• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pegawai Fungisional

Dalam dokumen Ir.H. Achmad Sofyan, MM. (Halaman 48-0)

BAB I PENDAHULUAN

BAB 2 GAMBARAN UMUM

3.3 Aparatur Pemerintahan

3.3.2 Pegawai Fungisional

Jumlah PNS Fungsional di lingkungan Kabupaten Kutai Barat berdasarkan laporan dari Badan Kepegawaian Pendidikan dan Pelatihan Daerah Kabupaten Kutai Barat pada tahun 2018 sebanyak 1.677 orang, terdiri atas fungsional pendidikan 1.238 orang, fungsional kesehatan 361 orang dan fungsional lainnya 78 orang. Jika dibandingkan dengan kondisi tahun 2017 yang berjumlah 1.814 orang, tampak adanya peningkatan jumlah pegawai fungsional. Hal tersebut terjadi karena Pengangkatan Tenaga Kontrak . 3.3.3 Pegawai Honorer

Pegawai honorer yang ada di Lingkungan Pemerintah Kabupaten Kutai Barat pada tahun 2018 bulan Januari sampai bulan Mei 2018 berjumlah 7.391 Orang Terbagi dalam 2 (dua) kategori yaitu :

a. Pegawai Tenaga Kerja Kontrak (TKK) dan Pegawai Tidak tetap (PTT)

Pegawai Tenaga Kerja Kontrak adalah pegawai honor yang bekerja pada setiap unit kerja Dinas/ Kantor di Pemerintah Kutai Barat dan pengangkatannya ditetapkan dengan Keputusan Kepala Badan Kepegawaian dan Pelatihan Daerah yang ditetapkan pelimpahan wewenang dari Bupati Kutai Barat. Pegawai Tidak Tetap adalah para pegawai honor yang bekerja dan berprofesi sebagai Guru, TU, Penjaga Perpustakaan Dan Penjaga Sekolah di lingkungan Dinas Pendidikan Kutai Barat yang pengangkatannya ditetapkan dengan Keputusan Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Kutai Barat. Jumlah Pegawai Tenaga Kerja Kontrak dan Pegawai Tidak Tetap pada tahun 2018 yang terdata adalah sebanyak 7518 orang.

enduduk adalah warga negara Indonesia dan orang asing yang bertempat tinggal diIndonesia (UUD 1945 Pasal 26 ayat 2). Informasi data kependudukan merupakan kebutuhan dasar untuk melakukan sebuah perencanaan dalam sebuah masyarakat. Dari data kependudukan tersebut dapat di buat sebuah proyeksi beberapa tahun kedepan, sehingga perencanaan tidak hanya digunakan untuk kebutuhan sesaat saja namun dapat diimplementasikan dalam jangka waktu tertentu. Proyeksi penduduk tersebut bukan merupakan ramalan, tetapi perhitungan ilmiah yang didasarkan pada asumsi – asumsi tertentu berdasarkan komponen – komponen laju pertumbuhan penduduk.

P

Gambar 4.1 Jumlah dan Kepadatan Penduduk

4.1 Kependudukan

4.1.1 Jumlah dan Kepadatan Penduduk

Menurut hasil pendataan oleh Dinas Pendudukan dan Pencatatan Sipil Kabupaten Kutai Barat, jumlah penduduk Kabupaten Kutai Barat tahun 2017 tercatat 160.000 jiwa.

Penyebaran penduduk relatif kurang merata, wilayah dengan jalur transportasi yang lancar dan memiliki sarana dan prasarana publik yang memadai merupakan konsentrasi penduduk terutama yang berada dekat dengan ibukota Kabupaten. Jika dilihat pada tabel 4.1, kecamatan yang memiliki jumlah penduduk terbesar adalah Kecamatan Barong Tongkok yaitu sebesar 28.499 jiwa atau sekitar 17,81 % dari total populasi penduduk Kutai Barat. Sedangkan Kecamatan dengan jumlah penduduk paling sedikit adalah Bentian Besar yaitu sebesar 3.174 jiwa atau sekitar 1.98 %.

Tingkat kepadatan penduduk umumnya tergolong rendah, namun demikian beberapa Kecamatan seperti Kecamatan Sekolaq Darat, Melak dan Barong Tongkok merupakan wilayah dengan jumlah penduduk yang lebih padat di banding kecamatan lain.

