• Tidak ada hasil yang ditemukan

Arah Pengembangan Jaringan Transportasi Laut

KEC PULAU-PULAU KUR

5.3.4. Arah Pengembangan Jaringan Transportasi Laut

Arah pengembangan jaringan transportasi laut meliputi arah pengembangan jaringan pelayanan transportasi laut dan pengembangan prasarana pelabuhan/dermaga untuk menghubungkan asal-tujuan di dalam Kota Tual yang terintegrasi dengan arah pengembangan transportasi laut pada tataran Propinsi Maluku dan Nasional.

1).Arah Pengembangan Jaringan Pelayanan Transportasi Laut

Dalam Tatranas dan Tatrawil Provinsi Maluku arah jaringan pelayanan trasportasi laut yang dikembangkan yang terkait dengan Kota Tual adalah jaringan pelayaran kapal Pelni dan jaringan pelayanan kapal perintis.

Sebagai referensi, arah pengembangan jaringan pelayanan transportasi laut untuk tataran nasional yang terkait dengan Kota Tual adalah bahwa pelabuhan Tual telah menjadi salah satu pelabuhan utama yang disinggahi oleh kapal dengan Trayek Utama Dalam Negeri (Kapal Pelni) dengan trayek sebagai berikut:

KM Ciremai

Tanjung Priok – Surabaya – Makassar – Bau-bau – Ambon – Banda – Tual – Kaimana – Fak Fak – PP.

KM Bukit Siguntang

Tanjung Priok – Surabaya – Kupang – Ambon – Banda – Tual – Fak Fak – Sorong – PP

KM Tatamailau

Surabaya – Benoa – Bima – Maumere – Kupang – Kalabahi – Saumlaki – Tual – Dobo – Timika – Merauke – Timika – Kaimana – Fak Fak – Sorong – PP

KM Kelimutu

Bima – Makassar – Bau Bau – Wanci – Ambon – Tual – Dobo – Timika – Merauke – Timika – Kaimana – Fak Fak – Sorong - PP

KM Pangrango

Ambon – Namlea – Bula – Geser – Tual – Larat – Saumlaki – Tepa – Ilwaki – Kupang – PP

Nasional), yaitu pelabuhan Tual, Tayando, Kur dan Kaimer, meskipun untuk pelabuhan selain Tual frekuensi kedatangan kapal kadang hanya satu kali sebulan, selengkapnya dengan trayek sebagai berikut:

R-23

 Ambon – Geser – Gorom/Ondor – P.Kesui – P.Tior – Kaimer Kur Tayando

Tual – Dobo – PP

 Ambon – Banda – Tual – Dobo – Benjina – Kalar kalar – Batu Goyang – Larat – Tutukembong – Saumlaki PP

R-25

Ambon – Tual – Larat – Saumlaki PP

R-26

Ambon – Romang – Ilwaki – Kisar/Wonreli – Leti – Moa – Lakor – Tamta/P.Kelapa – Lelang/Elo – Tepa – Lewa/Dai – Dawera/Dawelor – Saumlaki - Tual PP

R-27

Tual – Elat– Dobo – Benjina –Dobo – Kaimana – Fak Fak – Geser – Gorom – Kesui – Kur Tayando - Tual PP

Tual – Molu – Larat – Wunlah – Saumlaki – Tepa – Romang – Kisar – Lerokis – Eray/Esulit – Makassar PP

R-28

Elat – Dobo – Benjina – Tabarfane – Serwatu/Kalar kalar – Meror – Kojabi – Marlasi – Dobo – Elat – Tual PP

Tual – Tanimbar Kei – TayandoKurKaimer PP

Tual – Dobo – Saumlaki – Tepa – Kroing – Lelang – Moa – Leti – Kisar/Wonreli – Ilwaki – Erai/Esulit PP

R-30

Saumlaki – Larat - Tual – Ambon PP

Dilihat dari sisi frekuensi singgah di Pelabuhan Tual, maka bisa dikatakan bahwa Kota Tual sudah mempunyai frekuensi pelayanan transportasi antar pulau yang cukup. Permasalahan yang timbul adalah justru frekuensi pelayanan transportasi laut untuk antar pulau di dalam Kota Tual masih sangat sedikit. Hal ini bisa ditingkatkan dengan revitalisasi trayek kapal perintis yang beroperasi di wilayah Maluku. Akan tetapi pada level Tatralok penekanan untuk meningkatkan pelayanan transportasi laut antar pulau di dalam kabupaten harus menjadi perhatian utama.

Arah pengembangan jaringan pelayanan transportasi laut yang perlu diprioritaskan untuk dikembangkan dalam Tatralok Kota Tual adalah untuk membangun aksesibilitas Kota Tual dengan dua kecamatan kepulauan, yaitu Kec Tayando Tam dan Kec Pulau- pulau Kur. Saat ini masyarakat di kedua kecamatan kepulauan tersebut masih menghadapi kendala besar dalam melakukan mobilitas keluar pulau, terutama interaksi dengan Tual sebagai ibukota Kota Tual yang sekaligus sebagai pusat pemerintahan, pusat perdagangan dan pusat pelayanan jasa. Penyebab terhambatnya aktivitas transportasi antar pulau tersebut adalah:

(1) Jumlah pengguna yang dianggap masih rendah dan tersebar di beberapa pulau, sehingga hanya disinggahi kapal perintis dan layanan tidak tetap kapal-kapal rakyat yang berukuran kecil dengan frekuensi yang rendah.

(2) Potensi perekonomian yang belum berkembang dan belum mampu menarik pelaku ekonomi (investor) untuk menanamkan modalnya di kedua kecamatan tersebut.

