• Tidak ada hasil yang ditemukan

ANUGRAH BUDDHI

Dalam dokumen =MASTURBASI RELIGIUS= (Halaman 133-143)

(Pupuh XI, 1-7)

Perjalanan berkelana, mencari lawan debat guru Gatholoco sudah usai. Berakhir di padepokan indragiri, yang dihuni oleh para wanita. Tak ada satupun wanita yang diboyong, apalagi diperistri. Pada akhirnya ia kembali ke pesantren Cepekan, tempatnya mengajar. Para santri suka cita menyambutnya. Bahkan mereka meminta untuk mendapatkan wejangan-wejangan baru lainnya. Kisah dengan para wanita memang tidak banyak dibahas, jika dibandingkan perdebatan dengan para santri dan kyai sebelumnya. Padahal mengenal wanita sebagai simbolisasi mengenal jagad semesta, mengenal lingkungan sekitar, mengenal manusia lain sangat penting. Pengembaraan yang diniatkan untuk mencari lawan debat semata, untuk merengkuh kepuasan menundukkan dan mempermalukan lawan, rupanya menghinggap juga pada guru Gatholoco (#NgajiGatholoco53 &45).

Pupuh akhir (XI) ini seolah menunjukkan adanya kesadaran akan munculnya kesombongan dalam diri. Maka kembali ke padepokan adalah sebuah isarat, untuk kembali lagi mengkaji diri sendiri. Bahwa, mencapai kesadaran tertinggi, kesadaran hanya kepada Hyang Widhi semata tidaklah mudah. Bukan sebuah usaha dari manusia semata, tetapi itu semua adalah anugrah, ya anugrah dari Hyang Widhi sendiri. Dalam kesempatan di hadapan para santri, guru Gatholoco menyampaikan wejangan mengenai Anugrah Buddhi. Buddhi adalah kesadaran puncak, Buddhi adalah hanya Nyebud Hyang Widhi semata dalam kesadarannya. Dengan demikian maka anugrah buddhi itu dibagi tiga. “Nugrahaning Buddhi

#NgajiGatholoco: Masturbasi Religius Page 133

Panggraita kaping kalih, Sang Panyipta kaping tiga” (terjemah: anugrah buddhi itu ada tiga, pertama mencipta hening, kedua adalah merasa dan ketiga adalah Sang Pencipta).

Apa maksudnya? Bahwa kesadaran puncak (Buddhi) itu adalah anugrah ketika seorang diri manusia mampu, pertama menciptakan keheningan dalam dirinya (hatinya), membuang segala hal yang dapat mengganggu hatinya sehingga mampu mendapat anugrah yang kedua, yakni mampu merasakan, mampu mengerahkan segala indrawinya berkonsentrasi dan berfokus, dan akhirnya memperoleh kesadaran akan adanya Sang Pencipta. Gampangnya, Buddhi itu adalah sadar bahwa diri manusia hanya memfokuskan pada Hyang Widhi semata, dalam segala bentuk perilaku. Apapun yang dilihat, meski melihat bunga, yang nampak adalah Hyang Widhi. Meski yang nampak adalah maling, ia hanya melihat Hyang Widhi. Orang yang mampu mencapai Buddhi seperti ini, tentuk ia akan menjadi manusia yang berbudi (berakhlak), sudah tidak terpengaruh dengan apa yang nampak, apa yang didengar, dan dirasakan. Semuanya Hyang Widhi semata.

Dalam konteks ini, maka Buddhi, bukanlah soal agama Budha yang dibawa oleh MahaRsi Gautama. Tetapi adalah konsep kesadaran puncak yang tunggal kepada Hyang Widhi, yang dipahami oleh orang Jawa. Dalam pengertian Buddhi semacam ini, maka saya bisa memahami ledekan guru saya dulu, ketika menyebut diriku beragama Budha. Maksudnya, bukan agama Budha yang dikenal dan dijadikan nama agama di KTP, tetapi sebagai “nyeBUD/te Dhawa”, maksudnya terlalu banyak mengeluh, hanya nyebut-nyebut saja, tetapi tidak menyadari, tidak mampu hening dan wening melihat realitas. Melalui

#NgajiGatholoco: Masturbasi Religius Page 134

pemahaman Buddhi seperti ini, maka anda akan mampu menangkap makna soal Sabdopalon Nayagenggong nagih janji, dimana ia bersumpah akan mengembalikan agama Buddhi di tanah Jawa.

