• Tidak ada hasil yang ditemukan

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

G. Hasil Analisis Perbandingan Keefektifan Pembelajaran Pendekatan Saintifik dan Problem Solving Setting Discovery Learning

3. Analisis tingkat keefektifan pembelajaran

Hasil analisis tingkat keefektifan untuk masing-masing pembelajaran disajikan pada tabel berikut.

Tabel 4.28. Skor Indikator Keefektifan Secara Holistik

Kelas Prestasi belajar

siswa Aktivitas siswa Respons siswa E

Eksperimen I 85,05 (3,56) 3,27 3,55 3,46

Eksperimen II 80,17 (3,31) 3,26 3,53 3,33

Adapun kategori keefektifan untuk masing-masing pembelajaran disajikan pada tabel berikut.

Tabel 4.29. Kategori Keefektifan Secara Holistik

Kelas E Kateogori

Eksperimen I 3,46 Cukup efektif

Eksperimen II 3,33 Cukup efektif

Berdasarkan tabel 4.29, terlihat bahwa keefektifan pada kelas eksperimen I dan kelas eksperimen II berada pada kategori cukup efektif. Berdasarkan analisis deskriptif yang dibuktikan dengan skor perolehannya kelas eksperimen I dan kelas eksperimen II dan analisis inferensial maka hipotesis mayor 3 teruji kebenarannya sehingga dapat disimpulkan bahwa kelas eksperimen I lebih efektif dari pada kelas eksperimen II.

4. Hasil Pengujian Hipotesis

Uji hipotesis dianalisis dengan menggunakan uji-t untuk mengetahui perbandingan keefektifan pendekatan saintifik setting discovery learning dengan

pengajaran langsung dengan pendekatan problem solving setting discovery learning dalam pembelajaran matematika materi lingkaran.

a. Uji hipotesis mayor

“Pembelajaran dengan menggunakan pendekatan saintifik setting discovery learning lebih efektif daripada pengajaran dengan pendekatan problem solving setting discovery learning dalam pembelajaran matematika materi lingkaran di kelas VIII SMP Negeri 2 Sinjai Timur”

Hipotesis mayor di atas dikatakan teruji kebenarannya apabila semua hipotesis minor di bawah ini teruji kebenarannya.

1) Hipotesis minor tentang prestasi belajar

a) Skor rata-rata posttes siswa setelah diajar dengan pendekatan saintifik setting discovery learning lebih tinggi daripada pengajaran dengan pendekatan problem solving setting discovery learning. Untuk keperluan statistik maka dirumuskan hipotesis kerja sebagai berikut:

𝐻0: 𝜇𝐴 ≤ 𝜇𝐵 dan 𝐻1: 𝜇𝐴 > 𝜇𝐵

Berdasarkan analisis deskriptif menunjukkan bahwa rata-rata posttes siswa setelah diajar dengan pendekatan saintifik setting discovery learning lebih tinggi daripada pengajaran dengan pendekatan problem solving setting discovery learning dalam pembelajaran matematika materi lingkaran dan berdasarkan analisis inferensial menunjukkan bahwa H0 ditolak dan H1 diterima yang berarti rata-rata prestasi belajar posttest pada kelas yang

diajar dengan pendekatan saintifik setting discovery learning lebih tinggi daripada pengajaran dengan pendekatan problem solving setting discovery learning. Berdasarkan hasil analisis deskriptif dan analisis inferensial maka dapat simpulkan bahwa skor rata-rata posttes siswa setelah diajar dengan pendekatan saintifik setting discovery learning lebih tinggi daripada pengajaran dengan pendekatan problem solving setting discovery learning dalam pembelajaran matematika materi lingkaran..

b) Peningkatan prestasi belajar siswa yang diajar dengan pendekatan saintifik setting discovery learning lebih tinggi daripada pengajaran dengan pendekatan problem solving setting discovery learning. Untuk keperluan statistik maka dirumuskan hipotesis kerja sebagai berikut:

𝐻0: 𝜇𝐴 ≤ 𝜇𝐵 dan 𝐻1: 𝜇𝐴 > 𝜇𝐵

Berdasarkan analisis deskriptif menunjukkan bahwa rata-rata gain ternormalisasi siswa setelah diajar dengan pendekatan saintifik setting discovery learning lebih tinggi daripada pengajaran dengan pendekatan problem solving setting discovery learning dalam pembelajaran matematika materi lingkaran dan berdasarkan analisis inferensial menunjukkan bahwa H0 ditolak dan H1 diterima yang berarti rata-rata gain ternormalisasi siswa setelah diajar dengan pendekatan saintifik setting discovery learning lebih tinggi daripada pengajaran dengan pendekatan problem solving setting discovery learning dalam pembelajaran matematika materi lingkaran.

