• Tidak ada hasil yang ditemukan

Aplikasi Nilai-Nilai edukatif Novel Totto-Chan dalam Dunia Pendidikan Nilai-nilai pendidikan yang terdapat dalam Novel Totto-Chan merupakan

ANALISIS UNSUR INTRINSIK DAN NILAI-NILAI EDUKATIF NOVEL MADOGIWA NO TOTTO-CHAN

J. Ryo-chan

3.3 Aplikasi Nilai-Nilai edukatif Novel Totto-Chan dalam Dunia Pendidikan Nilai-nilai pendidikan yang terdapat dalam Novel Totto-Chan merupakan

sumber inspirasi yang bisa diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Khususnya diterapakan dalam mendidik anak. Seperti yang tergambar dalam cerita kebijaksanaan sang ibu menghadapi putrinya yang dikeluarkan dari sekolah. Sang ibu tidak memberi tahu anaknya yang saat itu masih duduk di sekolah dasar kelas 1 bahwa ia telah dikeluarkan. Ibu juga tidak menyalahkan anaknya. Dengan sikap yang lemah lembut dan penuh kasih sayang, ibu tersebut hanya menawarkan untuk bersekolah ditempat lain yang lebih menarik. Karena sikap yang bijaksana itulah membuat Totto-Chan bersemangat menjalani hari-harinya di sekolah yang baru dengan penuh rasa percaya diri.

Sekolah yang baru ini unik, karena murid tidak belajar di ruang kelas pada umumnya. Tapi belajar di gerbong kereta yang dijadikan sebagai kelas. Murid-murid bisa belajar sambil menikmati pemandangan di luar gerbong dan membayangkan sedang melakukan perjalanan.

Sekolah itu bernama Tomoe Gakuen. Di sini murid bisa memilih sendiri urutan mata pelajaran yang mereka inginkan yang akan dipelajari di hari itu. Guru hanya sebagai fasilitator dan tempat berkonsultasi apabila ada muridnya yang menemui kesulitan dalam proses pembelajaran. Sehingga dalam satu kelas pada jam yang sama siswa melakukan aktifitas yang berbeda ada yang membuat puisi ada juga yang melakukan eksperimen fisika.

Belajar langsung dari alam dan dengan ahlinya juga digambarkan di Tomoe Gakuen. Misalnya belajar biologi dengan kajian putik dan benangsari,

murid-murid diajak jalan-jalan ke kebun bunga. Dengan melihat bunga secara langsung murid-murid diajarkan tentang putik dan benang sari. Sedangkan, untuk belajar bercocok tanam. Murid-murid belajar langsung dari petani. Hal ini menggambarkan proses pendidikan yang berlangsung di Tomoe Gakuen tidak hanya dilakukan di dalam kelas. Sistem pendidikan di Tomoe Gakuen ini mirip dengan pendidikan sekolah alam yang akhir-akhir ini mulai dikenal di Indonesia.

Murid-murid di Tomoe Gakuen juga dimotivasi untuk memiliki rasa percaya diri sehingga mereka berani berbicara di depan umum. Dengan cara pada saat makan siang setiap anak diwajibkan untuk bercerita tentang apa saja di depan teman-temannya. Suatu kali ada anak yang tidak bisa bercerita, dengan bijaksana Kobayashi senseimulai memancing anak itu dengan memintanya untuk bercerita apa yang dilakukannya pagi ini dari bangun tidur sampai tidur lagi. Anak-anak yang berkebutuhan khususpun juga ditumbuhkan rasa percaya dirinya, dengan cara menciptakan lomba yang dapat diikuti dan dimenangkan oleh siswa yang secara fisik mengalami kekurangan.

Kepala sekolah Tomoe Gakuenmerupakan sosok pemimpin yang berani untuk bertindak sesuai dengan keyakinan dan prinsip hidup yang dia pegang dan juga seorang guru yang ideal. Dia berani mencoba dan mempelajari sesuatu yang dianggap tidak biasa dengan beragam tanggapan dari orang-orang disekitarnya. Dia juga seorang guru yang selalu menciptakan suasana yang dekat dengan anak didiknya melalui perhatian yang tulus dari dalam hati.