#NgajiGatholoco: Masturbasi Religius Page 135 ANUGRAH RUH DAN SEKARAT

(Pupuh XI, bait 7-11)

Wejangan guru Gatholoco selanjutnya adalah menyangkut ruh, ruhani manusia. Jika pada #42 anda dikenalkan berbagai tingkatan/rupa ruh yang ada dalam diri manusia, yang berjumlah tiga, yakni ruh idhafi, ruh jasmani dan ruh Zat Yang Tanpa Arah, Tanpa Tempat dan Tanpa Jumleger. Anugrah akan mengenali ruh-ruh tersebut, bukanlah semata-mata upaya manusia, namun sekali lagi, bahwa itu semua adalah anugrah dari Hyang Widhi semata. Oleh karena itu, guru Gatholoco mengingatkan adanya tiga anugrah ruhani, yaitu:” Kanugrahaning Roh kuwi, Sauranaiku Telu, ana dene ingkang dhingin, Urip Tan Kalawan Nyawa, ingkang kaping kalih kuwi, Ora Angen-Angen liyan, Allah Kewala kaping tri, Tan ana woworanipun, ingkang Wahdatilwujudi”. (Terjemah: anugrah ruh itu, jawablah ada tiga maca, yang pertama adalah Hidup tanpa nyawa, kedua adalah yang diingat hanya Allah, tidak yang lain, dan yang ketuga adalah tak bisa dibedakan, yakni wahdatul wujud”).

Dalam diri manusia ada ruh jasmani, maka anugrah yang pertama adalah mampu mengenal hidup yang tanpa nyawa. Ini berarti ruha jasmani sudah mulai tidak berperan, ia sudah mengenal ruh idhafi, Hidup yang tanpa nyawa. Urusan jasmani sudah tidak begitu menjadi rasa yang utama. Ketika jasmani memanggil untuk diperhatikan, maka sudah tidak berpengaruh besar, maka kemudian meningkat pada anugrah selanjutnya. Anugrah berikutnya adanya kemampuan hanya menginga Allah semata. Rahsa yang muncul adalah mengingat Hyang Widhi. Selanjutnya adalah anugrah wahdatul wujud,

#NgajiGatholoco: Masturbasi Religius Page 136

tidak bisa dibedakan antara yang dilihat dan melihat, antara yang menyembah dan disembah. Semua wujud, adalah WujudNYA semata. Ruh yang sudah mampu seperti ini adalah ruh yang mendapat anugrah luar biasa. Pemahaman mengenai anugrah ruh, juga berkaitan dengan dengan Buddhi sebelumnya (#NgajiGatholoco55). Jika sudah mencapai Buddhi yang luhur, maka ia hanya melihat WujudNYA semata, yang diingat hanya DIA, sementara suara ruh jasmani sudah tak terdengar lagi, yang ada adalah rahsa menyatu bersamaNYA. Anugrah ruh itu dalam konteks hidup, masih hidup di dunia. Bagaimana jika meninggal? Maka guru Gatholoco mengajarkan adanya anugrah sekarat (maut). “Nugrahan Sakarat pira, saurana Tri prakawis, kang dhingin Adhepanira, Idhep ingkang kaping kalih, Madhep ingkang kaping telu”. (Terjemah: anugrah kematian itu, jawablah ada tiga. Pertama Arahmu, kedua harapanmu dan ketiga siapa yang kau hadap). Jawaban ringkasnya adalah adhep, idhep dan madhep. Kematian akan menjadi anugrah, jika manusia tahu arah setelah kematian. Mau kemana ia setelah dari dunia ini. Mengetahui ini adalah sebuah anugrah. Selanjutnya, adalah anugrah idhep, harapan. Setelah mati harapan apa atau hasrat apa yang menyertai. Jika masih berhasrat kehidupan dunia, maka kematian menjadi sebuah belenggu. Manusia akan bersama yang ia harapkan/cintai. Anugrah ketiga adalah, mengetahui siapa yang akan dihadapi, akan menhadap siapa dia meninggal. Oleh karena para leluhur dulu selalu mengingatkan baik dalam hidup maupun kematian, untuk madhep manteb marang Gusti Kang Murba ing dumadi.