Kecamatan Sekolaq Darat memiliki kepadatan penduduk tertinggi yaitu 201,10 jiwa/km² kemudian diikuti Kecamatan Melak dengan kepadatan 78.68 jiwa/ km² dan Kecamatan Barong Tongkok sebesar 70,21 jiwa/km². Sebaliknya Kecamatan dengan kepadatan penduduk terendah adalah Bentian Besar dengan kepadatan penduduk 1,71 jiwa/km², diikuti Kecamatan Mook Manort Bulant dengan 2.93 jiwa/km² dan Long Iram yang kepadatan penduduk 2,97 jiwa/ km2.

Dilihat dari sisi jumlah rumah tangga per Km2, tercatat di Kabupaten Kutai Barat memiliki 47.108 KK, dengan rata-rata kepadatan Kepala Keluarga per Km2 adalah 2,31 KK/km2. Kecamatan dengan rata-rata kepadatan KK per Km2 terbesar adalah Kecamatan Sekolaq Darat yaitu sebesar 61.44 KK/km2. Sedangkan Bentian Besar memiliki rata-rata kepadatan KK terkecil yaitu sebesar 0,51 KK/km2.

Tabel 4.1 Luas Wilayah, Banyaknya Rumah Tangga, Penduduk dan Kepadatan Penduduk Menurut Kecamatan Tahun 2017

Kecamatan Luas Wilayah*)

Jumlah Kampung/

Kelurahan

Rumah

Tangga Penduduk

Kepadatan KK/km2 Pddk/

km2 Barong Tongkok 405,9 19/2 8.476 28.499 20.88 70.21

Bentian Besar 1.856,10 9 955 3.174 0.51 1.71

Bongan 2.305,30 16 2.785 9.662 1.20 4.19

Damai 2.027,50 17 3.030 10.253 1.49 5.06

Jempang 744,50 12 2.989 9.865 4.01 13.25

Linggang

Bigung 2.299,10 11 4.568 15.697 1.98 6.83

Long Iram 2.499,50 12 2.218 7.436 0.88 2.97

Mook Manaart

Bulatn 2.961,60 11 2.662 8.669 0.89 2.93

Melak 179,2 8 4.016 14.099 22.41 78.68

Muara Lawa 436,7 4/2 1.930 6.722 4.41 15.39

Muara Pahu 1.110,60 12 2.450 8.424 2.20 7.59

Nyuatan 1.343,30 10 1.874 6.591 1.39 4.91

Penyinggahan 192,1 6 1.203 3.977 6.26 20.70

Sekolaq Darat 49,3 8 3.029 9.914 61.44 201.10

Siluq Ngurai 1.629,10 16 1.638 5.702 1.00 3.50

Tering 341,80 15 3.285 11.316 9.61 33.11

Kutai Barat 20.381,60 190/4 47.108 160.000 2.31 7.85

Sumber : Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kab. Kutai Barat, BP3D, 2018 Keterangan: *) data BP3D

52,54%

47,46% Laki-laki

Perempuan

Gambar 4.2 Perbandingan jumlah penduduk laki-laki dan perempuan di Kabupaten Kutai

Barat Tahun 2017 4.1.2 Komposisi Penduduk

erbeda dengan komposisi penduduk Nasional, jumlah penduduk Kutai Barat yang berjumlah 160.000 jiwa terdiri 84.066 jiwa (52,54%) merupakan penduduk laki-laki dan 75.934 jiwa penduduk perempuan (47,46 %). Dengan komposisi seperti ini, terlihat bahwa penduduk laki-laki di Kabupaten Kutai Barat lebih dominan jika dibandingkan dengan penduduk perempuan dengan sex rasio sebesar 110,71 yang berarti bahwa setiap 100 orang perempuan terdapat 110 orang laki-laki.

Dominannya penduduk laki-laki terutama dipengaruhi banyaknya pekerja laki-laki yang bekerja di perusahaan tambang, perusahaan kayu dan perkebunan besar sawit. Semua Kecamatan yang ada di Kabupaten Kutai Barat memiliki proporsi penduduk laki-laki lebih banyak dibanding penduduk berjenis kelamin perempuan. Rasio jenis kelamin tertinggi terdapat di Kecamatan Bentian Besat yaitu sebesar 115,19 sedangkan yang terendah adalah Kecamatan Penyinggahan dengan 108,22. Pada umumnya sex rasio berhubungan dengan tingkat urban suatu wilayah, semakin menarik suatu wilayah dijadikan tujuan urbanisasi, maka semakin banyak proporsi penduduk laki-laki di wilayah tersebut dibandingkan dengan penduduk perempuan. Hal ini terjadi di Kutai Barat dimana tingkat urbanisasi relatif tinggi karena banyaknya penduduk wilayah lain yang mencari nafkah di wilayah Kutai Barat yang sebagian besar bekerja di perusahaan tambang, kayu, perkebunan sawit maupun bergerak di bidang wiraswasta.

