• Tidak ada hasil yang ditemukan

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.6 Analisis Unsur Hara

Hasil analisis unsur hara pada akhir penelitian menunjukkan bahwa pemberian arang tempurung kelapa dan bokashi pupuk kandang cenderung meningkatkan ketersediaan unsur hara di tailing, seperti yang tertera pada Tabel 4 dan Lampiran 3.

Tabel 4 Data analisis unsur hara pengaruh pemberian arang tempurung kelapa dan bokashi pupuk kandang terhadap media yang digunakan Perlakuan Tailing Tailing + Arang Tailing + Bokashi Tailing + Arang + Bokashi Standar Sifat Kimia Tanah*) Sifat pH H2O 7,10 7,40 7,20 7,30 6,60–7,50 KTK (me/100 g) 7,58 9,98 10,78 11,58 17,00–24,00 C-org (%) 0,72 1,12 1,52 1,60 2,01–3,00 N-Total (%) 0,07 0,12 0,14 0,15 0,21–0,50 P Bray I (ppm) 5,70 6,10 7,80 7,90 16,00–25,00 K (me/100 g) 0,66 1,70 1,13 2,45 0,40–0,50 Ca (me/100 g) 28,58 28,14 29,11 27,92 6,00–10,00 Mg (me/100 g) 1,12 1,19 1,68 1,68 1,10–2,00

*) Kriteria penilaian sifat-sifat kimia tanah (Staf Pusat Penelitian Tanah 1983)

Hasil analisis laboratorium menunjukkan bahwa pH, KTK, C-org dan basa- basa yang dapat ditukar (N, P, K, dan Mg) hampir semuanya meningkat sejalan

dengan aplikasi arang dan bokashi, kecuali Ca yang cenderung menurun. Nitrogen (N), Fosfor (P), Kalium (K), Calsium (Ca) dan Magnesium (Mg) merupakan unsur-unsur makro karena dibutuhkan tanaman dalam jumlah banyak. Widiastuti (2011), mengungkapkan kesuburan tanah untuk pertumbuhan tanaman Eucalyptus

dipengaruhi oleh tersedianya unsur-unsur tersebut dan besarnya peranan unsur ini menjadikannya syarat untuk kondisi optimal bagi pertumbuhan tanaman

Eucalyptus. Penambahan arang mampu meningkatkan ketersediaan C, N, P dan K dari tanah (Siregar 2004), dan pemberian bokashi pupuk kandang meningkatkan serapan hara N, P, K, Ca dan Mg, dimana hal tersebut diduga dengan adanya EM4 akan membantu proses mineralisasi dan dekomposisi yang lebih cepat (Purwani et al. 1998).

Kemasaman tanah (pH) mempengaruhi serapan unsur hara dan pertumbuhan tanaman, yaitu melalui pengaruh terhadap tersedianya unsur hara dan adanya unsur-unsur yang beracun. Hasil analisis laboratorium menunjukkan nilai pH perlakuan umumnya tidak terlalu bervariasi, yaitu antara 7,10–7,40. PPT (1983) menyatakan, pH tanah yang optimal untuk tanaman yaitu 6,6–7,5. Dari data tersebut, perubahan pH tanah dipengaruhi oleh aplikasi arang. Siregar et al.

(2003) mengungkapkan bahwa aplikasi arang dapat meningkatkan pH tanah, serta sering digunakan untuk memperbaiki kesuburan tanah di daerah tropis karena penambahan arang berfungsi seperti proses pengapuran yaitu arang dapat menetralisir kemasaman tanah. Namun, jika unsur Ca ditemukan berlebih di

tailing, arang tersebut akan menyerapnya.

Kapasitas Tukar Kation merupakan sifat kimia yang sangat erat hubungannya dengan kesuburan tanah. Tanah dengan KTK tinggi mampu menyerap dan menyediakan unsur hara lebih baik daripada tanah dengan KTK rendah. Hasil analisis laboratorium menunjukkan nilai KTK berkisar antara 7,58– 11,58. PPT (1983) menyatakan, KTK tanah yang optimal untuk tanaman yaitu 17– 24 me/100 g. Hasil analisis tersebut mengindikasikan bahwa penambahan arang tempurung kelapa dan bokashi pupuk kandang mampu meningkatkan KTK tailing

dan dapat meningkatkan ketersediaan unsur hara.

