serta melakukan peraturan pajak dengan benar, dan dapat meningkatkan kepatuhan wajib pajak dalam pembayaran dan melaporkan pajak.

Jadi semakin tinggi kesadaran wajib pajak dalam memahami peraturan perpajakan maka akan dapat menaikkan kepatuhan wajib pajak untuk membayar besaran pajaknya.

Hasil ini selaras dengan penelitian Prima Yuslina, Amries Rusli Tanjung, Alfiati Silfi (2018) dalam (Siwi, 2020) yang menunjukkan bahwa kesadaran wajib pajak berpengaruh terhadap kepatuhan wajib pajak secara parsial.

Kesadaran wajib pajak berkonsekuensi logis untuk para wajib pajak agar mereka rela memberikan konstribusi dana untuk pelaksanaan fungsi perpajakan. Tingkat kesadaran yang tinggi akan membuat orang lebih memiliki kemauan dalam membayar pajak. Kesadaran wajib pajak adalah suatu kondisi dimana wajib pajak mengetahui, memahami dan melaksanakan ketentuan perpajakan dengan benar dan sukarela.

4.9.2 Pengaruh Kualitas Pelayanan Pajak Terhadap Kepatuhan Wajib Pajak dalam Membayar Pajak Bumi dan Bangunan

Berdasarkan pada hasil uji parsial (Uji t ) yang dilakukan diperoleh thitung

sebesar 2,242 Adapun nilai ttabel adalah sebesar 1,98498 dimana nilai thitung lebih besar dari pada nilai ttabel. Selain itu kesadaran wajib pajak memiliki nilai signifikansi sebesar 0,027 dimana nilai tersebut lebih besar dari 0,05. Berdasarkan hasil uji t tersebut dapat diketahui bahwa kualitas pelayanan pajak berpengaruh

54

signifikan terhadap kepatuhan wajib pajak dalam membayar pajak bumi dan bangunan.

(Herlina, 2020) menyatakan bahwa Kualitas pelayanan dapat diartikan sebagai perbandingan antara pelayanan konsumen dengan kualitas layanan yang diharapkan konsumen. Jika kualitas pelayanan dirasakan sama atau melebihi kualitas pelayanan yang diharapkan, maka pelayanan dikatakan berkualitas dan memuaskan, begitu juga sebaliknya. Pelayanan yang berkualitas adalah pelayanan yang berorientasi kepada aspirasi dan harapan masyarakat serta tentu saja mengutamakan efektif, efisien, tanggung jawab. Semakin baik kualitas pelayanan yang diberikan oleh wajib pajak bumi dan bangunan, maka akan semakin tinggi pula kepatuhan wajib pajak dalam membayar pajak Bumi dan Bangunan.

Maka dari itu, pemerintah harus memastikan bahwa kualitas pelayanan yang diberikan sudah baik. Seperti memberi pelatihan kepada petugas pajak mengenai perpajakan dan pelayanan yang berkualitas. Pelayanan yang berkualitas harus dapat memberikan keamanan, kenyamanan, kelancaran, dan kepastian hukum.

Kualitas pelayanan dapat diukur dengan kemampuan memberikan pelayanan yang memuaskan, dapat memberikan pelayanan dengan tanggapan, kemampuan, kesopanan, dan sikap dapat dipercaya yang dimiliki oleh aparat pajak. Di samping itu, juga kemudahan dalam melakukan hubungan komunikasi yang baik, memahami kebutuhan wajib pajak, tersedianya fasilitas fisik termasuk sarana komunikasi yang memadai, dan pegawai yang cakap dalam tugasnya. (Sapriadi, 2013)

55

Hasil ini selaras dengan penelitian Tri Isawati, H. Eddy Soegiarto K, Titin Ruliana (2019) dalam (Nur, Cynthia & Djauhari, 2020) Kualitas pelayanan merupakan pelayanan yang diberikan kepada konsumen. Kualitas yang diberikan haruslah memuaskan agar konsumen tidak merasa kecewa. Tingkat kepuasan dalam pelayanan membayar pajak berpengaruh terhadap kepatuhan wajib pajak.

Jika kualitas pelayanan meningkat maka kepatuhan wajib pajak dalam membayar Pajak Bumi dan Bangunan semakin tinggi.

4.9.3 Pengaruh Sanksi Pajak Terhadap Kepatuhan Wajib Pajak dalam Membayar Pajak Bumi dan Bangunan

Berdasarkan pada hasil uji parsial (Uji t ) yang dilakukan diperoleh thitung

sebesar 4,916 Adapun nilai ttabel adalah sebesar 1,98498 dimana nilai thitung lebih besar dari pada nilai ttabel. Selain itu kesadaran wajib pajak memiliki nilai signifikansi sebesar 0,00 dimana nilai tersebut lebih kecil dari 0,05. Berdasarkan hasil uji t tersebut dapat diketahui bahwa sanksi pajak berpengaruh signifikan terhadap kepatuhan wajib pajak dalam membayar pajak bumi dan bangunan.