B

Tabel 4.2 Penduduk Kutai Barat Berdasarkan Komposisi Jenis Kelamin dan Sex Ratio Per Kecamatan Tahun 2017

Kecamatan

Penduduk

Sex Ratio

L P L+P

Barong Tongkok 14.770 13.729 28.499 107.58

Bentian Besar 1.699 1.475 3.174 115.19

Bongan 5.160 4.502 9.662 114.62

Damai 5.404 4.849 10.253 111.45

Jempang 5.205 4.660 9.865 111.70

Linggang Bigung 8.220 7.477 15.697 109.94

Long Iram 3.965 3.471 7.436 114.23

Mook Manaart Bulatn 4.609 4.060 8.669 113.92

Melak 7.332 6.767 14.099 108.35

Muara Lawa 3.480 3.242 6.722 107.34

Muara Pahu 4.425 3.999 8.424 110.65

Nyuatan 3.510 3.081 6.591 113.92

Penyinggahan 2.067 1.910 3.977 108.22

Sekolaq Darat 5.192 4.722 9.914 109.95

Siluq Ngurai 3.021 2.681 5.702 112.68

\Tering 6.007 5.309 11.316 113.15

Kutai Barat 84.066 75.934 160.000 110.71

Sumber : Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kutai Barat, 2018

4.1.3 Penduduk Menurut Kelompok Umur

Komposisi penduduk menurut umur penting untuk diketahui untuk menyusun suatu perencanaan kebijakan dan program pembangunan suatu wilayah. Selain itu komposisi penduduk menurut umur bukan hanya merupakan pencerminan proses demografi masa lalu, tetapi juga sekaligus dapat digunakan untuk memperkirakan gambaran perkembangan penduduk pada masa yang akan datang melalui proses kelahiran dan

kematian. Dengan demikian informasi mengenai komposisi penduduk menurut umur penting untuk perencanaan untuk penyediaan pelayanan pendidikan, pelayanan kesehatan dan kebutuhan-kebutuhan dasar penduduk lainnya yang sesuai dengan kebutuhan kelompok umur masing-masing. Secara detail penduduk Kutai Barat menurut kelompok umur disajikan pada tabel berikut :

Tabel 4.3 Penduduk Kutai Barat Menurut Kelompok Umur Tahun 2017

Kelompok Umur Jumlah Persentase

0 - 4 9.879 6.17

5 - 9 15.214 9.51

10 - 14 15.861 9.91

15 - 19 15.648 9.78

20 - 24 13.656 8.54

25 - 29 12.954 8.10

30 - 34 13.928 8.71

35 - 39 14.649 9.16

40 - 44 12.628 7.89

45 - 49 10.549 6.59

50 - 54 8.134 5.08

55 - 59 6.366 3.98

60 - 64 4.217 2.64

65 - 69 2.660 1.66

70 - 74 1.638 1.02

> 75 2.019 1.26

KUTAI BARAT 160.000 100%

Sumber : Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kutai Barat, 2018

Penduduk Kutai Barat sebagian besar merupakan penduduk berusia produktif yaitu pada kelompok umur antara 15 sd < 59 tahun (68,44 %) dengan komposisi terbesar berada pada penduduk berumur 15 – 19 tahun. Proporsi penduduk pada umur tersebut,

membutuhkan penyediaan fasilitas pendidikan lanjutan yang cukup, mudah dijangkau dan relatif murah, agar seluruh penduduk usia pendidikan dapat tertampung. Selain itu juga diperlukan lapangan kerja untuk mereka yang baru memasuki pasar kerja.

Apabila dicermati lebih lanjut, 6,17 persen penduduk Kabupaten Kutai Barat merupakan balita dan 19,42 persen merupakan penduduk usia 5-14 tahun. Kondisi ini menuntut perhatian Pemerintah Daerah dalam penanganan penduduk balita dan usia 5-14 terutama dari segi kesehatan dan asupan gizi serta pelayanan pendidikan dasar.

Sementara itu penduduk lansia (65 tahun ke atas), menunjukkan proporsi yang kecil.

Meskipun demikian lima tahun ke depan jumlah penduduk kelompok ini akan terus bertambah, karena umur harapan hidup juga terus meningkat baik secara regional maupun nasional. Pertambahan jumlah penduduk lansia ini harus mulai diantisipasi dari sekarang, karena kelompok ini akan terus membesar di masa depan, sehingga diperlukan kebijakan seperti ketenagakerjaan, kesehatan, pelayanan lansia serta kebutuhan sosial dasar lainnya.

