• Tidak ada hasil yang ditemukan

Penyelenggaraan Program Studi

G. Ancaman Prodi Sejenis Baru

1 Dibukanya prodi dengan bidang arsitektur yang lebih spesifik

Meningkatkan

program dan fasilitas kampus

Benchmarking prodi Arsitektur terhadap kampus kompetitor 2 Dibukanya prodi sejenis di beberapa

universitas yang berdekatan dengan UPJ 3 Dibukanya kelas daring

Namun dibalik setiap tantangan selalu ada peluang dan Program Studi Arsitektur perlu mengidentifikasi peluang-peluang apa saja yang dapat dimanfaatkan agar tujuan penyelenggaraannya tercapai. Adapun peluang adalah hal-hal diluar Program Studi Arsitektur yang tak dapat dikendalikan dan memiliki dampak positif/menguntungkan apabila dapat dimanfaatkan dengan baik. Berikut adalah daftar peluang yang perlu dimanfaatkan oleh Program Studi Arsitektur:

22

No Deskripsi Peluang Justifikasi Sumber Informasi

A Peluang Persaingan

1 Living lab Grup Jaya Memanfaatkan living

lab Grup Jaya pada pembelajaran

MoU Grup Jaya

2 Akses kampus yang berorientasi transit Memudahkan pengguna

mengakses kampus

Masukan dan saran pengguna UPJ

3 Biaya perkuliahan terjangkau Menyesuaikan biaya dengan segmen calon mahasiswa 4 Tersedianya Jaminan Kerja Jarang ada yang

menawarkan peluang ini

Marketing

5 Tersedianya beasiswa Beasiswa dari Dikti, Internal UPJ dan Grup Jaya

Marketing

B Peluang Perubahan Calon Mahasiswa 1 Sosialisasi calon mahasiswa dari

MAN/IPS

Memperluas range jurusan asal sekolah

Masukan dan saran pengguna UPJ

C Peluang Kebutuhan Industri

1 Bidang kerja lulusan lebih luas, tidak hanya bidang arsitektur

Mengakomodir pengembangan keilmuan yang lebih umum

Industri

D Peluang Kemajuan Teknologi/Ilmu

1 Kelas daring (blended learning) Membuka kelas daring

DIKTI, masukan dan saran pengguna UPJ E Peluang Perubahan Regulasi

1 Regulasi pendidikan jarak jauh oleh Kemenristek Dikti

Membuka kelas daring

DIKTI, masukan dan saran pengguna UPJ

23

Dari tabel ancaman dan peluang di atas, terdapat ancaman yang paling dominan yaitu dari tuntutan lulusan, yaitu adanya kebutuhan industri, tuntutan profesi dan persyaratan akreditasi. Hal ini sangat mendominasi karena pada prinsipnya fungsi pendidikan tinggi adalah untuk menjembatani atau mempersiapkan lulusan yang mampu untuk menempatkan diri dan memiliki kemampuan hardskills maupun softskills di dunia kerja. Hal tersebut juga menjadi sorotan dengan adanya teknologi yang terus terbarui, termasuk kebaruan dalam digitalisasi arsitektur. Hal tersebut terus diantisipasi oleh prodi Arsitektur terutama untuk target akreditasi A berikutnya.

Berbeda dengan ancaman, hal yang paling memberikan peluang bagi Prodi Arsitektur adalah dalam hal peluang persaingan. Dengan dukungan dari Grup Jaya, maka Prodi Arsitektur dapat mengeksplorasi lebih jauh lagi untuk berkegiatan dengan Grup Jaya sebagai Living Lab. Hal ini menjadi penting karena keistimewaan dukungan perusahaan ini bahkan tidak dimiliki setiap kampus. Akses kampus yang berorientasi transit dan biaya perkuliahan yang terjangkau juga menjadi peluang untuk bersaingnya Prodi Arsitektur UPJ dibanding dengan kampus lain. Selanjutnya Program Studi Arsitektur juga perlu mengevaluasi dirinya sendiri untuk memahami kelemahan apa yang dimiliki dan kekuatan apa yang perlu dibangun. Kelemahan dalam analisis ini adalah hal-hal di dalam Program Studi Arsitektur yang dapat dikendalikan dan berdampak negative apabila tidak dikelola dengan baik, serta kelemahan yang sama sudah berhasil diselesaikan oleh pesaing. Berikut adalah daftar kelemahan yang perlu segera diselesaikan oleh Program Studi Arsitektur:

Tabel 8. Daftar Kelemahan

No Deskripsi Kelemahan Justifikasi Sumber Informasi

A Kelemahan SDM

1 Rasio dosen: mahasiswa belum ideal Proses rekrutmen kurang menarik, bersaing dengan kampus lain

Borang APS, DIKTI 2 Jumlah dosen berjenjang S3 belum

tercukupi

3 Dosen tersertifikasi masih sedikit 4 Belum memiliki tenaga kependidikan

5 Proses seleksi belum ideal Benchmarking prodi

Arsitektur terhadap kampus kompetitor B Kelemahan Finansial

1 Masih bergantung pada Yayasan Belum adanya keleluasaan dalam

Internal 2 Keterbatasan dana P2M

24

No Deskripsi Kelemahan Justifikasi Sumber Informasi

3 Keterbatasan dana pengadaan sarana dan prasarana

mengelola keuangan

C Kelemahan Teknologi/Fasilitas

1 Kualitas sarana dan prasarana Peningkatan fasilitas smart campus

Benchmarking prodi Arsitektur terhadap kampus kompetitor 2 Kualitas sistem teknologi informasi

D Kelemahan Sistem Penyelenggaraan

1 Kelengkapan SOP belum tersosialisasi Kurangnya keterbukaan

informasi dan sosialisasi

Internal 2 Belum terselenggaranya manajemen

penjaminan mutu internal

E Kelemahan Ilmu/Kurikulum/Output 1 Bidang pengajaran belum sesuai

dengan kompetensi dosen

Keterbatasan jumlah dosen dengan keahlian dan kompetensi khusus.

Internal

2 Kesulitan penyesuaian kurikulum sesuai perkembangan industri

Adanya penyesuaian kurikulum yang diakomodir setiap 4 tahun sekali.

3 Kesulitan perimbangan ilmu teknis dan teoretis

Keterbatasan laboratorium penunjang perkuliahan.

Selanjutnya Program Studi Arsitektur juga perlu memetakan kekuatannya dengan baik. Kekuatan yang dimaksud dalam analisis ini adalah hal-hal di dalam Program Studi Arsitektur, dapat dikendalikan, disukai pihak eksternal dan tidak dimiliki oleh pesaing. Berikut adalah daftar kekuatan yang perlu segera dimanfaatkan oleh Program Studi Arsitektur:

25 Tabel 9. Daftar Kekuatan

No Deskripsi Kekuatan Justifikasi Sumber Informasi

A Kekuatan SDM

1 MoU dengan Grup Jaya Sudah berjalannya kegiatan dengan perusahaan Jaya.

Internal (MoU)

2 Variasi keahlian Jumlah dosen yang

ada sudah mewakili beberapa keahlian.

3 Networking luas Terjalinnya berbagai

kegiatan yang melibatkan pihak eksternal.

B Kekuatan Finansial

1 Efisien dalam penggunaan dana Penyerapan

anggaran sesuai dengan

perencanaan.

Monev internal

C Kekuatan Teknologi/Fasilitas

1 Tersedia MK berbasis teknologi Memanfaatkan fasilitas berbasis teknologi dalam pembelajaran.

Kurikulum Prodi Arsitektur

D Kekuatan Sistem Penyelenggaraan

1 Sistem informasi akademik terintegrasi Kemudahaan dan keterbukaan informasi dalam penyelenggaraan kegiatan akademik. Mysisfo E Kekuatan Ilmu/Kurikulum/Output 1 Konsisten menerima hibah internal dan

eksternal

Ketertarikan dosen dalam mendapatkan hibah.

26 2 80% lulusan bekerja di bidang

arsitektur Kesesuaian antara kompetensi lulusan dengan kebutuhan dunia kerja. Tracer study