Kandungan bahan organik dalam tanah, ditunjukkan dengan nilai C-organik. Hasil analisis laboratorium menunjukkan kandungan C-organik tailing berkisar

20

antara 0,72–1,60. Kandungan C-organik tersebut belum mencapai standar sifat kimia tanah (PPT 1983), yaitu 2,01–3,00. C-Organik merupakan penyusun utama bahan organik. Menurut Fauziah (2009), bahan organik mempunyai peranan yang sangat penting dalam tanah terutama pengaruhnya terhadap kesuburan tanah.

Dengan demikian, pemberian arang yang dicampur dengan bokashi lebih baik dibanding tanpa bokashi. Hal ini berarti pemberian arang akan lebih efektif jika dibarengi dengan pupuk. Arang mampu menyerap semua unsur hara, lalu menyimpannya dan memberikannya pada akar tanaman jika unsur hara sudah tidak tersedia lagi karena secara morfologi arang memiliki pori yang efektif untuk mengikat dan menyimpan hara tanah. Kondisi ini akan merangsang pertumbuhan akar sehingga penyerapan hara akan lebih efektif (Gusmailina et al. 2003), serta ada hubungannya dengan membaiknya aerasi media dan ketersediaan unsur hara sehingga akan lebih memacu pertumbuhan. Sejalan dengan hal tersebut, hasil penelitian Siregar (2004) menunjukkan pemberian arang sebanyak 10% dapat meningkatkan pertambahan tinggi, diameter, berat kering total dan nisbah pucuk akar tanaman pada umur 2, 4, dan 6 bulan pada anakan mangium. Hasil penelitian Faridah (1996) menyimpulkan bahwa pemberian arang sebanyak 10% berpengaruh positif terhadap pertumbuhan awal tinggi semai tanaman kapur (Dryobalanops spp.).

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan

1. Penambahan arang tempurung kelapa dan bokashi pupuk kandang ke media

tailing dapat meningkatkan secara nyata pertumbuhan bibit E. deglupta jika dibandingkan dengan kontrol. Peningkatan konsentrasi arang sampai dengan 10% dan bokashi pupuk kandang sampai dengan 60 gram, memberikan pengaruh yang baik guna memperbaiki pertumbuhan bibit E. deglupta. 2. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa aplikasi arang tempurung kelapa

pada konsentrasi 10% dan bokashi pupuk kandang pada konsentrasi 60 gram mampu memperbaiki ketersediaan hara di tailing.

5.2 Saran

1. Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut untuk menguji pengaruh perlakuan terhadap bibit setelah ditanam dilapangan.

2. Adanya informasi umur tailing dan pengukuran kadar air tailing secara kuantitatif sebelum dijadikan media tanam.

22

DAFTAR PUSTAKA

Boul SW, Hole FD, Mc-Cracken RJ. 1981. Soil Genesis Classification. Iowa: Iowa State University Press.

Darmawan J, Justika SB. 1983. Dasar-dasar Fisiologi Tanaman. Semarang: Suryandaru Utama.

Djatmiko B, Ketaren S, Setyahartini S. 1985. Pengolahan Arang dan Kegunaannya. Bogor: Agro Industri Press.

Faridah E. 1996. Pengaruh intensitas cahaya, mikoriza dan serbuk arang pada pertumbuhan awal Dryobalanops spp. Buletin Fakultas Kehutanan UGM

(29):14–26.

Fauziah AB. 2009. Pengaruh asam humat dan kompos aktif untuk memperbaiki sifat tailing dengan indikator pertumbuhan tinggi semai Enterolobium cyclocarpum Griseb dan Altingia excelsa Noronhae [skripsi]. Bogor: Fakultas Kehutanan, Institut Pertanian Bogor.

