• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

4.2 Analisis Tabel Tunggal

Analisis tabel tunggal merupakan suatu analisis yang dilakukan dengan cara membagi konsep ke dalam kategori-kategori yang dilakukan atas dasar frekuensi. Tabel tunggal merupakan langkah awal dalam menganalisis data yang terdiri dari kolom, yaitu sejumlah frekuensi dan persentase untuk setiap kategori.

Data yang disajikan dalam tabel tunggal ini tediri dari 3 bagian, yaitu karakteristik responden, strategi penjualan melalui media online dan tingkat kepuasan membeli mahasiswa FISIP USU. Berikut ini adalah penyajian dan pembahasannya.

4.2.1 Karakteristik Responden

Tabel 4.1

Jenis Kelamin Responden

Jenis Kelamin Frequency Percent

Perempuan 69 74.20%

laki-laki 24 25.80%

Total 93 100

Sumber: P./FC.3

Pada tabel 4.1 dapat dilihat bahwa dari 93 responden, terdapat 24 responden (74,20%) diantaranya berjenis kelamin laki-laki dan 69 responden (74,20%) adalah berjenis kelamin perempuan. Dari uraian dijumpai diatas dapat dilihat bahwa jumlah responden perempuan lebih banyak dari pada jumlah responden laki-laki dan pada waktu penelitian lebih banyak responden yang perempuan yang sering dijumpai dibandingkan dengan responden laki-laki.

Tabel 4.2

Departement FISIP USU

Departem Frequency Percent

Administrasi Negara 15 16.1% Antropologi 9 9,7% Ilmu komunikasi 17 18.3% Ilmu politik 11 11.8% Kesejahteraan sosial 13 14,0% Sosiologi 12 12,9% Adminstrasi bisnis 16 17.2% Total 93 100% Sumber: P.4/FC.4

Berdasarkan tabel 4.2 dapat diketahui bahwa masing-masing departemen menghasilkan sampel yang dibutuhkan sehingga total keseluruhannya berjumlah 93 responden. Uraian tersebut menunjukkan responden dari Departemen Ilmu Komunikasi memiliki sampel yang paling banyak, yaitu berjumlah 17 orang (18,3%) dibanding departemen lainnya. Kemauan mahasiswa untuk belajar mengenai hubungan antar sesama manusia di kehidupan sosial, ternyata lebih banyak jumlah mahasiswa Ilmu Komunikasi, sehingga sampel paling yang sering dijumpai ialah kedua jurusan ini. Sedangkan yang paling sedikit sampelnya ialah Departemen Ilmu Antropologi berjumlah 9 orang (9,7%).

Tabel 4.3 Angkatan Responden

Sumber: P./FC.5

Berdasarkan tabel 4.3 dilihat dari 93 responden, terdapat perbedaan yang hampir berjumlah sama antara responden dari angkatan 2010 dan 2011 yaitu 46 responden (49,5%) dan 47 responden (50,5%). Data tersebut menunjukkan bahwa responden dari angkatan 2011 merupakan sampel yang lebih banyak jumlahnya dibanding dengan angkatan 2010. Dapat dilihat angkatan setiap tahunnya memiliki posisi yang cukup tinggi bagi mahasiswa yang ingin mendalami dan mempelajari ilmu sosial dan ilmu politik di FISIP USU.

Frequency Percent 2010 46 49.5% 2011 47 50.5% Total 93 100%

Tabel 4.4

Frekuensi Berbelanja Online

Frequency Percent kurang sering (2-3 kali per dua bulan) 19 20,4%

sering (4-5 kali per dua bulan) 66 71,0% sangat sering (5-6 kali per dua bulan) 8 8.6%

