Skematik atau struktur segmen 3 :
b. Wawancara dengan Adhyaksa Dault seputar niatnya maju karena Basuki Tjahaja Purnama non-muslim
c. Wawancara dengan Marko Kusumawijaya mengenai keunggulannya
d. Prediksi Yunarto Wijaya (Pengamat politik / Direktur Charta Politica) terkait Pilkada DKI Jakarta 2017
e. Wawancara dengan Prasetyo Edi terkait sosok yang pantas diusung oleh PDI-P pada Pilkada DKI Jakarta 2017
Struktur Mikro
Video Pernyataan Para Penantang Ahok
Gambar 13 Sandiaga Uno
Antusiasme dari temen-temen yang udah menyatakan, saya selalu bilang sabar, ini prematur.
Gambar 14 Ridwan Kamil
Seperti yang saya bilang, saya fokus di Bandung dulu, belum punya pikiran mau pindah kemana-mana. Eee termasuk ke Jakarta, belum saya pikirkan. Tapi kalo ada yang mengapresiasi ya Alhamdulillah.
Gambar 15 Tantowi Yahya
Yang bisa saya katakan sekarang, saya merasa dihargai, saya merasa tersanjung, dan juga merasa tertantang.
Pada elemen grafis (retoris) pernyataan dari Sandiaga Uno,
Ridwan Kamil, dan Tantowi Yahya ditayangkan dan ditonjolkan di awal segmen karena pernyataan mereka dianggap penting terkait isu mereka digadang-gadang akan maju pada Pilkada DKI Jakarta 2017.
Wawancara dengan Adhyaksa Dault
Melanjutkan pertanyaan Najwa Shihab terkait cuplikan pernyataan Basuki Tjahaja Purnama di segmen sebelumnya bahwa Adhyaksa Dault akan mendukungnya seandainya ia muslim, Najwa Shihab pada segmen ketiga ini menanyakan pertanyaan serupa hingga tiga kali secara berurutan di waktu berdekatan yang terdapat pada kalimat (1)
“Apakah niat Anda maju didasarkan pada argumentasi yang sama, gubernur DKI harus muslim?”, (2) “Bang Adhyaksa, pertanyaannya kan simple, apakah berarti itu juga Anda sependapat yang menjadi gubernur di DKI adalah yang Islam?”, dan (3) “Makanya kemudian Anda didukung oleh Partai Pribumi, itu juga sebagai salah satu bentuk Anda maunya yang pribumi dan Islam? Karena Anda didukung partai pribumi nih”. Ketiga pertanyaan tersebut
mencerminkan maksud (sintaksis) bagaimana secara implisit dan tersembunyi praktik bahasa tertentu digunakan komunikator untuk menekankan maksud tertentu, yaitu Adhyaksa Dault maju karena Basuki Tjahaja Purnama non Muslim dan bukan berasal dari etnis asli pribumi.
Pernyataan Adhyaksa Dault terkait pertemuannya dengan Basuki Tjahaja Purnama yang menyatakan “Kalo Anda masuk Islam, udah
Anda jadi gubernur lagi udah lancar”. Kata “kalo” pada argumen
Adhyaksa Dault menunjukkan elemen praanggapan (semantik) yang meskipun kenyataannya tidak terjadi, hal tersebut disampaikan untuk mendukung gagasan bahwa seandainya Basuki Tjahaja Purnama seorang Muslim maka jalannya untuk terpilih sebagai Gubernur akan lebih mudah.
Wawancara dengan Marko Kusumawijaya
Pernyataan Marco Kusumawijaya yang panjang lebar menyatakan
“Keunggulan saya, ada pada platform-platform yang saya usulkan. Saya pikir, dibandingkan semua calon saya yang paling berpengalaman dalam bidang lingkungan, paling banyak bekerja dengan komunitas, dan bekerja dengan seni budaya. Saya adalah,... Jadi issuenya bukan pengalaman, tapi pengalaman dalam hal apa.,...”. Detil yang lengkap dan panjang lebar merupakan penonjolan
yang dilakukan secara sengaja untuk menciptakan citra tertentu kepada khalayak, yaitu bahwa Marco Kusumawijaya adalah orang yang berpengalaman di bidangnya.
Prediksi Yunarto Wijaya terkait Pilkada DKI Jakarta 2017
Berikut potongan prediksi Yunarto Wijaya (Pengamat
“Ya, ada beberapa variabel yang menentukan peluang orang secara elektoral terutama dalam pilkada selevel DKI. Yang pertama itu popularitas itu modal waji,... Kedua kompetensi, kita bicara ada dua faktor di kompetensi. Ada janji yang indah, atau track record yang indah,... Yang ketiga, kita bicara soal faktor primordial. Suka atau tidak suka secara sosiologis ada faktor tersebut negara kita. Yang keempat itu kita berbicara ada marketing gimmick, atau packaging,... Kalo Bung Marco itu saya rasa mempunyai masalah di popularitas. Walaupun di kompetensi mungkin ada beberapa hal yang bisa ditonjolkan begitu ya. Seperti Sanusi juga ya, mungkin popularitas,...” “Adhyaksa Dault,...apakah menpora yang adalah seorang spesialis itu bisa kemudian langsung melompat menjadi seorang generalis, sebgaai eksekutor atau eksekutif?,...”
“Jadi kalau kita lihat dari berbagai sudut pandang tadi, beberapa variabel tadi, saya harus mengatakan dari beberapa nama yang ada disini dengan segala hormat, detik ini apabila survey dilakukan dan apabila pilkada dilakukan hari ini, saya pikir Ahok masi menjadi pemenang. Sebetulnya ada dua nama, yang sudah memenuhi beberapa variabel tadi yaitu, Mba Risma dengan Ridwan Kamil.,...”