Dari analisis novel Totto-Chan,terdapat nilai-nilai edukatif yang meliputi nilai-nilai kepribadian dan nilai-nilai sosial. Nilai-nilai kepribadian meliputi,

keberanian hidup; kemandirian; tanggung jawab; hati-hati; rendah hati; percaya diri; kesabaran; hidup sederhana; pemaaf; bijaksana. Nilai-nilai sosial meliputi, menghormati sesama; tolong-menolong; adil terhadap orang lain; kebersamaan dalam hidup; sopan santun; menghargai. Novel Totto-Chan juga bisa diterapkan dalam mendidik anak. Seperti kebijaksanaan orang tua dalam mendidik anaknya dan sikap ideal seorang pendidik dalam menghadapi anak didiknya.

BAB 4

SIMPULAN

Berdasarkan analisis data yang telah dilakukan, simpulan yang dapat diambil dari penelitian ini adalah sebagai berikut:

1. Unsur intrinsik novel Madogiwano Totto-chan. 1.1 Tokoh dan penokohan.

Dalam novel ini terdiri dari tiga tokoh protagonis yaitu: Totto-chan, mama, dan Sosaku Kobayashi. Totto-chan adalah anak yang cerdas, suka menolong dan memiliki keingintahuan yang tinggi terhadap suatu hal yang dianggapnya baru. Mama adalah seorang ibu yang bijaksana dan sabar dalam mendidik putrinya. Sosaku Kobayashi adalah sosok kepala sekolah yang sangat bijaksana dan menyenangkan.

1.2 Latar

Latar dalam novel Madogiwa no Totto-Chan terbagi menjadi tiga yaitu: latar tempat, waktu dan sosial. Latar tempat di kota kecil di prefektur Tokyo, latar waktu rentang tahun 1941 sampai dengan 1945, latar sosial tokoh utama adalah Totto-chan berasal dari keluarga menengah.

1.3 Sudut pandang

Sudut Pandang dalam novel Madogiwa no Totto-chan menggunakan sudut pandang orang pertama dan ketiga. Sudut pandang orang pertama dimana pengarang menggunakan nama kecilnya yaitu Totto-

chan, sedangkan sudut pandang orang ketiga dimana tokoh ini bebas bercerita dan memberi komentar terhadap tokoh cerita lain.

1.4 Alur cerita

Alur cerita dalam novel Madogiwa no Totto-chan menggunakan alur cerita maju yaitu peristiwa-peristiwa yang dikisahkan bersifat kronologis, peristiwa yang pertama diikuti oleh peristiwa-peristiwa kemudian.

1.5 Tema

Tema dalam novel Madogiwa no Totto-Chan ini adalah pendidikan humanis. Pendidikan humanis menempatkan murid sebagai pusat pengajaran.

2. Unsur ekstrinsik novel Madogiwa no Totto-Chan yang dapat dianalisis adalah nilai nilai edukatif yang meliputi nilai kepribadian dan sosial.

2.1 Nilai-nilai kepribadian terdiri dari:

2.1.1 Keberanian hidup yaitu berani mengambil keputusan dan berani menanggung resiko dari sebuah keputusan.

2.1.2 Kemandirian yaitu mampu bertindak sesuai keadaan tanpa meminta atau tergantung pada orang lain.

2.1.3 Tanggung jawab yaitu menanggung segala sesuatu yang menjadi kewajibannya dari tingkah laku atau perbuatan yang telah dilakukan baik disengaja maupun yang tidak disengaja.

2.1.4 Hati-hati yaitu sikap selalu teliti, tanggap dan cekatan dalam menjalani kehidupan ini.

2.1.5 Rendah hati pribadi memandang bahwa orang lain sebagai ciptaan Tuhan memiliki keunikan dan keistimewaan masing-masing, sehingga menganggap bahwa orang lain adalah penting.

2.1.6 Percaya diri yaitu suatu kepercayaan akan kemampuan sendiri yang memadai dan menyadari kemampuan yang dimiliki dapat di manfaatkan secara tepat.

2.1.7 Kesabaran yaitu mampu menahan diri dari perbuatan yang tidak baik. 2.1.8 Hidup sederhana yaitu hidup yang proporsional, tidak berlebihan dan

mampu memprioritaskan sesuatu yang lebih dibutuhkan.