Total 93 100%

Sumber: P./FC.6

Berdasarkan tabel 4.4 dapat dilihat dari 93 responden, terdapat 8 responden (8,6%) menyatakan bahwa frekuensi berbelanja online di instagram sangat sering hingga 5-6 kali dalam 2 bulan, hal ini terjadi dikarenakan responden yang terlalu maniak berbelanja online dan tidak bisa menahan selera apabila dia melihat barang yang bagus yang ditawarkan di online shop dan juga beberapa responden berpendapat berbelanja secara online lebih murah dan menghemat biaya . 66 responden (71,0%) menyatakan sering berbelanja online di instagram hingga 4-5 kali dalam dua bulan. Berbelanja online bukanlah hal yang tabu, apalagi bagi wanita muda dikalangan mahasiswa. Hal ini terjadi dikarenakan online shop sudah mendunia dikalangan muda khususnya kalangan mahasiswa dan lebih praktis dan mudah untuk mendapatkan barang yang mereka inginkan. Kemudian terdapat 19 responden (20,4%) yang kurang sering atau hanya 2-3 kali dalam 2 bulan yang memiliki frekuensi berbelanja online di instagram. Hal ini disebabkan oleh responden yang kurang begitu menyukai berbelanja online dan juga terbatas dengan uang saku yang mereka miliki, maka dari itu mereka hanya bisa berbelanja online miniman 2-3 dalam dua bulan.

Belanja online sekarang makin menjadi bagian dari gaya hidup. Meskipun berbelanja ke toko biasa, entah itu di mal atau di pasar tradisional, sering kali menjadi sarana untuk berekreasi, toko online juga menyediakan pengalaman belanja yang unik. Dengan demikian dapat dilihat dari uraian diatas bahwa responden mahasiswa FISIP USU sering berbelanja online di instagram. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor diantaranya yaitu menghemat biaya, harga yang di jual di online shop lebih murah, barang yang tersedia lebih lengkap dan ter-update.

Tabel 4.5 Jumlah Uang Saku

Frequency Percent di atas Rp. 1.000.000/bulan 23 24.7% Rp.1000.000/bulan 28 30.2% di bawah Rp. 1.000.000/bulan 31 33.3% di bawah Rp. 500.000 11 11.8% Total 93 100% Sumber: P./FC.7

Berdasarkan tabel 4.5 yang terdiri dari 93 responden yang memiliki 11 responden (11,8%) menyatakan bahwa jumlah uang saku mereka di bawah Rp.500.000/bulan. Terdapat 31 responden (33,3%) menyatakan bahwa jumlah uang saku mereka di bawah Rp.1.000.000/bulan. Kemudian terdapat 28 responden (30,2%) menyatakan bahwa jumlah uang saku mereka adalah Rp.1.000.000/bulan dan 23 responden (24,7%) menyatakan jumlah uang saku mereka di atas Rp.1.000.000/bulan.

Uang saku adalah segala sesuatu yang umum dimiliki seseorang sebagai alat tukar. Dari data diatas dapat dilihat bahwa sebagian besar uang saku/pendapatan mahasiswa FISIP USU dibawah Rp.1.000.000 sampai diatasa Rp.1.000.000/bulan dan menurut peneliti bahwa dengan uang saku sebanyak itu memungkin responden untuk lebih sering berbelanja online, dan mahasiswa yang uang saku nya dibawah Rp.500.000/bulan itun hanya 11 responden dan dengan uang saku yang sedikit lebih banyak kemungkinan responden untuk tidak sering berbelaja online.

4.2.2 Varabel X (Strategi Penjualan Melalui Media Online) Tabel 4.6

Keefektifan Berbelanja Online di Instagram Frequency Percent tidak efektif 5 5.4% kurang efektif 22 23.6% Efektif 57 61.3% sangat efektif 9 9.7% Total 93 100% Sumber: P./FC.8

Berdsarkan tabel 4.6 dapat dilihat dari 93 responden, terdapat 9 responden (9,7%) yang menyatakan bahwa berbelanja online di instagram sangat efektif disbanding dengan berbelanja di media sosial lainnya dan 57 responden (61,3%) menyatakan bahwa berbelanja online di instagram itu efektif, hal ini disebabkan memudahkan mereka untuk memiliki barang-barang yang mereka inginkan untuk tidak perlu keluar rumah dan capek-capek untuk membeli barang yang mereka inginkan. Sementara 22 responden (23,6%) menyatakan bahwa berbelanja online diinstagram itu kurang efektif dibandingkan dengan berbelanja online di media sosial lainnya dan 5 responden (5,4%) menyatakan bahwa berbelanja online di instagram tidak efektif, hal ini disebabkan oleh responden yang tidak merasa puas apabila berbelanja online karena tidak lebih leluasa memilih barang dan takut mengalami kesalahan apabila barang yang mereka pilih tidak sesuai dengan yang mereka inginkan..

Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa dari 93 responden banyak yang menyatakan bahwa berbelanja online di instagram lebih efektif, karena sangat mempermudah bagi responden yang sangat suka berbelanja sehingga tidak perlu keluar rumah.

Tabel 4.7

Frekuensi mem-follow Instagram

Frequency Percent tidak pernah 12 12.9% Jarang 28 30,1% Sering 44 47,3% sangat sering 9 9.7% Total 93 100% Sumber: P./FC.9

Berdasarkan tabel 4.7 dapat dilihat dari 93 responden, terdapat 9 responden (9,7%) menyatakan sangat sering melakukan kegiatan mem-follow instagram online shop dan 44 responden (47,3%) menyatakan sering. Mem-follow merupakan kegiatan yang dilakukan setiap akun yang ingin mengundang pertemanan dengan akun lainnya sehingga bisa melakukan suatu komunikasi. Dari uraian diatas dapat dan lilihat bahwa setiap responden memiliki keingin tahuan tentang produk-produk yang dijual di instagram sehingga mereka begitu sering mem-follow online shop di instagram walaupun hanya untuk melihat-lihat.

Kemudian terdapat 44 responden (47,3%) menyatakan jarang mem-follow instagram online shop dan 12 responden (12,9%) menyatakan tidak pernah mem-follow instagram online shop melainnkan mereka yang sering di follow oleh pihak online shop di instagram.

Tabel 4.8

Pengaruh Merek dalam Ketertarikan Membeli Frequency Percent tidak berpengaruh 9 9.7% kurang berpengaruh 12 12.9% Berpengaruh 48 51.6% sangat berpengaruh 24 25.8% Total 93 100% Sumber: P.8/FC.10

Berdasarkan tabel 4.8 dapat dilihat bahwa dari 93 responden, terdapat 24 responden (25,8%) menyatakan bahwa merek sangat berpengruh pada ketertarikan membeli suatu produk dan 48 responden (51,6%) menyatakan berpengaruh, hal ini disebabkan bahwa merek merupakan peran aktif dalam kehidupan fashion karena mempunyai kebanggan tersendiri bagi responden apabila produk yang mereka miliki mempunyai merek yang terkenal. Sementara 12 responden (12,9%) menyatakan bahwa merek kurang berpengaruh pada ketertarikan membeli suatu produk dan terhadap dan 9 responden (9,7%) menyatakan tidak berpengaruh, hal ini disebabkan oleh seseorang yang merasa merek itu tidak begitu penting dan yang terpenting bagi mereka adalah kualitas dan bentuk yang menarik.

Dari uraian diatas dapat dilihat bahwa sebagian besar responden menyakan bahwa merek sangat berpengaruh dalam ketertarikan seseorang dalam membeli suatu produk dan dapat dilihat. Terdapat 72 responden menyatakan bahwa merek berpengaruh dalam ketertarikan seseorang dalam membeli suatu produk.

Tabel 4.9

Pemberian Potongan Harga

Frequency Percent tidak pernah 24 25.8% Jarang 52 55.9% Sering 13 14.0% sangat sering 4 4.3% Total 93 100% Sumber: P.9/FC.11

Berdasarkan tabel 4.9 dapat dilihat bahwa dari 93 responden, terdapat 4 responden (4,3%) menyatakan bahwa mereka sangat sering mendapatkan potongan harga yang diberikan oleh pihak online shop dan 13 responden (14,0%) menyatakan sering, hal ini dikarenakan responden memiliki memiliki hubungan baik terhadap pihak penjual online shop dan kemungkinan besar responden merupakan pelanggan yang setia. Sedangkan 52 responden (55,9%) menyatakan jarang mendapatkan potongan harga saat belanja online di instagram dan 24 responden (25,8%) menyatakan tidak pernah, hal ini disebabkan oleh pihak instagram nya sendiri mentiadakan potongan harga.

