DAUR HARA KEHIDUPAN (1)
6. Apakah Tanah Itu?
Tanah terbentuk dari pelapukan dan penghancuran batuan di permukaan bumi. Dari hasil pelapukan dan penghancuran ini terbentuk mineral-mineral dalam bentuk kristal dan amorf. Disamping itu sifat dan susunan tanah diubah oleh kegiatan kehidupan di dalamnya. Proses pembentukan tanah berlangsung secara terus menerus dan perlahan-lahan dibawah pengaruh lingkungan fisik dan biologi. Kalau kita amati suatu irisan tegak tanah akan tampak bahwa tanah itu menampilkan lapisan-lapisan datar. Lapisan-lapisan yang menyusun tanah itu disebut horizon tanah. Lapisan teratas permukaan tanah mungkin terdiri atas lapisan tipis sisa tumbuhan yang disebut serasah. Dibawah serasah ini ada lapisan yang kaya akan bahan
organik dan disebut pucuk tanah atau dalam bahasa Inggrisnya topsoil. Di bawah pucuk tanah ini ada lapisan yang terdiri atas butir-butir halus dan dinamakan tanah bawah atau subsolum. Di bawahnya lagi ada lapisan batuan yang telah melapuk dalam bentuk serpihan batu yang besar. Di bawah lapisan ini lagi terdapat batuan yang masih belum lapuk dan disebut batuan
induk. Lapisan-lapisan itu diberi lambang huruf A hingga dengan D sebagai berikut:
Gambar 1. Horizon Tanah Gambar 2. Terminologi Deskriptif Bagi Horizon Profil Tanah
Jadi dapat dikatakan bahwa tanah adalah sumber utama penyedia zat hara bagi tumbuhan. Tanah juga adalah tapak utama terjadinya berbagai peralihan bentuk zat di dalam daur makanan. Bagian tak organik tanah yang terbentuk dari pelapukan dan penghancuran batuan, disusul pembentukan mineral berbentuk kristal, digolongkan secara fisik berdasarkan nisbah butirnya yang berukuran tertentu. Butir-butir terhalus disebut fraksi liat, butir-butir yang lebih besar dari liat disebut fraksi debu, dan fraksi yang lebih besar lagi fraksi
pasir. Di atas ukuran pasir ada ukuran kerikil. Bergantung pada nisbah liat, debu, dan pasir
tanah dapat digolongkan menjadi berbagai golongan, seperti misalnya tanah liat, tanah liat berpasir, tanah lempung (nisbah liat, debu, dan pasir berimbang), tanah lempung berpasir, dan sebagainya.
Komponen tanah yang sangat penting juga adalah bahan organiknya yang disebut humus. Liat dan humus terdiri atas butir-butir berukuran koloid sehingga memiliki permukaan yang luas dibandingkan dengan massanya. Bagian tanah yang berukuran koloid inilah yang mudah meresap zat hara dan kemudian menyediakannya dalam bentuk yang dapat diresap sistem perakaran tumbuhan. Adanya komponen yang lebih kasar seperti debu, pasir, dan kerikil di dalam tanah membuat tanah itu mempunyai kerangka yang tidak padat melainkan berongga-rongga. Rongga-rongga ini penting karena menjamin peredaran udara yang baik di dalam tanah untuk keperluan kehidupan perakaran tumbuhan dan jasad renik yang sehat. Tanpa adanya oksigen di dalam tanah yang dapat diperbaharui melalui pertukaran gas dengan udara perakaran dan jasad renik aerob tidak dapat hidup di dalam tanah dan terhambatlah berbagai daur makanan yang akhirnya merugikan kehidupan yang bergantung pada adanya tanah itu.
Bagaimana komposisi tanah dipandang dari susunan butir-butir yang membentuknya disebut tekstur tanah seperti tadi telah disebut beberapa namanya, yaitu tanah lempung, liat berpasir, dan sebagainya. Tanah bertekstur pasir memiliki rongga-rongga yang besar sehingga bersifat sangat jarang. Air akan mematus dengan cepat dari tanah pasir sehingga tidak sempat diresap perakaran. Juga akan terbawa berbagai unsur hara dalam proses pematusan itu. Dalam tanah liat rongga-rongga tanah berukuran kapiler sehingga dapat meresap air. Air ini menjadi sarana cair tempat melarutnya zat hara untuk diangkut melalui sistem perakaran. Akan tetapi kalau tanah terlalu banyak mengandung butir liat, maka ada kemungkinan terjadi kekurangan oksigen karena tanah seperti itu mudah tergenang air.
