• Tidak ada hasil yang ditemukan

Ruang lingkup usaha PT. Karya Murni Perkasa adalah memproduksi aspal hotmix dan menjalankan usaha kontruksi

3.3. Analytical Hierarchy Process (AHP)

Metode AHP ini membantu memecahkan persoalan yang kompleksdengan menstruktur suatu hirarki kriteria, pihak yang berkepentingan, hasil dandengan menarik berbagai pertimbangan guna mengembangkan bobot atauprioritas.Metode ini juga menggabungkan kekuatan dari perasaan dan logikayang bersangkutan pada berbagai persoalan, lalu mensintesis berbagaipertimbangan yang beragam menjadi hasil yang cocok dengan perkiraan kitasecara intuitif sebagaimana yang dipresentasikan pada pertimbangan yang telahdibuat (Kastowo, Banu. 2008).

3.3.1. Tahapan Analytical Hierarchy Process (AHP)

Dalam metode AHP dilakukan langkah-langkah sebagai berikut(Kadarsyah Suryadi dan Ali Ramdhani, 1998) :

1. Mendefinisikan masalah dan menentukan solusi yang diinginkan.

Dalam tahap ini kita berusaha menentukan masalah yang akan kita pecahkan secara jelas, detail dan mudah dipahami. Dari masalah yang ada kita coba tentukan solusi yang mungkin cocok bagi masalah tersebut. Solusi dari masalah mungkin berjumlah lebih dari satu.Solusi tersebut nantinya kita kembangkan lebih lanjut dalam tahap berikutnya.

2. Membuat struktur hierarki yang diawali dengan tujuan utama.

Setelah menyusun tujuan utama sebagai level teratas akan disusun level hirarki yang berada di bawahnya yaitu kriteria-kriteria yang cocok untuk mempertimbangkan atau menilai alternatif yang kita berikan dan

menentukan alternatif tersebut. Tiap kriteria mempunyai intensitas yang berbeda-beda.Hirarki dilanjutkan dengan subkriteria (jika mungkin diperlukan).

3. Membuat matrik perbandingan berpasangan yang menggambarkan kontribusi relatif atau pengaruh setiap elemen terhadap tujuan atau kriteria yang setingkat di atasnya. Matriks yang digunakan bersifat sederhana, memiliki kedudukan kuat untuk kerangka konsistensi, mendapatkan informasi lain yang mungkin dibutuhkan dengan semua perbandingan yang mungkin dan mampu menganalisis kepekaan prioritas secara keseluruhan untuk perubahan pertimbangan. Pendekatan dengan matriks mencerminkan aspek ganda dalam prioritas yaitu mendominasi dan didominasi.Perbandingan dilakukan berdasarkan judgment dari pengambil keputusan dengan menilai tingkat kepentingan suatu elemen dibandingkan elemen lainnya. Untuk memulai proses perbandingan berpasangan dipilih sebuah kriteria dari level paling atas hirarki misalnya K dan kemudian dari level di bawahnya diambil elemen yang akan dibandingkan misalnya E1,E2,E3,E4,E5.

4. Melakukan perbandingan berpasangan sehingga diperoleh jumlah pengukuran seluruhnya sebanyak n x [(n-1)/2] buah, dengan n adalah banyaknya elemen yang dibandingkan. Hasil perbandingan dari masingmasingelemen akan berupa angka dari 1 sampai 9 yang menunjukkanperbandingan tingkat kepentingan suatu elemen. Apabila suatu elemendalam matriks dibandingkan dengan dirinya sendiri maka

hasilperbandingan diberi nilai 1.Skala 9 telah terbukti dapat diterima dan bisamembedakan intensitas antar elemen.Hasil perbandingan tersebut diisikanpada sel yang bersesuaian dengan elemen yang dibandingkan. 5. Mengulangi langkah 3,4, dan 5 untuk seluruh tingkat hirarki.

6. Menghitung vektor eigen dari setiap matriks perbandingan berpasangan yang merupakan bobot setiap elemen untuk penentuan prioritas elemen elemen pada tingkat hirarki terendah sampai mencapai tujuan. Penghitungan dilakukan lewat cara menjumlahkan nilai setiap kolom dari matriks, membagi setiap nilai dari kolom dengan total kolom yang bersangkutan untuk memperoleh normalisasi matriks, dan menjumlahkan nilai-nilai dari setiap baris dan membaginya dengan jumlah elemen untuk mendapatkan rata-rata. Memeriksa konsistensi hirarki.Yang diukur dalam AHP adalah rasio konsistensi dengan melihat index konsistensi. Konsistensi yang diharapkan adalah yang mendekati sempurna agar menghasilkan keputusan yang mendekati valid. Walaupun sulit untuk mencapai yang sempurna, rasio konsistensi diharapkan kurang dari atau sama dengan 10 %.

3.3.2. Menyusun Hierarki

Manusia mempunyai kemampuan untuk mempersepsi benda dan gagasanmengidentifikasikannya, dan mengkomunikasikan apa yang mereka amati. Untukmemperoleh pengetahuan terinci, pikiran kita menyusun realitas yang komplekskedalam bagian yang menjadi nelemen pokoknya, dan kemudian

bagian inikedalam bagian-bagiannya lagi, dan seterusnya secara hierarkis. Jumlah bagian-bagianini berkisar antara lima sampai sembilan.

