• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.2. Media Interaktif

2.2.4. Aplikasi

Menurut Salz dan Morenz (2013), aplikasi adalah sebuah software yang di desain khusus untuk mobile device seperti smartphone atau tablet. Sebuah aplikasi haruslah di unduh dan di install kepada alat yang dipakai pengguna. Setelah install selesai, sebuah aplikasi bekerja bersamaan dengan operating system (OS)

yang ada pada mobile device pengguna.

Dalam artikel Mobile: Native Apps, Web Apps, and Hybrid Apps yang dibuat oleh Raluca Budiu (2013), ia menjelaskan tiga jenis apps yang ada.

a. Mobile Web Apps

Budiu (2013) mengatakan bahwa mobile web apps sebenarnya bukanlah aplikasi, melainkan sebuah website yang dalam banyak aspek, terlihat dan terasa seperti sebuah aplikasi. Mobile web apps dijalankan oleh browser

13 seperti Mozilla Firefox atau Google Chrome dan biasanya dibuat menggunakan HTML5.

Gambar 2.8. Mobile Web Apps

(http://cdn.sixrevisions.com/0121-02_mobile_sites.jpg)

b. Native Apps

Native apps adalah sebuah sebuah aplikasi yang hidup di dalam device dan

dapat diakses melalui ikon yang ada pada home screen. Di dalam pembuatannya, sebuah native apps dikembangkan khusus untuk satu platform sehingga apps tersebut bisa menggunakan fitur yang ada di dalam

device tersebut. Native apps dapat di install melalui application store seperti

14

Gambar 2.9. Instagram Native Apps

(http://d1vqbpto5tbbz0.cloudfront.net/blog/wp-content/uploads/2015/09/02121100/native-advertising-instagram2.png)

c. Hybrid Apps

Separuh native apps dan separuh web apps adalah sebuah penjelasan untuk hybrid apps. Layaknya seperti native apps, hybrid apps ada di dalam

application store dan juga bisa menggunakan fitur yang ada pada device

yang di install hybrid apps. Selain itu, sama seperti web apps yang mengandalkan HTML5, hybrid apps juga dijalankan melalui browser yang ditanam di dalam aplikasi.

Penggunaan hybrid apps biasanya juga digunakan sebagai pembungkus sebuah website yang sudah ada untuk memasukannya kedalam application store. Selain itu, hybrid apps juga banyak digunakan untuk

membuat sebuah aplikasi yang bisa melakukan cross-platform ke operating system lain.

15

Gambar 2.10. Hybrid Apps Android

(https://s3.amazonaws.com/media.nngroup.com/redactor/image007.png)

Gambar 2.11. Hybrid Apps IPhone

16

Gambar 2.12. Mobile Website

(https://s3.amazonaws.com/media.nngroup.com/redactor/image011.png)

2.2.4.1. User Interface

Thornsby (2016) mengatakan, user interface (UI) adalah sebuah jembatan yang menghubungkan pengguna dengan apps atau program komputer. Menurutnya, sebuah user interface adalah segala sesuatu yang pengguna bisa lihat dan melakukan interaksi. Ia mengatakan bahwa user interface yang sukses adalah UI yang jelas, responsive, dan mudah untuk dilihat.

Sebuah UI yang bagus sangatlah penting dalam tingkat kesuksesan sebuah aplikasi. Thornsby (2016) menyebutkan bahwa bila kita bisa membuat sebuah UI yang benar, kita bisa membuat seorang pengguna merasa nyaman seketika dengan aplikasi yang kita buat. Selain itu, UI

17 yang baik juga memperhitungkan konsistensi desainnya, sehingga pengguna tidak kesusahan dalam penggunaan aplikasinya dan dapat mencegah atau mengurangi kekesalan dan kesalahan yang dapat muncul pada pengguna.

Neil (2012) mengatakan bahwa navigasi yang baik seperti sebuah desain yang baik. Sebuah aplikasi yang memiliki sistem navigasi yang baik membuatnya mudah untuk melakukan atau mengerjakan sesuatu. Ia menjelaskan bahwa ada dua pola navigasi yang ada dalam aplikasi, yaitu Primary Navigation Patterns dan Secondary Navigation.