3 Kurikulum berfokus pada Green Architecture

Setiap mata kuliah bermuatan konsep green architecture

Kurikulum Prodi Arsitektur

4 Mata kuliah berbasis teknologi menjadi MK Wajib

Menyesuaikan kebutuhan industri

Tabel daftar kekuatan dan kelemahan di atas penting untuk dikaji dalam rangka meningkatkan kualitas di masa mendatang. Hal yang paling penting dilakukan adalah mengurangi kelemahan, khususnya bidang SDM, yaitu rasio dosen berbanding mahasiswa yang belum ideal, jumlah dosen berjenjang S3 yang belum tercukupi, masih sedikitnya dosen tersertifikasi, belum memiliki tenaga kependidikan dan terjadinya proses seleksi yang belum ideal. Hal ini perlu diantisipasi segera mengingat Borang APS dari Dikti menetapkan kualitas SDM ini pada hal utama untuk proses akreditasi. Dengan dukungan universitas, prodi perlu segera menambah sumber daya dosen agar beban dosen untuk mengajar tidak berlebihan. Dengan demikian diharapkan para dosen memiliki cukup waktu untuk mengembangkan program pembelajaran sekaligus meningkatkan kualitas penelitian dan pengabdian masyarakat. Penambahan dosen berjenjang S3 juga perlu segera direalisasikan untuk memenuhi persyaratan akreditasi yang lebih tinggi sekaligus untuk memberi kesempatan bagi dosen yang masih berjenjang S2 dapat segera melanjtkan pendidikannya. Prodi juga sangat mengharapkan bantuan Universitas untuk lebih aktif dalam membantu proses administrasi dosen di level nasional seperti pengurusan NIDN, jabatan fungsional dan sertfikasi dosen karena penyelesaian proses tersebut tidak hanya berdampak pada akreditasi prodi namun secara langsung juga berampak pada akreditasi universitas. Demikian pula ketersediaan tenaga kependidikan, Prodi memerlukan dukungan Universitas untuk mewujudkannya. Ketersediaan tenaga kependidikan di level prodi penting untuk mewujudkan kemandirian prodi dalam tata kelola praktis internal sekaligus mengurangi beban universitas, sehingga Universitas dapat lebih fokus pada kebijakan dan tidak terganggu dengan problem-problem praktis. Sedangkan tentang proses rekrutmen yang kurang fleksibel dan kompetitif menyebabkan banyak kandidat yang potensial urung diterima. Problem yang sering ditemui saat rekrutmen adalah rendahnya standar gaji serta keleluasaan dalam mengatur waktu kehadiran dosen di kampus.

Sebaliknya, hal yang paling segera harus dilakukan untuk meningkatkan atau menciptakan kekuatan adalah dengan berkolaborasi dengan Grup Jaya lebih intens dan meningkatkan

27

kekhasan Program Studi Arsitektur untuk dapat lebih dikenal di khalayak umum. Kekuatan dari keilmuan juga perku diekspos dengan menambah jumlah penelitian dan pengabdian pada masyarakat untuk mendapatkan hibah baik internal maupun eksternal.

Secara umum, hasil analisis tentang ancaman, peluang, kelemahan, dan kekuatan yang telah dilakukan di atas menggiring Program Studi Untuk melakukan lima tindakan antisipatif berikut ini, agar prodi tetap relevan dan memiliki daya saing:

1. Meningkatkan kualitas SDM, sarana dan prasarana terkait smart campus.

2. Membekali softskills dan hardskills mahasiswa untuk bersaing secara global serta mendorong untuk memiliki jiwa entrepreuner.

3. Mendorong lulusan memiliki sertifikasi profesi arsitek, mengenal BIM dan memiliki sertifikat TOEIC

4. Memperkuat kerjasama dengan Grup Jaya

28

Matriks T.O.W.S

Analisis T.O.W.S di atas menunjukan bahwa Program Studi Arsitektur Universitas Pembangunan Jaya pada saat ini dinilai memiliki lebih banyak kekuatan dibandingkan kelemahan, dan menghadapi lebih banyak peluang daripada ancaman. Langkah antisipati perlu dilakukan untuk mengatasi ancaman dan meminimalisasi kelemahan tersebut, yang diselaraskan dengan maksimalisasi kekuatan yang dimiliki dalam upaya memaksimalkan peluang. Berdasarkan paparan pada bagian sebelumnya, maka T.O.W.S matrix untuk Program Studi Arsitektur Universitas Pembangunan Jaya adalah sebagai berikut:

Tabel 10. TOWS Matrix Mini-Max Kelemahan dan Peluang Peluang

Kelemahan

Strategy Mini-Max

1 Memanfaatkan SDM grup Jaya sebagai dosen luar biasa atau tamu 2 Mendorong dosen S2 untuk melanjutkan pendidikan jenjang S3 3 Mendorong dosen untuk memiliki sertifikasi dosen

4 Membuka peluang bagi tenaga kependidikan untuk menunjang pembelajaran

29

6 Mendorong prodi untuk menghasilkan Income Generating (IG) 7 Mendorong dosen untuk memperoleh hibah eksternal

8 Memanfaatkan Income Generating untuk meningkatkan sarana dan prasarana

9 Melengkapi SOP beserta kegiatan sosialisasinya

10 Memaksimalkan penyelenggaraan manajemen penjaminan mutu internal

11 Melibatkan pihak industri dalam merumuskan kurikulum

12 Memanfaatkan kekuatan industri untuk menunjang pembelajaran yang bersifat teknis

Strategi Mini-Max ini adalah tindakan-tindakan strategis yang harus dilakukan oleh Program Studi Arsitektur untuk meminimalisasi kelemahan yang sekaligus dapat memaksimalkan peluang. Selanjutnya Program Studi Arsitektur juga perlu menyusun strategi Maksi-Max sebagai berikut:

Tabel 11. TOWS Matrix Mini-Max Kekuatan dan Peluang Peluang

Kekuatan

Strategy Maksi-Max

1 Memanfaatkan MoU dengan grup Jaya untuk membuka program profesi 2 Memanfaatkan variasi keahlian dan networking luas untuk membuka

peluang untuk Income Generating (IG)

3 Meningkatkan outcome kegiatan dengan memanfaatkan efisiensi penggunaan dana

4 Memanfaatkan teknologi selain untuk pembelajaran juga untuk Income Generating (IG)

5 Memanfaatkan Sistem Informasi akademik yang terintegrasi untuk mendorong terselenggaranya program smart campus

6 Menggunakan dana hibah secara maksimal untuk mendorong peningkatan publikasi dosen

7 Memanfaatkan lulusan yang bekerja di bidang arsitektur dalam meningkatkan kualitas pembelajaran

30

8 Menggunakan visi Green Architecture sebagai daya tarik dalam pemasaran

Strategi Maksi-Max ini adalah tindakan-tindakan strategis yang harus dilakukan oleh Program Studi Arsitektur untuk memaksimalkan kekuatan yang dimiliki demi memaksimalkan peluang yang ada. Selanjutnya Program Studi Arsitektur juga perlu untuk menyusun strategi Maksi-Min sebagai berikut:

Tabel 12. TOWS Matrix Mini-Max Kekuatan dan Ancaman Ancaman

Kekuatan

Strategy Maksi-Min

1 Memaksimalkan dan memberikan ciri khas pembelajaran dibawah payung kerjasama MoU grup Jaya untuk antisipasi persaingan antar institusi dengan program studi sejenis

2 Meningkatkan capaian kerja dengan efisiensi penggunaan dana yang ditunjang dengan peningkatan perolehan Income Generating (IG)

3 Memaksimalkan prasarana penunjang perkuliahan yang berbasis teknologi untuk mengantisipasi kebutuhan industri di era disrupsi

4 Mengembangkan sistem informasi akademik yang terintegrasi untuk mengantisipasi kebutuhan masyarakat atas kemudahan dan keterbukaan informasi

5 Mengembangkan kurikulum program studi Arsitektur sebagai tanggapan atas kebutuhan industri, profesi dan asosiasi untuk memperoleh kompetensi lulusan yang sesuai dengan kebutuhan masa depan

Strategi Maksi-Min ini adalah tindakan-tindakan strategis yang harus dilakukan oleh Program Studi Arsitektur untuk memaksimalkan kekuatan yang dimiliki demi mengantisipasi ancaman-ancaman dari luar. Selanjutnya Program Studi Arsitektur juga perlu menyusun strategi Mini-Min sebagai berikut:

31

Tabel 13. TOWS Matrix Mini-Max Kelemahan dan Ancaman Ancaman

Kelemahan

Strategy Mini-Min

1 Memanfaatkan keterbatasan SDM dengan mengoptimalkan SDM S2 untuk menghadapi persaingan kuantitas dan kualitas pesaing

2 Memanfaatkan keterbatasan finansial dengan menghidupkan potensi potensi IG (Income Generation)

3 Memanfaatkan regulasi untuk membangun sistem penjaminan mutu internal yang berbasis teknologi informasi dan komunikasi dalam menghadapi ancaman teknologi dan industri 4.0

4 Memanfaatkan tekanan kompetisi dengan pesaing program studi arsitektur untuk melakukan peningkatan standar mutu dan penyelenggaraan SOP

5 Memanfaatkan SDM Group Jaya dan Laboratorium Hidup Jaya untuk membantu dalam bidang pengajaran yang belum sesuai dengan kompetensi dosen serta kesulitan penyesuaian kurikulum sesuai perkembangan industri, sehingga menjadi ciri khas bagi program studi arsitektur dalam ancaman persaingan yang ketat.

Strategi Mini-min ini adalah tindakan-tindakan strategis yang harus dilakukan oleh Program Studi Arsitektur untuk meminimalisasi kelemahan sekaligus unutk mengantisipasi ancaman. Berdasarkan empat tabel TOWS Matrix tersebut, Program Studi Arsitektur selanjutnya menyusun serangkaian sasaran yang spesifik, terukur, dapat dipertanggungjawabkan, rasional, dan memiliki lingkup waktu yang jelas.

32

Dokumen terkait