#NgajiGatholoco: Masturbasi Religius Page 137 ANUGRAH IMAN, TAUHID DAN MAKRIFAT

(Pupuh XI, bait 10-12)

Pupuh XI, sebagai bagian akhir dari serat Gatholoco mengingatkan bahwa semua capaian keruhanian manusia itu adalah anugrah semata dari Hyang Widhi. Bagaimana tidak? Guru Gatholoco saja, yang demikiaan luas wawasannya, dalam ilmunya, mampu menundukkan lawan-lawan dalam perdebatan, toh masih dihinggapi rasa sombong. Demikianlah, pada akhirnya keimanan seseorang adalah sebuah anugrah. Guru Gatholoco mengingatkan anugrah iman itu ada tiga, seperti dalam bait berikut: “Nugrahaning Iman pira, saurana TriPrakawis, Sokur ingkang kaping pisan, Tawakal ingkang ping kalih, Sabar ingkang kaping telu”. (Terjemah: anugrah iman itu ada tiga, yaitu pertama diberi rasa bersyukur, kedua tawakal dan ketiga sabar”).

Anda bisa jadi berusaha keras untuk bersyukur, namun berapa kali anda gagal? Lebih banyak gagalnya, dibandingkan berhasilnya. Nah, anugrah iman itu bisa berwujud stabilnya rasa bersyukur yang dimiliki. Demikian pula, mantapnya dalam menyerahkan diri kepada Allah (tawakal), serta kuatnya bersabar dalam berbagai keadaan. Anda bisa tawakal untuk urusan tertentu, katakanlah urusan belajar, tetapi apakah sama mantapnya tawakkal anda dalam urusan kebutuhan rumah tangga? Anda bisa bersabar menghadapi murid anda, apakah sekuat itu kesabaran anda menghadapi ulah istri/suami anda? Ketauhidan pun demikian. Ia bukan datang begitu saja, namun juga bukan bersandar sepenuhnya pada usaha. Anugrah Tauhid itu ada dua, seperti dalam bait: “pira Nugrahaning Tokid,

#NgajiGatholoco: Masturbasi Religius Page 138

saurana Dwi Prakara, krana Tetep ingkang dhingin, Wadi kaping kalihira”. (Terjemah: ada berapa anugrah tauhid? Jawablah ada dua, yaitu pertama Tetap/teguh/kokoh dan kedua adalah Rahasia”.). Ketika anda sudah mengenal dan yakin bahwa Allah adalah Hyang Esa, apakah itu akan tetap teguh dan kokoh terus menerus? Jika anda memiliki keteguhan yang semakin kokoh, itu berarti anugrah dari Allah datang. Kedua, kekuatan anda menyelami banyak rahasia dalam ketauhidan, semakin anda kokoh menyelam rahasia itu, maka itulah bentuk anugrahnya. Mengapa? Karena bertauhid, berarti anda akan menemukan banyak aneka rupa misteri, semisteri Allah itu sendiri. Banyak rahasia kan dijumpa dalam perjalanannya. Kekokohan dan rahasia menjadi dua anugrah besar dalam tauhid manusia.

Jika, sudah memperoleh kekokohan dalam menyelami rahasia, maka di situlah pintu makirat, pengenal yang mendalam pada Dia, Hyang Widhi semakin terbuka. Tapi, ingatlah bahwa makrifat anda, Hyang Widhi sendirilah yang menghadirkannya, yang menganurahinya. Guru Gatholoco menyebut ada satu anugrah makrifat, yaitu: “Ana Ing Kahananira, Anenggih Karsa:Rasaning, Rasa Wisesa Prayoga”. Artinya, anugrah itu ada pada keberadaan diri, yakni rasa, rasa sejati yang sempurna berkehndak kepada keluhuran. Anda akan makrifat, bukan karena anda tahu ini dan itu, tetapi ketika rasa sejati anda benar-benar terarah kepada keluhuran. Ini berarti juga meliputi aspek perilaku yang baik, yang utama. Makrifat itu bukan soal tahu, tetapi soal rasa sejati yang menjadi penggerak utama lelaku.