Tanah-tanah yang paling subur bagi pertanaman biasanya mempunyai struktur yang
remah. Tanah berstruktur remah terjadi apabila butir-butir berukuran koloid direkat oleh
bahan organik hasil buangan jasad renik menjadi remah-remah yang berongga banyak dan berlainan ukurannya. Disamping adanya rongga kapiler yang menahan air, ada rongga berukuran lebih besar yang memuat udara. Tanah yang remah seperti itu akan cukup menahan air tetapi juga cukup dilalui pertukaran udara yang menyediakan oksigen di dalamnya.
Peranan penting butir berukuran koloid seperti telah dikatakan sebelumnya ialah kemampuannya meresap ion. Kemampuan itu berdasar pada luas permukaan yang dimiliki butir koloid itu diukur per satuan massa. Pada fraksi liat luas permukaan butir-butirnya dapat mencapai 800 m2per gram. Lagi pula butir-butir liat bermuatan negatif dan karena itu menarik
kation-kation ke permukaannya. Dengan cara ini zat hara tidak mudah terbasuh dengan lalunya air pada proses pematusan. Humus sebagai butir koloid mempunyai permukaan nisbi yang lebih luas lagi sehingga merupakan kompleks peresap ion yang lebih penting lagi.
Apa yang diresap oleh butir koloid di dalam tanah dapat dilepas ke akar tumbuhan. Lagi pula apabila ada ion lain yang ditambahkan, akan terjadi pertukaran ion yang diresap sehingga adanya berbagai ion di dalam kompleks resapan dan di dalam larutan tanah membentuk suatu kesetimbangan. Pemupukan dengan pupuk tak organik adalah suatu cara yang dapat mengubah kesetimbangan ini untuk kepentingan peresapan zat hara yang lebih menguntungkan bagi tanaman.
Di daerah tropik tanah biasanya cenderung rendah daya hasilnya. Butir liatnya memiliki kemampuan meresap kation yang rendah sedangkan komponen humus di dalam tanah sangat sedikit karena sebagian besar sudah terbakar karena adanya suhu tanah yang tinggi. Masalah diperumit lagi karena adanya curah hujan yang tinggi pula yang meningkatkan pematusan dan pembasuhan mineral. Kehijauan hutan tropik sering menyesatkan kita untuk berpikir bahwa tanah daerah tropik itu sangat subur. Sebenarnya kebalikannyalah yang benar.
Tumbuhan di dalam hutan hujan tropik hanya mungkin tumbuh dengan demikian suburnya karena telah menyesuaikan diri terhadap keadaan lingkungan. Caranya ialah karena kemampuannya meresap dengan cepat unsur-unsur hara yang terbebaskan dari pembusukan serasah, sebelum sempat terpatuskan oleh air hujan. Kesetimbangan seperti ini sangat peka. Begitu tanah tidak sempat menyediakan serasah lagi, tumbuhan itu tidak dapat bertahan dan yang kemudian mungkin bertahan ialah spesies yang dapat hidup dalam keadaan yang sangat tidak subur seperti gulma alang-alang.
Derajat keasaman tanah atau pH juga sangat penting dan menentukan pertumbuhan di atas tanah itu. Tanah yang sangat asam dapat melepas kation yang sangat berbahaya bagi perakaran karena terjadi proses keracunan karena kation tertentu seperti aluminium. Selain itu proses pengikatan nitrogen oleh jasad renik pun dapat terganggu. Tanah yang asam dapat direklamasi dengan pengapuran.
Tanah yang bersifat lindi dapat ditemukan di daerah yang sangat kering. Garam yang terbawa ke permukaan tanah karena penguapan air tanah membuat tanah itu berpH tinggi. Demikian pula tanah di dekat pantai dapat bersifat seperti itu. Pemupukan dengan pupuk yang bereaksi asam dapat menolong memperbaiki keadaan lahan seperti ini untuk pertanian.
Komponen tanah yang penting lagi ialah jasad renik yang membuat tanah itu hidup. Tanah yang subur dapat mengandung jasad renik hingga 6 ton untuk lahan seluas 1 ha dan setebal 30 cm. Jasad renik ini dapat terdiri atas bakteri, fungi, protozoa, algae, nematoda, cacing, dan serangga kecil. Makhluk hidup seperti inilah yang bekerja di dalam tanah menguraikan kembali serasah dan bahan organik lainnya menjadi mineral yang dapat diresap akar tumbuhan.
Jasad yang lebih besar seperti insekta dan cacing menghancurkan bahan organik menjadi bagian-bagian yang lebih kecil. Kotoran insekta dan cacing ini kemudian di makan jasad renik yang lebih kecil dan sebagai hasilnya dilepas mineral yang menjadi hara tumbuhan. Hewan tanah dan mikroorganisme juga berperan memperbaiki struktur tanah. Hewan tanah mengaduk-aduk tanah itu sehingga berongga-rongga, sedangkan jasad renik mengikat butir-butir yang menyusun rongga itu dalam ikatan yang mantap melalui lendir yang dikeluarkannya atau hifanya.
BAB VIII