Potongan harga bisa disebut juga sebagai discount yaitu merupakan pengurangan dari harga yang ada, biasanya potongan harga ini anda wujudkan dalam bentuk tunai dan dimaksud untuk menarik perhatian konsumen. Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa kebanyaan dari responden menyatakan bahwa dari 93 responden kebanyakan dari mereka yang menyatakan jarang mendapatkan potongan harga dari online shop di instagram.

Tabel 4.10

Memberikan Harga Terjangkau

Frequency Percent tidak terjangkau 5 5.4% kurang terjangkau 17 18.3% Terjangkau 65 69.9% sangat terjangkau 6 6.4% Total 93 100% Sumber: P.10/FC.12

Berdasarkan tabel 4.10 dapat dilihat dari 93 responden, terdapat 6 responden (6,4%) menyatakan bahwa online shop di instagram memberikan harga yang sangat terjangkau dan 65 responden (69,9%) menyatakan terjangkau. Berdasarkan pengamatan peneliti Online shop di instagram selalu berusaha memberikan harga yang menarik kepada setiap responden, hal ini dikarenakan untuk menarik perhatian pembeli. Sementara 17 responden (18,3%) menyatakan bahwa online shop di instagram memberikan harga yang kurang terjangkau dan 5 responden (5,4%) menyatakan tidak terjangkau, hal terjadi dikarenakan banyak nya online shop yang tidak dari tangan pertama melainkan dari tangan ke tangan yang menyebabkan harga nya menjadi lebih mahal dari harga standartnya.

Berdasarkan uraian diatas dapat disimpulkan bahwa kebanyakan dari responden menyatakan bahwa harga yang diberikan online shop di instagram itu memberikan harga yang terjangkau atau harga yang lebih murah, hal ini disebabkan oleh pihak penjual merupakan reseller. Reseller adalah menjual kembali suatu produk yang dilakukan oleh penjual setelah penjual tersebut membelinya.

Tabel 4.11

Pemberian Harga Murah Menarik Perhatian Reseller Frequency Percent tidak menarik 3 3.3% kurang menarik 23 24.7% Menarik 56 60.2% sangat menarik 11 11.8% Total 93 100% Sumber: P.11/FC.13

Berdasarkan tabel 4.11 dapat dilihat dari 93 responden, terdapat 11 responden (11,8%) menyatakan bahwa pemberian harga murah sangat menarik perhatian reseller untuk dijual kembali dan 56 responden (60,2%) menyatakan menarik. Banyak online di instagram memberikan harga yang benar-benar murah hal ini semat-mata untuk menarik perhatian reseller, sebagian dari online shop juga menyediakan khusus buat reseller yang menerima orderan perseri dan harga yang diberikan juga lebih murah disbanding dengan harga biasanya. Sementara itu 23 enar murah, hal tersebut responden (24,7%) menyatakan bahwa pemberian harga murah kurang menarik perhatian reseller untuk dijualnya kembali dan 3 responden (3,3%) yang menyatakan bahwa pemberian harga murah tidak menarik perhatian reseller untuk dijual kembali.

Berdasarkan uraian diatas disimpulkan bahwa sebagian dari responden yang memiliki pernyataan. Banyak diantara mereka yang lebih banyak jumlah responden yang setuju bahwa pemberian harga murah dapat menarik perhatian reseller untuk dijualnya kembali, dengan menaikkan harga sebelumnya untuk mendapatkan keuntungan.