4.2 Ketenagakerjaan

Di bidang ketenagakerjaan persoalan yang muncul dari tahun ke tahun semakin kompleks. Lebih lagi ketentuan Undang-Undang RI Nomor 13 tahun 2003 tentang ketenagakerjaan, pemerintah berkewajiban menyusun rencana tenaga kerja sebagai acuan penyusunan kebijakan, strategi dan pelaksanaan program pembangunan ketenagakerjaan.

Kondisi ketenagakerjaan suatu daerah mengambarkan daya serap perekonomian terhadap penyerapan tenaga kerja. Semakin bertambah penduduk usia kerja akan berpengaruh pada pertambahan jumlah angkatan kerja, baik sebagai pekerja maupun pencari kerja, peningkatan tersebut perlu diimbangi dengan pasar kerja yang relatif besar agar tidak terjadi kerawanan sosial.

4.2.1 Pencari Kerja

Menurut laporan dari Dinas Tenaga Kerja Kabupaten Kutai Barat, pada tahun 2018 tercatat sebanyak 1.219 orang pencari kerja terdaftar. Dari jumlah tersebut, 165 orang telah ditempatkan, 519 orang pencari kerja dihapuskan dan 453 orang pencari kerja belum ditempatkan.

Secara statistik angka-angka tersebut cukup menggembirakan jika dibanding tahun-tahun sebalumnya, namun masih jauh dari harapan pemerintah daerah. Rendahnya serapan tenaga kerja tersebut disebabkan antara lain : perusahan tidak melaporkan adanya lowongan kerja, standard/ kualifikasi keahlian tidak sesuai dengan kebutuhan dan pemegang kartu kuning (AK1) tidak melapor kembali setelah mendapat atau belum

Tabel 4.4 Data Pencari Kerja dan Penempatan Tenaga Kerja Tahun 2014 – 2018

Sumber : Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kabupaten Kutai Barat *Data Sementara Per Mei 2018

Jika dilihat dari tingkat pendidikannya sebagian besar pencari kerja di Kabupaten Kutai Barat tahun 2018 berpendidikan relatif rendah, hal ini ditandai dengan dominansi jumlah pencari yang berpendidikan SLTA kebawah (tidak tamat SD/SD, SLTP dan SLTA/SMK) yaitu sebesar 82,44 persen (1.005 orang). Sementara yang berpendidikan perguruan tinggi (Diploma/Sarjana/Pasca Sarjana) sebanyak 17,56 % atau 214 orang.

Tabel 4.5 Data Pencari Kerja Menurut Pendidikan Akhir Tahun 2014 – 2018

Pencari Kerja 2014 2015 2016 2017 2018*

Tidak Tamat SD/ Tamat SD 290 145 190 825 221

SLTP 141 65 158 588 143

SLTA/SMK 916 588 878 2.924 641

Diploma 121 91 129 296 87

Sarjana (S1) 261 193 129 386 126

Pasca Sarjana (S2/S3) 2 3 2 10 1

Sumber : Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kutai Barat *Data Sementara Per Mei 2018

4.2.2 Pengangguran

Pengangguran adalah penduduk usia kerja tetapi belum mempunyai pekerjaan.

Pengangguran seringkali menjadi masalah dalam perekonomian karena dengan adanya Tahun Pencari Kerja

yang Terdaftar

Pencari Kerja yang diterima

kerja

Pencari Kerja Yang Dihapuskan

Pencari Kerja yg Belum diterima

kerja

2014 1.731 17 2.868 2.501

2015 1.085 266 1.323 1.276

2016 1.486 514 519 453

2017 5.029 620 2.754 1.655

2018* 1.219 165 - 1.054

pengangguran, produktivitas dan pendapatan masyarakat akan berkurang sehingga dapat menyebabkan timbulnya kemiskinan dan masalah-masalah sosial lainnya.

Angka pengangguran Kabupaten Kutai Barat tahun 2017 berkisar pada angka 8,82%.

Jika dilihat dari tahun 2015 yang mencapai 11,70%, angka tersebut jauh lebih baik.

Perbaikan harga komoditas batu bara membuat iklim investasi di sektor pertambangan kembali menggeliat. Perusahaan-perusahan tambang, yang sebelumnya melakukan pengurangan karyawan, kembali melakukan rekrutmen karyawan. Secara umum, perkembangan tingkat pengangguran Kabupaten Kutai Barat menunjukan tren positif (berkurang).

