BAB II TINJAUAN PUSTAKA
2.7 Skin Analyzer
Skin analyzer merupakan sebuah perangkat yang dirancang untuk mendiagnosa keadaan pada kulit. Skin analyzer dapat mendukung diagnosa dokter yang tidak hanya meliputi lapisan kulit teratas namun mampu memperlihatkan sisi lebih dalam dari lapisan kulit, dengan menggunakan mode pengukuran normal dan polarisasi, dilengkapi dengan rangkaian sensor kamera pada skin analyzer menyebabkan alat ini dapat menampilkan hasil lebih cepat dan akurat (Aramo, 2012).
Menurut Aramo (2012), pengukuran yang dapat dilakukan menggunakan skin analyzer, yaitu: moisture (kadar air), evenness (kehalusan), pore (pori), spot (noda), wrinkle (keriput), dan kedalaman keriput juga terdeteksi dengan alat ini. Tabel menunjukkan parameter hasil pengukuran dengan menggunakan skin analyzer.
Tabel 2.1 Parameter hasil pengukuran dengan skin analyzer
Analisa Parameter
Moisture (kadar air) (%)
Dehidrasi Normal Hidrasi
0-29 30-50 51-100
Kecil Beberapa besar Sangat besar
0-19 20-39 40-100
Spot (Noda)
Sedikit Beberapa noda Banyak noda
0-19 20-39 40-100
Wrinkle (Keriput)
Tidak berkeriput Berkeriput Banyak keriput
0-19 20-52 53-100
Sumber: (Aramo, 2012)
BAB III
METODE PENELITIAN
Metode penelitian ini dilakukan secara eksperimental meliputi pembuatan sediaan krim minyak flaxseed dengan konsentrasi 5, 10, 15 dan 20%, pemeriksaan terhadap sediaan (uji homogenitas, uji pH, penentuan tipe emulsi, uji stabilitas sediaan), pengelompokan sukarelawan, uji iritasi terhadap sukarelawan dan pembuktian kemampuan sediaan sebagai anti-aging.
3.1 Alat - alat
Alat-alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah: skin analyzer dan moisture checker (Aramo-SG), lumpang porselen, stamfer, cawan porselen, alat-alat gelas, penangas air, pH meter (Hanna Instrument), dan neraca analitik (Dickson).
3.2 Bahan - bahan
Bahan-bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah: aquadest, asam stearat, setil alkohol, sorbitol, propilen glikol, trietanolamin, metil paraben, minyak flaxseed (flaxseed oil) “Green Tosca”, metil biru, larutan dapar pH asam (pH 4,01), larutan dapar pH netral (pH 7,01).
3.3 Sukarelawan
Sukarelawan yang dipilih adalah mahasiswi di Fakultas Farmasi USU berdasarkan kriteria antara lain berusia sekitar 22-30 tahun memiliki kulit punggung tangan yang kering dan berkerut karena sering terpapar sinar matahari.
