STRATEGI PENGEMBANGAN SPAL
4.6. ARAH PENGEMBANGAN SPAL PADA PEMUKIMAN BARU
Dari Daftar anggota REI ternyata tidak bisa digunakan sebagai patokan perusahaan mana yang sedang mengajukan ijin maupun yang sudah membangun atau perumahan lama. Karena kepentingan menjadi anggota REI karena terpaksa dilakukan bila akan mengajukan permohonan perbankan, sehingga harus ada kejelasan dari pihak Asosiasi bahwa untuk pengembang – pengembang baru atau pun pengembang lama yang akan mengajukan ijin pembangunan kawasan perumahan harus mempunyai design ipal kounal bila type rumah yang dibangun kecil dan tidak ada lahan untuk on-site atau membangun sistem off-site dengan benar sesuai standart yang berlaku.
Dengan tidak adanya data tersebut maka belum bisa ditentukan arahan pengembangan untuk kawasan perumahan. Atau pemukiman baru.
Laporan Akhir IV-14 Sumber: SSK Kota Banjarbaru, 2012
Gambar 4.3 Peta Tahapan Pengembangan Air Limbah Domestik
Laporan Akhir IV-15 Sumber: SSK Kota Banjarbaru, 2012
Gambar 4.4 Peta Area Beresiko Sanitasi
Laporan Akhir IV-16 Sumber: SSK Kota Banjarbaru, 2012
Gambar 4.5 Peta Kepadatan Penduduk dan Kawasan Kumuh
Laporan Akhir IV-17 4.7. STRATEGI PENGEMBANGAN SISTEM PENGELOLAAN AIR LIMBAH
Master Plan Air Limbah Kota Banjarbaru akan memuat beberapa hal yang terkait dengan kebijakan dan strategi (arahan pengembangan pengelolaan air limbah), layout jaringan dan lokasi IPAL (penanganan air limbah secara off site maupun on site), sebagaimana uraian berikut:
a. Perumusan kebijakan terkait arahan pengembangan pengelolaan air limbah
b. Strategi dan program terkait arahan pengembangan penanganan/ pengelolaan air limbah (pembangunan PS Air Limbah), khususnya dalam hal :
o Rencana jaringan penyaluran air limbah domestik dengan melihat topografi daerah.
o Rencana pengembangan sarana dan prasarana pengelolaan air limbah.
o Rencana serta arahan kelembagaan untuk pengelolaan air limbah.
o Rencana pola investasi pengelolaan air limbahuntuk 5 tahun pertama, 10 tahun, 15 tahun sampai 20 tahun di sesuaikan dengan kemapuan daerah dan pembiayaan lain.
o Rencana program dan tahap pembangunan untuk pengolahan air limbah perkawasan/ daerah rencana.
c. Arahan penanganan air limbah untuk kawasan perumahan, permukiman, serta fasilitas dan sarana umum dan sosial di Kota Banjarbaru.
d. Rencana letak dan titik untuk penempatan IPAL secara off site maupun on site (pembagian perkawasan dalam penanganan air limbah secara off site maupun on site).
e. Usulan prioritas program pengelolaan air limbah
4.7.1. Strategi Pengembangan Prasarana
Menekankan pilihan teknologi tepat guna yang sesuai dengan kondisi di Kota Banjarbaru. Strategi teknis dapat dirinci sebagai berikut:
a. Meningkatkan akses layanan air limbah komunal bagi masyarakat berpenghasilan rendah (MBR) perkotaan
b. Membuat Perda yang mengatur bagi dunia usaha dan developer untuk menyediakan sarana pengelolaan limbah ditempat usaha dan perumahan.
c. Menambah sumber dana untuk sanitasi dengan meningkatkan PAD sanitasi dan mencari sumber pendanaan diluar APBD Kota.
d. Melakukan kerjasama dengan media cetak maupun elektronik dalam hal sosialisasi dan advokasi serta penyampaian isu terkait pengelolaan air limbah.
e. Melakukan kerjasama dengan BUMN maupun dunia usaha lain dalam rangka peningkatan akses pengelolaan air limbah melalui program CSR.
