DUNIA*
ABSTRAK
Ancaman embargo/proteksi minyak sawit berasal dari negara-negara top emitter GHG dan luas kebakaran hutan terbesar dunia. Emisi GHG Amerika Serikat dan Uni Eropa sekitar 9-11 kali lipat dari emisi GHG energi fosil Indonesia.
Demikian juga emisi GHG pertanian Amerika Serikat dan Uni Eropa 3-4 kali lipat dari emisi GHG pertanian Indonesia.
Luas kebakaran hutan/lahan di USA dan Eropa sekitar 35-41 kali lipat lebih luas dibandingkan dengan luas kebakaran hutan di Indonesia. Hal ini bermakna bahwa produk-produk EU dan USA secara implisit merupakan produk beremisi karbon tinggi, berdampak kerusakan lingkungan (embodied carbon emission, embodied forest fire) dibanding dengan produk Indonesia, termasuk minyak sawit. Minyak kedelai dan minyak nabati lainnya yang dihasilkan di daratan USA dan Uni Eropa menjadi bahan baku biodiesel “lebih kotor”
dibandingkan dengan minyak sawit/biodiesel sawit yang dihasilkan dari Indonesia. Menggantikan minyak sawit dengan minyak nabati/biomas produksi domestik USA dan Uni Eropa melalui kebijakan embargo dan proteksi sawit, tidak mendukung upaya penurunan emisi global bahkan mensponsori peningkatan emisi global.
Keyword : emisi GHG, kebakaran hutan, embodied carbon emission, embodied forest fire
*) Dimuat pada PASPI Monitor, Volume IV No. 9/2018
Pendahuluan
Ekspor minyak sawit ke Eropa (EU) dan Amerika Serikat (USA) menghadapi ancaman/hambatan perdagangan yang memerlukan perhatian serius dari pemerintah. Resolusi sawit yang dikeluarkan Parlemen Eropa pada awal Bulan April 2017 lalu, mengancam embargo minyak sawit yang dikaitkan dengan sejumlah isu lingkungan seperti deforestasi, kebakaran hutan, emisi GHG dan gambut. Bahkan Uni Eropa merencanakan akan mengembargo penggunaan minyak sawit sebagai bahan baku biodiesel mulai 2021.
Amerika Serikat yang juga salah satu tujuan ekspor minyaksawit Indonesia yang sedang bertumbuh, akhir Bulan Agustus 2017 lalu merencanakan memberlakukan kebijakan anti dumping berupa Bea Masuk Anti Dumping (BMAD) atas biodiesel sawit dari Indonesia. Tarif BMAD yang direncanakan oleh Departemen Perdagangan Amerika Serikat (USDOC) berkisar 34.5 - 64.73 persen. Jika kebijakan protektif tersebut benar-benar dilaksanakan akan mengancam ekspor biodiesel sawit ke negara Paman Sam tersebut.
Ancaman embargo/hambatan perdagangan sawit tersebut datang dari dua negara kawasan yang termasuk negara papan atas (top ten) emitter gas rumah kaca (GHG) global yang dikenal sebagai penyebab pemanasan global dan perubahan lingkungan. Sebagai emitter terbesar dunia, produk/komoditi apapun yang dihasilkan di daratan Uni Eropa dan Amerika Serikat dapat dikategorikan sebagai komoditi/produk emitter GHG terbesar (embodied carbon emission). Oleh karena itu, seharusnya Uni Eropa dan Amerika Serikat mendorong
Ancaman Embargo Proteksi Sawit dari Negara Top Emitter GRK Dunia 2059
pengurangan konsumsi produk/komoditi yang emitter GHG tertinggi dan beralih kepada produk/komoditi yang dihasilkan dari negara emitter GHG yang lebih rendah.
