No J enis Jabatan f Persent�e Asal
Suku
f PersentaseI. Kades 40
40%
Jawa30 30%
2.
Carik/Sekdes35 35%
Sumatera15 15%
3.
Kadus25 25% 65 65%
Jllllllah
100 100% 100 100%
Berdasarkan tabel
17
di atas dari100
responden(100 %)
pendtxluk yang menjawab bahwa aparat pemerintahan dipegang oleh suku Jawa semnyak40
responden( 40 %)
sebagai Kep1la Desa (Kales), jabatan sebagai Sekretaris Desa (Sekdes) sebanyak35
responden(35 %)
dan pendtxluk meqjawab sebagai Kepala Dusun (Kadus)25
responden
(25 %).
Dari tabel
17
di atas dilihat bahwa jabatan yang dijabat oleh aparat pemerintahan berd�atkan asalsuku daerah dari I 00
responden(100 %), suku
Jawa meqjabat aparat pemcrintah sebanyak30 %
dari Bali sebanyak1 0 o/o,
dari Sumatera sebanyak15 %
dan campuran semnyak65
%.179Yang menjabat sebagai Kepala Desa adalah Supamo, Sekretaris Desa adalah Gusmara, dan dibantu oleh staf lainnya yaitu
Kaur
Pemerintahan oleh Yusman Widocb,
Kaur
Pembangunan oleh Jumarsah dan Kaur Kemas/Umum oleh Katiman.176 Junghas, K.H., Transmigrasi dan Produksi Pertanian di Sumatera Selatan, (J akarta: Gramedia, 1982), hal. 46.
1 n Data Angket dari 1 00 orang respond en y ang diambi1 pad a tangga1 13 Septe mb er 2012 di D esa Tugumu1yo 1.
178 Data Angket d ari 100 orang respond en yang diambi 1 p a da tangga1 13
Septe mb er 2012 di D esa Tugurnu1yo 1.
Tabel18
Pemegang Jabatan Kades Desa Tugumulyo
No. Kades Tahun Suku
1. Dona Husen 197 3-1976 Jawa
2. Prabo 1976-1977 Jawa
3. Isnaini 1977-1981 Sumatera
4. Gogok Sugito 1981-1993 Bali
5. Gogok Sugito 1993-2003 Bali
6. M. Rifai, SE 2003-2009 Sumatera
7. Jawa
Sumber : Arstp Desa Tugumulyo Talmn 2011
Dari uraian di atas terlihat bahwa telah terjadi kerjasama antar penduduk di Desa Tugumulyo, meskipun mereka berasal dari daerah dan suku yang berbeda, tetapi mereka dapat menjalankan pemerintahan dengan baik. Bentuk keijasama desa seperti LMD, LMD sebagai wadah permusyawaratan para pemuka masyarakat yang ada di desa. LMD mempunyai tugas menyalurkan aspirasi masyarakat desa dengan memusyawarahkan setiap rencana yang diajukan oleh kades, sebelum rencana tersebut ditetapkan menjadi keputusan desa. Adapun yang menjadi ketua LMD di Desa Tugumulyo adalah suku Jawa. Demikian juga dengan jenis organisasi formal lainnya seperti Kaur Desa, KUD, PKK, Posyandu, jabatan selalu dipegang secara bersarna-sama oleh penduduk desa tanpa membedakan status dan suku mereka berasal. 180
Perangkat desa Tugumulyo antara lain terdiri dari Kepala Desa sebagai kepala pemerintahan, yang didampingi oleh Sekretaris Desa, Kepala Urusan (Kaur) yang beijumlah 3 orang, Kepala Dusun ada 5 orang, Ketua RT ada 20 orang, Kaum!Mudin ada 5 orang, Hansip sebanyak 10 orang, Pengurus LPM-LKMD adalah 14 orang dan jumlah badan petwakilan desa ada 1 3 orang.181
3. Kehidupan Ekonomi
Kehidupan ekonomi masyarakat Desa Tugumulyo ini secara umum berkaitan dengan sistem rnata pencaharian masyarakat yang ada di Tugumulyo. Indikator untuk mengetahui jenis mata pencaharian di Desa Tugumulyo yaitu sektor mata pencaharian dan hal-hal yang berkaitan dengan segi kehidupan ekonomi penduduk di Desa
1!ll Wawancara dengan Gusrnara Sekretaris Desa (Sekdes) Tugumulyo di
rumahnya Tugumulyo 3 pada tanggal 17 September 2011.