Gusmailina, Pari G, Komaryati S. 2003. Pengembangan penggunaan arang untuk rehabilitasi lahan. Buletin Penelitian dan Pengembangan Kehutanan 4 (1):21–30.

Hendromono. 1987. Pertumbuhan dan mutu bibit Acacia mangium Willd,

Eucalyptus deglupta Blume pada tujuh macam medium yang diberi kapur [tesis]. Bogor: Program Pascasarjana, Institut Pertanian Bogor.

Ketaren S. 1986. Pengantar Teknologi Minyak dan Lemak Pangan. Jakarta: UI Press.

Lewenussa A. 2009. Pengaruh mikoriza dan bio-organik terhadap pertumbuhan bibit Cananga odorata (Lamk) Hook. fet & Thoms [skripsi]. Bogor: Fakultas Kehutanan, Institut Pertanian Bogor.

Nasir. 2008. Teknik pembuatan bokashi. [terhubung berkala]. http://www.deptan.go.id/daerah_new/banten.../artikel_13.html [8 Nopember 2011].

Nuryadin. 2009. Bokashi (Bahan Organik Kaya Akan Sumber Hayati). [terhubung berkala]. http://featikabsinjai.blogspot.com/.../bokashi_bahan- organik-kaya-akan-sumber-hayati.html [8 Nopember 2011].

Pristyaningrum A. 2010. Pengaruh dosis pupuk NPK dan bokashi terhadap pertumbuhan jabon (Anthocephalus cadamba Roxb Miq.) [skripsi]. Bogor: Fakultas Kehutanan, Institut Pertanian Bogor.

Purwani J, Prihatini T, Kentjanasari A, Hidayat R. 1998. Pengaruh jenis bokashi terhadap kandungan unsur hara tanah, populasi mikroba, dan hasil padi di lahan sawah. Di dalam: Prosiding Pertemuan Pembahasan dan Komunikasi Hasil Penelitian Tanah dan Agroklimat, Bidang Kimia dan Biologi Tanah; Bogor, 10–12 Feb 1998. Bogor: Pusat Penelitian Tanah dan Agroklimat, Balitbang Pertanian, Departemen Pertanian. hlm 251–262.

[PPT] Pusat Penelitian Tanah. 1983. Klasifikasi kesesuaian lahan, proyek penelitian pertanian menunjang transmigrasi No. 29b/1983. Bogor: Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, Departemen Pertanian.

Setyaningsih, H. 1995. Pengolahan limbah batik dalam proses kimia dan adsorpsi karbon aktif [tesis]. Jakarta: Program Pascasarjana, Universitas Indonesia.

Siregar CA, Ika H, Miyakuni K. 2003. Preliminary study on the effect of charcoal application on the early growth of Acacia mangium, Pinus merkusii

and Shorea leprosula. ForResBull 634:27–40.

Siregar CA. 2004. Pemanfaatan arang untuk memperbaiki kesuburan tanah dan pertumbuhan Acacia mangium. Di dalam: Prosiding Ekspose Penerapan Hasil Litbang Hutan dan Konservasi Alam; Palembang, 15 Des 2004. Palembang: Kelompok Peneliti Konservasi Tanah dan Air. hlm 15–23. Sitompul SM, Guritno B. 1995. Analisis Pertumbuhan Tanaman. Yogyakarta:

Gadjah Mada University Press.

Suhaendi H, Djapilus A. 1978. Pemilihan jenis-jenis Eucalyptus dalam usaha reboisasi dan prospek pengembangannya di daerah-daerah. Lembaran Pengembangan No. 2. Bogor: Badan Penelitian dan Pengembangan Kehutanan, Departemen Kehutanan.

Tirta IG. 2006. Pengaruh beberapa jenis media tanam dan pupuk daun terhadap pertumbuhan vegetatif anggrek jamrud (Dendrobium macrophyllum A. Rich.), UPT Balai Konservasi Tumbuhan Kebun Raya “Eka Karya” Bali. Tabanan: LIPI.

Webb DD, Wood PJ, Smith J, Henman. 1984. A guide to species selection for tropical and sub-tropical plantations. Department of Forestry, Commonwealth Forestry Institute, University Oxpord. London. Trop Forest. Paper No. 15.