3.4 Formula Standar Krim m/a (Young, 1972) R/ Asam stearat 12
Setil alkohol 0,5
Sorbitol 5
Propilen glikol 3 Trietanolamin 1
Gliserin 1-5 tetes Metil paraben q.s
Parfum q.s
Aquadest ad 100
3.5 Formula Sediaan Krim
Formula krim yang digunakan dimodifikasi tanpa gliserin karena fungsinya sama dengan propilen glikol dan sorbitol sebagai humektan. Penggunaan sorbitol sebagai humektan bagi pemakainya dan sediaan krim tersebut. Formula dasar krim sebagai berikut:
R/ Asam stearat 12 Setil alkohol 0,5
Sorbitol 5
Propilen glikol 3 Trietanolamin 1 Metil paraben 0,1 Butil hidroksi toluen 0,1
Parfum q.s
Konsentrasi minyak flaxseed yang digunakan dalam pembuatan sediaan krim anti-aging masing-masing adalah 5, 10, 15, dan 20%. Formulasi dasar krim tanpa minyak flaxseed dibuat sebagai blanko dan sebagai baku pembanding digunakan krim anti-aging dari pasaran (Pond’s krim anti-aging). Rancangan formulasi dijelaskan pada Tabel 3.1 sebagai berikut:
Tabel 3.1 Komposisi bahan dalam krim Bahan Konsentrasi (gram)
Cara pembuatan: Ditimbang semua bahan yang diperlukan. Pisahkan bahan menjadi dua kelompok yaitu fase minyak dan fase air. Fase minyak terdiri dari asam stearat, setil alkohol, butil hidroksi toluen dilebur di atas penangas air. Fase air yang terdiri dari sorbitol, propilen glikol, trietanolamin dan metil paraben (nipagin) dilarutkan di dalam air panas yang telah ditakar (massa II). Direndam lumpang porselen dan alu dalam air panas, kemudian keringkan lumpang dan alu, masukkan massa I ke dalam lumpang, lalu masukkan massa II digerus konstan sampai terbentuk massa krim. Setelah terbentuk massa krim di lumpang panas, tambahkan flaxseed sedikit demi sedikit, digerus sampai terbentuk krim yang homogen.
Ditambahkan 3 tetes parfum, dihomogenkan sampai terbentuk massa krim.
Pembuatan dilakukan dengan cara yang sama untuk semua formula dengan konsentrasi minyak flaxseed yang berbeda.
3.6 Pemeriksaan Terhadap Sediaan 3.6.1 Pemeriksaan homogenitas sediaan
Sejumlah tertentu sediaan jika dioleskan pada sekeping kaca atau bahan transparan lain yang sesuai, sediaan harus menunjukkan susunan yang homogen dan tidak terlihat adanya butiran kasar (Ditjen POM, 1979).
3.6.2 Pengukuran pH sediaan
Penentuan pH sediaan dilakukan dengan menggunakan pH meter. Alat terlebih dahulu dikalibrasi dengan menggunakan larutan dapar pH netral (pH 7,01) dan larutan dapar pH asam (pH 4,01) hingga alat menunjukkan harga pH tersebut.
Kemudian elektroda dicuci dengan air suling, lalu dikeringkan dengan tissue.
Sampel dibuat dalam konsentrasi 1% yaitu ditimbang 1 gram sediaan dan dilarutkan dalam 99 ml air suling. Kemudian elektroda dicelupkan dalam larutan tersebut.
Dibiarkan alat menunjukkan harga pH sampai konstan. Angka yang ditunjukkan pH meter merupakan pH sediaan (Rawlins, 2002).
3.6.3 Penentuan tipe emulsi sediaan
Penentuan tipe emulsi sediaan dilakukan dengan penambahan sedikit biru metil ke dalam sediaan, jika larut sewaktu diaduk, maka emulsi tersebut adalah tipe minyak dalam air (Ditjen POM, 1985).
3.6.4 Pengamatan stabilitas sediaan
Masing-masing formula krim dimasukkan ke dalam pot plastik, disimpan pada suhu kamar dan diukur parameter-parameter kestabilan seperti bau, warna, dan pH dievaluasi selama penyimpanan 12 minggu dengan pengamatan setiap 2 minggu (National Health Surveillance Agency, 2005).
3.7 Uji Iritasi Terhadap Sukarelawan
Uji iritasi dilakukan terhadap 10 orang sukarelawan untuk mengetahui apakah sediaan yang dibuat dapat menyebabkan reaksi iritasi. Krim yang dipakai untuk uji iritasi adalah krim dengan konsentrasi tertinggi yaitu krim minyak flaxseed 20%.
Kosmetika dioleskan di belakang telinga, kemudian dibiarkan selama 24 jam dan lihat perubahan yang terjadi pada kulit (Wasitaatmadja, 1997). Reaksi iritasi yang diamati yaitu eritema dan edema dengan sistem skor. Eritema: tidak eritema 0, sangat sedikit eritema 1, sedikit eritema 2, eritema sedang 3, eritema sangat parah 4. Edema: tidak edema 0, sangat sedikit edema 1, sedikit edema 2, edema sedang 3, edema sangat parah 4 (Barel, dkk., 2009).