Tulisan ini akan mendiskusikan perbandingan gas rumah kaca (GHG) antara Amerika Serikat, Uni Eropa dan Indonesia yang sering menjadi alasan dibalik kebijakan Uni Eropa dan Amerika Serikat. Selain isu GHG, kedua negara tersebut juga sering menggunakan isu kebakaran hutan untuk alasan hambatan perdagangan minyak sawit Indonesia. Oleh karena itu perlu didiskusikan perbandingan luas kebakaran hutan antara Amerika Serikat, Uni Eropa dan Indonesia.
Perbandingan Emisi GHG
Emisi GHG global telah meningkat tajam dari sekitar 2.5 Giga ton tahun 1960 menjadi sekitar 42.4 Giga ton tahun 2014 (IEA, 2016). Emisi GHG global tersebut terdiri atas karbondioksida (76 persen), methane (15 persen), nitrogen oksida (7 persen) dan gas golongan halogen buatan manusia (2 persen). Berdasarkan sumbernya, 68 persen emisi GHG dihasilkan dari konsumsi bahan bakar fosil seluruh sektor kehidupan dan 32 persen lainnya bersumber dari berbagai kegiatan manusia diluar konsumsi bahan bakar fosil termasuk emisi dari land use, land use change dan kehutanan (LULUCF).
Negara-negara yang menghasilkan emisi GHG terbesar adalah China (28 persen), Amerika Serikat (16 persen), negara-negara Eropa/EU-28 (10 persen) dan India (6 persen). Sedangkan kontribusi Indonesia dalam emisi GHG global hanyalah 1 persen. Dengan kata lain hampir 50 persen emisi GHG Global berasal dari 4 negara utama
yakni China, Amerika Serikat, EU-28 dan India. Data-data tersebut menegaskan bahwa Indonesia bukanlah kontributor utama emisi GHG global. Upaya masyarakat global dalam menurunkan emisi GHG global akan sangat tergantung pada upaya penurunan GHG dari ke empat negara tersebut.
Jika dibadingkan antara emisi GHG energi fosil Amerika Serikat, Uni Eropa dan Indonesia, menunjukkan sebagai berikut (Tabel 9.1). Emisi GHG Amerika Serikat mencapai 5,176 juta ton CO2, emisi GHG Uni Eropa mencapai 3,160 juta ton CO2 sedangkan Indonesia hanya 436.5 juta ton CO2. Artinya emisi GHG energi fosil Amerika Serikat dan Uni Eropa sekitar 9-11 kali lipat dari emisi GHG energi fosil Indonesia. Hal ini bermakna bahwa produk/komoditi yang dihasilkan di daratan Amerika Serikat dan Uni Eropa tergolong emitter GHG (embodied carbon emission) yang jauh lebih tinggi dibandingkan produk/komoditi yang dihasilkan Indonesia.
Tabel 9.1 Perbandingan Emisi Gas Rumah Kaca (GHG) Amerika Serikat, Uni Eropa dan Indonesia
Negara Emisi GHG Energi Fosil (Juta Ton CO2)*
Emisi Pertanian (Juta Ton)**
Amerika Serikat
(USA) 5,176.2 421.2
Uni Eropa (EU-28) 3,160.0 389.2
Indonesia 436.5 168.3
Sumber : *IEA (2016) **FAO (2013)
Ancaman Embargo Proteksi Sawit dari Negara Top Emitter GRK Dunia 2061
Meskipun kontribusi emisi pertanian global relatif kecil yakni 11 persen dari emisi GHG global menarik untuk dilihat dari mana saja emisi pertanian menghasilkan emisi.
Berdasarkan data Food and Agriculture Organization (FAO, 2013) sumber emisi pertanian global terbesar adalah dari kegiatan yang terkait dengan peternakan dan pemanfaatan pupuk kandang (manure) yang mencapai 68 persen dari total emisi pertanian global. Emisi dari peternakan global ini berupa gas methan dan gas nitrogen oksida.