Tugumulyo. Mata pencaharian yang dimaksudkan dalam penelitian ini adalah kegiatan/aktivitas penduduk dalam bidang ekonomi sebagai sumber utama pemenuhan kebutuhan hidup sebelum dan sesudah ·
kedatangan mereka ke daerah transmigrasi. Untuk mengetahui perubahan mata pencaharian penduduk Jawa sebelum dan sesudah mereka datang ke Desa Tugumulyo dapat dilihat pooa tabel
19
di bawah llll.Tabel19
Mata Pencaharian Transmigran Sebelum dan Sesudah Melakukan Transmigrasi182
1 enis Mata Pencaharian Sebelum Sesudah Persentase F Persentase Bertani
31 62 % 36 72%
Buruh Tani10 20%
--2 4% 4 8%
Pedagang2 4% 3 6%
Membuat Genteng/Batubata5 10% 7 14%
Jumlah 50100% 50 100%
Melihat tabel
19,
dari50
responden(100 %)
menyatakan perubahan mata pencaharian warga pendatang sebelum bertransmigrasi yang bertani menetap sebanyak31
responden( 62 %)
met:Yadi36
responden
(72 %)
setelah bertransmigrasi, buruh tani dari10
responden(20 %)
menjadi tidak ada, tukang2
responden( 4 %)
menjadi4
responden
(8 %),
pedagang dari2
responden( 4 %)
menjooi3
responden
(6 %)
dan yang membuat gentmg dari5
responden(10 %)
menjadi
7
responden( 14 %).
Masyarakat transmigran yang hidup bertani menetap rata-rata petani miskin yang hanya memiliki
1ahan
yang sernpit, sehingga dengan lahan yang mereka miliki hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan sekeluarga. Selanjutnya masyarakat transmigran dari hidup bertani adalah petani yang tidak mempunyai lahan, untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Mereka biasanya menjadi petani penggarap dengan sistem bagi hasil(maruh)
sesuai dengan aturan tertentu atau menyewa tanah petani lain dan menjadi buruh pada saat panen atau pada saat mengerjakan sawah pekerjaan tukang yang dilakukan warga transmigran di daerah asal sebanyak dua orang( 4 %),
mereka ooalah tukang182 Data Angket dari I 00 orang respond en yang diambil pada tanggal 13 September 20 12 di D esa Tugumulyo 1.
bangunan yang mengetjakan dan membuat rumah penduduk. Profesi pedagang sebanyak 2 responden (4 %), mereka hanya pedagang kecil yang menyediakan kebutuhan hidup sehari-hari. Peketjaan membuat genteng/batubata dilakukan oleh 5 responden (1 0 %) warga transmigran, selain sebagai mata pencaharian utama juga banyak warga di daerah asal yang membuat genteng;batubata sebagai peketjaan sampingan. Dari tabel 4.14 di atas terlihat hanya 10 responden (20 %) yang mengalami perubahan mata pencaharian dan
40
responden(80
%) tidak mengalami perubahan dalam jenis mata pencaharian. Berikut ini tabel 20 , faktor penyebab yang membuat mata pencaharian mereka tidak begitu banyak mengalami perubahan.No
1.
Tabel20
Faktor Penyebab Warga Transmigran Tidak Mengalami Ban yak Perubahan dalam Mata Pencaharian.183
Faktor Penyebab F Persentase
Sudah terbiasa dengan pola
dan
100 100% sis tern di daerah asalJumlah 100 100%
Berdasarkan tabel 20�
dari JOO
responden (100 %), masyarakat transmigran di daerah transmigrasi yang tidak mengalarni perubahan mata pencaharian sebanyak 100 responden (100 %) menyatakan mereka sudah terbiasa dengan po1a dan sistem di daerah asal.Dari tabel 420, sebanyak 100 resporxlen (100 %) mangatakan masyarakat Jawa tidak mengalami perubahan mata pencaharian karena terbiasa dengan pola di daerah asal dan hal ini tetap dipertahankan di daerah transmigrasi di Desa Tugumulyo. Hal ini sesuai dengan pendaptt Arnral Syamsul yang mengatakan bahwa, petani-petani Jawa tidak suka dan berat meninggalkan desanya. 184 Mereka mau pindah jika di daerah barn tetap dalam alam hidupnya dan bekerja dengan cara-cara yang lazim diketjakan di daerah asalnya. Pendeknya cara-cara hidup di daerah barn tidak banyak berbeda dengan cara-cara hidup di daerah asal'ss
183 Data Angket d ari 100 orang responden yang diambil pada tanggal 13 Septe mber 2012 di Desa Tugumulyo 1.
184 Afwan, S. Im am , (ed.)., Tra ns migrasi Dari Daerah Asal Sampai B enturan Budaya di Tempat Pemukiman, (Jakarta: Rajawali, 1984), hal. 10.
