• Tidak ada hasil yang ditemukan

ARSIP DPR RI

ANGGOTA FABRI (SOEYANTO SK, MBA) :

Teri ma kasih.

FABRI menangkap bahwa dari FKP ini substansinya itu penajaman tugas pengawasan saja, karena tugas mengatur pada Pasal 24, 25 dan 26 ini muncul disini, sehingga usu I ayat baru. Sa ya pikir usulan ayat baru bisa kita pikirkan, tetapi substansinya sebetulnya bagaimana ayat baru ini menampung masalah katakanlah mekanisme court disini antara Bl yang independen dan lembaga yang independen tadi, sama-sama independen ini kalau tidak ditopang oleh mekanisme organisasi yang benar ini akan sulit sekali.

Kita terima itu, kemudian FPP itu mengingat kita saja apa sih sebetulnya dasar-dasar kita dulu mengadakan lobby dan apa hasilnya, itu juga bagus saya pikir sesuai dengan FPDI.

Sekarang FABRI melihat persoalan pokok disini, sebenarnya ada 2 pendapat kalau kita bicara lembaga pengawasan yang independen disini itu bisa mencerminkan 2 hal, lembaga yang independen sekaligus juga mengawasi bank dan juga lembaga keuangan non bank. Tapi juga bisa yang Bank Sentral ini tetap masih mengadakan pengawasan terhadap bank karena dia namanya Bank Sentral, di sisi lain timbul lembaga independen yang mengadakan pengawasan masalah lembaga keuangan yang non banknya. lni persepsi dua yang perlu dipadukan, dikaitkan juga dengan bagaimana itu pencapaian hasil lobby itu.

Jadi ini sebetulnya substansinya, jadi ada ide bagus apakah ini mau kita pecahkan sekarang dari Pak Nico kalau tidak salah, atau kita bebankan kepada yang akan datang. Sebab tugas a, b, c sudah tercantum itu sudah akan dilaksanakan oleh Bank Sentral yang mendatang ini sampai dengan tahun 2002.

Sekarang tadi usul yang agak menarik dari Nico_ saya tangkap tinggal mau dipecahkan sekarang atau mau dibebankan kepada yang akan datang.

Dengan demikian persoalan kita akan lebih nampak, bagi FABRI pada

~\. dasarnya mungkin perlu kita terlaksanakan pertama-tama kita lobby dulu karena ini bukan hal yang terlalu sulit untuk segera dipecahkan.

ARSIP DPR RI

Sehingga dengan demikian setelah itu bisa kita umumkan apa itu hasilnya dengan resening yang lebih mapan tentunya.

Demikian Saudara Ketua, Terima kasih.

KETUA RAPAT :

Terima kasih, kami teruskan kepada Pemerintah.

PEMERINTAH :

Terima kasih Pimpinan.

Mengenai rumusan ayat pertama ayat ( 1) tadi sebetulnya kami tidak ada perbedaan yang substansial, dapat menerima ayat yang pertama dengan catatan saja bahwa setelah kami bicarakan bersama dengan Saudara Gubernur, penunjukan pasal-pasal mungkin ada gunanya yaitu Pasal 27, 28, 29, 31, 33 mungkin ada gunanya.

Jadi itu untuk menegaskan melengkapi yang kita buang pada penjelasan Pasal 8 tadi, melengkapi tadi diperkuat lagi disini itu yang ayat ( 1 )-nya.

Ada tambahan yang memang dibutuhkan selain dengan demikian kalau ayat { 1) tadi sudah benar bisa disepakati, ayat {2) kiranya tidak merupakan masalah sehingga dua ada 2 ayat. Tetapi ada substansi yang masih perlu diperhatikan, atau menjadi perhatian yaitu mengenai koordinasi di dalam pertukaran informasi yang di RUU semula juga ada.

lni kita bisa muat kembali dan rumusannya sebetulnya juga bisa dirumuskan baru ataupun juga mengikuti itu tapi kami sebetulnya bersama-sama sudah merumuskan suatu usulan sebetulnya.