Wibisono HS. 2009. Pemanfaatan (Mhbs) dan fungi mikoriza arbuskula (FMA) untuk meningkatkan pertumbuhan semai gmelina (Gmelina arborea Roxb) [skripsi]. Bogor: Fakultas Kehutanan, Institut Pertanian Bogor.

24

Widiastuti T. 2011. Karakteristik tanah untuk tanaman Eucalyptus deglupta pada lahan PT. Finantara Intiga Sintang. Jurnal Fahutan Tanjungpura:13–20. [terhubung berkala]. http://jurnal.untan.ac.id/index.php/tengkawang/article/ view/128.html [29 April 2012].

26

Lampiran 1 Hasil sidik ragam pengaruh pemberian arang tempurung kelapa dan bokashi pupuk kandang terhadap pertumbuhan bibit E. deglupta

A.Tinggi SK Db JK KT F hit P sig Arang 4 1260,206 315,051 15,414 0,000* Bokashi 3 392,368 130,789 6,399 0,001* Arang*Bokashi 12 548,722 45,727 2,237 0,028* Sisa 40 817,593 20,440 Total 60 37200,730

* = Perlakuan berpengaruh nyata pada taraf uji 95%, tn = Perlakuan tidak berpengaruh nyata

B.Diameter SK Db JK KT F hit P sig Arang 4 0,019 0,005 5,284 0,002* Bokashi 3 0,012 0,004 4,294 0,010* Arang*Bokashi 12 0,017 0,001 1,611 0,127tn Sisa 40 0,036 0,001 Total 60 1,106

* = Perlakuan berpengaruh nyata pada taraf uji 95%, tn = Perlakuan tidak berpengaruh nyata

C.Berat basah total

SK Db JK KT F hit P sig Arang 4 138,660 34,665 14,885 0,000* Bokashi 3 21,977 7,326 3,146 0,036* Arang*Bokashi 12 117,290 9,774 4,197 0,000* Sisa 40 93,156 2,329 Total 60 12230,974

* = Perlakuan berpengaruh nyata pada taraf uji 95%, tn = Perlakuan tidak berpengaruh nyata

D.Berat kering total

SK Db JK KT F hit P sig Arang 4 5,677 1,419 6,260 0,001* Bokashi 3 1,297 0,432 1,907 0,144tn Arang*Bokashi 12 4,020 0,335 1,477 0,173tn Sisa 40 9,069 0,227 Total 60 2352,328

* = Perlakuan berpengaruh nyata pada taraf uji 95%, tn = Perlakuan tidak berpengaruh nyata

E. Nisbah pucuk akar

SK Db JK KT F hit P sig Arang 4 1816,478 454,120 0,303 0,874tn Bokashi 3 909,144 303,048 0,202 0,894tn Arang*Bokashi 12 10494,156 874,513 0,584 0,842tn Sisa 40 59865,356 1496,634 Total 60 4575648,090

* = Perlakuan berpengaruh nyata pada taraf uji 95%, tn = Perlakuan tidak berpengaruh nyata

Lampiran 2 Hasil uji lanjut Duncan pengaruh pemberian arang tempurung kelapa dan bokashi pupuk kandang terhadap pertumbuhan bibit E. deglupta

A.Arang tempurung kelapa

Arang Parameter

Tinggi (cm) Diameter (cm) BB Total (g) BK Total (g)

A0 (0%) 18,63d 0,105c 12,036c 5,767b

A1 (2,5%) 20,23cd 0,119bc 12,658c 5,977b

A2 (5%) 22,69bc 0,135ab 14,242b 6,393a

A3 (7,5%) 26,41b 0,135ab 15,358ab 6,494a

A4 (10%) 31,38a 0,158a 16,003a 6,543a

Nilai yang diikuti huruf yang sama pada kolom yang sama menunjukkan tidak berbeda nyata pada uji Duncan taraf 95%

B.Bokashi pupuk kandang

Bokashi Parameter

Tinggi (cm) Diameter (cm) BB Total (g)

