HASIL DAN PEMBAHASAN Kondisi PPI Paotere Makassar
1) Analisis usaha perikanan pancin g (Analisis pendapatan
pendapatan bersih dari tiga alat tangkap lainnya sehingga pada aspek sosial ini dapat disimpulkan bahwa alat tangkap purse seine lebih baik dibandingkan alat tangkap pancing, gill net dan bubu.
Pengelola PPI Paotere memiliki program unggulan terkait pembinaan nelayan dan organisasi nelayan yang dilakukan secara rutin dan berkesinambungan. Program tersebut berjalan lancar berkat adanya kerjasama yang baik antara pengelola PPI dan dukungan yang positif dari nelayan sehingga program-program yang direncanakan dapat terlaksana dengan baik. Adapun kegiatan-kegiatan yang dilakukan adalah sebagai berikut:
1) Mengadakan pertemuan setiap satu bulan sekali antara pengelola PPI dengan pengurus Koperasi Insan Perikanan dan ketua kelompok nelayan dalam rangka membahas tentang kemungkinan adanya hambatan yang dialami selama pelaksanaan program dan mencari solusi bersama-sama dari masalah yang dihadapi;
2) Mengadakan pertemuan dengan anggota koperasi dan kerukunan nelayan setiap tiga bulan sekali dengan tujuan mengevaluasi kegiatan nelayan sekaligus memberikan bimbingan dalam meningkatakan kegiatan usaha yang telah berjalan;
3) Mengadakan pelatihan keterampilan juru mudi kapal perikanan setiap satu tahun sekali dengan mengikutsertakan taruna nelayan sebagai peserta pelatihan. Kegiatan ini merupakan kerjasama yang dilakukan oleh Syahbandar Makassar dengan Dinas Perikanan dan Kelautan Provinsi Sulawesi Selatan; dan
4) Mengikutsertakan pengurus/karyawan koperasi dalam kegiatan pelatihan tentang perkoperasian yang dilaksanaan oleh pengurus koperasi baik di daerah maupun di pusat.
Aspek Ekonomi
1) Analisis usaha perikanan pancing (1) Analisis pendapatan
Analisis pendapatan merupakan analisis yang digunakan untuk menentukan pendapatan yang diperoleh. Nilai tersebut diperoleh dengan cara mengurangi total pemasukan terhadap total pengeluaran. Total penerimaan yang diperoleh sebesar Rp 69.234.038 dan total pengeluaran sebesar Rp 18.293.026 diperoleh keuntungan sebesar Rp 50.941,01
(2) Analisis investasi
Analisis investasi ini terdiri dari arus masuk (inflow) dan arus keluar (outflow), dimana inflow merupakan semua pemasukan yang menjadi nilai tambah suatu usaha sedangkan outflow merupakan semua biaya/beban yang mengurangi nilai suatu usaha. Agar dapat diketahui apakah usaha tersebut layak atau tidak maka dapat dilihat dari nilai NPV, Net B/C dan IRR yang telah dihitung.
Tabel 8 Hasil perhitungan cash flow usaha perikanan pancing di PPI Paotere Makassar
No Kriteria Investasi Jumlah
1 NPV 181,960,624.84
2 Net B/C 6.58
3 IRR 146%
18
Berdasarkan Tabel 8 diketahui bahwa NPV sebesar Rp 181.960.624,84, artinya nilai saat ini dari keuntungan yang diperoleh selama umur proyek 5 tahun dimasa yang akan datang adalah Rp 181.960.624,84. Net B/C sebesar 6.58 itu artinya setiap satu rupiah biaya yang dikeluarkan akan menghasilkan penerimaan sebesar 6 rupiah 58 sen selama umur proyek 5 tahun dengan suku bunga sebesar 6%. IRR sebesar 146% artinya usaha tersebut dapat memberikan tingkat pengembalian sebesar 146% per tahun dari seluruh investasi yang ditanamkan selama umur proyek 5 tahun. Melihat hasil perhitungan kriteria investasi pada tabel di atas dapat disimpulkan bahwa usaha perikanan pancing ini layak untuk dikembangkan.
(3) Analisis usaha perikanan gill net (1) Analisis pendapatan
Analisis pendapatan merupakan analisis yang digunakan untuk menentukan pendapatan yang diperoleh. Nilai tersebut diperoleh dengan cara mengurangi total pemasukan terhadap total pengeluaran. Total penerimaan yang diperoleh sebesar Rp 37.233.333 dan total pengeluaran sebesar Rp 459.885.333 diperoleh kerugian sebesar Rp 422.652.000.