Jadi ini kami siap saja kalau mau lobby dulu supaya kami dapat menjelaskan usulan-usulan baru ini ataupun langsung dibacakan dan disampaikan kepada Pimpinan rancangannya atau draftnya yang diusulkan.

Kami persilakan.

KETUA RAPAT :

Terima kasih kepada Pemerintah, kelihatannya dari Pemerintah sangat akomodatif dan kalau saya melihat tambahan terhadap usulan yang disampaikan oleh FKP justru dari apa yang disampaikan oleh pihak Pemerintah dalam hal ini Saudara Menteri Keuangan, sudah menjawab apa yang diinginkan oleh FPP.

Dengan begitu kalau memang ini bisa diputuskan dalam forum ini mungkin kita tetap kembali kepada lobby itu secara lebih rigit, atau tadi sarannya tanpa menyebut nomor dalam hal ini dari pihak Pemerintah sudah menerima bahwa tetap tugas mengawasi Bank sebagaimana dimaksud Pasa/ 27, 29, 31, 33, ini mungkin menjadi salah satu solusi yang mohon dipertimbangkan mengingat juga waktu terus ... terang saja ini tidak terlalu mengikat kita karena masih ada malam hari kalau sore

ini tidak selesai.

Saya kembali dulu kepada FPP, saya silakan.

ARSIP DPR RI

INTERUPSI PEMERINTAH :

Mohan maaf Bapak Pimpinan.

lni ada ditayangan rumusannya yang tadi diusulkan.

KETUA RAPAT :

,_..~ Kami silakan

FPP.

ANGGOTA FPP (H. SOELAIMAN BIYAHIMO) :

Saudara Ketua.

Kami tadi mengajak barang 1 5 menit yang saya kira ajakan kami itu tidak menyimpang ini sekedar supaya mungkin ada hal-hal yang perlu kita mufakati merubah rumusan atau rumusan sekarang yang kita tayangkan saya kira itu masalah yang mudah saja. Yang esensial itu kita ketemu 1 5 menit atau 10 menitlah, kalau tidak Fraksi kami intern minta waktu.

Teri ma kasih.

KETUA RAPAT :

Terima kasih.

ANGGOTA FKP (H. JUSUP THALIB, SH) :

Saudara Pimpinan.

KETUA RAPAT :

Silakan.

ANGGOTA FKP (H. JUSUP THALIB, SH) :

Saya kira suatu ajakan yang cukup arif dari rekan FPP tapi perlu kejelasan bahwa ini bukan lobby, tetapi klarifikasi rumusan hasil lobby yang lalu, artinya tidak ada perubahan substansi yang signifikan atau mendasar tapi seperti kami katakan tadi ini adalah proses lebih memperjelas dan mempertegas komposisi tugas dan kewenangan dari kedua lembaga itu untuk menghindari kebenaran. Dalam konteks tidak merupakan lobby baru kami tidak berkeberatan, jadi klarifikasi saja.

Terima kasih.

ANGGOTA FPP (H. SOELAIMAN BIYAHIMO) :

Betul Pak, tidak ada masalah baru, betul Saudara.

ARSIP DPR RI

KETUA RAPAT :

Teri ma kasih.

Dan ini utamanya kepada pers ini kita bukan untuk lobby, karena lobby yang tertinggi s.udah ditempuh tapi ini lebih pada tingkat klarifikasi untuk membangun atau membuat rumusan baru memperbaiki rumusan-rumusan yang dulu juga

~'- diserahkan kepada Pemerintah yang harus disahkan di dalam PANSUS ini.

Saya kira demikian atau yang sudah dilaporkan kepada PANSUS terdahulu, terima kasih.

Kita lobby selama 10 menit, jadi kita masuk nanti pukul 16. 10 WIB begitulah.