Dilihat dari kontribusi emisi GHG pertanian negara-negara dunia menunjukkan bahwa negara-negara penghasil emisi GHG pertanian terbesar adalah China (14 persen), India (13 persen), Brazil (8 persen), EU-28 dan Amerika Serikat masing-masing 8 persen. Kontribusi ke 5 negara tersebut mencapai 52 persen dari total GHG pertanian global. Lagi-lagi kontribusi pertanian Indonesia relatif kecil yakni hanya 3 persen.
Perbandingan kontribusi emisi GHG pertanian antara Amerika Serikat, Uni Eropa dan Indonesia (Tabel 9.1) menunjukkan bawa emisi GHG pertanian Amerika Serikat sebesar 421 juta ton, Uni Eropa sebesar 389 juta ton.
Sedangkan emisi GHG pertanian Indonesia hanya sebesar 168 juta ton. Artinya emisi GHG pertanian Amerika Serikat dan Uni Eropa 3-4 kali lipat dari emisi GHG pertanian Indonesia. Hal ini bermakna bahwa produk/komoditi pertanian termasuk bahan baku biodesel yang dihasilkan di daratan Amerika Serikat dan Uni Eropa tergolong emitter GHG (embodied carbon emission) yang jauh lebih tinggi dibandingkan produk/komoditi yang dihasilkan Indonesia.
Perbandingan Luas Kebakaran Hutan
Salah satu tuduhan Uni Eropa terhadap industri sawit Indonesia adalah isu kebakaran hutan. Memang kebakaran hutan memiliki dampak ganda terhadap lingkungan, yakni meningkatkan emisi CO2, polusi udara dan musnahnya keragaman hayati. Dalam periode 2011-2015 misalnya rata-rata luas kebakaran hutan dan lahan pertahun di berbagai negara masih tetap tinggi bahkan sebagian besar lebih luas dibandingkan dengan Indonesia.
Luas kebakaran hutan dan lahan di USA meningkat dari 327 ribu hektar (2011) menjadi 4 juta hektar (2015) atau rata-rata 2.2 juta hektar per tahun. Sementara luas kebakaran hutan Uni Eropa dan Rusia meningkat dari 1.9 juta hektar (2011) menjadi 3.2 juta hektar (2015) atau rata-rata 2.6 juta hektar per tahun. Sedangkan luas kebakaran hutan dari 2.6 ribu hektar (2011) menjadi 261 ribu hektar (2015) atau rata-rata hanya 65 ribu hektar (Gambar 9.1).
Ancaman Embargo Proteksi Sawit dari Negara Top Emitter GRK Dunia 2063
Gambar 9.1 Luas Kebakaran Hutan di Amerika Serikat, Eropa dan Indonesia (Sumber : European Commission, 2016 *USA-NOAA, National Centers for Environmental Information **
Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan)
Data-data luas kebakaran hutan/lahan tersebut menunjukkah bahwa luas kebakaran hutan/lahan di Amerika Serikat dan Uni Eropa 35-41 kali lipat lebih luas dibandingkan dengan luas kebakaran hutan di Indonesia.
Hal ini bermakna bahwa produk/komoditi yang dihasilkan di daratan Amerika Serikat dan Uni Eropa tergolong
“pembakar” hutan/lahan (embodied forest fire) yang jauh lebih besar dibandingkan produk/komoditi yang dihasilkan Indonesia.
Dengan demikian argumentasi rencana embargo minyak sawit ke pasar Eropa dan Amerika Serikat dengan alasan isu lingkungan tidak memiliki dasar. Faktanya kerusakan lingkungan (emisi GHG, kebakaran hutan) di Uni Eropa dan Amerika Serikat jauh lebih besar dibandingkan dengan di Indonesia.