3.8 Pengujian Aktivitas Anti-aging
Pengujian aktivitas anti-aging menggunakan sukarelawan sebanyak 18 orang dan dibagi menjadi 6 kelompok, yaitu:
Kelompok I : 3 orang sukarelawan untuk krim A (blanko)
Kelompok II : 3 orang sukarelawan untuk krim B (konsentrasi minyak flaxseed 5%) Kelompok III : 3 orang sukarelawan untuk krim C
(konsentrasi minyak flaxseed 10%) Kelompok IV : 3 orang sukarelawan untuk krim D
(konsentrasi minyak flaxseed 15%) Kelompok V : 3 orang sukarelawan untuk krim E
(konsentrasi minyak flaxseed 20%) Kelompok VI : 3 orang sukarelawan untuk krim F
pembanding (produk pasaran)
Semua sukarelawan ditandai lingkaran pada punggung tangan berdiameter 5 cm, diukur kondisi kulit awal meliputi: kadar air (moisture), besar pori (pore), banyaknya noda (spot), dan keriput (wrinkle) dengan menggunakan skin analyzer sesuai dengan parameter pengukuran. Setelah pengukuran kondisi kulit awal, perawatan mulai dilakukan dengan pengolesan krim sebanyak 1 g hingga merata seluas area yang telah ditandai, krim dioleskan berdasarkan kelompok yang telah ditetapkan di atas, pengolesan dilakukan sebanyak 2 kali sehari selama 4 minggu.
Perubahan kondisi kulit diukur setiap minggu selama 4 minggu dengan menggunakan skin analyzer.
3.9 Analisis Data
Data hasil penelitian dianalisis menggunakan program SPSS (Statistical Product and Service Solution) 21. Langkah pertama data dianalisa dengan menggunakan metode Kolmogorov-Smirnov untuk menentukan homogenitas dan normalitasnya. Kemudian dilanjutkan dengan dianalisis menggunakan metode uji Kruskal-Walis untuk menentukan perbedaan rata-rata di antara kelompok. Jika terdapat perbedaan, dilanjutkan dengan uji Mann-Whitney untuk melihat perbedaan nyata antar perlakuan.
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Hasil Pembuatan Sediaan Krim
Sediaan krim anti-aging menggunakan minyak flaxseed dibuat dengan menggunakan formula standar krim (Young, 1972). Minyak flaxseed yang digunakan dalam membuat sediaan krim anti-aging adalah konsentrasi masing-masing 5, 10, 15 dan 20%. Sediaan krim yang diperoleh berupa krim berwarna putih kekuningan dan krim blanko berwarna putih.
4.2 Hasil Pemeriksaan Kandungan Asam Lemak dan Vitamin E dalam Minyak Flaxseed
Identifikasi sampel dilakukan dengan menganalisis kandungan vitamin E yang terkandung dalam minyak flaxseed “Green Tosca” di Pusat Penelitian Kelapa Sawit Medan. Hasil pemeriksaan identifikasi asam lemak dan vitamin E pada sampel dapat dilihat pada Lampiran 1 Halaman 46 .
4.3 Hasil Pemeriksaan Terhadap Sediaan 4.3.1 Pemeriksaan homogenitas sediaan
Dari hasil pengamatan homogenitas krim anti-aging menggunakan minyak flaxseed, semua sediaan krim tidak diperoleh butiran-butiran, maka sediaan krim dikatakan homogen. Gambar uji homogenitas dapat dilihat pada Lampiran 7 Halaman 52.
Menurut Ditjen POM (1979), sediaan dinyatakan homogen jika tidak ada butiran-butiran pada keping kaca, maka sediaan memenuhi syarat.
