• Tidak ada hasil yang ditemukan

Analisis Switching Value

Dalam dokumen SKRIPSI AFIF FAKHRUZZAMAN H (Halaman 81-86)

VI. HASIL DAN PEMBAHASAN

6.1 Analisis Aspek Non Finansial

6.2.4 Analisis Switching Value

Perhitungan analisis sensitifitas menggunakan teknik nilai pengganti atau

switching value. Menurut Gittinger JP (1986), penggunaan teknik nilai pengganti dalam analisis sensitifitas dilakukan dengan cara mengganti beberapa elemen dalam analisa proyek, sampai analisa proyek tersebut menyentuh angka minimum kelayakannya.

Cara yang digunakan penulis dalam teknik nilai pengganti adalah dengan menurunkan jumlah produksi sebesar 37,65 persen, meski secara historis belum terjadi penurunan produksi sebesar 37,65 persen, tetapi menurut supervisor bagian produksi, penurunan produksi dapat saja terjadi, bahkan sampai 50 persen, mengingat kondisi cuaca yang semakin sulit diprediksi perubahaanya. Setelah penurunan tersebut, berdasarkan skenario I usaha pembenihan ikan nila gesit yang dijalankan UPR Citomi menjadi tidak layak untuk dilanjutkan. Indikator kelayakan yang diperoleh NPV 225.691,93, artinya adalah artinya usaha pembenihan ikan nila gesit yang diusahakan oleh UPR Citomi hanya akan memperoleh keuntungan sebesar Rp 225.691,93selama umur proyek . Net B/C 1,00 menunjukkan bahwa setiap biaya yang dikeluarkan sebesar Rp1,00, maka akan diperoleh manfaat bersih sebesar nol rupiah selama umur proyek pada tingkat suku bunga 13 persen per tahun dan IRR 0,07 persen berarti rata-rata pendapatan yang diperoleh setiap semester adalah 0,07 persen dari modal yang ditanamkan.

Pada skenario II indikator kelayakan pun menunjukkan hasil yang sama, yakni usaha pembenihan ikan nila gesit UPR Citomi tidak layak untuk dijalankan, indikator tersebut adalah NPV senilai Rp –Rp 4.817.240, artinya adalah artinya usaha pembenihan ikan nila gesit yang diusahakan oleh UPR Citomi akan memperoleh kerugian sebesar –Rp 4.817.240 selama umur proyek. Net B/C sebesar 0,95 artinya setiap satu rupiah biaya yang dikeluarkan akan menghasilkan kerugian sebesar Rp 0,05 dan IRR sebesar -2,22 persen artinya rata-rata pendapatan yang diperoleh setiap semester adalah -2,22 persen dari modal yang ditanamkan. Beberapa hal yang dapat menyebabkan menurunnya produktifitas induk adalah kualitas air menurun yang penilaiannya melalui penilaian suhu, bau, tekanan air, arus, salinitas, daya hantar listrik, keberadaan substrat penempel telur dan keberadaan lawan jenis kelamin (Efendi I, 2004). Salah satu langkah yang dapat diambil UPR Citomi untuk menjaga kualitas air adalah dengan membangun kolam indor. Kolam indor adalah kolam tertutup, dengan penggunaan kolam indor kualitas air dapat dijaga karena air tidak bersinggungan langsung dengan lingkungan luar.

Cara kedua adalah dengan menurunkan harga jual larva sebesar 37,5 persen atau senilai Rp 6 per ekor larva menjadi Rp 10. Penurunan harga jual dapat terjadi apabila datang pesaing baru yang memiliki efisiensi produksi lebih tinggi. Pada skenario I cara penurunan harga larva mengakibatkan uasaha pembenihan ikan nila gesit menjadi tidak layak, dengan indikator NPV senilai Rp 1.106.126,56, artinya adalah usaha pembenihan ikan nila gesit yang diusahakan oleh UPR Citomi hanya akan memperoleh manfaat besih sebesar Rp 1.106.126,56 selama umur proyek. Meski memperoleh manfaat tetapi Net B/C senilai 1,01 artinya adalah usaha ini lebih cendrung “balik modal” saja atau setiap biaya yang dikeluarkan sebesar satu rupiah hanya mendatangkan penerimaan sebesar Rp 0,01 saja. IRR sebesar 0,34 persen berarti presentasi penghasilan dari setiap biaya yang dikeluarkan tidak hanya sebesar 0,34 persen.