0.00 1.00 2.00 3.00 4.00 5.00
Juta Hektar Indonesia**
Eropa + Rusia USA*
Dalam konteks perdagangan global, produk-produk EU dan USA secara implisit merupakan produk beremisi karbon tinggi, berdampak kerusakan lingkungan dibanding dengan produk Indonesia, termasuk minyak sawit. Minyak kedelai dan minyak nabati lainnya yang dihasilkan di USA dan menjadi bahan baku biodiesel, “lebih kotor” (embodied carbon emission, embodied forest fire) dibandingkan dengan minyak sawit/biodiesel sawit yang dihasilkan dari Indonesia. Demikian juga minyak rapeseed, sunflower atau biomas lainnya yang dihasilkan di daratan Eropa dan digunakan sebagai bahan baku biodiesel, juga
“lebih kotor” (embodied carbon emission, embodied forest fire) dibandingkan dengan minyak sawit/biodiesel sawit yang dihasilkan dari Indonesia.
Dengan kata lain, embargo minyak sawit yang direncanakan Uni Eropa maupun kebijakan proteksionis minyak sawit di Amerika Serikat bukan hanya anti lingkungan tetapi juga mensponsori perusakan lingkungan. Menggantikan minyak sawit dengan minyak nabati/biomas produksi domestik USA dan Uni Eropa, tidak mendukung upaya penurunan emisi global bahkan mensponsori peningkatan emisi global.
Kesimpulan
Ancaman embargo/proteksi minyak sawit berasal dari negara-negara top emitter GHG dunia dan luas kebakaran hutan terbesar yakni Amerika Serikat dan Uni Eropa. Emisi GHG Amerika Serikat mencapai 5,176 juta ton CO2, emisi GHG Uni Eropa mencapai 3,160 juta ton CO2 sedangkan Indonesia hanya 436.5 juta ton CO2. Artinya emisi GHG energi fosil Amerika Serikat dan Uni Eropa sekitar 9-11
Ancaman Embargo Proteksi Sawit dari Negara Top Emitter GRK Dunia 2065
kali lipat dari emisi GHG energi fosil Indonesia. Demikian juga emisi GHG pertanian Amerika Serikat sebesar 421 juta ton, Uni Eropa sebesar 389 juta ton. Sedangkan emisi GHG pertanian Indonesia hanya sebesar 168 juta ton. Artinya emisi GHG pertanian Amerika Serikat dan Uni Eropa 3-4 kali lipat dari emisi GHG pertanian Indonesia.
Luas kebakaran hutan dan lahan di USA meningkat dari 327 ribu hektar (2011) menjadi 4 juta hektar (2015) atau rata-rata 2.2 juta hektar per tahun. Sementara luas kebakaran hutan Uni Eropa dan Rusia meningkat dari 1.9 juta hektar (2011) menjadi 3.2 juta hektar (2015) atau rata-rata 2.6 juta hektar per tahun. Sedangkan luas kebakaran hutan dari 2.6 ribu hektar (2011) menjadi 261 ribu hektar (2015) atau rata-rata hanya 65 ribu hektar.
Atau luas kebakaran hutan/lahan di Amerika Serikat dan Uni Eropa 35-41 kali lipat lebih luas dibandingkan dengan luas kebakaran hutan di Indonesia.
Hal ini bermakna bahwa produk-produk EU dan USA secara implisit merupakan produk beremisi karbon tinggi, berdampak kerusakan lingkungan (embodied carbon emission, embodied forest fire) dibanding dengan produk Indonesia, termasuk minyak sawit. Minyak kedelai dan minyak nabati lainnya yang dihasilkan di daratan USA dan Uni Eropa menjadi bahan baku biodiesel “lebih kotor”
dibandingkan dengan minyak sawit/biodiesel sawit yang dihasilkan dari Indonesia.
Menggantikan minyak sawit dengan minyak nabati/biomas produksi domestik USA dan Uni Eropa melalui kebijakan embargo dan proteksi sawit, tidak mendukung upaya penurunan emisi global bahkan mensponsori peningkatan emisi global.
PASPI Monitor, Volume 1 No. 24/2015