4.1 Pendekatan Kuantitatif
4.1.6. Analisis Struktural dan Simulasi Model
Jika model yang dibangun telah memenuhi kriteria evaluasi dan validasi, maka model dapat digunakan untuk melakukan analisis struktural, yaitu untuk menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi penawaran dan populasi sapi potong di Bali. Selanjutnya model diaplikasikan untuk menganalisisis dampak penerapan kebijakan kuota perdagangan terhadap penawaran dan populasi sapi serta kesejahteraan peternak di Provinsi Bali. Dampak penerapan kebijakan tersebut ditentukan dengan melakukan simulasi kebijakan melalui beberapa skenario perubahan.
Beberapa skenario perubahan yang digunakan untuk simulasi model dalam penelitian ini antara lain:
1. Peningkatan Kuota Perdagangan Sapi Potong 10 Persen
Penawaran sapi potong dari Bali ke Jakarta merupakan penawaran yang dibatasi oleh kuota. Tingginya permintaan pasar Jakarta menyebabkan kuota yang
ditetapkan terpenuhi. Dengan demikian maka penawaran tersebut merupakan jumlah kuota itu sendiri. Artinya, jumlah sapi yang ditawarkan adalah sebesar kuota yang ditetapkan. Hal ini menunjukkan bahwa jumlah penawaran yang sebenarnya masih diatas kuota yang ditetapkan. Dengan demikian maka kebijakan peningkatan kuota tentu akan dapat meningkatkan penawaran sapi potong dari Bali ke Jakarta. Berdasarkan hal tersebut maka skenario peningkatan kuota dalam penelitian ini dapat dilakukan dengan meningkatkan penawaran sapi potong dari Bali ke Jakarta. Sesuai dengan fenomena yang ada maka besarnya peningkatan penawaran tersebut ditetapkan sebesar 10 persen.
Secara teori, peningkatan kuota dapat berpengaruh pada penawaran, populasi sapi maupun kesejahteraan peternak di Bali. Hasil simulasi dengan skenario ini akan digunakan untuk menganalisis sejauh mana dampak kebijakan tersebut terhadap penawaran dan populasi sapi serta kesejahteraan para peternak sapi di Provinsi Bali.
2. Kombinasi Skenario 1 denganPeningkatan Realisasi IB 20 Persen
Meningkatnnya kesadaran peternak untuk meningkatkan kualitas dan produktivitas sapi yang dimiliki, diharapkan akan merangsang peternak untuk menggunakan teknologi Inseminasi Buatan (IB). Saat ini Provinsi Bali telah mampu menghasilkan semen beku sendiri sehingga realisasi IB diharapkan dapat meningkat pada masa yang akan datang.
Skenario ini dilakukan untuk melihat bagaimana dampak kebijakan peningkatan kuota perdagangan jika dibarengi juga dengan peningkatan realisasi IB terhadap penawaran dan populasi sapi serta kesejahteraan para peternak sapi di Provinsi Bali.
3. Kombinasi Skenario 1 dengan Peningkatan Realisasi Kredit Untuk Pengembangan Ternak Sapi 20 persen
Sesuai dengan rencana tindak program menuju kecukupan daging tahun 2010, tingkat suku bunga yang dianggap layak untuk mengembangkan peternakan sapi di Indonesia adalah 6 persen per tahun (Puslitbang Peternakan, 2006). Pemerintah memberikan subsidi suku bunga melalui berbagai skim kredit berbunga rendah, seperti: Kredit usaha Tani (KUT), Kredit Ketahanan Pangan (KKP), Skim Pelayanan Pembiayaan Pertanian (SP-3) dan Bantuan Langsung Masyarakat untuk Keringanan Investasi Pertanian (BLM-KIP) untuk mengatasi masalah permodalan yang dihadapi oleh petani dalam memacu produksi pertanian di Indonesia termasuk didalamnya produksi sapi potong. Upaya-upaya tersebut diharapkan dapat meningkatkan jumlah kredit yang disalurkan untuk pengembangan peternakan sapi, sehingga produksi dapat ditingkatkan.