Jika sanksi denda yang semakin tinggi, maka akancenderung memungkinkan wajib pajak akan patuh dalam melaksanakan kewajiban perpajakannya, karena wajib pajak akan berpikir bahwa hal tersebut akan merugikan mereka, sehingga mereka akan lebih memilih lebih patuh dalam melaksanakan kewajiban perpajakannya. Oleh karena itu untuk pemerintah atau petugas pajak dapat memaksimalkan pelaksanaan sanksi denda ini agar wajib pajak dapat patuh dalam menjalankan kewajiban perpajakannya.

56

Hal itu dapat berarti bahwa sanksi pajak mempengaruhi kepatuhan wajib pajak. Jadi tinggi rendahnya sanksi pajak mempunyai pengaruh terhadap kepatuhan wajib pajak dalam membayar wajib pajaknya. Dalam hal ini sanksi pajak yang dikenakan pada wajib pajak dilakukan secara tegas yang berakibat wajib pajak patuh dalam memenuhi kewajibannya dalam melaporkan dan membayar pajak.

Hasil ini selaras dengan penelitian dari Sapriadi (2013) dan Intan Windy Harlina (2016) dalam (Kausarina Azia, Fitri Yulia, 2021) menjelaskan bahwa wajib pajak akan patuh karena mereka berpikir adanya sanksi berat akibat tindakan ilegal dalam usahanya untuk menyelundupkan pajak. Dengan adanya sanksi yang berat, diharapkan kepatuhan wajib pajak dalam membayar pajak dapat meningkat.

57 BAB V

PENUTUP 5.1 Kesimpulan

Menurut hasil uji dan anaisis penelitian, maka kesimpulan yang dapat ditarik terkait dengan hubungan antara variabel kesadaran wajib pajak, kualitas pelayanan pajak, dan sanksi pajak terhadap variabel kepatuhan wajib pajak dalam membayar pajak bumi dan bangunan antara lain sebagai berikut :

1. Kesadaran wajib pajak berpengaruh signifikan terhadap kepatuhan wajib pajak dalam membayar pajak bumi dan bangunan. Dengan demikian penelitian ini menunjukkan adanya pengaruh kesadaran wajib pajak terhadap kepatuhan wajib pajak dalam membayar pajak bumi dan bangunan. Hal tersebut menunjukkan bahwa H1 diterima.

2. Kualitas pelayanan pajak berpengaruh signifikan terhadap kepatuhan wajib pajak dalam membayar pajak bumi dan bangunan. Dengan demikian penelitian ini menunjukkan adanya pengaruh kualitas pelayanan pajak terhadap kepatuhan wajib pajak dalam membayar pajak bumi dan bangunan. Hal tersebut menunjukkan bahwa H2 diterima.

3. Sanksi pajak berpengaruh signifikan terhadap kepatuhan wajib pajak dalam membayar pajak bumi dan bangunan. Dengan demikian penelitian ini menunjukkan adanya pengaruh sanksi pajak terhadap kepatuhan wajib pajak dalam membayar pajak bumi dan bangunan. Hal tersebut menunjukkan bahwa H3 diterima.

58 5.2 Saran

Berdasarkan hasil penelitian yang ada dapat dikemukakan beberapa saran yang disampaikan oleh peneliti. Berikut ini adalah saran yang dapat diberikan oleh peneliti terhadap peneliti selanjutnya :

1. Peneliti selanjutnya diharapkan mampu menjangkau populasi penelitian yang jauh lebih luas agar hasil yang diperoleh dari penelitian dapat digunakan sebagai acuan yang jauh lebih akurat untuk pengambilan keputusan terkait kepatuhan wajib pajak bumi dan bangunan.

2. Peneliti selanjutnya diharapkan dapat menguji variabel independen lainnya mengingat 30% kepatuhan wajib pajak dalam membayar pajak bumi dan bangunan dijelaskan oleh variabel independen lain yang tidak dipakai dalam penelitian ini.

3. Diharapkan adanya kualitas pelayanan yang baik dari petugas pajak dengan memberikan rasa nyaman kepada wajib pajak, sehingga wajib pajak tau kapan harus membayar pajak. Selain itu petugas pelayanan pajak juga perlu bersikap lebih ramah, memberikan pelayanan dengan cepat dan akurat serta memiliki kompetensi dan wawasan yang luas sehinga dapat mengatasi permasalahan yang dihadapi oleh wajib pajak dan wajib pajak sendiri terhindar dari sanksi perpajakan.

59

DAFTAR PUSTAKA

Afrida Nur Layli, S. (2020). Pengaruh Sosialisasi Perpajakan, Pengetahuan Perpajakan, Sanksi Perpajakan, Kesadaran Perpajakan, Pendapatan Wajib Pajak Terhadap Kepatuhan Wajib Pajak Bumi dan Bangunan Pada Desa Ngebong Kecamatan Pakel Kabupaten Tulungagung. Pengertian Data Informasi Sistem, 73–74.

Annisa Nur, A. (2019). Pengaruh Kesadaran Wajib Pajak dan Kualitas Pelayanan

Annisa Nur, A. (2019). Pengaruh Kesadaran Wajib Pajak dan Kualitas Pelayanan