f. Membuat kegiatan yang melibatkan langsung peranserta masyarakat.
g. Secara berkala melakukan monitoring dan evaluasi dengan melibatkan aparat setempat.
h. Melaksanakan Bimtek pengelolaan air limbah permukiman bagi aparat pemerintah dan masyarakat i. Komponen program untuk strategi teknis terdiri dari:
o Daerah dengan kapadatan tinggi (> 300 jiwa/ ha) dan daerah pengembangan baru harus dilayani dengan sistem terpusat, yang dibiayai developer dengan pengembalian oleh pengguna.
o Daerah kepadatan sedang (>100 – 300 jiwa/ ha) harus dilayani dengan interceptor dan fasilitas pengolahan air limbah ukuran kecil atau komunal.
o Daerah kepadatan rendah ( 50 - 100 jiwa/ ha) dengan lingkungan berkualitas tinggi harus dilayani dengan interceptor berkaitan dengan program Prokasih (Program Kali Bersih).
o Daerah kepadatan sedang dengan kecepatan perkolasi tinggi (>3 cm / menit) atau muka air tanah tiggi (<1,5 m) harus dilayani dengan shallow sewer dan tangki septic komunal.
o Daerah kepadatan rendah dengan kecepatan perkolasi rendah rendah (<3 cm /menit) dan muka air tanah rendah (>1,5 m) harus menggunakan tangki septik dengan desain khusus.
o Seleksi pemilihan metoda pengolahan air limbah dan Lumpur tinja hendaknya dilakukan mulai dari teknologi yang paling sederhana (operasi dan pemeliharaan), biaya yang rendah (investasi dan operasi), teknologi yang tepat (diterima masyarakat, berguna dan efektif dalam pengolahannya).
Implementasi pengelolaan air limbah system terpusat di wilayah perkotaan padat penduduk, didasarkan pada pendekatan bertahap (stepwise approach). Baik melalui sewerage konvensional atau sewerage biaya rendah (small bore sewer atau shallow sewer) yang disesuaikan atau didesain memenuhi sesuai kondisi wilayah.
Laporan Akhir IV-18 4.7.2. Strategi Pengembangan Kelembagaan
Menekankan pada peningkatan kemampuan institusi yang ada, yang diuraikan dibawah ini:
a. Meningkatkan kemampuan unit pelaksana yang ada dan mengatur kembali unit-unit tersebut untuk melakukan tugas mereka.
b. Untuk mengelola air limbah setempat termasuk pengangkutan dan pengolahan akhir di IPLT dapat diserahan kepada Dinas Pekerjaan Umum atau Dinas Kebersihan.
c. Tanggung jawab pemerintah pusat yaitu memberi petunjuk, pemantauan dan strategi, pengembangan sumber daya manusia, peningkatan kemampuan pemerintah daerah dalam persiapan dan pelaksanaan proyek pilot, dan penyediaan investasi awal untuk pemerintah daerah dalam pembangunan prasarana sanitasi.
d. Program pelatihan bagi staf pemerintah daerah dan penyuluhan sanitasi yang bersifat nasional harus dimulai sebagai bagian dari strategi.
e. Tanggung jawab pemerintah daerah diantaranya adalah membuat rencana kegiatan (Action Plan) di daerah masing-masing dengan penekanan pada pelaksanaan sanitasi setempat, membangun fasilitas kakus komunal, melaksanakan proyek sewerage dengan bantuan dana dari pemerintah pusat jika memungkinkan dan memelihara sistem sewerage dan penyedotan lumpur tinja serta mengawasi dan mengendalikan bantuan teknik bagi fasilitas sanitasi setempat.
f. Proyek sanitasi setempat yang ada harus diperluas dan dikembangkan menjadi suatu program yang berkesinambungan. Setahap demi setahap pemerintah daerah mengambil peran yang dibantu oleh konsultan.
g. Pemerintah daerah harus mengkoordinasikan program penanganan air limbah dengan proyek perbaikan kampung (KIP) dan instansi daerah lainnya yang terkait.