2.1.9 Pemaaf yaitu mudah memaafkan kesalahan orang lain baik itu yang disengaja ataupun tidak disengaja, sadar atau tidak sadar, besar atau kecil.

2.1.10 Bijaksana adalah keadaan dimana jiwa selalu tenang dan berfikir jernih sebelum berucap dan bertindak. Orang yang bijaksana memiliki pandangan yang jauh terhadap sebuah masalah, tidak berfikir sempit dan melihat masalah dalam konteks yang luas.

2.2 Sedangkan nilai-nilai sosial terdiri dari:

2.2.1 Menghormati sesama yaitu memberikan nilai baik terlebih dahulu sebelum seseorang melakukan sesuatu sebagi penghargaan bahwa dia sejajar dengan kita

2.2.2 Tolong-menolong yaitu saling membantu untuk meringankan kesulitan orang lain

2.2.3 Adil terhadap orang lain yaitu meletakkan sesuatu pada tempatnya 2.2.4 Kebersamaan dalam hidup yaitu mengenal dan menjalin tali

persaudaraan yang baik dengan manusia lain.

2.2.5 Sopan santun yaitu bertingkah laku dengan hukum-hukum dan harapan-harapan yang berlaku di suatu kelompok sosial tertentu. 2.2.6 Menghargai yaitu artinya kita terima dahulu apa yg dilakukan

seseorang walaupun bertentangan dengan keinginan kita. 3. Aplikasi nilai-nilai edukatif dalam dunia pendidikan.

Dalam dunia pendidikan, nilai-nilai edukatif yang dapat diterapkan adalah sikap bijaksana orang tua terhadap anaknya, terutama jika sang anak telah berbuat kesalahan. Sikap ideal orang tua adalah mencari solusi yang terbaik untuk anaknya dengan sikap yang lemah lembut dan penuh kasih sayang. Dengan sikap positif seperti inilah, anak tidak akan merasa minder dan menjadi bersemangat dalam menjalani hari-harinya.

Novel Totto-Chan juga bisa diterapkan pendidik dalam mendidik anak didiknya. Hal ini digambarkan oleh sosok Kobayashi yang menganggap semua anak itu hebat. Untuk menggali kehebatan anak diperlukan kesabaran dan kreatifitas. Semua anak itu baik, hanya perlu hati yang terbuka untuk dapat mengerti. Setiap anak itu unik, antara anak yang satu dengan anak yang lain mempunyai bakat, kemampuan serta daya tangkap yang berbeda. Pendidik dan para orang tua harus bisa memahami karakter masing-masing anak. Anak yang

secara umum berperilaku nakal dan sulit diatur bukan berarti bodoh dan benar- benar nakal. Penanganan anak seperti ini memerlukan media dan metode yang berbeda dalam proses pembelajaran, sehingga anak bisa termotivasi untuk mengembangkan bakat dan kemampuan yang dimilikinya.

Kobayashi sensei juga mengingatkan guru sebagai pendidik untuk tidak mudah menghakimi dan mengkotak-kotakkan anak sebagai anak baik-nakal, pintar-bodoh, normal-aneh. Guru jangan mudah memberi label buruk pada anak. Seperti anak bodoh, anak bandel dan kata-kata lain yang menjatuhkan karena anak akan mengingat terus label tersebut dan bisa tertanam dalam diri mereka sehingga mereka sulit untuk berubah menjadi lebih baik.

Pendidik pun harus bisa menciptakan zona yang nyaman dalam belajar. Anak akan merasa nyaman ketika orang-orang di sekelilingnya menyayangi dan memperhatikan mereka. Cara penyampaian materi dalam mengajar juga mempengaruhi kenyamanan anak dalam belajar. Anak akan takut ketika gurunya mengajar dengan wajah galak dan tanpa senyum atau memarahi anak ketika ditanya tidak bisa menjawab. Kalau suasana kegiatan belajar mengajar seperti itu materi pelajaran tidak bisa terserap dengan baik. Dan anak-anak pun tidak mendapatkan apa-apa dari suatu proses pembelajaran.