( RAPAT DISKORS PUKUL 15.53 WIB )

Yang terhormat Saudara yang mewakili Gubernur Bank Indonesia, dan segenap Staf yang saya hormati;

Unsur Pimpinan dan segenap Anggota Dewan, Bapak-bapak dan lbu-ibu yang terhormat;

lnsan Pers, dan

Hadirin sekalian yang berbahagia.

Kita lanjutkan kepada Pasal 34.

Dari hasil klarifikasi telah diperoleh suatu kesimpulan yang dalam hal ini kami laporkan kepada forum, yang tentunya dari forum ini telah terwakili oleh masing-masing unsur, baik dari Fraksi maupun dari Pemerintah, hasilnya sebagai berikut :

Pasal 34

( 1) Tugas mengawasi bank akan dilakukan oleh lembaga pengawasan jasa keuangan yang independen dan dibentuk oleh Undang-undang.

(2) Pembentukan lembaga pengawasan sebagaimana dimaksud pad a ayat ( 1) akan dilaksanakan selambat-lambatnya 31 Desember 2002.

Penjelasan Pasal 34

{ 1) Lembaga pengawasan sektor jasa keuangan yang akan dibentuk melakukan pengawasan terhadap bank dan perusahaan-perusahaan jasa keuangan lainnya yang meliputi asuransi, dana pensiun, skuritas, modal ventura, dan perusahaan pembiayaan serta badan-badan lain yang menyelenggarakan pengelolaan dana masyarakat.

Lembaga ini harus memiliki otonomi dalam menjalankan tugasnya dan kedudukannya berada di luar Pemerintah dan berkewajiban menyampaikan laporan kepada Sadan Pemeriksa Keuangan Republik Indonesia dan Dewan Perwakilan Rakyat.

Dalam melaksanakan tugasnya lembaga ini melakukan koordinasi dan kerjasama dengan Bank Indonesia sebagai Bank Sentral yang akan diatur dalam Undang-undang Pembentukan Lembaga Pengawasan dimaksud.

ARSIP DPR RI

(2)

Dalam melaksanakan tugasnya lembaga pengawasan sebagaimana dimaksud pada ayat ( 1) dapat mengeluarkan ketentuan yang berkaitan dengan pelaksanaan tugas pengawasan bank dengan koordinasi dengan Bank Indonesia dan meminta dari Bank Indonesia keterangan dan data makro yang diperlukan dalam rangka pelaksanaan tugas dan wewenangnya.

Adapun tugas mengatur akan tetap dilakukan oleh Bank Indonesia, sedangkan tugas mengawasi akan dilakukan oleh lembaga pengawasan independen dimaksud.

Cukup jelas.

Saya kira demikian rumusan yang lnsya' Allah final yang sudah diklarifikasi di dalam pertemuan selama kurang lebih 1 5 menit.

Saya persilakan dari FKP.

ANGGOTA FKP (ICHSANUDDIN NOORSY, S.H.) :

Terima kasih.

Masih lebih merupakan koreksi kalimat : Pertama, pada Pasal 34 ayat (1).

Tidak ada masalah karena sudah sesuai saya pikir.

Kedua, Pasa/ 34 ayat (2).

Pengertian "selambat-lambatnya ", artinya bisa lebih cepat disitu, bisa lebih cepat pada 31 Desember 2002. ltu berarti yang disebut oleh FABRI terserah nanti Dewan dan Pemerintah yang akan datang bagaimana menilainya, bagaimana memperhatikan peranan Bank Indonesia atau kemudian tentang kebutuhan lembaga jasa pengawas keuangan tadi.

Ketiga, persoa/an Penjelasan.