Tabel 4.12

Tampilan Foto Menarik Perhatian Konsumen Frequency Percent tidak menarik 3 3.3% kurang menarik 7 7.5% Menarik 59 63.4% sangat menarik 24 25.8% Total 93 100% Sumber: P.12/FC.14

Berdasarkan tabel 4.12 dapat dilihat dari 93 responden, terdapat 24 responden (25,8%) menyatakan bahwa tampilan foto yang di share di instagram sangat menarik perhatian responden untuk membelinya dan 59 responden (63,4%) menyatakan tampilan foto menarik. Berdasarkan pengamatan peneliti tampilan foto yang di share di instagram banyak diantara beberapa responden menyatakan bahwa tampilan foto yang di share di instagram cukup baik, hal ini disebabkan oleh kualitas foto yang dihasilkan baik dan editan yang membuat tampilan foto menjadi lebih menarik sehingga membuat para konsumen lebih tertarik untuk membelinya. Sementara 7 responden (7,5%) menyatakan bahwa tampilan foto yang di share di instagram kurang menarik perhatian pembeli dan 3 responden (3,3%) menyatakan tidak menarik perhatian konsumen untuk membelinya, hal ini disebabkan oleh kualitas foto yang kurang baik sehingga hasil foto yang di share tidak bagus.

Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa banyak dari responden yang menyatakan, bahwa mereka setuju kalau setiap tampilan foto yang di share di instagram memiliki tampilan yang sangat meanarik sehingga membuat para responden merasa tergiur untuk membelinya. Dapat dilihat juga dari jumlah responden yang lebih besar jumlah nya. Dibandingkan dengan jumlah responden yang berpendapat bahwa tampilan foto di instagram tidak menarik.

Tabel 4.13

Pemberian Ongkos Kirim Gratis Belanja Lebih dari 3 Item Frequency Percent tidak pernah 68 73.1% Jarang 20 21.5% Sering 4 4.3% sangat sering 1 1.1% Total 93 100% Sumber: P.13/FC.15

Berdasarkan tabel 4.13 dapat dilihat bahwa dari 93 responden, terdapat dari 1 responden (1,1%) menyatakan sangat sering mendapatkan ongkos kirim gratis apabila belanja lebih dari 3 item dan 4 responden (4,3%) menyatakan sering. Pembebasan biaya antar biasanya didapatkan apabila kita memesan suatu barang dalam satu kota dan yang terkadang pihak online shop itu sendiri yang bersedia mengantar nya. Hal itu dikarenakan jumlah pesanan yang mereka pesan banyak dan rumah tidak terlalu jauh dari online shop tersebut. Sementara 20 responden (21,5%) menyatakan jarang mendapatkan ongkos kirim gratis dan 68 responden (73,1%) menyatakan tidak pernah, hal ini disebabkan oleh jasa antar yang relative mahal. Terutama bagi yang luar kota yang memiliki tarif tertentu sesuai dengan berat barang yang kita pesan. Jadi jauh kemungkinan pihak pengiriman barang meng-gratiskan biaya pengiriman.

Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa banyak dari responden yang menyatakan bahwa mereka tidak pernah mendapatkan ongkos kirim gratis terhadap pengiriman produk yang mereka pesan. Hal ini disebabkan pesanan yang mereka pesan berasal dari luar kota.

Tabel 4.14

Pengaruh Pembebasan Biaya Pengiriman Pada Pembeli Frequency Percent tidak mempengaruhi 3 3.2% kurang mempengaruhi 13 14.0% Mempengaruhi 56 60.2% sangat mempengaruhi 21 22.6% Total 93 100% Sumber: P.14/FC.16

Berdasarkan tabel 4.14 dapat dilihat bahwa dari 93 responden, terdapat 21 responden (22,6%) menyatakan pembebasan biaya pengiriman sangat mempengaruhi seseorang untuk membeli suatu produk dan 56 responden (60,2%) menyatakan pembebasan biaya pengiriman mempengaruhi seseorang untuk membeli suatu produk. Setiap online shop tidak pernah larid ari ongkos kirim, terlebih bagi yang antar kota semakin jauh, semakin mahal pula ongkos kirim yang akan di bebankan. Hal itu mempengaruhi bahwa harga produk yang mereka belipun semakin menjadi lebih mahal. Sementara itu terdapat 13 responden (14,0%) menyatakan bahwa pembebasan biaya pengiriman kurang mempengaruhi tingakat pembelian dan 3 responden (14,0%) menyatakan pemberian ongkos

pengiriman tidak mempengaruhi seseorang untuk membeli suatu produk tersebut. Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa responden banyak yang setuju bahwa pemberian ongkos kirim gratis mempengaruhi seseorang untuk membeli suatu produk, karena dengan dibebaskannya biaya pengiriman memungkinkan harga yang lebih murah.

