• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

E. Anggaran Pendapatan dan Belanja Desa

1. Pengertian Anggaran Pendapatan dan Belanja Desa

Menurut governmental accounting standarts board (GASB) dalam (Hadiwijoyo & Anisa, 2019) menjelaskan bahwa definisi anggaran adalah suatu rencana operasi keuangan, yang mencakup estimasi pengeluaran yang diusulkan, dan sumber pendapatan yang diharapkan untuk membiayainya untuk periode waktu tertentu. Anggaran merupakan pernyataan mengenai estimasi kinerja yang hendak dicapai selama periode waktu tertentu yang dinyatakan dalam ukuran finansial, anggaran tersebut berupa dokumen yang menggambarkan kondisi keuangan dari suatu organisasi yang meliputi informasi mengenai pendapatan, belanja dan aktivitas (Mardiasmo, 2018).

Menurut Permendagri Republik Indonesia nomor 113 tahun 2014 tentang pengelolaan keuangan desa menyatakan bahwa Anggaran pendapatan dan belanja desa, selanjutnya disebut APBDesa adalah rencana keuangan tahunan pemerintahan desa yang mana APBDesa ini merupakan dasar untuk pengelolaan keuangan desa dalam masa satu tahun anggaran mulai tanggal 1 januari sampai dengan tanggal 31 desember. Dengan adanya APBDes penyelenggaraan pemerintah desa memiliki rencana strategis yang terukur berdasarkan anggaran yang tersedia dan yang akan dipergunakan (Karlinayani & Ningsih, 2018).

2. Fungsi Anggaran Sektor Publik

(Mardiasmo, 2018) menyatakan bahwa anggaran sektor publik memiliki beberapa fungsi yaitu diantaranya:

a. Sebagai alat perencanaan

Merupakan sebuah alat perencanaan bagi manajemen untuk pencapaian tujuan organisasi. Anggaran ini dibuat guna merencanakan tidakan apa yang akan dilakukan oleh pemerintah, berapa biaya yang dibutuhkan serta berapa hasil yang akan didapatkan dari belanja pemerintahan tersebut. Dengan adanya suatu perencanaan maka kegiatan yang direncanakan akan berjalan dengan baik.

b. Anggaran sebagai alat pengendalian

Anggaran sebagai suatu alat dalam pengendalian memberikan rencana detail terhadap pendapatan dan pengeluaran pemerintah supaya pembelanjaan yang dilakukan dapat dipertanggungjawabkan kepada publik. Maksudnya, dengan anggaran pemerintah bisa mengendalikan agar tidak terjadi pemborosan pengeluaran.

c. Anggaran sebagai alat kebijakan fiskal

Anggaran sebagai alat kebijakan fiskal pemerintah yaitu digunakan dalam menstabilkan dan mendorong pertumbuhan ekonomi.

d. Anggaran sebagai alat politik

Anggaran sebagai alat politik digunakan untuk memutuskan prioritas-prioritas dan kebutuhan keuangan terhadap prioritas tersebut, dimana apabila terjadi kegagalan dalam pelaksanaan pengelolaan anggaran sesuai yang telah disepakati maka itu akan menjatuhkan kepemimpinan atau menurunkan kredibilitas pemerintah.

e. Anggaran sebagai alat koordinasi dan komunikasi

Anggaran dapat diartikan sebagai alat koordinasi antar bagian sebuah pemerintahan, dimana apabila anggaran publik disusun dengan baik akan mampu mendeteksi terjadinya inkonsistensi suatu unit kerja dalam pencapaian tujuan organisasi. Selain itu juga, anggaran berfungsi sebagai alat komunikasi antar unit kerja dalam lingkungan eksekutif yaitu anggaran tersebut harus dikomunikasikan ke seluruh bagian organisasi untuk dilaksanakan.

f. Anggaran sebagai alat penilaian kinerja

Anggaran sebagai alat penilaian kinerja adalah suatu wujud komitmen oleh budget holder (eksekutif) kepada pemberi wewenang (legislatif). Kinerja eksekutif akan dinilai berdasarkan pencapaian target anggaran dan efesiensi pelaksanaan anggaran, sedangkan kenerja manajer publik dinilai berdasarkan pada berapa yang berhasil dia capai berdasarkan dengan anggaran yang telah ditetapkan.

g. Anggaran sebagai alat motivasi

Anggaran sebagai alat motivasi dimaksudkan sebagai alat untuk memotivasi manajer dan stafnya agar bekerja secara ekonomis, efektif serta efisien guna pencapaian target dan tujuan organisasi yang sudah ditetapkan.