B0 (0 g) 21,31b 0,112b 13,241b

B1 (20 g) 21,95b 0,126b 13,778ab

B2 (40 g) 24,39b 0,133ab 14,374ab

B3 (60 g) 27,83a 0,151a 14,845a

Nilai yang diikuti huruf yang sama pada kolom yang sama menunjukkan tidak berbeda nyata pada uji Duncan taraf 95%

C.Interaksi arang tempurung kelapa dan bokashi pupuk kandang

Interaksi Arang x Bokashi Rataan Tinggi (cm) Rataan BB Total (g)

A0B0 18,07fg 13,81cdef

A0B1 18,77fg 10,00g

A0B2 14,87g 13,98cdef

A0B3 22,80cdefg 10,35g

A1B0 14,87g 11,39fg

A1B1 25,67cdef 12,41efg

A1B2 19,67efg 12,87defg

A1B3 20,73defg 13,96cdef

A2B0 22,17defg 13,58cdef

A2B1 17,13fg 15,04bcde

A2B2 22,57cdefg 12,07fg

A2B3 28,90bcd 16,27abc

A3B0 22,77cdefg 12,39efg

A3B1 24,10cdef 15,37abcd

A3B2 27,77bcde 15,59abcd

A3B3 31,00abc 18,08a

A4B0 28,70bcd 15,03bcde

A4B1 24,07cdef 16,06abc

A4B2 37,07a 17,35ab

A4B3 35,70ab 15,57abcd

Nilai yang diikuti huruf yang sama pada kolom yang sama menunjukkan tidak berbeda nyata pada uji Duncan taraf 95%

28

Lampiran 3 Hasil analisis unsur hara pengaruh pemberian arang tempurung kelapa dan bokashi pupuk kandang terhadap media yang digunakan

26

Lampiran 1 Hasil sidik ragam pengaruh pemberian arang tempurung kelapa dan bokashi pupuk kandang terhadap pertumbuhan bibit E. deglupta

A.Tinggi SK Db JK KT F hit P sig Arang 4 1260,206 315,051 15,414 0,000* Bokashi 3 392,368 130,789 6,399 0,001* Arang*Bokashi 12 548,722 45,727 2,237 0,028* Sisa 40 817,593 20,440 Total 60 37200,730

* = Perlakuan berpengaruh nyata pada taraf uji 95%, tn = Perlakuan tidak berpengaruh nyata

B.Diameter SK Db JK KT F hit P sig Arang 4 0,019 0,005 5,284 0,002* Bokashi 3 0,012 0,004 4,294 0,010* Arang*Bokashi 12 0,017 0,001 1,611 0,127tn Sisa 40 0,036 0,001 Total 60 1,106

* = Perlakuan berpengaruh nyata pada taraf uji 95%, tn = Perlakuan tidak berpengaruh nyata

C.Berat basah total

SK Db JK KT F hit P sig Arang 4 138,660 34,665 14,885 0,000* Bokashi 3 21,977 7,326 3,146 0,036* Arang*Bokashi 12 117,290 9,774 4,197 0,000* Sisa 40 93,156 2,329 Total 60 12230,974

* = Perlakuan berpengaruh nyata pada taraf uji 95%, tn = Perlakuan tidak berpengaruh nyata

D.Berat kering total

SK Db JK KT F hit P sig Arang 4 5,677 1,419 6,260 0,001* Bokashi 3 1,297 0,432 1,907 0,144tn Arang*Bokashi 12 4,020 0,335 1,477 0,173tn Sisa 40 9,069 0,227 Total 60 2352,328

* = Perlakuan berpengaruh nyata pada taraf uji 95%, tn = Perlakuan tidak berpengaruh nyata

E. Nisbah pucuk akar

SK Db JK KT F hit P sig Arang 4 1816,478 454,120 0,303 0,874tn Bokashi 3 909,144 303,048 0,202 0,894tn Arang*Bokashi 12 10494,156 874,513 0,584 0,842tn Sisa 40 59865,356 1496,634 Total 60 4575648,090

* = Perlakuan berpengaruh nyata pada taraf uji 95%, tn = Perlakuan tidak berpengaruh nyata