Skenario ini dilakukan untuk melihat bagaimana dampak kebijakan peningkatan kuota perdagangan jika dibarengi juga dengan kebijakan peningkatan realisasi kredit terhadap penawaran dan populasi sapi serta kesejahteraan para peternak sapi di Provinsi Bali.
4. Kombinasi Skenario 1 dengan Peningkatan Usaha Pencegahan Pemotongan Sapi Betina Induk Produktif 5 Persen
Fenomena di lapangan menunjukkan bahwa tingkat pemotongan sapi betina induk yang masih produktif masih tinggi. Hal ini menunjukkan bahwa penegakan aturan-aturan yang melarang pemotongan sapi betina induk produktif masih lemah. Pemerintah diharapkan dapat mengambil langkah-langkah yang lebih tegas dalam mencegah pemotongan sapi betina induk yang masih produktif. Hal ini diharapkan dapat meningkatkan populasi sapi betina induk, sehingga dapat
meningkatkan produksi dan populasi sapi di Bali. Peningkatan usaha pencegahan pemotongan sapi betina induk produktif dalam penelitian ini akan diproksi dengan peningkatan populasi sapi betina induk sebesar 5 persen.
Skenario ini dilakukan untuk melihat dampak kebijakan peningkatan kuota perdagangan sapi potong jika dibarengi dengan peningkatan populasi sapi betina induk terhadap penawaran dan populasi sapi serta kesejahteraan peternak di Bali. Peningkatan populasi sapi betina induk diharapkan dapat meredam dampak penurunan populasi yang timbul akibat adanya peningkatan kuota perdagangan.
5. Kombinasi Skenario 2 dengan Peningkatan Realisasi Kredit 20% dan Peningkatan Populasi Sapi Betina Induk 5 Persen
Skenario ini dilakukan untuk menganalisis dampak kebijakan peningkatan kuota jika kebijakan ini dibarengi juga dengan beberapa kebijakan peningkatan produksi secara bersamaan (peningkatan realisasi teknologi IB, kredit, dan pencegahan pemotongan sapi betina induk produktif). Kombinasi kebijakan ini diharapkan akan mampu memberikan peningkatan populasi maupun kesejahteraan peternak di Bali dalam jumlah yang lebih besar daripada beberapa skenario sebelumnya.
6. Kombinasi Skenario 1 dengan Peningkatan Harga Riil Sapi Potong di Jakarta 10 persen
Perkembangan harga sapi potong di pasar Jakarta terus meningkat akhir-akhir ini sebagaimana dapat kita ketahui dari berita-berita pada berbagai media masa, diantaranya harian Kompas tgl 17 Sept 2007, dan 21 februari 2008 dimana harga sapi naik sekitar 10 persen per kg. Secara teori, kebijakan kuota menyebabkan penawaran sapi potong dari Bali ke Jakarta tidak akan responsif terhadap perubahan harga sapi potong di Jakarta. Namun dalam penelitian ini
skenario ini tetap dilakukan untuk menunjukkan bahwa perbedaan harga yang cukup tinggi antara kedua daerah berpotensi memicu terjadinya penyelundupan sehingga akan dapat menurunkan populasi sapi di Bali.
7. Kombinasi Skenario 5 dengan Peningkatan Harga Riil Sapi Potong di Jakarta Sebesar 10 persen
Skenario ini dilakukan untuk menganalisis dampak kebijakan peningkatan kuota yang dibarengi dengan beberapa kebijakan peningkatan produksi secara bersamaan (peningkatan realisasi teknologi IB, kredit, dan pencegahan pemotongan sapi betina induk produktif) seperti pada skenario 5, jika diikuti pula oleh adanya peningkatan harga riil sapi potong di Jakarta.