Kalimat pertama menunjukan bahwa lembaga peng.awas ini lebih diperluas, sehingga seperti lagi FABRI menyebutkan memang ada baiknya kita menyerahkan kewenangan-kewenangan tadi pada lembaga pengawas jasa keuangan. Tetapi kalau kita perhatikan itu tentang pengawas

itu

ada hal-hal

lain

yang sesungguhnya harus dibuat dalam ketentuan ini tentang upaya pencegahan monopoli bisnis keuangan. Artinya nanti Dewan sudah bicara tentang bagaimana peranan ini mencegah lahirnya monopoli bisnis keuangan, dan indikasi yang dibuat oleh Sidang lstimewa MPR tentang kecurangan dana masyarakat, dana keuangan perbankan sud ah sejak awal kita minimalkan. ltu sud ah harus kita lakukan, sud ah mulai kita entries sejak aw al pertimbangan itu. Yang ketiga so al kalimat ini yang saya sebut, ini "dengan "-nya berulang kali.

"Dalam melaksanakan tugasnya lembaga ini melakukan koordinasi dan kerjasama dengan Bank Indonesia sebagai Bank Sentral" (sebentar, koq berubah).

Yang kedua tadi, kalimat "dengan "-nya dua kali. lni yang masih hitam. ltu

"dengan koordinasi" diganti "dengan sebelumnya ", "dalam koordinasi dengan" itu

~ dig anti "dalam ". Jadi "dalam koordinasi dengan ".

Untuk sementara seperti itu dan akan ditambahkan dengan Fraksi kami yang lain.

ARSIP DPR RI

ANGGOTA FKP (IR. A.O. JOHN MANAFE, MS) :

Tambahan Pak Ketua.

Masih berkaitan dengan redaksional. Jadi khusus pada alinea yang sangat hitam ini.

"Dalam melaksanakan tugasnya lembaga pengawasan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat mengeluarkan ketentuan yang

berkait-_4.

an dengan pelaksanaan tugas pengawasan bank".

ltu kata "dalam" yang barusan dirubah oleh Pak lchsanuddin bisa jug a kita ganti "melalui koordinasi dengan Bank Indonesia dan meminta dari Bank Indonesia keterangan dan data makro yang diperlukan ". Kami usulkan titik (.) disitu, karena

"dalam rangka pelaksanaan tugas dan wewenang"-nya itu sudah ada di depan.

Jadi itu diulang lagi, "dalam me/aksanakan tugasnya ", itu diatas Pak, kalimat pertama yang dihitamkan ini, itu diulang lagi dibelakang "diperlukan titik (.)" cukup disitu. Sehingga "da/am rangka melaksanakan tugas dan wewenang" itu dihapuskan saja, karena mengulang. Kalimat pertamanya sudah ada.

Kemudian "lembaga pengawasan" itu huruf kecil "/"-nya, "dalam melaksanakan tugasnya lembaga pengawasan" itu hurufnya huruf kecil.

lni yang perlu kita pertanyakan, apa masih kita perlu kata "dapat menge/uarkan ketentuan yang berkaitan ", apa ini sifatnya tentatif. "dimaksud pada ayat (1 ), dapat mengeluarkan ", kata "dapat" apakah ini tentatif, bisa ya bisa tidak, sehingga kita harus bisa putuskan. Apakah tetap hidup, ataukah kita hapuskan.

lni pertanyaan pada Pemerintah, terima kasih.

KETUA RAPAT :

Teri ma kasih kepada FKP yang tel ah lebih menyempurnakan redaksional.

Kami teruskan, mungkin masih ada tambahan dari FPP, FPDI atau FABRI.

Saya persilakan FPP.

ANGGOTA FPP (H. SOELAIMAN BIYAHIMO) :

Saudara Ketua.

lni mengenai bahasa tadi "dengan koordinasi dengan Bank Indonesia", sekarang diganti "melalui koordinasi dengan Bank Indonesia". Saya tahu maksud daripada penulis atau penyusun ini, untuk menghindari penggunaan kata "dengan"

dua kali.

Kita tadi sudah sepakat bahwa di dalam suatu penulisan bahasa hukum, memang penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar itu diperlukan, kita perhatikan. Tetapi dengan kata-kata "dengan koordinasi dengan Bank Indonesia".