Pada potongan prediksi di atas mengandung elemen maksud (semantik) yang melihat informasi yang menguntungkan komunikator atau pihak tertentu akan diuraikan secara lengkap, eksplisit, dan jelas.
Pernyataan di atas sebenarnya menguntungkan Basuki Tjahaja Purnama karena jika dibandingkan dengan sejumlah kandidat selain Risma (Walikota Surabaya) dan Ridwan Kamil (walikota Bandung), ia dianggap yang paling memiliki keempat variabel elektabilitas Pilkada DKI yaitu popularitas, kompetensi, faktor primordial, serta
marketing gimmick atau packaging yang mumpuni.
“...sebagai pengamat politik, saya katakan melihat konstilasi politik di Jawa Timur 2018 dan juga di Jawa Barat, kedua-duanya sepertinya tidak akan maju”.
Berdasarkan prediksi tersebut saat itu, secara disadari atau tidak,
menguntungkan Basuki Tjahaja Purnama karena membuat orang berpikir bahwa Risma dan Ridwan kamil tidak akan maju dalam Pilgub DKI 2017, sehingga menimbulkan pandangan pada saat itu Basuki Tjahaja Purnama satu-satunya sosok yang diperhitungkan untuk maju pada Pilgub DKI 2017.
Wawancara dengan Prasetyo Edi
Pada pernyataan Prasetyo Edi terkait sosok yang akan diusung PDI-P pada Pilgub DKI 2017 “Pemimpin di Jakarta ini perlu
keberanian. Tapi juga perlu etika. Ada ya mungkin ya bahasa-bahasa saya kita perlu orang seperti Ahok, tapi kita tidak butuh mulut seperti Ahok” mengandung elemen pengingkaran (retoris) yang merupakan
menyampaikan pendapat dan gagasannya kepada khalayak karena penggunaan kata “tapi” pada kalimat tersebut. Padahal pesan yang ia ingin sampaikan adalah sebenarnya Basuki Tjahaja Purnama merupakan sosok yang dibutuhkan Jakarta, namun bermasalah pada etika dan gaya komunikasinya.
Saat Najwa Shihab menanyakan siapa sosok yang akan diusung PDI-P, Prasetyo Edi menjelaskan bahwa di PDI-P ada sebuah hierarki yang harus dilalui untuk memilih sosok yang pas untuk dipilih partai, kemudian dipotong oleh Najwa Shihab dengan kalimat “Terserah ibu
ketua umum?”. Terdapat elemen maksud (semantik) di dalam
kalimat tersebut yang artinya secara implisit Najwa Shihab lagi-lagi menganggap bahwa PDI-P partai yang tidak mengusung demokrasi karena semua keputusan selalu berdasarkan Ibu Ketua Umum PDI-P Megawati Soekarnoputri.
Tabel 9
Kerangka Analisis Data Segmen 3 Struktur
Wacana Elemen Temuan
Super struktur (skematik)
Skema / Alur a. Video pernyataan Para Penantang Ahok
b. Wawancara dengan Adhyaksa Dault seputar niatnya maju karena Basuki Tjahaja Purnama non-muslim
c. Wawancara dengan Marko
Kusumawijaya terkait
keunggulannya
(Pengamat politik/Direktur Charta Politica) terkait Pilkada DKI Jakarta 2017
e. Wawancara dengan Prasetyo Edi terkait sosok yang diusung oleh PDI-P pada Pilkada DKI Jakarta 2017
Struktur mikro (semantik)
Detil Marco Kusumawijaya menjelaskan secara panjang lebar “Keunggulan
saya, ada pada platform-platform yang saya usulkan. Saya pikir, dibandingkan semua calon saya yang paling berpengalaman dalam bidang lingkungan, paling banyak bekerja dengan komunitas, dan bekerja dengan seni budaya. Saya adalah,...” untuk menciptakan
citra tertentu kepada khalayak Praanggapan Kata “kalo” pada argumen
Adhyaksa Dault “Kalo Anda
masuk Islam, udah Anda jadi gubernur lagi udah lancar”
menunjukkan adanya pengandaian Maksud Najwa Shihab menanyakan tiga
pertanyaan serupa secara berurutan dan dalam waktu berdekatan karena memiliki maksud tertentu. (1) “Apakah niat Anda maju
didasarkan pada argumentasi yang sama, gubernur DKI harus muslim?”, (2) “Bang Adhyaksa, pertanyaannya kan simple, apakah berarti itu juga Anda sependapat yang menjadi gubernur di DKI adalah yang Islam?”, dan (3)
“Makanya kemudian Anda
didukung oleh Partai Pribumi, itu juga sebagai salah satu bentuk Anda maunya yang pribumi dan Islam? Karena Anda didukung partai pribumi nih”.
Prediksi Yunarto Wijaya yang panjang lebar terkait Pilkada DKI 2017, disadari atau tidak menguntungkan Ahok karena
menimbulkan pandangan pada saat itu Ahok satu-satunya sosok yang diperhitungkan untuk maju pada Pilgub DKI 2017.
Pada kalimat “Terserah ibu ketua
umum?” lagi-lagi Najwa Shihab
mempertanyakan sikap PDI-P sebagai partai yang seolah-olah tidak mengusung demokrasi karena berdasarkan keputusan satu orang
Struktur mikro (retoris)
Grafis Video pernyataan Sandiaga Uno, Ridwan Kamil, dan Tantowi Yahya terkait Pilkada DKI Jakarta 2017
4. Analisis Teks Segmen 4