BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
C. Analisis Wawancara Ketua Lingkungan Dan Teman Dekat
yakni dengan menggunakan alat media untuk menaati prokes pandemi dengan menampilkan perayaan ekaristi di TV, youtube, livestream lainnya.
8. Apa yang membuat anda tergerak dalam pelayanan di masa pandemi?
Pertanyaan terakhir ini penulis mendapatkan data sebagai berikut. Banyak hal menarik yang penulis perhatikan pada jawaban dari 10 informan. Ada dua informan yang sangat tergerak melakukan pelayanan dimasa pandemi ini. I4 misalnya, yang termotivasi karena pesan dari orang tuanya “Keadaan, karena masa pandemi banyak orang yang membutuhkan dan juga karena pesan dari orang tua untuk selalu memberi dan menolong orang”. Tiga informan lainnya tergerak karena motivasi mereka sebagai calon guru dan katekis yang wajib bertugas untuk mewartakan sabda Allah seperti I8 dengan tegas menjawab pertanyaan tersebut
“Karena prinsip saya sebagai calon katekis adalah untuk melayani.
Apapun situasinya tetap harus melayani”. Tergerak karena ajakan teman atau umat lingkungan untuk melayani dialami oleh dua informan seperti I3 yang diajak oleh umat untuk melakukan pelayanan di lingkungan gereja. Dari pertanyaan ini, penulis melihat banyak dari informan ini yang sangat tergerak untuk melakukan pelayanan dimasa pandemi, hampir semuanya baik karena motivasi, ajakan atau betul-betul niat dalam hati.
Hasil data dari wanwancara sebagai berikut: I11 dan I12 yang merupakan ketua lingkungan sama-sama mengatakan bahwa mahasiswa PENDIKKAT masih ikut terlibat dalam pelayanan di lingkungan. Itu dibuktikan dengan adanya praktek katekese SCP yang saat itu dilaksanankan oleh mahasiswa PENDIKKAT angkatan 2019. I12 juga mengatakan umat lingkungannya terbantu dengan pelayanan mahasiswa yang bukan hanya berkatekese tetapi juga membantu Pembinaan Iman Anak (PIA) dengan situasi yang terbatas akibat pandemi.
Walupun demikian I11 dan I12 melihat keaktifan mahasiswa PENDIKKAT tampak berkurang akibat pandemi, namum semangat pelayanan mereka masih tetap terlihat.
Hal yang sama juga di sampaikan oleh informan lainnya seperti I13, I14, dan I15 yang merupakan teman dekat dari mahasiswa. Mahasiswa PENDIKKAT angkatan 2019 masih terlibat dalam pelayanan dimasa pandemi ini. Baik itu berkateke di lingkungan, menjadi lektor di gereja maupun PIA. I13 bisa membuktikan keterlibatan mereka dengan melihat langsung dan juga melihat dari media sosial. Pada intinya penulis melihat bahwa mahasiwa tetap melakukan pelayanan dengan suasana yang terbatas. Bahkan teman dan ketua lingkungan juga mengatakan hal yang saya yang mana mahasiswa masih aktif dalam pelayanan.
2. Menurut pengalaman bapak/ibu, sejauh mana misa online berperan menyemangati bapak/ibu dalam melakukan kegiatan pelayanan Gereja (diakonia) dimasa pandemi Covid-19?
Penulis mendapatkan hasil data dari wawancara sebagai berikut: menurut I11 dan I12 yang merupakan ketua lingkungan sama-sama mengatakan perayaan ekaristi online terlihat biasa saja dan kurang efektif. Kurang memberikan semangat dan motivasi. Tetapi I12 dengan keterbatasan jarak dan harus mematuhi protokol masih tetap memberikan pelayanan “dengan situasi ini memberikan pelajaran bagi secara pribadi, meskipun dalam situasi terbatas tidak ada alas an untuk tidak melakukan peayanan khususnya mewartakan kabar gembira kepada siapapun”.