2.2.4.2. Primary Navigation Pattern

a. Springboard

Pola springboard adalah sebuah pola yang netral terhadap semua operating system (OS). Biasa disebut juga sebagai Launchpad, pola

springboard memiliki karakteristik sebagai halaman pacuan untuk menu

18

Gambar 2.13. Springboard Pattern (Mobile Design Pattern Gallery, 2012)

Pada pola springboard, biasanya grid digunakan untuk menjadi dasar layout utama dalam mendesain penampilannya. Grid yang biasa digunakan

adalah 3x3, 2x3, 2x2, 1x2 untuk membuat pola springboard. Namun pola springboard sendiri tidaklah harus menggunakan grid.

Gambar 2.14. Grid Layout for Springboard (Mobile Design Pattern Gallery, 2012)

19 b. List Menu

Serupa dengan Springboard, list menu juga merupakan landasan utama dimana setiap bagian list menu adalah titik lompat awal yang digunakan untuk menggunakan aplikasi. Neil (2012) mengatakan bahwa list menu bagus digunakan untuk judul atau nama yang panjang dan list yang membutuhkan sub text. Menurutnya, aplikasi yang menggunakan list menu harus memberikan sebuah tombol balik.

Gambar 2.15. List Menu (Mobile Design Pattern Gallery, 2012)

20 c. Tabs

Tidak seperti springboard yang netral terhadap semua operating system, pola tabs memiliki peraturan tersendiri untuk lokasi dan desainnya pada OS yang berbeda-beda. Tabs yang berada pada bagian bawah adalah tabs

yang paling ramah dengan jari (jempol) karena jaraknya yang dekat.

Gambar 2.16. Tabs Pattern (Mobile Design Pattern Gallery, 2012)

21 d. Gallery

Pola gallery adalah pola yang memunculkan sepotong konten untuk dijadikan navigasi. Konten gallery biasanya berupa artikel tersendiri, resep, foto, atau produk yang bisa disusun dengan grid, carousel, atau slideshow.

Gambar 2.17. Gallery Pattern (Mobile Design Pattern Gallery, 2012)

e. Dashboard

Pola dashboard adalah pola yang menyediakan key-performance-indicators yang bisa diturunkan. Pola dashboard sebagai primary

navigation patterns sangat berguna untuk aplikasi yang berhubungan

22

Gambar 2.18. Dashboard Pattern (Mobile Design Pattern Gallery, 2012)

f. Metaphor

Metaphor adalah sebuah pola dimana kita membuat pola yang mewakilkan

aplikasi tersebut. Pola metaphor ini biasa digunakan di dalam game, namun biasa juga dapat dilihat dalah aplikasi buku, katalog, dan aplikasi kategori lain seperti notes.

23

Gambar 2.19. Metaphor Pattern (Mobile Design Pattern Gallery, 2012)

g. Mega Menu

Pola mega menu adalah sebuah tampilan overlay yang besar dengan format custom dan pengelompokan menu option.

Gambar 2.20. RipCurl Mega Menu Pattern (Mobile Design Pattern Gallery, 2012)

24

2.2.4.3. Secondary Navigation

a. Page Carousel

Pola page carousel adalah sebuah pola yang bisa digunakan untuk menjelajahi konten secara cepat hanya dengan geseran jari. Pada page carousel, terdapat page indicator display yang menunjukan seberapa

banyak page atau halaman yang ada di dalam carousel. Neil (2012) mengatakan ada batasan dalam menggunakan page carousel. Menurutnya, lebih baik membatasi page carousel untuk tidak lebih dari delapan page.

Gambar 2.21. Page Carousel (Mobile Design Pattern Gallery, 2012)

25 b. Image Carousel

Sama seperti page carousel, navigasi image carousel lebih menonjolkan gambar. Biasanya, image carousel digunakan untuk aplikasi retail yang ingin menunjukan gambar featured product mereka.

Gambar 2.22. Image Carousel (Mobile Design Pattern Gallery, 2012)

c. Expanding List

Expanding list pattern adalah pola dimana sebuah konten akan

menunjukan informasi lain yang keluar secara menurun. Menekan atau mengakses konten expanding list akan memunculkan list konten atau informasi lain yang ada secara menurun.

Dokumen terkait