Gambar 4.3 Angka Pengangguran Kutai Barat Tahun 2014 - 2017

Sumber Data : BPS Kutai Barat * Data Sementara 2018

Tren penurunan angka pengangguran patut disyukuri namun juga wajib diwaspadai.

Pemerintah daerah perlu meningkatkan kinerja sektor-sektor lainnya sehingga serapan tenaga kerja tidak hanya didominasi oleh sektor pertambangan. Upaya yang perlu dilakukan untuk mengurangi angka pengangguran khususnya di Kutai Barat antara lain melalui Program/kegiatan pembangunan yang dilaksanakan yang bersifat padat karya yang banyak menyerap tenaga tidak terdidik (pekerja kasar), Mendirikan pendidikan keterampilan/kursus/ Balai Latihan Kerja untuk melatih tenaga kerja agar siap pakai dan siap kerja yang disesuaikan dengan kebutuhan bursa kerja dan perkembangan dunia usaha, perkembangan pelayanan pemerintahan, dunia usaha dan lain-lain, Menggalakkan pengembangan sektor informal, seperti home industry, Membuka program bursa kerja ini bertujuan untuk memfasilitasi para pencari kerja.

2014 2015 2016 2017*

8,38%

11,70%

10,08%

8,82%

4.3 Pendidikan

Perhatian Pemerintah Kabupaten Kutai Barat terhadap bidang pendidikan sangat tinggi terbukti alokasi dana di sektor pendidikan setiap tahun menunjukkan kecenderungan meningkat. Arah kebijakan peningkatan, perluasan dan pemerataan pendidikan dilaksanakan antara lain melalui penyediaan fasilitas layanan pendidikan berupa pembangunan unit sekolah baru, penambahan ruang kelas dan penyediaan fasilitas pendukungnya. Selain itu juga disediakan berbagai pendidikan alternatif bagi masyarakat yang memerlukan perhatian khusus, serta penyediaan berbagai beasiswa dan bantuan dana operasional sekolah yang dalam pelaksanaannya dilakukan dengan melibatkan peran aktif masyarakat.

Kinerja lain yang cukup menggembirakan adalah terkait dengan keseriusan Pemerintah Daerah dalam mengembangkan kualitas tenaga pendidik, khususnya upaya mewujudkan standar pendidikan guru setara Strata 1 (S1). Tenaga pendidik yang semakin berkualitas diyakini akan mampu menunjang pencapaian kualitas pelayanan pendidikan di Kabupaten Kutai Barat. Dilihat dari jumlah dan persentase guru dengan standar pendidikan S1 menunjukkan adanya peningkatan, hal ini terjadi karena banyak guru yang telah menyelesaikan pendidikan yang sebagian besar mendapatkan bantuan biaya pendidikan dari Pemerintah Kutai Barat.

4.3.1 Sarana pendidikan a. Sekolah Umum

Pemerintah Kabupaten Kutai Barat terus berupaya untuk meningkatkan akses dan kualitas pelayanan pendidikan. Upaya ini ditempuh dengan kebijakan penambahan jumlah anggaran pendidikan dari tahun ke tahun. Dalam usaha meningkatkan kualitas pendidikan dalam kurun waktu 3 tahun terakhir banyak dibangun sekolah baru dengan status negeri dan pengalihan status sekolah swasta menjadi negeri di beberapa Kecamatan.

Dilihat dari tabel di bawah jumlah sekolah TK Negeri tahun 2018 tidak terdapat perubahan masih sama seperti tahun 2017 sedangkan untuk TK Swasta pada tahun 2018 berjumlah 105 unit mengalami penurunan dari tahun 2017 yang berjumlah 106 unit. Pada tahun 2018 jumlah siswa TK Negeri 3.850 orang mengalami kenaikan di banding tahun 2017. Jumlah guru pada tahun 2018 untuk sekolah TK negeri sebanyak 22 orang dan TK Swasta sebanyak 421 orang, sehingga totak guru TK negeri dan Swasta berjumlah 443 orang.