3.3.3. Menetapkan Prioritas

Langkah pertama dalam menetapkan prioritas elemen-elemen dalam suatupersoalan keputusan adalah dengan membuat perbandingan berpasangan yaituelemen-elemen dibandingkan berpasangan terhadap suatu kriteria yangditentukan.Untuk perbandingan berpasangan ini, matrik merupakan bentuk yanglebih disukai.Matriks merupakan alat sederhana dan bisa dipakai, dan memberkerangka untuk menguji konsistensi, memperoleh informasi tambahan denganjalan membuat segala perbandingan yang mungkin, dan menganalisis kepekaanprioritas menyeluruh terhadap perubahan dalam pertimbangan. Ancangan matrikini secara unik mencerminkan dwi segi prioritas : mendominasi dan didominasi.

Untuk memulai proses perbandingan berpasangan ini, mulailah padapuncak hierarki untuk memilih criteria C, atau sifat, yang akan digunakan untukmelakukan perbandingan yang pertama. Lalu, dari tingkat tepat dibawahnya,ambil elemen-elemen yang akan dibandingkan: A1, A2, A3, dan sebagainya.Katakan lah ada enam elemen.Susun elemen-elemen ini pada sebuah matriks seperti tabel 3.1 berikut.

Tabel 3.1. Contoh Matriks untuk Perbandingan Berpasangan Elemen A1 A2 ... A6 A1 1 . . . A2 . 1 . . ... . . . . A6 . . . 1

Dalam matriks diatas, bandingkan elemen A1 dalam kolom yang sebelahkiri dengan elemen A1, A2, A3, dan seterusnya yang terdapat di baris atauberkenaan dengan sifat C disudut kiri atas.Lalu ulangi dengan elemen kolom A2dan seterusnya.Untuk mengisi matriks perbandingan berpasangan itu, digunakanbilangan untuk menggambarkan relatif pentingnya suatu elemen diatas elemenyang lainnya berkenaan dengan sifat tersebut.

Tabel 3.2 membuat skala bandingperpasangan.Skala itu mendefenisikan dan menjelaskan nilai 1 sampai dengan 9 yangditetapkan bagi pertimbangan dalam membandingkan pasangan elemen yangsejenisnya di setiap tingkat hierarki terhadap suatu kriteria yang berada setingkatdiatasnya.Pengalaman telah membuktikan bahwa skala dengan sembilan satuandapat diterima dan mencerminkan derajat sampai mana kita mampu membedakanintensitas tata hubungan antar elemen.Bila memakai skala itu dalam kontekssosial, psikologis atau politis, utarakan lebih dahulu pertimbangan verbalnya, laluditerjemahkan secara numerik ini merupakan ancangan belaka, validitasnya dievaluasi dengan

suatu uji konsistensi dan oleh penerapan dalam kehidupannyata untuk mana jawaban-jawabannya sudah diketahui.

Tabel 3.2. Skala Perbandingan Berpasangan Intensitas Pentingnya Defenisi

1 3 5 7 9 2, 4, 6, 8

Kedua elemen sama pentingnya

Elemen yang satu sedikit lebih penting ketimbang yang lainnya Elemen yang satu sangat penting ketimbang yang lainnya Satu elemen jelas lebih penting dari elemen yang lainnya

Satu elemen mutlak lebih penting ketimbang elemen yang lainnya Nilai-nilai antara dua pertimbangan yang berdekatan

3.3.4. Kelebihan dan Kelemahan Analytical Hierarchy Process (AHP)

Layaknya sebuah metode analisis, AHP pun memiliki kelebihan dankelemahan dalam sistem analisisnya. Kelebihan-kelebihan analisis ini adalah : 1. Kesatuan (Unity)

AHP membuat permasalahan yang luas dan tidak terstruktur menjadisuatu model yang fleksibel dan mudah dipahami.

2. Kompleksitas (Complexity)

AHP memecahkan permasalahan yang kompleks melalui pendekatansistem dan pengintegrasian secara deduktif.

3. Saling ketergantungan (Inter Dependence)

AHP dapat digunakan pada elemen-elemen sistem yang saling bebas dantidak memerlukan hubungan linier.

AHP mewakili pemikiran alamiah yang cenderung mengelompokkanelemen sistem ke level-level yang berbeda dari masing-masing levelberisi elemen yang serupa.

5. Pengukuran (Measurement)

AHP menyediakan skala pengukuran dan metode untuk mendapatkanprioritas.

6. Konsistensi (Consistency)

AHP mempertimbangkan konsistensi logis dalam penilaian yangdigunakan untuk menentukan prioritas.

7. Sintesis (Synthesis)

AHP mengarah pada perkiraan keseluruhan mengenai seberapadiinginkannya masing-masing alternatif.

8. Trade Off

AHP mempertimbangkan prioritas relatif faktor-faktor pada sistemsehingga orang mampu memilih altenatif terbaik berdasarkan tujuanmereka.

9. Penilaian dan Konsensus (Judgement and Consensus)

AHP tidak mengharuskan adanya suatu konsensus, tapi menggabungkanhasil penilaian yang berbeda.

10. Pengulangan Proses (Process Repetition)

AHP mampu membuat orang menyaring definisi dari suatu permasalahandan mengembangkan penilaian serta pengertian mereka melalui prosespengulangan.

Sedangkan kelemahan metode AHP adalah sebagai berikut:

a. Ketergantungan model AHP pada input utamanya. Input utama iniberupa persepsi seorang ahli sehingga dalam hal ini melibatkansubyektivitas sang ahli selain itu juga model menjadi tidak berarti jikaahli tersebut memberikan penilaian yang keliru.

b. Metode AHP ini hanya metode matematis tanpa ada pengujian secarastatistik sehingga tidak ada batas kepercayaan dari kebenaran modelyang terbentuk.

Dokumen terkait