(2) Analasis investasi
Analisis investasi ini terdiri dari arus masuk (inflow) dan arus keluar (outflow), dimana inflow merupakan semua pemasukan yang menjadi nilai tambah suatu usaha sedangkan outflow merupakan semua biaya/beban yang mengurangi nilai suatu usaha. Agar dapat diketahui apakah usaha tersebut layak atau tidak maka dapat dilihat dari nilai NPV, Net B/C dan IRR yang telah dihitung.
Berdasarkan Tabel 9 diketahui bahwa NPV sebesar -2.236.859.575,87 artinya nilai saat ini dari keuntungan yang diperoleh selama umur proyek 5 tahun dimasa yang akan datang adalah Rp -2.236.859.575,87 atau dengan kata lain mengalami kerugian sebesar 2.236.859.575,87. Pada perhitungan Net B/C dan IRR diperlukan nilai NPV+, namun pada cashflow perikanan gill net ini tidak menghasilkan nilai NVP+ sehingga nilai Net B/C dan IRR nya tidak bisa dihitung. Melihat hasil perhitungan kriteria investasi pada tabel di atas dapat disimpulkan bahwa usaha perikanan gill net ini tidak layak untuk dikembangkan.
(3) Analisis usaha perikanan bubu (1) Analisis pendapatan
Analisis pendapatan merupakan analisis yang digunakan untuk menentukan pendapatan yang diperoleh. Nilai tersebut diperoleh dengan cara mengurangi total pemasukan terhadap total pengeluaran. Total penerimaan yang Tabel 9 Hasil perhitungan cash flow usaha perikanan gill net di PPI Paotere
Makassar
No Kriteria investasi Jumlah
1 NPV -2.236.859.575,87
2 Net B/C -
3 IRR -
19
diperoleh sebesar Rp 37.570.000 dan total pengeluaran sebesar Rp 81.184.000 diperoleh kerugian sebesar Rp 43.614.000.
(2) Analisis investasi
Analisis investasi ini terdiri dari arus masuk (inflow) dan arus keluar (outflow), dimana inflow merupakan semua pemasukan yang menjadi nilai tambah suatu usaha sedangkan outflow merupakan semua biaya/beban yang mengurangi nilai suatu usaha. Agar dapat diketahui apakah usaha tersebut layak atau tidak maka dapat dilihat dari nilai NPV, Net B/C dan IRR yang telah dihitung.
Berdasarkan Tabel 10 diketahui bahwa NPV sebesar Rp -282.872.751,12, artinya nilai saat ini dari keuntungan yang diperoleh selama umur proyek 5 tahun dimasa yang akan datang adalah Rp -282.872.751,12 atau dengan kata lain mengalami kerugian sebesar Rp 282.872.751,12, Pada perhitungan Net B/C dan IRR diperlukan nilai NPV+, namun pada cashflow perikanan bubu ini tidak menghasilkan nilai NVP+ sehingga nilai Net B/C dan IRR nya tidak bisa dihitung. Melihat hasil perhitungan kriteria investasi pada tabel di atas dapat disimpulkan bahwa usaha perikanan bubu ini tidak layak untuk dikembangkan.
(3) Analisis usaha perikanan purse seine (1) Analisis pendapatan
Analisis pendapatan merupakan analisis yang digunakan untuk menentukan pendapatan yang diperoleh. Nilai tersebut diperoleh dengan cara mengurangi total pemasukan terhadap total pengeluaran. Total penerimaan yang diperoleh sebesar Rp 7.762.000.000 dan total pengeluaran sebesar Rp 142.171.181 diperoleh keuntungan sebesar Rp 7.619.828.819
(2) Analisis investasi
Analisis investasi ini terdiri dari arus masuk (inflow) dan arus keluar (outflow), dimana inflow merupakan semua pemasukan yang menjadi nilai tambah suatu usaha sedangkan outflow merupakan semua biaya/beban yang mengurangi nilai suatu usaha. Agar dapat diketahui apakah usaha tersebut layak atau tidak maka dapat dilihat dari nilai NPV, Net B/C dan IRR yang telah dihitung.