4.3.2 Hasil pengukuran pH sediaan
Hasil pengukuran pH sediaan krim minyak flaxseed dilakukan dengan menggunakan pH meter (Hanna instruments). Dari percobaan yang dilakukan, diperoleh hasil sebagai berikut:
Tabel 4.1 Data pengukuran pH sediaan krim blanko, krim minyak flaxseed 5, 10, 15 dan 20% selama penyimpanan 12 minggu pada suhu kamar.
No Krim pH rata-rata selama 12 minggu penyimpanan (minggu)
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 Keterangan : Krim A : Blanko (tanpa minyak flaxseed)
Krim B : Krim minyak flaxseed 5%
Krim C : Krim minyak flaxseed 10%
Krim D : Krim minyak flaxseed 15%
Krim E : Krim minyak flaxseed 20%
Berdasarkan data pada Tabel 4.1 pengukuran pH sediaan krim pada saat selesai dibuat, diperoleh bahwa pH pada sediaan krim A : 6,8; krim B : 6,6; krim C : 6,8; krim D : 6,8 dan krim E : 6,6; sedangkan setelah penyimpanan selama 12 minggu terjadi perubahan pH pada setiap sediaan yaitu krim A : 6,3; krim B : 6,3;
krim C : 6,2; krim D : 6,1 dan krim E : 6,1. Setelah penyimpanan selama 12 minggu pH yang diperoleh mengalami sedikit penurunan jika dibandingkan dengan pH pada saat selesai dibuat, semakin banyak konsentrasi minyak flaxseed yang ditambahkan ke dalam sediaan krim maka pH semakin menurun atau semakin asam. Penurunan pH juga terjadi dengan bertambahnya waktu penyimpanan tetapi masih menunjukkan kisaran pH yang sesuai dengan pH kulit yaitu 4,5-7,0 ini
menunjukkan bahwa pH tersebut aman untuk sediaan krim dan tidak mengiritasi kulit.
Keasaman kosmetika sebaiknya sesuai dengan pH kulit yaitu antara 4,5 sampai 7,0. Namun kosmetika tertentu memiliki pH sangat besar (>10), sehingga memperbesar daya absorpsi perkutan (Wasitaatmadja, 1997).
4.3.3 Hasil penentuan tipe emulsi sediaan
Berdasarkan hasil pengujian yang dilakukan, bahwa krim anti-aging minyak flaxseed mempunyai tipe emulsi m/a (minyak dalam air) karena biru metilen dapat terlarut dan memberikan warna yang homogen yang dapat dilihat pada Tabel 4.2 di bawah ini:
Tabel 4.2 Hasil pengujian tipe emulsi sediaan krim blanko, krim minyak flaxseed 5, 10, 15 dan 20% dengan pewarnaan menggunakan biru metilen.
No Krim Kelarutan metilen biru dalam sediaan
Ya Tidak
Keterangan : Krim A : Blanko (tanpa minyak flaxseed) Krim B : Krim minyak flaxseed 5%
Krim C : Krim minyak flaxseed 10%
Krim D : Krim minyak flaxseed 15%
Krim E : Krim minyak flaxseed 20%
Menurut Ditjen POM (1985) penentuan tipe krim sediaan dapat ditentukan dengan pewarnaan biru metilen, bila biru metilen tersebar merata berarti sediaan tipe m/a (minyak dalam air), tetapi jika warna hanya berupa bintik-bintik biru, berarti tipe sediaan adalah a/m (air dalam minyak).
4.3.4 Evaluasi stabilitas sediaan
Evaluasi stabilitas sediaan dilakukan selama penyimpanan 12 minggu, sediaan krim disimpan pada suhu kamar dan diamati perubahan bau, warna dan pecahnya emulsi. Hasil evaluasi stabilitas dari tiap parameter dapat dilihat dalam Tabel 4.3 di bawah ini:
Tabel 4.3 Hasil evaluasi stabilitas sediaan (perubahan bau dan warna) krim blanko, krim minyak flaxseed 5, 10, 15 dan 20% pada pengamatan awal dan pengamatan pada penyimpanan selama 12 minggu.