Lampiran 2 Hasil uji lanjut Duncan pengaruh pemberian arang tempurung kelapa dan bokashi pupuk kandang terhadap pertumbuhan bibit E. deglupta

A.Arang tempurung kelapa

Arang Parameter

Tinggi (cm) Diameter (cm) BB Total (g) BK Total (g)

A0 (0%) 18,63d 0,105c 12,036c 5,767b

A1 (2,5%) 20,23cd 0,119bc 12,658c 5,977b

A2 (5%) 22,69bc 0,135ab 14,242b 6,393a

A3 (7,5%) 26,41b 0,135ab 15,358ab 6,494a

A4 (10%) 31,38a 0,158a 16,003a 6,543a

Nilai yang diikuti huruf yang sama pada kolom yang sama menunjukkan tidak berbeda nyata pada uji Duncan taraf 95%

B.Bokashi pupuk kandang

Bokashi Parameter

Tinggi (cm) Diameter (cm) BB Total (g)

B0 (0 g) 21,31b 0,112b 13,241b

B1 (20 g) 21,95b 0,126b 13,778ab

B2 (40 g) 24,39b 0,133ab 14,374ab

B3 (60 g) 27,83a 0,151a 14,845a

Nilai yang diikuti huruf yang sama pada kolom yang sama menunjukkan tidak berbeda nyata pada uji Duncan taraf 95%

C.Interaksi arang tempurung kelapa dan bokashi pupuk kandang

Interaksi Arang x Bokashi Rataan Tinggi (cm) Rataan BB Total (g)

A0B0 18,07fg 13,81cdef

A0B1 18,77fg 10,00g

A0B2 14,87g 13,98cdef

A0B3 22,80cdefg 10,35g

A1B0 14,87g 11,39fg

A1B1 25,67cdef 12,41efg

A1B2 19,67efg 12,87defg

A1B3 20,73defg 13,96cdef

A2B0 22,17defg 13,58cdef

A2B1 17,13fg 15,04bcde

A2B2 22,57cdefg 12,07fg

A2B3 28,90bcd 16,27abc

A3B0 22,77cdefg 12,39efg

A3B1 24,10cdef 15,37abcd

A3B2 27,77bcde 15,59abcd

A3B3 31,00abc 18,08a

A4B0 28,70bcd 15,03bcde

A4B1 24,07cdef 16,06abc

A4B2 37,07a 17,35ab

A4B3 35,70ab 15,57abcd

Nilai yang diikuti huruf yang sama pada kolom yang sama menunjukkan tidak berbeda nyata pada uji Duncan taraf 95%

28

Lampiran 3 Hasil analisis unsur hara pengaruh pemberian arang tempurung kelapa dan bokashi pupuk kandang terhadap media yang digunakan

iii ERIK KURBANIANA. Efektifitas Arang Tempurung Kelapa dan Bokashi Pupuk

Kandang terhadap Pertumbuhan Bibit Leda (Eucalyptus deglupta Blume) di

Media Tailing. Dibimbing oleh BASUKI WASIS.

Pengungkapan potensi hidup Eucalyptus deglupta di tailing belum banyak

dilakukan, dimana tailing merupakan limbah hasil pengolahan tambang yang

berpotensi menurunkan tingkat kesuburan tanah sehingga tanaman sulit untuk

tumbuh, sedangkan Eucalyptus deglupta merupakan fast growing species yang

memiliki sifat berbanding terbalik dengan tailing, contohnya kesuburan tanah.

Penambahan arang tempurung kelapa dan bokashi pupuk kandang diharapkan

dapat meningkatkan kualitas tailing sebagai media tanam dalam rangka

meningkatkan pertumbuhan Eucalyptus deglupta. Penelitian ini dilakukan untuk

menganalisis pengaruh pemberian arang tempurung kelapa dan bokashi pupuk

kandang terhadap pertumbuhan bibit leda (Eucalyptus deglupta Blume), serta

memperoleh informasi mengenai keefektifannya sebagai pembangun kesuburan

tanah pada media tailingtambang emas.

