Hasil dan Pembahasan
4.2.1 Analisis Berdasarkan Psikologi Sastra Tokoh Putri Anggrek Dalam Novel
4.2.1.2 Analisis Tokoh Putri Anggrek Berdasarkan Ego
Putri Yehonala dari kecilnya adalah seorang yang sudah terbiasa hidup dalam
kesusahan. Putri Yehonala sendiri berasal dari keluarga bangsawan dan ayahnya adalah seorang mantan Gubernur dari provinsi yang paling miskin di Cina. Mereka hidup susah, bahkan ketika ayahnya meninggal mereka tak mampu untuk membayar secra penuh orang untuk mengangkat peti Jenazah Ayahnya. Hal ini membuat Putri Yehonala terbentuk menjadi pribadi yang tidak manja. Seperti yang dicantumkan dalam kutipan berikut:
“Hidup kebangsawananku dimulai dari bau busuk. Bau busuk yang datang dari peti mati ayahku—dia telah dua bulan wafat dan kami masih juga membawa-bawanya, mencoba untuk mencapai Peking, kota kelahirannya, untuk diamakamkan. Ibuku putus asa. “Suamiku mantan Gubernur Wuhu”, katanya kepada para bujang yang kami sewa untuk mengangkat peti mati Ayah. “Ya, Nyonya” sahut kepala bujang dengan sopan. “…dan kami ucapkan selamat jalan menuju kampung halaman dengan setulus hati kepada tuan Gubernur.”
Aku lahir dan dibesarkan di Anhwei, propinsi termiskin di Cina. Kami tidak hidup dalam kemiskinan, tetapi aku tahu bahwa para tetangga menyantap cacing untuk makan malam dan menjual anak mereka membayar utang. Perjalanan ayahku menuju neraka dan usaha keras Ibuku untuk melawannya memenuhi masa kecilku. Seperti seekor jangkrik berkaki panjang, Ibu berusaha menghalangi kereta menggilas keluarganya.”(Empress Orchid, 2004:1)
Dari kutipan halaman 1 juga kelihatan bahwa Putri Yehonala adalah seorang yang memiliki karakter yang tidak manja. Putri Yehonala juga adalah peribadi yang mandiri dan pekerja keras. Walau seorang wanita muda namun, Putri Yehonala saat sebelum memasuki Istana mengalami hidup susah. Demi ingin menghidupi keluarga dan adik-adiknya Ia bekerja kasar dimana ada pekerjaan yang membutuhkannya.
Di kaitkan dengan sistim kepribadian Sigmund Freud, Ego lebih berperan dominan. Karena tokoh tanpa sadar merasa ada ketertarikan yang dirasakan Putri Anggrek dalam setiap cerita kakak Fann. Untuk memuaskan keingintahuannya mengenai cerita kakak Fann. Disini Ego bekerja untuk memuaskan rasa keingintahuan yang dituntut oleh Id.
“Aku pergi menemui para tetangga dan pedagang asongan di pasar, berharap bisa mendapatkan pekerjaan. Aku mengangkut bergembol-gembol ubi jalar dan kubis, lalu membersihkan kios-kios setelah pasar tutup. Pengahsilanku beberapa keping tembaga sehari.
Bagaimaanpun aku suka bekerja. Tidak hanya karena uangnya, tetapi juga untuk menikmati kebijaksanaan kakak Fann dalam menyikapi hidup.”(Empress Orchid, 2004:14-15)
Kemandirian dan karakter suka bekerja yang dimiliki oleh Putri Yehonala terbukti dari kutipan halaman 14-15. Cuplikan diatas menyiratkan bahwa Putri Yehonala sejak sebelum menjadi seorang selir adalah seorang yang memliki tekad yang kuat untuk sesuatu yang sangat dinginkan oleh beliau. Dia menyadari peluang keinginannya lolos mengikuti ujian selir Kerajaan amat kecil, namun keinginan yang kuat membuatnya enggan untuk menyerah.
Namun Ego Putri Yehonala lebih kuat berbicara, dimana setelah mendengar penjelasan kak Fann Putri Yehonala sempat merasa minder, superego nya berkata bahwa Ia tidak pantas dan kecil kemungkinan untuk menang menjadi istri kekaisaran, namun ketika Ego mendominasi dirinya dan keinginannya tidak berkurang. Dapat dibuktikan dari kutipan dibawah ini:
…“ “tidakkah menurut Anda, aku punya kesempatan?” seruku pada kakak Fann. “Aku orang Manchu dan umurku tujuh belas. Ayahku dari Klan Biru!”