(3) Tinggi gelombang laut yang sangat dipengaruhi oleh musim angin barat dan musim angin timur.

(4) Belum memadainya pelabuhan atau dermaga yang memungkinkan kapal bisa merapat dan tambat dengan baik dan aman, serta efektif dan efisien dalam proses naik-turun penumpang dan bongkar-muat barang.

Secara umum bisa dikatakan bahwa penyelenggaraan jasa transportasi belum berkembang dan layak secara komersial, sehingga dalam keadaan ini untuk memacu pertumbuhan ekonomi dan sosial masyarakat, maka kebijakan publik yang paling tepat adalah pemerintah harus mengambil peran dalam menyediakan layanan jasa transportasi secara lebih baik. Optimalisasi trayek angkutan kapal perintis yang dikelola instansi pemerintah pada level provinsi harus mempertimbangkan orientasi pergerakan penduduk pulau-pulau terpencil dengan pusat-pusat tarikan perjalanan, terutama ibukota kabupaten/kota. Seiiring dengan itu, maka pemerintah kabupaten/kota perlu mengembangkan kebijakan keberpihakan (affirmative action) dengan jalan membangun pelabuhan/dermaga kapal rakyat, menyediakan kapal dan menyelenggarakan layanan keperintisan untuk meningkatkan frekuensi pelayanan transportasi laut antar pulau Dullah – Tayando Tam – Pulau-pulau Kur.

Trayek yang perlu dikembangkan adalah trayek pengumpan dalam wilayah Kota Tual dengan rute sebagai berikut:

Tual – Langgiar – Ohoiel – Yamtel – Taam – Mangur – Tubyal – Kaimer (PP)

Jarak trayek satu arah adalah 117 mil atau jarak satu voyage adalah 234 mil. Sedangkan jarak antar pelabuhan adalah sebagai berikut :

 Tual – Langgiar : 43 mil

 Langgiar – Ohoiel : 5 mil

 Ohoiel – Yamtel : 5 mil

 Yamtel – Taam : 12 mil

 Taam – Mangur : 15 mil

 Mangur – Tubyal : 25 mil

 Tubyal – Kaimer : 12 mil

Pada tahap awal, maka trayek ini masih memerlukan dukungan penuh dari pemerintah Kota Tual dan merupakan trayek keperintisan lokal. Ke depan apabila pergerakan orang dan besaran tarif telah memenuhi kelayakan finansial, maka trayek ini bisa dikembangkan menjadi trayek komersial yang pengoperasiannya sepenuhnya diserahkan kepada operator swasta dengan menganut hukum pasar yang berlaku.

b) Tipe Kapal

Melihat kondisi infrastruktur yang ada saat ini masih sangat minim (dermaga dan fasilitas pelabuhan) dan tipikal pesisir pantai pulau – pulau di kota Tual yang merupakan pesisir dengan kontur landai dan berpasir, dan dengan mempertimbangkan kapal pembanding (eksisting) yang beroperasi di perairan Maluku, maka tipe kapal yang cocok adalah tipe kapal LCT (landing craft tank) modifikasi barang-penumpang dengan kapasitas 200-300 GT. Kapal tipe LCT adalah kapal yang mempunyai ram door mirip kapal ro-ro, tetapi hanya di bagian depan/haluan saja, dan sangat cocok untuk daerah pesisir dengan pantai yang landai.

Alternatif ukuran utama kapal LCT modifikasi barang-penumpang adalah sebagai berikut:

 Tipe kapal : Landing Craft Tank modifikasi.

 Panjang : 40 – 50 m

 Lebar : 8 – 11 m

 Sarat : 1.5 – 2.5 m

 Jumlah ABK : 8 – 15 orang

 Kapasitas Angkut : 200 – 300 GT

 Kapasitas penumpang : s/d 200 pax

 Kapasitas muat barang : s/d 300 ton

 Mesin utama : 2 unit (per unit 400 – 600 HP)

 Mesin bantu : 2 unit (35 KVA, 55 Hz, 280- 300 HP)

Gambar 5.14. Contoh Kapal LCT Modifikasi Barang-Penumpang

c) Skenario Pengoperasian

Dengan mempertimbangkan jarak trayek, baik jarak total maupun jarak antar pelabuhan, kecepatan kapal, waktu singgah di setiap pelabuhan dan estimasi jumlah penumpang, maka trayek ini dengan mengambil home base di Pelabuhan Tual akan beroperasi dengan lama pelayaran dalam 1 voyage (perjalanan pulang-pergi) selama 3 hari, sehingga diasumsikan setiap pelabuhan dapat dilayani sebanyak 2 kali dalam seminggu. Skenario pengoperasian tersebut tidak memasukkan faktor cuaca lokal karena dengan menggunakan kapal LCT berbobot mati antara 200 – 300 GT masih dapat melayari perairan di kepulauan Kei dan Tayando pada kondisi ekstrimnya (musim barat dan timur).

Tabel 5.31. Skenario Pengoperasian Kapal LCT Modifikasi Barang-Penumpang

Nama

Pelabuhan Speed Jarak Waktu Tambat

Lama Trip Asumsi Waktu Operasional Tiba/Tambat/ Berangkat Hari

mil/jam mil jam jam pukul

Tual 06.00 berangkat Hari 1 8 43 5.375 11.20 tiba/tambat Langgiar 1 12.20 tambat/berangkat 8 5 0.625 12.56 tiba/tambat Ohoitel 1 13.56 tambat/berangkat 8 5 0.625 14.36 tiba/tambat Yamtel 1 15.36 tambat/berangkat 8 12 1.5 17.06 tiba/tambat

Tam hari berikutnya 06.00 tambat/berangkat

Hari 2

Dokumen terkait