Tabel 4.6 Jumlah Taman Kanak-Kanak, Murid dan Guru di Kabupaten Kutai Barat Tahun 2015 - 2018

Taman Kanak-Kanak Satuan

Tahun

2015 2016 2017 2018

Sekolah

Negeri Unit 2 2 2 2

Swasta Unit 108 108 106 107

Siswa

Negeri Orang 120 125 137 118

Swasta Orang 4126 4079 3786 3850

Guru

Negeri Orang 18 20 21 22

Swasta Orang 436 392 405 421

Sumber : Dinas Pendidikan & Kebudayaan Kabupaten Kutai Barat, 2018

Tabel 4.7 Jumlah Sekolah Dasar, Murid dan Guru di Kabupaten Kutai Barat Tahun 2015 – 2017

Status Satuan

Tahun

2014 2015 2016 2017

Sekolah

Negeri Unit 194 197 197 197

Swasta Unit 7 9 10 12

Siswa

Negeri Orang 19.152 18.202 17.647 17.499

Swasta Orang 1.427 2.095 2.063 2.153

Guru

Negeri Orang 2.111 1.654 1.335 2.450

Swasta Orang 264 392 87 169

Sumber : Dinas Pendidikan & Kebudayaan Kabupaten Kutai Barat, 2018

Selanjutnya pada jenjang pendidikan dasar, jumlah SD yang tersebar di Kabupaten Kutai Barat baik negeri maupun swasta pada tahun 2017 berjumlah 209 unit dengan jumlah keseluruhan siswa sebanyak 19.652 orang. Sedangkan jumlah guru pada tahun 2017 pada sekolah negeri mengalami kenaikan di bandingkan tahun 2016 orang menjadi 2.450. di sebabkan adanya guru yang pindah mengajar dari sekolah swasta ke sekolah negeri.

Pada jenjang pendidikan menengah SMP dari tahun ke tahun jumlah sekolah, siswa dan guru terus menunjukan tren peningkatan. Dapat dilihat pada tabel dibawah ini :

Tabel 4.8 Jumlah SMP, Murid dan Guru di Kabupaten Kutai Barat Tahun 2014 – 2017

Status Satuan Tahun

2014 2015 2016 2017

Sekolah

Negeri Unit 41 41 44 45

Swasta Unit 11 12 12 14

Siswa

Negeri Orang 10.361 7.379 7.511 7.565

Swasta Orang 1.039 1.128 1.129 1.036

Guru

Negeri Orang 551 421 495 841

Swasta Orang 76 179 204 157

Sumber : Dinas Pendidikan & Kebudayaan Kabupaten Kutai Barat, 2018 Catatan : Dinas Pendidikan tidak mengelola satuan pendidikan MI/MTs/MA

Berdasarkan data dari Dinas Pendidikan Kabupaten Kutai Barat jumlah SMA dan SMK negeri sejak tahun 2014 tidak mengalami perubahan masing –masing 17 unit dan 7 unit. Jumlah SMA dan SMK swasta berkurang 1 unit dari tahun sebelumnya. Hal ini disebabkan oleh siswa lebih tertarik untuk masuk atau pindah ke sekolah negeri.

Kemudian jumlah guru pada SMA/ SMK Negeri tahun 2016 masing-masing sebanyak 290 orang dan 168 orang. Sedangkan guru yang mengajar pada SMA Swasta sebanyak 37 orang dan SMK Swasta 64 orang di tahun 2016. Sedangkan tidak ada data di Dinas Pendidikan Kabupaten untuk tahun 2017 untuk jenjang SMA/SMK baik negeri atau swasta karena diambil alih oleh Dinas Pendidikan Provinsi Kalimantan Timur.

Tabel 4.9 Jumlah SMA/SMK, Murid dan Guru di Kabupaten Kutai Barat Tahun 2014-2017

Status Satuan Tahun

2014 2015 2016 2017

Sekolah SMA/SMK

Negeri Unit 17/7 17/7 17/7 17/7

Swasta Unit 5/7 5/7 4/6 5/7

SLBN Unit 1

Siswa SMA/SMK

Negeri Orang 3.074/ 2.310 2.770/ 2.677 3.808/1.852 4.090/1.851 Swasta Orang 721/1.139 721/1.139 270/1.266 272/1.213

SLBN Orang 98

Guru SMA/SMK

Negeri Orang 284/ 147 284/ 147 290/ 168 319/166

Swasta Orang 211/ 68 29/ 62 37/ 64 30/93

SLBN Orang

Sumber : Dinas Pendidikan Provinsi Kaltim, 2018

b. Sekolah Keagamaan

Tingginya permintaan jasa pendidikan yang semakin bermutu untuk meningkatkan kualitas hidup dan moral membuat tuntutan para pelaku pendidikan sekolah keagamaan baik negeri maupun swasta di Kabupaten Kutai Barat. Setiap tahun jumlah sekolah keagamaan cenderung mengalami perubahan, hal ini memberikan indikasi jika sekolah keagamaan semakin diminati.