Penelitian dilaksanakan di rumah kaca bagian Silvikultur dan laboratorium pengaruh hutan Fakultas Kehutanan IPB, dengan lokasi pengambilan sampel

tailing dilakukan di PT. Antam UPBE Pongkor dan analisis unsur hara dilakukan

di laboratorium Departemen Ilmu Tanah dan Sumberdaya Lahan Fakultas Pertanian IPB. Penelitian ini menggunakan metode eksperimen dengan rancangan acak lengkap (RAL) pola faktorial, faktor pertama arang tempurung kelapa, yaitu: Tidak diberi arang (A0), Arang 2,5% (A1), Arang 5% (A2), Arang 7,5% (A3), dan Arang 10% (A4); faktor kedua bokashi pupuk kandang, yaitu: Tidak diberi bokashi (B0), Bokashi 20 g (B1), Bokashi 40 g (B2), dan Bokashi 60 g (B3). Masing-masing perlakuan diulang sebanyak 3 kali. Analisis data dilakukan secara deskriptif dengan parameter pengukuran tinggi, diameter, berat basah total, berat

kering total dan nisbah pucuk akar bibit Eucalyptus deglupta yang telah

ditumbuhkan selama 3 bulan.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan arang tempurung kelapa sampai dengan 10% dan bokashi pupuk kandang sampai dengan 60 gram ke

media tailing dapat meningkatkan secara nyata tinggi, diameter, berat basah total,

dan berat kering total bibit Eucalyptus deglupta, namun tidak dapat meningkatkan

secara nyata nilai nisbah pucuk akar. Penambahan arang tempurung kelapa dan

bokashi pupuk kandang juga mampu memperbaiki ketersediaan hara di tailing.

Kata kunci: tailing, Eucalyptus deglupta, arang tempurung kelapa, bokashi pupuk

iv

SUMMARY

ERIK KURBANIANA. Effectiveness of Coconut Shells Charcoal and Bokashi

Manure on the Growth of Leda (Eucalyptus deglupta Blume) Seedling at Tailing

Medium. Supervised by BASUKI WASIS.

The disclosure a potential life of Eucalyptus deglupta at tailings has not

been much done, where tailings are result of processing mine waste that could potentially reduce of soil fertility rates so that the plant is difficult to grow, while

Eucalyptus deglupta is a fast growing species which have properties inversely

proportional to tailings, such as soil fertility. The addition of coconut shell charcoal and bokashi manure expected to increase the the quality of tailings as a

growing medium in order to increase growth of Eucalyptus deglupta. Research

was conducted to analyzing effect of giving coconut shell charcoal and bokashi

manure on the growth of Leda (Eucalyptus degluptaBlume) seedling, and obtain

a information about their effectiveness as a soil fertility builders on gold mine tailings medium.

Research conducted in the Silviculture greenhouse and forest of influence laboratory Faculty of Forestry IPB, with the location of tailings sampling conducted at PT. Antam UPBE Pongkor and nutrient analysis conducted in Department of Soil Science and Land Resources laboratory Faculty of Agriculture, IPB. This research uses an experimental method with a completely randomized design (CRD) factorial pattern, the first factor of coconut shell charcoal, that is: Not given charcoal (A0), 2,5% charcoal (A1), 5% charcoal (A2), 7,5% charcoal (A3), and 10% charcoal (A4); the second factor of bokashi manure, that is: Not rated bokashi (B0), 20 g bokashi (B1), 40 g bokashi (B2), and 60 g bokashi (B3). Each treatment was repeated as many as 3 replication. Descriptive data analysis done by measuring the parameters height, diameter, total wet weight,

total dry weight, ratio of top and root of Eucalyptus deglupta seedling that have

grown during 3 months.

The results showed that the addition of coconut shell charcoal up to 10% and bokashi manure up to 60 grams into tailings medium can significantly

increase high, diameter, total wet weight and total dry weight of Eucalyptus

deglupta seedling, but could not significantly increase value of the top and root

ratio. The addition of coconut shell charcoal and bokashi manure also able to improve nutrient availability at tailings.

Dokumen terkait