Tabel 11 Hasil perhitungan cash flowusaha perikanan purse seine di PPI Paotere Makassar
No Kriteria Investasi Jumlah
1 NPV 31.777.046.458,99
2 Net B/C 100,17
3 IRR 2.243%
Sumber: Data primer diolah (2013)
Tabel 10 Hasil perhitungan cash flowusaha perikanan bubu di PPI Paotere Makassar
No Kriteria Investasi Jumlah
1 NPV -282.872.751,12
2 Net B/C -
3 IRR -
20
Berdasarkan Tabel 11 diketahui bahwa NPV sebesar Rp 31.777.046.458,99 artinya nilai saat ini dari keuntungan yang diperoleh selama umur proyek 5 tahun dimasa yang akan datang adalah Rp 31.777.046.458,99. Net B/C sebesar 100,17 itu artinya setiap satu rupiah biaya yang dikeluarkan akan menghasilkan penerimaan sebesar 100 rupiah 17 sen selama umur proyek 5 tahun dengan suku bunga sebesar 6%. IRR sebesar 2.243% artinya usaha tersebut dapat memberikan tingkat pengembalian sebesar 2.243% per tahun dari seluruh investasi yang ditanamkan selama umur proyek 5 tahun. Melihat hasil perhitungan kriteria investasi pada tabel di atas dapat disimpulkan bahwa usaha perikanan purse seine ini layak untuk dikembangkan.
Tabel 12 Skoring dan standarisasi fungsi nilai aspek ekonomi Unit Penangkapan Kriteria penilaian X1 V1(X1) X2 V2(X2) VA4 UP Pancing 69.234.038 0,00414 18.293.026 0 0,004143 4 Gillnet 37.233.333 0 459.885.333 1,000000 1,000000 2 Bubu 37.570.000 0,00004 81.184.000 0,142419 0,142462 3 Purse seine 7.762.000,000 1,00000 142.171181 0,280526 1,280526 1
Sumber : Data primer diolah (2013) Keterangan:
X1 = Penerimaan nelayan (Rp)
X2 = Pengeluaran nelayan (Rp)
V(A) = Fungsi nilai dari alternatif A, yaitu jumlah dari Vi(Xi)
UP = Urutan prioritas
Berdasarkan metode skoring terhadap aspek ekonomi yang dilakukan terhadap penerimaan nelayan (X1) dan pengeluaran nelayan (X2) dari masing-masing alat tangkap diketahui bahwa alat tangkap purse seine merupakan alat tangkap yang paling baik dibandingkan ketiga alat tangkap lainnya. Hal ini dibuktikan dengan penerimaan nelayan purse seine mencapai Rp 7.762.000.000 dengan pengeluaran Rp 142.171.181 sehingga nelayan tersebut memperoleh keuntungan yang cukup besar yaitu Rp 7.619.828.819.
Berdasarkan analisis usaha yang telah dilakukan diketahui bahwa alat tangkap pancing dan purse seine merupakan alat tangkap yang layak untuk dikembangkan. Hal ini terlihat dari analisis ekonomi yang telah dilakukan terhadap alat tangkap tersebut. Nilai NPV alat tangkap pancing adalah Rp 181.960.624,84 itu artinya usaha ini memberikan keuntungan sebesar Rp 181.960.624,84 dimasa yang akan datang. Nilai Net B/C yang dihasilkan sebesar 6,58 yang artinya usaha ini layak untuk dilakukan karena usaha ini akan menghasilkan manfaat sebesar 6 rupiah 58 sen setiap mengeluarkan biaya satu rupiah. IRR yang dihasilkan mencapai 146% itu artinya usaha ini mampu memberikan pengembalian sebesar 146% dari investasi yang dikeluarkan selama umur proyek 5 tahun.
Nilai NPV yang diperoleh oleh alat tangkap purse seine Rp 31.777.046.458,99 berarti usaha ini menghasilkan keuntungan dimasa yang akan datang sebesar Rp 31.777.046.458,99. Nilai Net B/C yang dihasilkan lebih dari 1 yaitu100.17 sehingga usaha ini memberikan manfaat bersih sebesar 100 rupiah 17 sen setiap satu rupiah biaya yang dikeluarkan. Nilai IRR yang dihasilkan sebesar 2.243% sehingga usaha pada alat tangkap ini layak dilakukan karena dapat
21
memberikan tingkat pengembalian sebesar 2.243% per tahun selama umur proyek terhadap investasi yang dikeluarkan.