No Krim
Keterangan : Krim A : Blanko (tanpa minyak flaxseed) Krim B : Krim minyak flaxseed 5%
Krim C : Krim minyak flaxseed 10%
Krim D : Krim minyak flaxseed 15%
Krim E : Krim minyak flaxseed 20%
x : Perubahan warna
penyimpanan pada suhu kamar. Hal ini menunjukkan bahwa sediaan stabil secara fisik.
4.4 Hasil Uji Iritasi Terhadap Sukarelawan
Uji iritasi dilakukan terhadap 10 orang sukarelawan untuk mengetahui apakah sediaan yang dibuat dapat menyebabkan eritema dan edema. Penggunaan kosmetika yang tidak baik pada kulit dapat menimbulkan reaksi (efek samping).
Krim yang dipakai untuk uji iritasi adalah krim dengan konsentrasi tertinggi yaitu krim minyak flaxseed 20%. Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan diperoleh hasil yang dapat dilihat pada Tabel 4.4 sebagai berikut:
Tabel 4.4 Hasil uji iritasi sediaan krim terhadap kulit sukarelawan Reaksi
Index iritasi primer: 0/24 = 0,00
Keterangan: sistem skor Federal Hazardous Subtance Act (Barel dkk., 2009).
Eritema Edema Menurut Wasitaatmadja (1997), uji iritasi kulit yang dilakukan untuk mengetahui terjadinya efek samping pada kulit, dengan memakai kosmetika di bagian bawah lengan atau belakang telinga dan dibiarkan selama 24 jam. Dari data Tabel 4.4, tidak terlihat adanya efek samping berupa eritema dan edema yang ditimbulkan oleh sediaan.
4.5 Hasil Pengujian Aktivitas Anti-aging terhadap Sukarelawan
Pengukuran efektivitas anti-aging dilakukan dengan mengukur kondisi kulit sukarelawan. Hal ini bertujuan agar dapat melihat seberapa besar pengaruh krim mengandung minyak flaxseed yang digunakan dalam memulihkan kulit yang mengalami penuaan dini. Berdasarkan uji normalitas Shapiro-Wilk test, diperoleh nilai p < 0,05, maka dapat disimpulkan bahwa data tidak terdistribusi normal, sehingga dilakukan uji parametrik Kruskal Wallis untuk mengetahui apakah terdapat perbedaan antar formula dalam memulihkan kulit kemudian dilanjutkan dengan Uji Mann-Whitney untuk mengetahui pada formula mana yang terdapat perbedaan secara signifikan.
4.5.1 Kadar air (Moisture)
Pengukuran kadar air dilakukan dengan menggunakan alat moisture checker yang terdapat dalam perangkat skin analyzer Aramo. Hasil pengukuran yang terdapat pada Tabel 4.5 dan Gambar 4.1 di bawah ini:
Dari hasil pengukuran dapat dilihat bahwa, kondisi awal kadar air pada kulit semua kelompok sukarelawan terjadi dehidrasi (kehilangan kadar air) dan setelah pemakaian krim selama empat minggu kondisi kulit semua kelompok sukarelawan menjadi normal. Perawatan yang dilakukan menunjukkan adanya efek peningkatan kadar air kulit sukarelawan setelah pemakaian krim yang mengandung minyak flaxseed. Kulit yang dirawat dengan krim minyak flaxseed 20% dan krim pembanding selama empat minggu memiliki kelembaban kulit lebih meningkat dibandingkan dengan kulit yang dirawat dengan krim minyak flaxseed dengan konsentrasi yang lebih rendah.
Tabel 4.5 Hasil pengukuran kadar air (moisture) pada kulit punggung tangan sukarelawan
Krim Suka relawan
Persentase kadar air (%) Persentase Pemulihan
Normal 30-50; Dehidrasi 0-29; Hidrasi 51-100 (Aramo, 2012) Krim A : Dasar krim (blanko)
Krim B : Krim minyak flaxseed 5%
Krim C : Krim minyak flaxseed 10%
Krim D : Krim minyak flaxseed 15%
Krim E : Krim minyak flaxseed 20%
Krim F : Krim pembanding (dari produk pasaran)
Gambar 4.1 Grafik hasil pengukuran kadar air (Moisture) pada kulit punggung tangan sukarelawan dengan krim blanko, krim minyak flaxseed 5, 10, 15, 20% dan pembanding selama empat minggu perawatan.