"dengan" yang pertama itu "dengan koordinasi", dengan koordinasi dengan siapa ? Dengan Bank Indonesia. Saya kira jangan dirubah "melalui". Sebab pengertian

-ii..

"melalui" itu lain, "dengan" dan "melalui" itu lain Pak.

Oleh karena itu saya kira kita kembalikan kepada rumusan pertama, dan itu bisa kita pertanggungjawabkan dari segi bahasa.

ARSIP DPR RI

Jadi saya cuma ingin meluruskan itu saja, dan kalau Saudara Martin ada, kita minta bantuan untuk menjelaskan.

Teri ma kasih.

KETUA RAPAT :

Terima kasih FPP, saya penuhi permintaannya dari FPP.

Saya persilakan dari ahli bahasa.

PEMERINTAH/AHLI BAHASA (MARTIN) :

Terima kasih Bapak Pimpinan melalui Menteri Keuangan Republik Indonesia.

"Dengan koordinasi dengan Bank Indonesia" dari segi bahasa tidak ada kelirunya. Memang pengulangan kadang-kadang tidak terlalu enak, kecuali batas-batas tertentu, "dengan koordinasi" sebenarnya dapat diartikan melalui cara koordinasi, sedangkan "dengan Bank Indonesia" artinya bersama-sama Bank Indonesia. Oleh karena itu "dengan koordinasi dengan Bank Indonesia" sangat baik.

"melalui cara koordinasi dengan Bank Indonesia" tidak salah, secara koordinasi dengan Bank Indonesia pun sudah benar dari segi bahasa. Bergantung pada Bapak-bapak Anggota Dewan yang terhormat, ingin milih yang mana.

Yang sangat baik dengan mempertimbangkan juga bahasa hukum dan dengan tidak bermaksud membela Pak Soelaiman, saya memilih "dengan koordinasi dengan Bank Indonesia ".

Terima kasih.

KETUA RAPAT :

Terima kasih kepada Saudara Martin.

Mungkin ilustrasi sedikit, memang selama ini Pak Soelaiman juga sering mewakili anda, jadi dengan itu lurus.

ANGGOTA FPDI (NICO DARYANTO) :

Saudara Ketua.

Kata "dalam" belum dikupas tadi, "dalam koordinasi dengan ".

Teri ma kasih.

KETUA RAPAT :

Coba to long Pak Martin lagi ini tugasnya, "melalui" sud ah tadi, "dalam" ini mungkin sebagai tambahan saja untuk penyegaran, ilmu-ilmunya dikeluarkan.

~ Saya persilakan Saudara Martin.

ARSIP DPR RI

PEMERINTAH (AHLI BAHASA) :

Teri ma kasih Bapak Pimpinan.

"dalam koordinasi" tidak sama persis dengan "melalui cara koordinasi". Jika kita menginginkan pekerjaan dengan cara koordinasi, itu yang paling tepat memang hanya "m_e/alui cara koordinasi atau dengan cara koordinasi", tidak "dalam koordinasi".

ltu saja saya kita Pak Ketua, terima kasih.

KETUA RAPAT :

Terima kasih.

Selanjutnya mungkin kata "dapat" yang dipertanyakan oleh FKP, kami kembalikan dulu kepada Pemerintah. "dapat menge/uarkan ketentuan" apa masih bisa hidup, tetap "dapat" disitu atau tentatif, bagaimana Pak.

Say a persilakan Pemerintah.

PEMERINTAH CMENTERI KEUANGAN) :

Memang "dapat" itu maksudnya lembaga ini akan memerlukan kewenangan untuk bisa menetapkan ketentuan yang berkaitan dengan pelaksanaan petugas pengawasan.

Jadi sebetulnya "dapat" itu memang akan mengeluarkan

nanti-nya, lalu apakah ini semantiknya lebih pas tidak pakai "dapat" atau tidak, ini kami persilakan.