Pada skenario II cara kedua pun berdampak pada tidak layaknya usaha pembenihan ikan nila gesit UPR Citomi untuk dilanjutkan. Indikator kelayakan yang dihasilkan adalah NPV senilai -Rp 3.936.805,36, artinya adalah artinya usaha pembenihan ikan nila gesit yang diusahakan oleh UPR Citomi akan

mengalami kerugian sebesar -Rp 3.936.805,36 selama umur proyek. Net B/C sebesar 0,96 artinya setiap satu rupiah biaya yang dikeluarkan akan menghasilkan kerugian sebesar Rp 0,04 dan IRR sebesar -1,81 persen artinya setiap biaya yang dikeluarkan akan merugikan usaha sebesar 1,81 persen dari biaya tersebut setiap semester. Proyeksi perhitungan analisis sensitifitas dapat dilihat pada Tabel 24

Tabel 24. Proyeksi Hasil Perhitungan Analisis Sensitivitas

NPV Ne t B/C IRR Ske nario I Cara 1 225.691,93 1,00 0,07% Cara 2 1.106.126,56 1,01 0,34% Ske nario II Cara 1 (4.817.240,00) 0,95 -2,22% Cara 2 (3.936.805,36) 0,96 -1,81%

Dalam skenario II pengaruh analisis sensitivitas lebih besar daripada skenario I. Ini karena selama proyek, ada biaya tambahan yang harus dikeluarkan yaitu angsuran. Dalam angsuran tersebut telah termasuk biaya bunga, sehingga secara langsung menambah komponen biaya dan mengakibatkan proyeksi

cashflow untuk skenario II atau dengan modal pinjaman lebih sensitiv terhadap perubahan selama proyek berlangsung.

VII. KESIMPULAN DAN SARAN

7.1. Kesimpulan

Kesimpulan yang dapat diambil dari penelitian mengenai analisis kelayakan usaha pembenihan ikan nila gesit diantaranya :

1) Cuaca sangat mempengaruhi industri budidaya ikan nila dari hulu (pembenihan) sampai hilir (pembesaran). Saat musim hujan produksi ikan nila akan menurun di semua sub sistem karena terjadi up welling di hilir industri dan meningkat saat musim kemarau. Hal ini mempengaruhi produktifitas dan permintaan larva ikan.

2) Aspek manajemen dalam organisasi UPR Citomi telah ditata dengan baik, terdapat pembagian tugas yang jelas dan sistem kompensasi yang baik, tetapi struktur organisasi ini masih dapat disederhanakan lagi.

3) UPR Citomi merupakan usaha pembenihan milik perorangan dan termasuk dalam usaha kecil, baik menurut Undang-undang UMKM atau berdasarkan skala usaha yang ditetapkan oleh Dinas Perikanan.

4) Dilihat dari aspek lingkungan, usaha pembenihan ikan nila gesit mempunyai dampak positif bagi lingkungan sosial, ekonomi dan ekosistem.

5) Berdasarkan analisis aspek finansial usaha pembenihan ikan nila gesit layak untuk diteruskan, karena memenuhi syarat kriteria kelayakan yaitu : dalam skenario I NPV senilai Rp 221.214.785, Net B/C sebesar 3,20, IRR sebesar 62 persen dan PP 0,24 tahun. Dalam skenario II diperoleh NPV Senilai Rp 216.171.853, Net B/C senilai 3,15, IRR senilai 79 persen dan PP 0,25 tahun. 6) Cross-Over Discont Rate (CDR) terbentuk pada titik Discont Rate sebesar 14

persen.

7) Analisis Switchiing Value menunjukkan bahwa usaha pembenihan ikan nila gesit di UPR Citomi tidak layak dijalankan apabila terjadi penurunan produksi sebesar 37,65 persen dan penurunan harga jual larva sebesar 37,5 persen atau senilai Rp 6 per ekor larva menjadi Rp 10 per ekornya. Baik dalam skenario I maupun skenario II.

7.2. Saran

1) UPR Citomi dapat menentukan Cross-Over Discont Rate dan memutuskan waktu yang tepat untuk melakukan pinjaman untuk menjalankan Usaha. 2) Peningkatan produksi dapat dilakukan dengan cara mencoba meningkatkan

kualitas air dan menambah fasilitas pemeliharaan indor untuk menghindari fluktuasi perubahan cuaca. Hal ini dilakukan untuk meningkatkan penerimaan.

3) UPR Citomi dapat mencoba melakukan pemasaran dengan aktif atau mencari pasar baru yang lebih luas.

4) Pemerintah harus memperbaiki kualitas sarana transportasi di wilayah yang mempunyai potensi bisnis dan wirausaha agar perekonomian di wilayah-wilayah tersebut dapat tumbuh dengan baik.

Dalam dokumen SKRIPSI AFIF FAKHRUZZAMAN H (Halaman 81-86)

Dokumen terkait