Grafik di atas menunjukkan bahwa pemakaian krim memberikan efek terhadap peningkatan kadar air kulit punggung tangan sukarelawan. Kadar air kulit meningkat setelah penggunaan krim yang mengandung minyak flaxseed selama empat minggu perawatan.
Data selanjutnya dianalisis dengan menggunakan uji non parametrik Kruskal Wallis untuk mengetahui efektivitas formula terhadap kadar air kulit sukarelawan dan diperoleh nilai p < 0,05 pada minggu pertama hingga keempat yang menunjukkan bahwa adanya perbedaan efektivitas antar formula. Untuk mengetahui formula mana yang berbeda maka dilakukan uji Mann-Whitney. Dari hasil uji Mann-Whitney dapat disimpulkan bahwa terdapat perbedaan peningkatan kadar air yang signifikan antara masing-masing krim (nilai p < 0,05).
25
Menurut Mitsui (1997), nutrisi, aktivitas serta lingkungan merupakan faktor yang sangat mempengaruhi kadar air dalam epidermis dan dermis. Kulit harus mampu menjaga kadar air untuk mepertahankan fungsinya sebagai kulit yang sehat.
Apabila kadar air menurun secara drastis, kulit akan kekurangan nutrisi dan menyebabkan kulit menjadi kering, kasar, pecah-pecah dan terkelupas.
4.5.2 Pori (pore)
Analisa besar pori menggunakan perangkat skin analyzer, dimana hasil analisa besar pori terbaca (Aramo, 2012). Hasil pengukuran besar pori semua kelompok sukarelawan selama empat minggu dapat dilihat pada Tabel 4.6 di bawah ini.
Grafik pengaruh pemakaian krim terhadap banyaknya pori (pore) kulit sukarelawan selama empat minggu perawatan dapat dilihat pada Gambar 4.2 di bawah ini. Data yang diperoleh selanjutnya dilakukan analisa statistik menggunakan uji Kruskal Wallis dan diperoleh nilai p < 0,05 yang menunjukkan bahwa adanya perbedaan yang signifikan antar formula dalam memperkecil ukuran pori pada kulit sukarelawan pada hari ke- 21 dan hari ke- 28. Kemudian data diuji menggunakan Mann-Whitney untuk mengetahui formula mana yang berbeda. Dari hasil uji Mann-Whitney dapat disimpulkan bahwa terdapat perbedaan signifikan noda kulit sukarelawan antara tiap krim (nilai p < 0,05).
Besar pori kulit semua sukarelawan pada kondisi awal adalah besar. Pada pemakaian setelah empat minggu, krim A dan krim B kondisi pori kulit masih besar.
Krim E dengan konsentrasi minyak flaxseed 20% menunjukkan tingkat pemulihan yang lebih baik dibandingkan dengan krim lainnya. Tetapi, jika dibandingkan dengan krim pembanding tingkat pemulihan krim E lebih rendah dari krim F,
karena dapat mengecilkan kondisi pori menjadi kecil selama empat minggu perawatan.
Pori-pori kulit seringkali tampak lebih besar dan umumnya terdapat pada orang yang memiliki kulit yang lebih terang (Prianto, 2014).
Tabel 4.6 Hasil pengukuran ukuran pori (pore) pada kulit punggung tangan sukarelawan
Krim Sukarelawan Pore Persentase
Pemulihan
Pori berukuran kecil 0-19; Pori berukuran beberapa besar 20-39; Pori berukuran sangat besar 40- 100 (Aramo, 2012).