Tapi kami ada point kedua, yaitu pada alinea terakhir. Sebetulnya anak kalimat terakhir tidak perlu lagi, "adapun tugas mengatur akan tetap dilakukan o/eh Bank Indonesia titik (.) ", karena anak kalimat itu sudah disesuaikan di depan-depan, jadi tidak berulang-ulang.

Jadi mulai kata "sedangkan sampai selesai" tidak perlu lagi.

Lalu ada point yang ketiga yang ingin kami sampaikan juga kata "sahibul hikayat, Nabi Su/aiman itu bahasa semut pun paham ".

KETUA RAPAT :

Teri ma kasih.

lni seal "dapat" dari FKP tadi sudah dijawab, saya kira disini maksudnya bisa

"akan ", pengertiannya. Yang jelas "akan mengeluarkan" itu. Saya kira dengan begitu sudah terjawab.

Dari FPDI mungkin ada tambahan, saya persilakan.

ANGGOTA FPDI (NICO DARYANTO) :

Tidak ada komentar Pak.

ARSIP DPR RI

KETUA RAPAT :

Dari FABRI, silakan.

ANGGOTA FABRI (SOEYANTO SK, MBA) :

Mulai kata "lembaga" Pak. "lembaga ini harus memiliki otonomi", saya lebih

· +

cenderung "lembaga ini bersifat independen ", ini kalau sepakat.

Kemudian "da/am menja/ankan tugasnya dan kedudukannya di /uar Pemerintah (tidak usah "berada ") serta ( "dan "-nya diganti "serta) berkewajiban menyampaikan laporan kepada Badan Pemeriksa Keuangan Repub/ik Indonesia dan Dewan Perwakilan Rakyat".

Kemudian "dalam melaksanakan tugasnya lembaga ini melakukan koordinasi dan kerjasama dengan Bank Indonesia sebagai Bank Sentral yang akan diatur dengan Undang-undang titik (.) ".

Jadi saya pikir "Pembentukan lembaga Pengawasan dimaksud" itu juga double karena diatas sudah ada, "dalam melaksanakan tugasnya lembaga ini melakukan koordinasi dan kerjasama dengan Bank Indonesia sebagai Bank Sentral yang akan diatur dengan Undang-undang ". Apakah ini tidak tepat. Kalau mau dilengkapi "dengan Undang-undang Pembentukan lembaga Pengawasan dimaksud"

juga tidak ada masalah, tetapi kalau "dengan Undang-undang" pun saya pikir sudah mencakup itu.

Jadi ini pilihan saja, tidak ada masalah, sebagai alternatif.

Demikian Saudara Ketua, terima kasih.

KETUA RAPAT :

Terima kasih.

lni sifatnya menyempurnakan karena dalam pasalnyapun ayat ( 1) sud ah jelas-jelas eksplisit disana, yang dibentuk "dengan Undang-undang ", yang dimaksud

"Undang-undang" itu.

Silakan FKP.

ANGGOTA FKP (H. JUSUF THALIB, S.H.) :

Saudara Pimpinan.

Penyederhanaan itu memang bagus, tapi tidak selalu juga bagus. Di dalam penyederhanaan yang tadi diajukan oleh yang terhormat rekan dari FABRI yaitu

"lembaga ini melakukan koordinasi dan kerjasama dengan Bank Indonesia sebagai Bank Sentral yang akan diatur dengan Undang-undang ". Kai au itu titik (.) bisa diartikan yang akan diatur dengan Undang-undang itu Bank Sentralnya, tapi kalau dilengkapkan "Undang-undang Pembentukan Lembaga Pengawasan" itu lebih

~ tegas, supaya rakyat banyak itu lebih cepat memahami tanpa perlu harus menafsirkan lagi.

ARSIP DPR RI

Saya kira itu, dengan segala hormat kepada rekan FABRI saya kira maksudnya sama itu.

Dokumen terkait