Tabel 4.15

Tampilan Foto sesuai dengan Kualitas yang di Inginkan Frequency Percent tidak sesuai 1 1.1% kurang sesuai 35 37.6% Sesuai 50 53.8% sangat sesuai 7 7.5% Total 93 100% Sumber: P.15/FC.17

Berdasarkan tabel 4.15 dapat dilihat bahwa dari 93 responden, terdapat 7 responden (7,5%) yang menyatakan bahwa tampilan foto yang di share di instagram sangat sesuai dengan kualitas yang diinginkan dan 50 responden (53,8%) menyatakan sesuai. Hal tersebut menunjukkan bahwa pihak online shop selalu menjaga kualitas dan mutu produk yang mereka jual. Responden yang merasa sesuai dengan produk yang mereka terima, maka dapat menciptakan kepuasan terhadap produk yang mereka beli. Sementara terdapat 35 responden (37,6%) menyatakan foto yang di share di instagram kurang sesuai dengan kualitas yang diinginkan dan 1 responden (1,1%) menyatakan foto yang di share di instagram tidak sesuai. Berdasarkan pengamatan peneliti hal ini bisa saja terjadi dikarenakan foto yang di share di instagram terlalu berlebihan sehingga bentuk dan kualitas tidak sesuai dengan yang mereka inginkan.

Banyak produk yang dijual di internet ataupun di instagram yang kualitas nya tidak sesuai dengan yang kita inginkan. Contoh yang bisa dilihat diantaranya yaitu tampilan foto yang bagus tetapi produk yang dihasilkan tidak baik dan mudah rusak ini menyebabkan tidak puasnya konsumen terhdap suatu barang yang mereka beli. Pada uraian diatas dapat disimpulkan bahwa dari beberapa responden banyak yang merasa tampilan foto yang di share di instagram sesuai dengan kualitas yang mereka inginkan. Hal ini dapat dilihat dari jumlah responden yang lebih banyak memilih bahwa responden merasa tampilan foto yang di share di instagram sesuai dengan kualitas yang mereka inginkan.

Tabel 4.16 Ketersediaan Produk Frequency Frequency 0 0% kurang baik 17 18.3% Baik 72 77.4% sangat baik 4 4.3% Total 93 100% Sumber: P.16/FC.18

Berdasarkan tabel 4.16 dapat dilihat dari 93 responden, terdapat 4 responden (4,3%) menyatakan ketersediaan produk penjualan yang mereka sediakan sangat baik dan 72 responden (77,4%) menyatakan bahwa ketersediaan produk penjualan yang mereka sediakan baik. Banyaknya online shop yang menyediakan barang ready sehingga kapan pun responden menginginkan produk yang diinginkan pihak online shop selalu ada. Sementara 17 responden (18,3%) menyatakan bahwa ketersediaan produk penjulan yang mereka sediakan kurang baik, hal ini disebabkan PO barang yang dipesan dari luar negri ataupun dari luar kota sehingga barang yang diinginkan harus dipesan terlebih dahulu.

Berdasarkan uraian diatas dapat dilihat jumlah responden yang hampir keseluran yang menyatakan bahwa ketersediaan produk yang mereka jual baik. Dapat dilihat bahwa banyaknya jumlah responden menyatakan kepuasan mereka terhadap ketersediaan produk yang di sediakan oleh pihak penjual di instagram hal ini juga bisa dilihat bahwa tidak ada seorang responden yang menyatakan ketersediaan produk tidak baik.