#NgajiGatholoco: Masturbasi Religius Page 139 ANUGRAH KAROMAH

(Pupuh XI, bait 12-15)

Seringkali orang memahami keramat/karomah itu hanya dengan hal-hal di luar nalar atau logika. Padahal, keramat itu adalah kemuliaan. Derajat ini menunjukkan bahwa seseorang mempunyai derajat kedekatan dengan Hyang Widhi demikian dekat. Hingga, para pemilik derajat ini tentu mendapat kemuliaan, karena kedekatan tersebut. Guru Gatholoco mengingatkan bahwa keramat/karomah itu adalah anugrah, dan ini berarti tidak semata-mata disandarkan pada upaya atau apa yang dimiliki oleh manusia. Tetapi adanya peran Tuhan menjadi faktor penentu signfikan.

“Martabate Kramat kuwi, Mangretine ana Telu, Karem Apngal Para Mukmin, Para Wali Karem Sipat, Karem Dzat Para Nabi”. Tingkatan anugrah karomah itu ada tiga, yakni yang melekat pada diri orang mukmin, disebut af‟al (perbuatan), kedua disebut sifat yang melekat pada para wali, dan dzat yang melekat pada diri para nabi.

Hyang Widhi melimpahkan anugrah kemuliaan pada orang mukmin itu bisa terjadi. Apa yang diperbuat oleh orang mukmin yang demikian baik, kemudian Tuhan menganugrahkan kemuliaan karena perbuatan tersebut. Bisa jadi karena sedekah, membaca al qur‟an, menuntut ilmu dan sebagainya. Manusia seperti ini kemudian dikenal baiknya, mulianya karena adanya amal perbuatan yang dilakukan. Anugrah karomah macam ini masih menyimpan adanya „obah osik” atau perubahan. Kadang berbuat baik, di waktu lain tidak

#NgajiGatholoco: Masturbasi Religius Page 140

demikian. Namun, banyaknya kebaikan itulah kemudian mendapat anugrah kemuliaan semacam ini.

Meningkat yang lebih tinggi, adalah sifat. Kemuliaan itu sudah menjadi sifat, dan itulah milik para wali Allah. Amal perbuatan baik itu sudah menjadi sifatnya, sudah menjadi julukannya. Dalam hal ini konsistensi, keistiqomahan adalah kuncinya. Anugrah kemuliaan macam ini sudah melekat kuat pada diri, amal kebaikan itu sudah menjadi bagian yang tak terpisahkan, sehingga mencegah amal perbuatan yang tidak baik. Ia akan sangat condong kepada amal kebaikan, kemudian dikuatkan, sehingga menjadi sifat yang dikenal.

Kemuliaan milik para nabi itu sudah Dzat, artinya sudah melebur dalam diri dzat itu sendiri. Jangankan amal perbuatannya, dzatnya sendiri itu merupakan kebaikan itu sendiri. Anda tentu sudah sering mendengar kisah, bagaimana para nabi itu, sejak lahirnya membawa kebaikan bagi manusia lainnya. Padahal ia belum melakukan amal perbuatan yang seperti dilakukan oleh manusia kebanyakan. Sebut saja, kelahiran baginda Muhammad Shallahu alaihi wa sallama ternyata membawa berkah bagi seluruh alam, mulai dari malaikat, jagad dan masyarakat. Ketika masih kecil juga demikian. Kemuliaan itu sudah menjadi dzatnya, sudah menjadi bagian dari dirinya, baik dzat (fisik) dan perbuatannya. Bahkan setelah kewafatan para nabipun, kemuliaan itu akan tetap terjaga.

Jika, anda mampu secara jernih memahami martabat anugrah karomah (kemuliaan) ini maka akan terbuka kesempatan untuk menyaksikan Yang Maha Mulia (Jalal), Maha Cantik (Jamal), Maha Sempurna (Kamal), Maha Kuasa (Kahar). Sehingga

#NgajiGatholoco: Masturbasi Religius Page 141

damai, hidup dan kehidupan anda pun demikian akan merasakan kesempurnaannya. Itu karena anda tahu betul berbagai macam kemuliaan yang digelar Hyang Widhi di jagad semesta ini, yang menjadi penguat keimanan.

#NgajiGatholoco: Masturbasi Religius Page 142 #59

Dalam dokumen =MASTURBASI RELIGIUS= (Halaman 133-143)

Dokumen terkait