4.7.3. Strategi Pengembangan Pengaturan Penerbitan dan pelaksanaan peraturan daerah tentang:
o Izin Mendirikan Bangunan yang mengatur bahwa setiap bangunan harus memiliki tangki septik yang sesuai dan/ atau IPAL yang memenuhi standar efluen.
o Peraturan bagi pengembang yang akan mengajukan ijin pembangunan kawasan nya untuk membuat sistem off-site maupun on-site yang sesuai standart pelayanan minimal.
4.7.4. Strategi Pengembangan Edukasi dan Peran Masyarakat
Mendidik dan menambah kesadaran pemerintah daerah dan masyarakat tentang pentingnya sanitasi yang baik, harus dilaksanakan strategi pelatihan dan sosialosasi yang baik. Program nya lebih baik dilaksanakan melalui lomba2 kebersihan dan sanitasi ataupun program Kali Bersih dari WC Helikopter maupun pipa – pipa buangan dari masing – masing penduduk disekitar bantaran sungai. Program tersebut diharapkan untuk menunjang keinginan masyarakat untuk menggunakan fasilitas pembungan tinja yang baik dan sehat.
4.7.5. Strategi Pengembangan Ekonomi dan Pembiayaan
Strategi pengembangan ekonomi dan pembiayaan untuk menunjang investasi dari masyarakat dan sektor swasta, dan untuk mempromosikan mekanisme pengembalian biaya dan peningkatan pendapatan.
a. Investasi swasta dan masyarakat dalam, pengelolaan air limbah harus ditunjang dan dipromosikan dengan upaya sebagai berikut:
− Kegiatan promosi.
− Spesifikasi dan peraturan bangunan.
− Pedoman teknis untuk konstruksi dan operasi serta pemeliharaan fasilitas sanitasi.
− Fasilitas pendanaan (sistem kredit) dan bantuan bagi konstruksi fasilitas pembuangan tinja secara individual atau komunal.
b. Mekanisme pengembalian biaya dan pengumpulan pendapatan perlu dirinci lebih lanjut.
c. Bantuan teknis dan bantuan keuangan bagi fasilitas individual atau komunal dngan sanitasi setempat harus diperpanjang dan dana dialokasikan untuk sistem kredit berbeda tergantung kondisi setempat.
d. Biaya bersama satu kelompok untuk sistem individual, harus juga diperkenalkan bagi fasilitas komunal yang digunakan oleh sejumlah kecil rumah tangga.
Dasar-dasar pengembangan kerjasama kemitraan antara Pemerintah dan Swasta didasarkan kepada Keppres 80 / 2003 tentang Pedoman Pelaksanaan Pengadaan Barang/ Jasa Pemerintah, dan Perpres 67 / 2005 tentang Kerjasama Pemerintah dengan Badan Usaha dalam Penyediaan Infrastruktur.
Laporan Akhir IV-19 Secara mendasar, model kerjasama bisa dipisahkan berdasarkan sumber dananya, yaitu sumber dana murni pemerintah (APBN atau APBD) dan sumber dana pihak ketiga (swasta). Berikut adalah indikasi model-model kemiteraan dilihat dari sumber pembiayaannya:
A. Investasi Pemerintah
Adalah upaya investasi dan pembiyaan pembangunan yang berasal dari anggaran pemerintah pusat melalui APBN dan pemerintah daerah melalui APBD. Ciri investasi pemerintah adalah;
o dilakukan terhadap obyek pembangunan infrastruktur yang sulit diidentifikasi dari segi pemulihan biayanya.
o biasanya investasi yang bersumber dari pemerintah untuk infrastruktur dasar baik yang bersifat cost-recovery maupun yang bersifat non-cost recovery, misalnya; air bersih, persampahan, air limbah, jalan penghubung, jalan poros, tenaga dan jaringan listrik, jaringan telekomnikasi.
o jika pembiayaan pembangunan cukup besar dan tidak bisa dicukupi oleh satu periode APBD, maka pemerintah daerah yang bersangkutan akan merumuskan pola pembiayaan multi-tahun melalui perjanjian induk.
o dilakukan pada wilayah yang peran masyarakat/ dunia usahanya yang relatif lemah dan minimal sekali.
o merupakan pembiayaan infrastruktur berasal dari APBD terhadap pengelolaan daerah, di mana pembiayaan tersebut nantinya akan dikonversikan sebagai penyertaan modal (saham).