Sama halnya dengan I13 sampai dengan I15 meraka juga merasakan kurang bersemangat mengikuti perayaan ekaristi secara online. I15 kadang ikut misa kadang juga tidak, karena selalu kurang focus dalam mengikuti perayaan ekaristi online. I13 merasa hampa dengan mengikuti perayaan ekaristi online dalam kesendiriannya pada saat menatap laptop untuk mengikuti perayaan ekaristi secara online. Walaupun demikian tetap berdoa agar apndemi bisa berakhir dan dapat mengikuti perayaan Ekaristi secara offline kembali. Kesimpulannya ialah perayaan ekaristi online masih kurang efektif bagi para informan. Kurang focus dan kurang terbiasa misa online merupakan hal serupa yang juga di alami oleh mahasiswa PENDIKKAT 2019.
3. Menurut bapak/ibu apa perbedaan yang paling berkesan dari perayaan Ekaristi online dan offline?
Data hasil wawancara untuk pertanyaan nomer tiga sebagai berikut. I11 dan I15 yang merupakan ketua lingkungan sama-sama mengatakan lebih senang bekerja dan bertemu umat secara langsung pada saat perayaan Ekaristi offline.
Lebih aktif dan bersemangat. Sedangkan online lebih ada tantangannya karena harus betul-betul fokus, rindu bertemu umat secara langsung, dan juga kurang menghayati dan kurang adanya motivasi bahkan seperti menonton TV saja.
“Selama pandemi ini saya merasa bahwa mengikuti misa online ini seperti sedang menonton perayaan ekaristi yang disiarkan dalam TV”. [Lampiran 3:(16)].
Sama halnya dengan ketua lingkungan, para teman dekat dan keluarga juga kurang merasakan adanya perayaan Ekaristi Online. Lebih bersemangat untuk mengikuti misa secara langsung. Merindukan perjumpaan dengan Allah dengan perjumpaan dengan Umat lainnya di gereja hal ini di sampaikan oleh I2, I3, I4, I6, dan I7. Kurang mengerti dengan arti Komuni batin dan lebih merindukan menyantap Tubuh dan Darah Kristus secara langsung juga di alami oleh para informan. Tidak jauh berbeda dengan para mahasiswa angkatan 2019 yang merasakan hal demikian. Kurang focus, ngantuk dan juga merasa tidak jauh berbeda dengan kuliah secara Online melali Zoom. Penulis menarik inti dari pertanyaan nomer tiga yakni para informan merindukan suasana misa offline bertemu dan berdoa bersama di gereja dengan umat lainnya. Kurang adanya fokus untuk melaksanakan misa Online.
4. Apa usulan bapak/ibu kepada mahasiswa khususnya yang kuliah di PENDIKKAT untuk semakin terlibat dalam tugas pelayanan Gereja?
Data dari hasil wawancara dari ketua lingkungan dan teman dekat atau keluarga sebagai berikut. Ketua lingkungan I1 dan I5 mengharapkan para mahasiswa PENDIKKAT harus professional sebagai calon katekis. Lebih
bersemangat dan lebih berkreatif, apalagi masih muda. Karena salah satu tugas dari katekis tidak lain dan tidak bukan adalah untuk melayani umat. Harus terlibat langsung dengan umat. Mampu melayani seperti halnya Yesus yang melayani umat-Nya.
Informan lainnya lebih menekankan para mahasiswa tidak hanya berkarya secara langsung tetapi bisa secara online melalui media. Mahasiswa juga gerak cepat dan di tuntut untuk mengerti teknologi apalagi dimasa sekarang semua dilakukan secara online. Hal ini diutarakan langsung oleh I12 dan I13. I14 lebih mengajak mahasiswa untuk lebih kreatif apalagi dalam pelayanan. Bisa membuat konten-konten atau katekese digital. Kesimpulannya mahasiswa dituntut untuk semakin aktif dalam melayani terlebih mengerti media dan teknologi. Sadar dengan situasi umat dan semakin terlibat langsung dengan umat.