Krim A : Dasar krim (blanko) Krim B : Krim minyak flaxseed 5%
Krim C : Krim minyak flaxseed 10%
Krim D : Krim minyak flaxseed 15%
Krim E : Krim minyak flaxseed 20%
Gambar 4.2 Grafik hasil pengukuran pori (pore) pada kulit punggung tangan sukarelawan dengan krim blanko, krim minyak flaxseed 5, 10, 15, 20% dan pembanding selama empat minggu perawatan.
Salah satu kunci kulit yang sehat adalah pori-pori yang kecil. Pori-pori dapat membesar apabila terkena paparan sinar matahari yang terlalu terik. Pori-pori yang besar menyebabkan kotoran mudah masuk dan tersumbat sehingga menyebabkan jerawat lebih mudah timbul (Sulastomo, 2013).
4.5.3 Banyaknya noda (spot)
Pengukuran banyaknya noda dengan menggunakan perangkat skin analyzer lensa perbesaran 60x dan mode pembacaan polarisasi dengan warna lampu sensor jingga. Hasil pengukuran banyaknya noda seperti yang terlihat dalam Tabel 4.7 menunjukkan terdapat banyak noda pada kondisi awal kulit semua sukarelawan.
Selama empat minggu perawatan pada pemakaian krim A belum mampu mengurangi noda pada kulit sukarelawan, sedangkan pada krim B, C, D dan E noda yang terdapat pada kulit sukarelawan menjadi beberapa noda. Tetapi, pada
20
pemakaian krim F banyaknya noda pada kulit sukarelawan menjadi lebih sedikit selama empat minggu perawatan.
Tabel 4.7 Hasil pengukuran banyaknya noda (spot) pada kulit punggung tangan sukarelawan
Krim Sukarelawan Banyaknya Spot Persentase
Pemulihan
Jumlah noda sedikit 0-19; Jumlah noda sedang 20-39; Jumlah noda banyak 40-100 (Aramo, 2012).
Krim A : Dasar krim (blanko) Krim B : Krim minyak flaxseed 5%
Krim C : Krim minyak flaxseed 10%
Krim D : Krim minyak flaxseed 15%
Krim E : Krim minyak flaxseed 20%
Krim F : Krim pembanding (dari produk pasaran)
Grafik pengaruh pemakaian krim terhadap banyaknya noda (spot) kulit
bawah ini. Data yang diperoleh selanjutnya dilakukan analisa statistik menggunakan uji Kruskal Wallis dan diperoleh nilai p < 0,05 yang menunjukkan bahwa adanya perbedaan yang signifikan antar formula dalam mengurangi noda pada kulit sukarelawan pada minggu ketiga dan minggu keempat. Kemudian data diuji menggunakan Mann-Whitney untuk mengetahui formula mana yang berbeda.
Dari hasil uji Mann-Whitney dapat disimpulkan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan banyaknya noda kulit sukarelawan antara Krim A, Krim B, Krim C, Krim D , Krim E dan Krim F (nilai p < 0,05).
Gambar 4.3 Grafik hasil pengukuran banyaknya noda (spot) pada kulit punggung tangan sukarelawan dengan krim blanko, krim minyak flaxseed 5, 10, 15, 20% dan pembanding selama empat minggu perawatan.
Menurut Hutapea (2005), secara normal noda terbentuk dikarenakan kulit yang terpapar sinar matahari akan merangsang menghasilkan lebih banyak pigmentasi yang berfungsi menyaring sinar matahari yang berlebihan. Noda tersebut timbul dalam bentuk bintik hitam atau coklat yang berkelompok.
0
4.5.4 Keriput (Wrinkle)
Pengukuran keriput dengan menggunakan perangkat skin analyzer lensa perbesaran 10x dan mode pembacaan normal dengan warna lampu sensor biru.
Hasil pengukuran keriput seperti yang terlihat dalam Tabel 4.8 menunjukkan kondisi awal kulit semua sukarelawan berkeriput. Selama empat minggu perawatan pemakaian krim E (20%) dan krim F (pembanding) menunjukkan tingkat pemulihan yang lebih baik dibandingkan krim lainnya, yaitu krim A (blanko), krim B (5%), Krim C (10%) dan Krim D (15%).