Bila dibandingkan dengan alat tangkap pancing, alat tangkap purse seine lebih banyak memberikan keuntungan. Apabila melihat nilai pada kriteria analisis ekonominya maka alat tangkap purse seine memiliki keunggulan yang lebih bila dibandingkan dengan alat tangkap pancing. Meskipun kedua-dua nya merupakan alat tangkap yang layak untuk dikembangkan di PPI Paotere. Hal ini dapat terjadi dikarenakan alat tangkap purse seine memiliki efektifitas yang jauh lebih tinggi dibandingkan dengan alat tangkap lainnya. Konstruksi alat yang membentuk mangkuk membuat ikan-ikan yang masuk tidak bisa melompat atau melarikan diri dari dalam jaring. Selain itu ukurannya yang besar dan mata jaring yang lebih kecil membuat alat tangkap purse seine bisa menangkap gerombolan ikan yang jauh lebih banyak dari ketiga alat tangkap lainnya.
Berbeda dengan dua alat tangkap sebelumnya, berdasarkan analisis ekonomi yang telah dilakukan maka alat tangkap gill net dan bubu merupakan alat tangkap yang tidak layak untuk dikembangkan di PPI Paotere. Hal ini ditunjukkan dengan nilai kriteria analisis. Alat tangkap gill net memiliki nilai NPV Rp -2.236.859.575,87, itu artinya alat tangkap ini tidak mampu memberikan keuntungan dimasa yang akan datang bahkan alat tangkap ini mengalami kerugian sebesar Rp 2.236.859.575,87. Selain itu nilai Net B/C dan IRR nya tidak bisa dihitung dikarenakan untuk menghitung dua kriteria tersebut (Net B/C dan IRR) diperlukan nilai PV+ sedangkan pada alat tangkap gill net semua PV nya bernilai negatif (lihat dilampiran). Selain gill net masih ada alat tangkap yang tidak layak untuk dikembangkan di PPI Paotere yaitu alat tangkap bubu. Pada alat tangkap ini memiliki NPV yang bernilai Rp -282.872.751,12. Itu artinya alat tangkap bubu tidak mendatangkan keuntungan dimasa yang akan datang bahkan mendatangkan kerugian sebesar -282.872.751,12. Sama dengan alat tangkap gill net, alat tangkap bubu ini tidak bisa menghitung nilai Net B/C dan IRR nya dikarenakan nilai PV yang dibutuhkan semua bernilai negatif, sedangkan untuk bisa menghitung dua kriteria tersebut dibutuhkan adanya nilai PV yang bernilai positif.
Analisis aspek biologi, aspek teknik, aspek sosial dan aspek ekonomi
Penilaian terhadap unit penangkapan ikan merupakan langkah yang ditempuh untuk mendapatkan alat tangkap apa yang potensial untuk dikembangakan di PPI Paotere Makassar. Hasil penilaian tersebut akan dijadikan masukan dalam rangka mengembangkan PPI Paotere Makassar baik dalam rangka meningkatkan produktivitas nelayan ataupun meningkatkan pendapatan nelayan serta menambah pendapatan asli daerah (PAD). Berdasarkan perhitungan metode skoring yang telah dilakukan terhadap aspek biologi, teknik, sosial dan ekonomi dari perikanan tangkap yang ada di PPI Paotere didapatkan bahwa total nilai fungsi alternatif V(A) dari alat tangkap pancing adalah 1,13, alat tangkap gill net adalah 3,78, alat tangkap bubu adalah 2,38 dan alat tangkap purse seine adalah 7,21. Berikut ini merupakan tabel dan grafik alat tangkap paling efektif yang ada di PPI Paotere Makassar.
22
Keterangan:
V(A)1 = Aspek biologi
V(A)2 = Aspek teknik
V(A)3 = Aspek sosial
V(A)4 = Aspek ekonomi
V(A) total = Fungsi nilai dari alternatif A, yaitu jumlah dari Vi(Xi)
UP = Urutan prioritas
Berdasarkan kriteria penilaian terhadap unit penangkapan ikan yang dianalisis dari aspek biologi, aspek teknik, aspek sosial dan aspek ekonomi diperoleh bahwa alat tangkap purse seine merupakan alat tangkap yang menjadi prioritas utama untuk dikembangkan di PPI Paotere dan yang kedua ialah alat tangkap gillnet, selanjutnya ialah alat tangkap pancing dan yang terakhir ialah alat tangkap bubu (Gambar 12).