185 Wawancara d engan Marsi s di Tugumulyo 2 pada tanggal 11 September
Di sini terjooi suatu perubahan mentalitas pada transmigran Jawa. Berger dalam Rukmadi menilai petani Jawa mempunyai sifat-sifat statis, kurang berjiwa pioneer dan terlalu pasrah. pada nasib serta memandang kerja sebagai pemenuhan kebutuhan hidup.186 Justru di daerah bam ini mereka berubah, mereka berpacu untuk merubah keadaan hidupnya ke arah yang lebih baik, sehingga anggapan yang berbunyi mangan ora mangan asal kumpul tidak berlaku lagi dan bergeser menjadi kumpul ora kwnpul asal mangan. Mereka yang rata rata petani miskin dan petani penggarap serta buruh tani bekerja keras untuk merubah nasib mereka. Hal ini terlihat dari keterangan responden yang menyatakan tingkat kehidupan mereka lebih baik di daerah yang bam dari pada di daerah asal. Bahkan juga banyak warga yang tingkat kehidupannya lebih baik dari pada peoouduk asli. Masyarakat transmigran sudah terbiasa dengan pola bercocok tanam, dengan kemampuan yang dimilikinya tidak mengalami kesulitan ketika di daerah baru yang meneruskan pola-pola di daerah asalnya. 187
Perubahan yang terjadi yaitu urutan yang sebelumnya mencapai 10 responden (20 %) tetapi setelah bertransmigrasi ke Desa Tugumulyo menjadi 8 %. Di daerah asal mereka tidak mempunyai tanah/sawah, tetapi setelah bertransmigrasi mereka mempunyai sawah atau tanah sendiri, meskipun tidak terlalu luas, tetapi dapat mencukupi kebutuhan hidup mereka dari hasil sawah tersebut, walaupun mereka masih menekuni sebagai buruh tani hanya sebagai kerja sampingan saja188
Sedangkan untuk pekerjaan tukang, dagang dan membuat genteng/batubata hampir tidak mengalami perubahan. Pekerjaan ini banyak dilakukan warga hanya sebagai pekerjaan sampingan pada saat menunggu hasil panen sawah mereka. Ke giatan ini sudah lama dilakukan warga di daerah asal, untuk pekerjaan membuat genteng/batubata banyak dilakukan oleh penduduk yang tinggal di Desa Yogya dan Solo. Warga yang benar-benar menekuni pekerjaan membuat gentenglbatubata yaitu 7 respoooen (14 %), meski hanya sebagai pekerjaan sampingan, tetapi sudah cukup untuk menambah perekonomian. Warga para transmigran sendiri tidak banyak mengalami perubahan dalam mata pencaharian, karena mereka tetap menjalankan
186
Berger da lam Rukmadi, Transmigrasi dari Daerah Asal Sampai Benturan Budaya di Daerah Pemukiman, (Jak arta : R ajawali, 1984 ), hal. I 0.
187 W awancara denga n Wijiyo di Tugumuly o 5 pada tangg al 12 September 2011.
188
Data Angket dari I 00 orang responden y ang diambil p ad a tanggal 13 September 2012 di Des a Tu gumulyo I.
pola-pola keija di daerah asalnya. Berikut ini _l:X)la petani di U!sa Tugumulyo, dapat dilihat pada tabel 21 seperti di bawah ini 189.
Tabel21
Pola Pertanian Masyarakat
No. Pola Pertanian F Persentase
1. Terasering -
-2. Rawa-rnwa
5 5
%3. Tadah Hujan 95 95%
Jurnlah 100 100%
Melihat tabel 21, di atas dari 100 res_l:X)nden mengatakan pola pertanian penduduk Jawa di De;a Tugumulyo adalah rawa-rawa sehmyak
5
responden( 5
%), sedangkan95
res_l:X)nden(95
%) menyatakan bahwa pola pertanian penduduk J awa di Tugumulyo adalah jenis sawah tadah hujan. Berdasarkan tabel 21, di atas dapat disimpulkan hlhwa95
% pola pertanian di Desa Tugumulyo adalah jenis sawah tadah hujan dan5
% jenis rawa-rawa. Keadaan Tugumulyo daerah memang subur dibandingkan dengan desa trnnsrnigrnn lainnya, tetapi sebagian besar lahan persawahan di Tugumulyo termasuk dalam sawah tadah hujan dan menggunakan pola bertani menetap seperti pola mereka sebelumnya. Dengan dua musirn yang ada di Tugumulyo, yaitu musim hujan (Oktober - April) dan musim kemarnu (ARfil - Oktober) dengan iklirn tropis yang bersuhu rnta-rata 27° C - 34° C dan curah hujan 2, 630Illllf
/tahun membuat daerah ini menghasilkan prcxiuksi/panen yang cukup baik dan memuaskanSelanjutnya alat yang digunakan penduduk dalam mengolah lahan pertanian sebelum ditanam . ·190 dapat dilihat pada tabel 22 di bawah
illl .