B. Investasi Swasta
Adalah upaya investasi dan pembiayaan yang dananya berasal dari sumber masyarakat dan badan usaha swasta (dunia usaha). Ciri-ciri investasi ini adalah;
o dilakukan terhadap obyek (proyek) pembangunan infrastruktur yang mudah diidentifikasi dari segi pemulihan biayanya.
o dilakukan pada wilayah yang peran pemerintahannya relatif lemah dan minimal sekali.
Laporan Akhir V-1 5.1 RENCANA PROGRAM
5.1.1 Rencana Program Umum
Rencana Program yang diTabelkan dibawah ini diambil dari studi terdahulu yang ada di SSK Kota Banjarbaru. Rencana tersebut menjadi acuan untuk pengembangan selanjutnya. Karena SSK tersebut dibuat pada tahun 2012 dan hanya mempunyai program jangka pendek sampai 2017.
Sehingga harus dilakukan pengembangan rencana program sesuai tahapan masterplan selama 20 tahun sejak 2015 – 2034. Data cakupan yang tertulis didalam Tabel 5.1 untuk individual sebesar 81,6% dan komunal 4,2% sedangkan dari data Dinas kesehatan mempunyai angka cakupan yang berbeda yaitu sebesar 79,6 % untuk individual dan 0,11% untuk umum. Bila diambil cakupan yang terjelek maka harus digunakan data dari dinas kesehatan.
Tempat penampungan limbah yang dimiliki warga Kota Banjarbaru sebagian besar (79,6 %) adalah tangki septik, namun hampir seluruh tangki septik tersebut belum memenuhi standar septik tank yang benar sehingga tidak memberikan pengolahan optimal kepada limbah tersebut.
Meskipun tidak tersedia informasi resmi, dikhawatirkan kondisi pengelolaan limbah padat ini akan menjadi ancaman utama bagi kualitas air sumur dangkal yang saat ini masih digunakan secara luas sebagai sumber air bersih bagi warga kota (Sumber: BPS Kota Banjarbaru).
Bila melihat pernyataan yang tertulis di Buku Putih Sanitasi Kota Banjarbaru maka data yang diperoleh masih diragukan apakah fungsi tangki septik individual atau on-site yang ada sudah dibangun sesuai kriteria design yang benar. Atau hanya formalitas nenpunyai tangki septik.
Sehingga perlu dilakukan sosialisasi tentang bangunan septik yang benar dan menjadi tanggung jawab Dinas PU untuk memberikan contoh dan gambar bentuk bangunan yang benar. ataupun untuk pengembang wajib membuat sesuai spesifikasi teknis yang benar.
Terlepas apakah tangki septik yang ada sesuai standart atau tidak, yang terdata hanya rumah yang mempunyai tangki septik saja. Angka inilah yang selanjutnya dipakai sebagai dasar pengembangan hingga tahun perencanaan jangka panjang. Sebagai perbandingan bila menggunakan rencana program dengan dasar data dinas kesehatan maka rencana program dapat dilihat pada Tabel 5.2.
Tabel 5.1 Ringkasan Rencana Program Pengelolaan Air Limbah (Menurut SSK Kota Banjarbaru)
No. Sistem
Individual (Tangki Septik) 81,60 83,00 85,00 88,00
Komunal (MCK, MCK++) 4,20 5,00 6,00 10,00
B. Sistem Off Site
Skala Kota - - - -
Skala Wilayah - - 1,00 2,00
Sumber: SSK Kota Banjarbaru
Tabel 5.2 Ringkasan Rencana Program Pengelolaan Air Limbah (Menurut Dinas Kesehatan Kota Banjarbaru)
No. Sistem
Individual (Tangki Septik) 80,00 80,00 85,00 90,00
Komunal (MCK, MCK++) 0,00 5,00 7,50 10,00