Tabel 4.17

Transaksi Pembayaran Online Shop lebih Efisien Frequency Percent tidak setuju 2 2.1% kurang setuju 42 45.2% Setuju 44 47.3% sangat setuju 5 5.4% Total 93 100% Sumber: P.17/FC.19

Berdasarkan tabel 4.17 dapat dilihat bahwa dari 93 responden, terdapat 5 responden (5,4%) yang menyatakan sangat setuju bahwa pembayaran online shop lebih efisien dibandingkan dengan transaksi pembayaran secara langsung dan 44 responden (47,3%) menyatakan setuju. Pada umumnya transaksi pembayaran online shop sistem pembayaran nya melalui via transfer dan setelah melakukan transfer kemudian setelah itu pihak online shop segera mengirim barang yang kita pesan. Hal ini dinyatakan sangat efisien karena setiap melakukan transaksi pembayaran dapat kita tentukan kapan saja dan dimana saja walau jarak jauh dengan pihak online shop. Sementara terdapat 42 responden (45,2%) menyatakan kurang setuju bahwa pembayaran online lebih efisien dibandingkan berbelanja secara langsung dan terdapat 2 responden (2,1%) menyatakan tidak setuju. Hal ini disebabkan oleh pihak responden yang tidak mempunyai atm ataupun rekening yang memungkinkan responden harus pergi ke bank untuk melakukan transaksi pembayaran.

Tabel 4.18

Kendala Dalam Transaksi Belanja Online

Frequency Percent tidak pernah 32 34.4% Jarang 45 48.4% Sering 9 9.7% sangat sering 7 7.5% Total 93 100% Sumber: P.18/FC.20

Berdasarkan tabel 4.18 dapat dilihat bahwa dari 93 responden, terdapat 7 responden (7,5%) menyatakan sangat sering mengalami kendala dalam melakukan transaksi pembayaran dan 9 responden (9,7%) menyatakan sering, hal ini disebabkan oleh sistem kepercayaan yang semena-mena sering diabaikan oleh pihak online shop sering melakukan penipuan, Seringkali pembeli mengeluhkan

karena merasa sudah bayar, namun tidak menerima konfirmasi bahwa pembayaran

sudah dilakukan. Sementara 45 responden (48,4%) menyatakan jarang mengalami

kendala dalam melakukan transaksi pembayaran dan 32 responden (34,4%) menyatakan bahwa mereka tidak pernah mengalami kendala dalam melakukan transaksi pembayaran di instagram. Hal ini disebabkan oleh pihak online shop yang mereka pilih merupakan online shop yang sudah terpercaya ataupun mereka sudah kenal terlebih dahulu oleh pihak online shop itu sendiri

Dalam uraian diatas dapat disimpulkan dari jumlah responden yang tertera diatas bahwa sebagian besar responden hampir tidak pernah mengalami kendala dalam melakukan transaksi pembayaran saat berbelanja online di instagram. Hal ini menyatakan bahwa mereka cukup puas saat melakukan transaksi pembayaran.

Tabel 4.19

Pelayanan Yang diberikan Pihak Admin

Frequency Percent tidak baik 2 2.1% kurang baik 14 15.0% Baik 68 73.2% sangat baik 9 9.7% Total 93 100% Sumber: P.19/FC.21

Berdasarkan tabel 4.19 dapat dilihat bahwa dari 93 responden, terdapat dari 9 responden (9,7%) yang menyatakan bahwa pelayanan yang diberikan oleh pihak admin sangat baik saaat mereka ingin bertanya tentang produk yang akan mereka beli dan 68 responden (73,2%) menyatakan bahwa pihak admin baik. Sudah semestinya setiap online shop harus memiliki pelayanan yang baik, hal itu merupakan hal yang wajib agar para konsumen merasa nyaman dan tertarik untuk membeli produk online shop. Sementara 14 responden (15,0%) menyatakan pelayanan admin yang mereka dapat kurang baik dan 2 responden (2,1%) menyatakan bahwa pelayanan yang diberikan oleh pihak admin tidak baik.

Sebelum melakukan pembelian kegiatan yang sering dilakukan oleh responden yaitu bertanya-tanya tentang produk yang akan mereka beli, dan banyak pihak admin yang meresponden dengan berbagai macam jenis, ada yang baik dan juga tidak baik. Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa lebih banyak responden yang menyatakan bahwa pelayanan yang diberikan admin itu baik dan sedikit diantara mereka yang menyatakn bahwa pelayanan yang

Dokumen terkait