Berdasarkan hasil analisis deskriptif dan analisis inferensial maka dapat simpulkan bahwa rata-rata gain ternormalisasi siswa yang diajar dengan menggunakan pendekatan saintifik setting discovery learning lebih tinggi daripada pengajaran dengan pendekatan problem solving setting discovery learning dalam pembelajaran matematika materi lingkaran.

c) Persentase ketuntasan secara klasikal siswa yang diajar dengan pendekatan saintifik setting discovery learning lebih tinggi daripada pengajaran dengan pendekatan problem solving setting discovery learning. Untuk keperluan pengujian secara statistik, maka dirumuskan hipotesis kerja sebagai berikut: 𝐻0: 𝜋𝐴 ≤ 𝜋𝐵 dan 𝐻1: 𝜋𝐴 > 𝜋𝐵

Secara analisis deskriptif persentase ketuntasan secara klasikal siswa yang diajar dengan pendekatan saintifik setting discovery learning lebih tinggi daripada pengajaran dengan pendekatan problem solving setting discovery learning, namun secara analisis inferensial menunjukkan bahwa H1 ditolak dan H0 diterima yang berarti persentase ketuntasan secara klasikal siswa yang diajar dengan pendekatan saintifik setting discovery learning lebih rendah atau sama dengan pendekatan problem solving setting discovery learning,. Walaupun demikian, masih dapat simpulkan bahwa ketuntasan klasikal siswa yang diajar dengan menggunakan pendekatan saintifik setting discovery learning lebih tinggi daripada pengajaran dengan pendekatan problem solving setting discovery learning. Hal ini disebabkan karena pada

uji proporsi yang dilakukan di atas memiliki jumlah sampel yang kecil jadi kemungkinan untuk menolak Ho sangat kecil.

2) Hasil Analisis aktivitas siswa

“Aktivitas siswa dengan menggunakan pendekatan saintifik setting discovery learning lebih tinggi daripada pengajaran dengan pendekatan problem solving setting discovery learning dalam pembelajaran matematika materi lingkaran” Berdasarkan hasil analisis deskriptif diperoleh rata-rata aktivitas siswa kelas VIII.B yang diajar dengan menggunakan pendekatan saintifik setting discovery learning berada dalam kategori 3,28 “baik” sedangkan rata-rata aktivitas siswa kelas VIII.D yang diajar dengan menggunakan pengajaran pendekatan problem solving setting discovery learning. berada dalam kategori 3,26 “ baik”.

3) Hasil analisis respons siswa

“Respon siswa dengan menggunakan pendekatan saintifik setting discovery learning lebih tinggi daripada pengajaran dengan pendekatan problem solving setting discovery learning. dalam pembelajaran matematika materi lingkaran” Berdasarkan hasil analisis deskriptif diperoleh rata-rata skor respon siswa kelas VIII.B yang diajar dengan menggunakan pendekatan saintifik setting discovery learning berada dalam kategori 3,55 “positif” sedangkan rata-rata skor respon siswa kelas VIII.C yang diajar dengan menggunakan pendekatan problem solving setting discovery learning berada dalam kategori 3,53 “ positif”.

Berdasarkan hasil analisis deskiptif dan hasil analisis inferensial yang telah diuraikan sebelumnya, tampak bahwa pendekatan saintifik setting discovery learning lebih daripada pengajaran dengan pendekatan problem solving setting discovery learning, baik dari prestasi belajar siswa, aktivitas siswa maupun respon siswa. Oleh karena itu, hipotesis mayor 3 teruji kebenarannya sehingga dapat disimpulkan bahwa Pembelajaran dengan menggunakan pendekatan saintifik setting discovery learning lebih efektif daripada pengajaran dengan pendekatan problem solving setting discovery learning dalam pembelajaran matematika materi lingkaran di kelas VIII SMP Negeri 2 Sinjai Timur.

H. Hasil Analisis Perbandingan Keefektifan Pembelajaran Problem Solving

Dokumen terkait