4.3.2 Kualitas Tenaga Pendidik

Pada tahun 2017 keseluruhan guru yang berstatus PNS di Kutai Barat berjumlah 1.510 orang terdiri dari 340 orang berpendidikan SMA, 62 orang berpendidikan D-1, 165 orang berpendidikan D-II, 28 orang berpendidikan D-III, 889 orang berpendidikan S-1, dan 26 orang guru memiliki pendidikan S2. Namun tidak ada data di Dinas Pendidikan

Kabupaten untuk tahun 2017 untuk jenjang SMA/SMK baik negeri atau swasta karena diambil alih oleh Dinas Pendidikan Provinsi Kalimantan Timur.

Tabel 4.10 Jumlah Pendidik dengan Status PNS berdasarkan Tingkat Pendidikan di Kabupaten Kutai Barat Tahun 2017

Tingkat Pendidikan

Jumlah

SMA D1 D2 D3 S1 S2 S3

TK 4 - 2 - 10 - - 16

SD 307 34 163 15 639 4 - 1.162

SMP 29 28 - 13 240 22 - 332

JUMLAH 340 62 165 28 889 26 - 1.510

Sumber Data : Dinas Pendidikan & Kebudayaan Kabupaten Kutai Barat, 2018

Selain itu Dinas Pendidikan Kutai Barat merekrut guru dengan status Pegawai Tidak Tetap (PTT) yang jumlahnya dari data terakhir tahun 2018 sebanyak 2.311 orang. Jumlah tenaga pendidik berdasarkan tingkat pendidikan dengan status Non Pegawai Negeri Sipil (Non-PNS). Namun tidak ada data di Dinas Pendidikan Kabupaten untuk tahun 2017 untuk jenjang SMA/SMK/MA baik negeri atau swasta karena diambil alih oleh Dinas Pendidikan Provinsi Kalimantan Timur.

Tabel 4.11 Jumlah Pendidik dengan Status Non PNS berdasarkan Tingkat Pendidikan di Kabupaten Kutai Barat Tahun 2017

Tingkat Sekolah

Tingkat Pendidikan

Jumlah

SMA D1 D2 D3 S1 S2 S3

TK 151 4 7 5 109 - - 276

SD 553 18 38 29 771 - - 1.409

SMP 164 10 15 23 412 - - 624

JUMLAH 868 32 60 57 1.292 - - 2.311

Sumber : Dinas Pendidikan & Kebudayaan Kabupaten Kutai Barat 2018

Peningkatan mutu pendidikan sangat ditentukan oleh guru yang berkualitas dan profesional. Oleh karena itu seorang guru dituntut untuk memiliki sertifikasi sebagai kelayakan guru sebagai agen pembelajaran. Tujuan utama bukan untuk mendapatkan tunjangan profesi, melainkan untuk dapat menunjukkan bahwa guru telah memiliki kompetensi sebagaimana disyaratkan dalam standard kemampuan guru.

Sampai tahun 2017 terdapat 939 guru dan pengawas PNS yang telah lulus sertifikasi.

Dari jumlah tersebut terdiri atas guru TK 4 orang, guru SD sederajat 610 orang, guru SMP sederajat 206 orang, guru SMA sederajat 64 orang dan SMK 19 orang dan pengawas 36 orang. Sedangkan untuk guru non PNS tahun 2017 terdapat 25 guru non PNS yang telah lulus sertifikasi. Dari jumlah tersebut terdiri atas guru TK 1 orang, guru SD sederajat 5 orang, guru SMP sederajat 8 orang, guru SMA sederajat 2 orang dan SMK 9 orang.

Tabel 4.12 Jumlah Guru dan Pengawas PNS serta guru Non PNS yang Telah Lulus Sertifikasi Tahun 2014 – 2017

Sekolah

Tahun (PNS/Non PNS) Jumlah

hingga 2013 2014 2015 2016 2017

TK 2/1 2/0 0/0 0/0 0/0

SD 514/3 89/2 5/0 2/0 0/0

SMP 183/7 21/1 1/0 0/0 1/0

SMA 63/2 1/0 0/0 0/0 0/0

SMK 18/9 1/0 0/0 0/0 0/0

PENGAWAS 36/0 0/0 0/0 0/0 0/0

JUMLAH 816/22 114/3 6/0 2/0 1/0

Sumber : Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Kutai Barat, 2018

4.3.3 Indikator pencapaian pendidikan a. Angka Partisipasi Kasar

Angka Partisipasi Kasar (APK) adalah perbandingan antara jumlah murid pada jenjang pendidikan tertentu (SD, SMP, SMA) dengan penduduk kelompok usia sekolah yang sesuai dan dinyatakan dalam persentase. Semakin tinggi APK berarti semakin banyak anak usia sekolah yang bersekolah di suatu jenjang pendidikan pada suatu wilayah. Nilai APK idealnya bisa lebih besar dari 100 % karena terdapat murid yang berusia di luar usia resmi sekolah, terletak di daerah kota, atau terletak pada daerah perbatasan.