Data yang diperoleh selanjutnya dianalisis menggunakan uji Kruskal Wallis dan diperoleh nilai p < 0,05 yang menunjukkan bahwa adanya perbedaan yang signifikan antar formula dalam mengurangi keriput pada kulit sukarelawan pada minggu keempat. Kemudian data diuji menggunakan Mann-Whitney untuk mengetahui formula mana yang berbeda. Dari hasil uji Mann-Whitney dapat disimpulkan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan antara formula krim dengan perbedaan konsentrasi minyak flaxseed (nilai p < 0,05).
Keriput, kulit kendur, bintik-bintik pigmen dan tanda penuaan lainnya yang dihasilkan dari akumulasi kerusakan kulit, menandakan mekanisme pertahanan dan pemulihan dari kerusakan kulit (Pickart and Margolonia, 2012).
Kulit merupakan organ tubuh yang secara langsung terpapar sinar UV dari matahari. Sinar UV dapat menyebabkan penurunan sintesis kolagen. Kolagen merupakan penyusun lapisan dermis juga berperan dalam proses regenerasi kulit.
Seiring bertambahnya usia, kolagen kulit mulai pecah dan kaku sehingga kulit
kehilangan elastisitasnya. Akibatnya, kulit tampak berkerut dan megendur (Noormindhawati, 2013).
Tabel 4.8 Hasil pengukuran banyaknya keriput (wrinkle) pada kulit punggung tangan sukarelawan
Krim Sukarelawan Keriput Persentase
Pemulihan
Tidak berkeriput 0-19; Berkeriput 20-52; Berkeriput parah 53-100 (Aramo, 2012) Krim A : Dasar krim (blanko)
Krim B : Krim minyak flaxseed 5%
Krim C : Krim minyak flaxseed 10%
Krim D : Krim minyak flaxseed 15%
Krim E : Krim minyak flaxseed 20%
Krim F : Krim pembanding (dari produk pasaran)
Grafik pengaruh pemakaian krim terhadap keriput (wrinkle) kulit sukarelawan selama empat minggu perawatan dapat dilihat pada Gambar 4.4 di bawah ini.
Gambar 4.4 Grafik hasil pengukuran keriput (wrinkle) pada kulit punggung tangan sukarelawan dengan krim blanko, krim minyak flaxseed 5, 10, 15, 20% dan pembanding selama empat minggu perawatan.
Minyak flaxseed diyakini membawa ketahanan fisik dengan mengendalikan proses penuaan. Minyak flaxseed adalah sumber yang kaya asam lemak, yaitu: asam linoleat (omega-6) dan asam α-linolenat (omega-3) (Goyal, 2014).
Minyak flaxseed, yang dihasilkan dengan metode cold-pressed dari biji Tanaman flax (Linum usitatissimum), adalah Sumber asam lemak yang tinggi (omega-3) dibandingkan dengan tanaman lain. Dengan lebih dari 50% total asam lemak, asam alfa linolenat dominan dalam minyak yang juga mengandung omega-6 atau asam linoleat (1omega-6%) dan asam lemak tak jenuh tunggal atau asam oleat (20%) sebagai konstituen utama memiliki dampak yang signifikan pada kesehatan, khususnya pada kulit, melalui pemberian asam alfa linoleat dari minyak flaxseed (Maurette, 2008).
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
5.1 Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian yang diperoleh, dapat disimpulkan bahwa : 1. Minyak flaxseed dapat diformulasikan dalam sediaan krim dan berkhasiat
sebagai anti-aging.
2. Krim yang mengandung minyak flaxseed dengan konsentrasi 20% lebih baik efektivitas anti-aging dalam memperbaiki kondisi kulit punggung tangan sukarelawan dari pada krim yang mengandung minyak flaxseed dengan
2. Krim yang mengandung minyak flaxseed dengan konsentrasi 20% lebih baik efektivitas anti-aging dalam memperbaiki kondisi kulit punggung tangan sukarelawan dari pada krim yang mengandung minyak flaxseed dengan