Sistem pemasaran yang dilakukan di PPI Paotere merupakan sistem pemasaran terbuka, dimana produksi hasil tangkapan ikan dijual cash kepada koperasi. Selanjutnya koperasi tersebut menjual atau melelang langsung kepada pedagang atau pengusaha perikanan. Sistem pemasaran yang dilakukan di PPI Paotere bukan merupakan sistem lelang murni, sebab nelayan merasa sangat dirugikan dengan adanya sistem lelang tersebut sehingga nelayan mencoba dengan sistem pemasaran terbuka seperti yang dilakukan saat ini. Berikut ini Tabel 13 Skoring dan standarisasi fungsi nilai aspek biologi, teknik, sosial
dan ekonomi unit penangkapan ikan di PPI Paotere Makassar Unit Penangkapan
Ikan
Kriteria Penilaian
V(A)1 V(A)2 V(A)3 V(A)4 V(A) total UP
Pancing 0,00 0,63 0,25 0,25 1,13 4
Gill net 1,02 0,67 0,54 1,56 3,78 2
Bubu 0,13 1,00 0,56 0,69 2,38 3
Purse seine 1,61 1,00 1,50 3,11 7,21 1
Sumber: Data primer diolah (2013)
23
merupakan keuntungan yang dirasakan nelayan ketika menerapkan sistem lelang terbuka:
1) Pemasaran hasil produksinya cepat;
2) Kesegaran ikan dapat dipertahankan karena kapal yang membawa muatan langsung membongkar kapalnya;
3) Pengangkutan sampai ke TPI cukup praktis (tidak memakan banyak waktu);
4) Tidak melalui proses penimbangan karena nelayan sudah terbiasa dengan sistem basket; dan
5) Waktu pemasaran dilakukan 2 kali sehari dimulai dari pukul 06.00-12.00 dan 14.00-17.00. Apabila ikan yang dipasarkan tidak terjual habis maka ikan tersebut akan dijual keesokan harinya.
Musim paceklik di Makassar terjadi pada bulan Desember-Maret. Pada bulan tersebut nelayan melakukan operasi penangkapan ikan di pantai sebelah timur Makassar dan menjual hasil tangkapan tersebut di PPI Lappa yang terletak di Kabupaten Sinjai dan PPI Kajang yang terletak di Kabupaten Bulukumba. Hal ini disebabkan karena jarak DPI ke PPI Paotere sangat jauh sehingga dikhawatirkan mutu ikan akan menurun apabila dipasarkan di PPI Paotere. Meskipun pada saat itu harga pemasaran ikan di PPI Paotere cukup tinggi namun produksi yang dihasilkan PPI Paotere mengalami penurunan. Dalam mengantisipasi kebutuhan produksi yang semakin menurun maka PPI Paotere mendatangkan produksi ikan dari daerah luar kabupaten dan provinsi seperti Kabupaten Pangkep, Bone, Luwu, Sinjai, Bulukumba, dan Kendari Sulawesi Tenggara.
Aspek Perikanan Darat
Hasil perikanan darat yang didaratkan di PPI Paotere Makassar berasal dari Pangkep, Maros, Barru, Pare-Pare, Takalar, Bantaeng dan Bulukumba, namun wilayah yang paling banyak mensuplai hasil perikanannya ialah Kabupaten Pangkep. Pangkep merupakan wilayah dimana sebagian besar masyarakat di sana bekerja sebagai nelayan tambak. Ikan-ikan yang mereka tambak diantaranya ikan bandeng dan udang. Ikan bandeng merupakan ikan yang paling banyak di suplai ke PPI Paotere, jumlahnya mencapai 3 ton per hari. Rata-rata jumlah produksi ikan bandeng mencapai 937.500 kg/tahun dan rata-rata nilai produksi ikan bandeng mencapai Rp1.032.890.833/tahun. Ikan bandeng yang dijual langsung dari pemilik tambak bervariasi harga per kilogramnya, mulai dari Rp 12.000/4 ekor, Rp 15.000/3 ekor dan Rp 10.000/6 ekor. Namun ketika sudah sampai ke pasar harga ikan bandeng bisa mencapai Rp 10.000/ekor. Kabupaten Pangkep merupakan wilayah yang
Pembangunan perikanan darat khususnya budidaya tambak tidak hanya dilakukan untuk mencapai pertumbuhan fisik semata tetapi harus disertai peningkatan pendapatan bagi petani tambak. Peningkatan pendapatan petani tambak antara lain dengan kegiatan intensifikasi seperti pemanfaatan pupuk, penggunaan makanan tambahan, pemilihan nenar atau benur yang berkualitas baik (Sadjo 1990).
24
Perikanan darat menjadi salah satu aspek yang berpengaruh bagi aktivitas perikanan tangkap di PPI Paotere karena aspek ini menjadi penyeimbang perekonomian saat kondisi perikanan laut sedang menurun atau paceklik. Saat kondisi tersebut sebagian besar masyarakat akan beralih ke perikanan darat demi memenuhi kebutuhan konsumsi ikan.