Angka Partisipasi Kasar (APK) untuk jenjang pendidikan SD sederajat 119,38 % mengalami peningkatan dari tahun 2016 yang berada pada kisaran 108,74 %. Untuk jenjang pendidikan SMP sederajat sebesar 119,96 %, mengalami peningkatan dari tahun

Kabupaten untuk tahun 2017 untuk jenjang SMA/SMK baik negeri atau swasta karena diambil alih oleh Dinas Pendidikan Provinsi Kalimantan Timur. APK pada jenjang SD, SMP telah memenuhi target. Hal ini memberikan indikasi bahwa pemerataan dan perluasan/ akses pendidikan di Kabupaten Barat terus menunjukkan tren peningkatan seiring dengan upaya pemerintah meningkatkan akses pendidikan melalui pemberian pemberian subsidi BOS dan BOSDA.

Tabel 4.13 Angka Partisipasi Kasar (APK) di Kabupaten Kutai Barat Tahun 2014 – 2017 (dalam %)

Jenjang Pendidikan Tahun

2014 2015 2016 2017

SD sederajat 109,75 115,28 108,74 119,38

SMP sederajat 100,22 103,90 114,36 119,96

SMA sederajat 87,80 97,03 98,83 -

Sumber : Dinas Pendidikan & Kebudayaan Kabupaten Kutai Barat, 2018

b. Angka Partisipasi Murni

Angka Partisipasi Murni (APM) didefinisikan sebagai perbandingan antara jumlah siswa kelompok usia sekolah pada jenjang pendidikan tertentu dengan penduduk usia sekolah yang sesuai dan dinyatakan dalam persentase. Indikator APM ini digunakan untuk mengetahui banyaknya anak usia sekolah yang bersekolah pada suatu jenjang pendidikan yang sesuai. Semakin tinggi APM berarti banyak anak usia sekolah yang bersekolah di suatu daerah pada tingkat pendidikan tertentu. Angka Partisipasi Murni dalam tiga tahun terakhir di Kabupaten Kutai Barat mengalami fluktuasi dalam pencapaiaannya.

Angka Partisipasi Murni (APM) di Kutai Barat dalam tahun 2017 untuk jenjang pendidikan SD sederajat sebesar 99,35 %. Selanjutnya pada jenjang pendidikan SMP sederajat sebesar 75,72 %.

Tabel 4.14 Angka Partisipasi Murni (APM) di Kabupaten Kutai Barat Tahun 2014 – 2017 (dalam %)

Jenjang Pendidikan Tahun

2014 2015 2016 2017

SD sederajat 93,45 100,66 97,40 99,35

SMP sederajat 70,96 72,64 100,66 75,72

SMA sederajat 60,79 61,29 83,49 -

Sumber : Dinas Pendidikan & Kebudayaan Kutai Barat, 2018/Proyek BPS

c. Angka Kelulusan

Angka kelulusan juga merupakan salah satu indikator menilai mutu pendidikan. Pada tahun 2017 angka kelulusan SD sederajat di Kutai Barat adalah 100 %, SMP sederajat 99,53 % namun tidak ada data di Dinas Pendidikan Kabupaten untuk tahun 2017 untuk jenjang SMA/SMK baik negeri atau swasta karena diambil alih oleh Dinas Pendidikan Provinsi Kalimantan Timur. Secara umum baik SD sederajat dan SLTP sederajat

Angka kelulusan juga merupakan salah satu indikator menilai mutu pendidikan. Pada tahun 2017 angka kelulusan SD sederajat di Kutai Barat adalah 100 %, SMP sederajat 99,53 % namun tidak ada data di Dinas Pendidikan Kabupaten untuk tahun 2017 untuk jenjang SMA/SMK baik negeri atau swasta karena diambil alih oleh Dinas Pendidikan Provinsi Kalimantan Timur. Secara umum baik SD sederajat dan SLTP sederajat

Dalam dokumen Ir.H. Achmad Sofyan, MM. (Halaman 48-0)

Dokumen terkait