189 Data Angket dari 100 orang responden yang diambi 1 pada tangga1 13 September 2012 di D esa Tugumu1yo 1.
1 � Data Angket dari 100 orang respond en yang diambi 1 pada tangga1 13 September 2012 di D esa Tugumu1yo 1.
Tabel 22
Alat yang Digunakan Dalam Mengolah Pertanian
No: Alat Pertanian F Persentase
1. Traktor -
-2. Bajak 98 98%
3. Cangkul 2 2%
Jumlah 100 100%
Berdasarkan tabel di atas dari 100 responden menyatakan bahwa alat yang digunakan dalam �ngolahan tanah dengan bajak sebanyak 98 responden (98 % ), penduduk yang menggunakan cangkul sebanyak 2 responden (2 %) dan menggunakan traktor (0 %).
Dilihat dari tabel 22, masyarakat Jawa yang menggunakan bajak sebagai alat untuk pengolahan dengan bantuan kerbau mencapai 98 %. Hal itu disebabkan kebiasaan mereka di daerah serelum datang ke daerah transmigras� dalam pengolahan sawah masih menggunakan bajak sebelum laban siap untuk ditanami pengolahan lahan menggunakan alat cangkul hanya 2 %. Di �sa Tugumulyo dilihat hasil di lapangan bahwa sebagian besar penduduk dalam mengolah lahan pertanian masih rnenggunkan alat tradisionaL yaitu bajak dengan bantuan kerbau dan cangkul hanya sebagai alat bantu dalam pengolahan lahan.
Berikut ini jenis tanaman yang ditanam di daerah �rsawahan dan petkebunan dapat dilihat pada tabel 23 di ba wah ini 191•
Tabel 23
Tanaman yang di Tanam oleh Penduduk
No Tanaman f % Tanaman f %
Sa wah Kebun
1. Karet - Karet 32 64%
2. Padi 50 100 % Padi -
-3. Kelapa Sawit - - Kelapa Sawit 10 20%
4. - Palawija 8 16%
Jumlah 100 100% Jumlah 100 100%
191 Data Angket dari 100 orang responden yang diambil pada tanggal 13 September 2012 di Desa Tugurrrulyo 1.
Berdasarkan tabel di atas dapat dilihat bahwa 50 responden (1 00 %) menyatakan bahwa jenis tanaman sawah yang ditanami oleh
penduduk adalah padi sebanyak 50 respond en ( 1 00 % ). Jenis tanaman yang dipergunakan untuk perkebunan yang ditanami oleh penduduk dari 50 responden (100 %) yang menjawab menanam karet sebanyak 4 2 responden (64 %), padi 0 %, kelapa sawit sebanyak 20% dan tanaman palawija sebanyak 16%.
Jenis tanarnan utama yang ditanam oleh penduduk Jawa di Tugumulyo adalah padi. Oleh karena itu desa ini merupakan daerah penghasil padi/beras yang cukup besar di Kecamatan Lernpuing. Sedangkan tanaman untuk jenis perkebunan beraneka ragam antara lain karet, ke1apa sawit, sayuran dan buah-buahan. Selain sebagai petani masyarakat Jawa juga ada yang memelihara ternak, seperti terlihat pada tabel 24 di bawah ini.
Tabel24
Ternak yang Dipeliliara192
No. Jenis Temak F Persentase
1 . Sapi 3 3% 2. Kerb au 10 10% 3. Kambing 17 17% 4. Ayam/ltik 20 20% 5. Ikan 50 50% Jumlah 100 100%
Berdasarkan tabel 24, dari 100 responden (100 %) maka jenis ternak yang dipelihara oleh masyarakat Jawa di Tugumulyo yang memelihara sapi sebanyak 3 responden (3 %), yang memelihara kerbau 1 0 responden ( 1 0 % ), yang memelihara kambing 1 7 responden ( 17 % ), yang memelihara ayam/itik 20 responden (20 %) dan yang memelihara ikan sebanyak 50 responden (50%).
Hasil produksi penduduk dijual ke pasar-pasar dan ada juga yang ke KUD sebagai koperasi yang cukup berperan dalam kehidupan masyarakatnya. Koperasi ini bergerak dalam bidang sarana produksi pertanian. Misalnya tanaman pangan (padi), perikanan, cengkih, petemakan, dan lain-lain. Anggotanya adalah warga desa yang kehidupannya dari lapangan pertanian tersebut. Koperasi Unit desa
192 Data Angket dari 100 orang responden yang diambil pacta tanggal 13