Fann menggeleng. “Anggrek, kamu ini seperti tikus buruk rupa kalau dibandingkan dengan semua selir dan Putri Kekaisaran yang pernah Kulihat.”
Aku meminum air dari sebuah ember, lalu duduk untuk berpikir. Perkataan kakak Fann menyurutkan semangatku, tapi keinginanku tidak berkurang.”(Empress Orchid, 2004:29-30)
Id tokoh utama juga pernah membuat Putri Yehonala merasakan kesedihan. Di hari pesta perayaan pernikahan Kekaisaran, disini Id tokoh Putri Yehonala ingin Ia merasakan kesenangan dalam pesta dan riak tawa yang dirasakan oleh para tamu saat itu.
Putri walau berasal dari keluarga bangsawan namun beliau masih asing dengan tata karma Kerajaan. Selama pesta pernikahan yang meriah itu dilaksanakan, Yehonala yang tidak terbiasa dengan tata karma harus duduk diam didalam ruangan bersama para tamu yang menikmati pesta. Karena tuntutan Id tokoh utama yang ingin bertemu dengan Suaminya layaknya seorang wanita. Dia tidak merasakan kesenangan yang dirasakan oleh para tamu. Hal ini dikarenakan peraturan yang harus dipatuhi oleh setiap istri Kaisar yang menikah. Hal ini menjelaskan bahwa walau Putri sangat ingin menikmati pesta dengan cara yang sama dengan tamu yang lain, tetapi disebabkan oleh perbedaan kedudukan yang tidak sama dengan Putri Yehonala yang dulu, Putri Yehonala menyadari bahwa ia harus patuh dengan segala bentuk peraturan kekaisaran. Dan ketika Superego nya berbicara, maka Putri harus mengikuti sikap kepatuhan yang ditunjukkan oleh Sang Putri mencerminkan bahwa beliau dapat menahan suasana hatinya demi mematuhi peraturan kerajaan. Singkatnya, bahwa Ego dapat membatasi keinginan Id, dimana Ego harus melihat kenyataan bahwa Putri diharuskan untuk mentaati peraturan Kekaisaran.
“Pesta diadakan pada bulan kedelapan. Kepala Kasim yang bertugas mengundang ribuan orang, diantaranya kalangan bangsawan, menteri-menteri
dan pejabat Kerajaan, serta kerabat Kekaisaran. Setiap tamu disuguhi dua puluh hidangan, dan acara makan ini berlangsung hingga tiga hari.
Meskipun demikian, aku mengalami saat-saat yang tak tertahankan. Aku bisa mendengar suara nyanyian, tawa dan teriakan orang-orang yang mabuk melalui dinding, tetapi aku tak diperbolehkan bergabung dalam pesta. Aku diminta duduk diam dalam ruangan yang berhiaskan pita merah dan emas. Labu kering yang dilukisi wajah anak-anak digantungkan segala penjuru ruangan, dan aku disuruh memandangi wajah-wajah itu guna meningkatkan kesuburan.” (Empress Orchid, 2004:83)
4.2.1.3 Analisis Tokoh Putri Anggrek Berdasarkan Superego
…”Kurasakan tatapan tajam menyerbuku dari setiap arah saat kuangkat cangkir itu ke bibir. Paham benar apa yang mereka rasakan, aku meneguk sedikit, lalu mengedarkan cangkir itu berkeliling. Cangkir itu beredar dari tangan ke tangan sampai tak setetes pun tersisa. Setelah itu, gadis-gadis tadi tampak sedikit lebih santai. Sicantik berwajah bulat telur dengan mata eksotis tadi melambai kepadaku dari bangkunya. Saat aku mendekat, dia bergeser sedikit.“Aku Nuharoo,” dia tersenyum. “Yehonala,” aku duduk disampingnya. Begitulah aku dan Nuharoo saling memperkenalkan diri.” ” (Empress Orchid, 2004:49-51)
Analisis :
Putri Anggrek dari awalnya adalah orang yang berani mengambil kesempatan. Disaat semua calon istri kekaisaran didera lapar dan haus menunggu kedatangan Kaisar Hsien Feng menemui mereka. Putri Yehonala malah dengan memberanikan diri berbisik pada An-te-hai Kasim yang bertugas sebagai ketua grup mereka meminta secangkir air untuk diminum. Dan setelah secangkir teh berada ditangannya saat itu juga Putri Yehonala membagikan secangkir teh tersebut kepada teman-temannya tanpa bersikap egois. Hal ini dapat dikatakan bahwa Sang Putri memliki sikap yang ramah dan tidak egois , sama-sama berbagi dengan lingkungannya. Dan tidak menghabiskan secangkir air tersebut untuk dirinya sendiri. Karena sikapnya inilah