3. Manfaat Anggaran Desa

Menurut (Zakiyah dkk., 2020) ada beberapa manfaat dari anggaran desa yaitu:

a. Sebagai panduan untuk pemerintah desa dalam penentuan strategi kegiatan operasional, dengan melihat kebutuhan dan ketersediaan sumber daya.

b. Sebagai salah satu indikator dalam penentuan besarnya biaya pelayanan yang akan dibebankan kepada masyarakat.

c. Sebagai bahan pertimbangan untuk menggali sumber pendapatan lain seperti mengajukan pinjaman.

d. Memberikan kewenangan terhadap pemerintah desa dalam penyelenggaraan administrasi desa.

e. Sebagai pemberi arahan untuk pemerintah desa dalam penyelenggaraan dan pengawasan pemerintahan desa.

f. Menggambarkan kebijakan dari pembangunan desa dalam satu periode anggaran.

4. Siklus Anggaran

Menurut (Mardiasmo, 2018) menjelaskan bahwa siklus anggaran meliputi empat tahap yang terdiri atas:

a. Tahap persiapan anggaran

Pada tahap persiapan, dilakukan taksiran pengeluaran atas dasar taksiran pendapatan yang tersedia.

b. Tahap ratifikasi anggaran

Tahap ratifikasi anggaran adalah tahap yang melibatkan proses politik yang cukup rumit dan cukup berat, dimana sebagai seorang pimpinan eksekutif dituntut tidak hanya memiliki managerial skil namun juga harus mempunyai kemampuan seperti political skil, dan coalition building yang memadai. Integritas serta kesiapan mental

yang tinggi dari eksekutif sangat penting karena pimpinan eksekutif harus mempunyai kemampuan untuk menjawab dan memberikan argumentasi yang rasional terhadap segala pertanyaan serta bantahan dari pihak legislative.

c. Tahap pelaksanaan anggaran

Pada tahap pelaksanaan anggaran yang mesti diperhatikan yaitu sistem akuntansi dan pengendalian manajemen harus memadai dan andal untuk mendukung pelaksanaan anggaran.

d. Tahap pelaporan dan evaluasi anggaran

Tahap pelaporan dan evaluasi berhubungan dengan aspek akuntabilitas.

5. Struktur Anggaran

(Nurcholis, 2011) menyatakan bahwa struktur anggaran pendapatan dan belanja desa (APBDes) terdiri dari:

a. Pendapatan desa

Permendagri nomor 113 tahun 2014 pasal 9 ayat 1 tentang pengelolaan keuangan desa, menyatakan bahwa pendapatan meliputi semua penerimaan uang melalui rekening desa yang merupakan hak desa dalam satu tahun anggaran dan tidak perlu dikembalikan oleh desa. Pendapatan desa terdiri dari:

1. Pendapatan asli desa (PADesa) 2. Bagi hasil pajak kabupaten/kota 3. Bagian dari retribusi kabupaten/kota 4. Alokasi dana desa (ADD)

5. Bantuan keuangan dari pemerintah, pemerintah provinsi, pemerintah kabupaten/kota, dan desa lainnya

6. Hibah

7. Sumbangan pihak ketiga b. Belanja desa

Permendagri nomor 113 tahun 2014 pasal 12 ayat 1 tentang pengelolaan keuangan desa, menyatakan bahwa belanja desa adalah semua pengeluaran dari rekening desa yang merupakan kewajiban desa dalam satu tahun anggaran yang tidak akan diterima kembali pembayarannya oleh desa. Belanja desa terdiri dari

1. belanja langsung meliputi:

a) belanja pegawai

b) belanja barang dan jasa c) belanja modal

2. belanja tidak langsung

a) belanja pegawai/penghasilan tetap b) belanja subsidi

c) belanja hibah

d) belanja bantuan sosial e) belanja bantuan keuangan f) belanja tak terduga.

c. Pembiayaan desa

Permendagri nomor 113 tahun 2014 pasal 18 ayat 1 tentang pengelolaan keuangan desa, menyatakan bahwa pembiayaan desa

meliputi semua penerimaan yang perlu dibayar kembali dan/atau pengeluaran yang akan diterima kembali, baik pada tahun anggaran yang bersangkutan maupun pada tahun anggaran berikutnya.

Pembiayaan desa terdiri dari:

1. Penerimanaan pembiayaan, meliputi:

a) Sisa lebih perhitungan anggaran b) Pencairan dana cadangan

c) Hasil penjualan kekayaan desa yang dipisahkan d) Penerimaan pinjaman

2. Pengeluaran pembiayaan, meliputi:

a) Pembentukan dana cadangan b) Penyertaan modal desa c) Pembayaran utang

Dokumen terkait