DAFTAR LAMPIRAN
V. HASIL DAN PEMBAHASAN
5.4 Arahan Kebijakan
Hasil analisis deskriptif terhadap kondisi dan potensi perikanan, analisis struktur PDRB dan I-O untuk melihat peranan dan keterkaitan sektor perikanan, serta AHP untuk melihat persepsi stakeholders perikanan, digunakan untuk menyusun suatu arahan kebijakan pembangunan sektor perikanan di Kabupaten Belitung. Arahan kebijakan pembangunan yang disusun disesuaikan dengan visi pembangunan Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP), yaitu: “Terwujudnya sumber daya perikanan dan kelautan yang lestari dengan jasa-jasa kelautan yang menjadi sumber penghidupan sebagai pilar pembangunan ekonomi masyarakat yang berkualitas dan sejahtera”. Hal ini sejalan dengan visi pembangunan Kabupaten Belitung yang menginginkan terwujudnya masyarakat yang mandiri, maju, sejahtera, berdaya saing dan bermartabat melalui pengembangan ekonomi kerakyatan dan pemberdayaan potensi daerah yang berpihak pada kerangka pembangunan sektoral, regional, dan global.
Arahan pembangunan sektor perikanan berdasarkan analisis terhadap kondisi dan potensi perikanan Kabupaten Belitung adalah dengan memanfaatkan potensi sumber daya perikanan yang tersedia, sehingga mampu meningkatkan jumlah produksi dengan tetap mempertimbangkan aspek keberlanjutan. Upaya yang dapat dilakukan antara lain adalah dengan meningkatkan kapasitas sumber daya manusia, baik nelayan maupun pembudidaya ikan.
Selain peningkatan SDM, kebijakan pembangunan juga dapat diarahkan pada peningkatan sarana dan prasarana pendukung kegiatan perikanan. Peningkatan fasilitas pelabuhan atau pangkalan pendaratan ikan, perbengkelan
(docking), pabrik es, cold storage, bahan bakar, serta air bersih secara langsung maupun tidak langsung akan berpengaruh positif terhadap peningkatan peranan sektor perikanan dalam perekonomian. Menurut Saefulhakim dalam Suryawardana (2006) salah satu peranan pemerintah dalam pembangunan adalah menyediakan fasilitas umum berupa sarana dan prasarana pendukung. Kebijakan pemerintah menyediakan infrastruktur perikanan dan menciptakan iklim investasi yang kondusif harus terus didorong dan dijadikan keputusan politik. Infrastruktur perikanan yang baik, bukan hanya dapat dinikmati oleh nelayan atau stakeholders perikanan secara lokal wilayah Kabupaten Belitung saja, namun menjadi daya tarik bagi nelayan dari luar (terutama dari Bangka Selatan dan pantai utara Jawa) untuk mendaratkan hasil tangkapannya. Dengan demikian dapat mengurangi kesalahan perhitungan terhadap pemanfaatan sumberdaya perikanan yang sesungguhnya, serta menekan kebocoran nilai tambah (value added leakages).
Pengembangan perikanan tangkap diarahkan ke wilayah barat daya serta barat laut hingga ke utara Pulau Belitung. Peta arahan lokasi kegiatan penangkapan ikan Kabupaten Belitung ditampilkan pada Gambar 35.
Lokasi pengembangan perikanan tangkap yang menjadi arahan ini sesuai dengan hasil penelitian Dayu (2007) yang menyatakan perairan Bangka Belitung bagian selatan (termasuk WPP Laut Cina Selatan bagian selatan) memiliki densitas ikan pelagis maupun demersal yang paling tinggi. Wilayah barat daya terutama diarahkan untuk kegiatan penangkapan nelayan dari Kecamatan Selat Nasik (Desa Pulau Gersik, Petaling, dan Suak Gual), Kecamatan Badau, dan Kecamatan Membalong. Wilayah barat laut sampai utara terutama diarahkan sebagai wilayah penangkapan untuk nelayan dari Kecamatan Sijuk, Tanjungpandan, dan Selat Nasik (Desa Selat Nasik). Pangkalan utama kegiatan penangkapan ke wilayah perairan tersebut adalah Desa Tanjung Binga untuk Kecamatan Sijuk, Pelabuhan Perikanan Nusantara (PPN) Tanjungpandan untuk Kecamatan Tanjungpandan, dan Pangkalan Pendaratan Ikan (PPI) Selat Nasik untuk Kecamatan Selat Nasik. Wilayah barat dan selatan tidak menjadi prioritas karena sudah cukup padat dengan adanya nelayan dari Pulau Bangka dan pantai utara Pulau Jawa.
Gambar 35 Peta arahan pengembangan perikanan tangkap Kabupaten Belitung. Wilayah arahan pengembangan perikanan budidaya laut yang sesuai dengan karakteristik perairan, terutama aspek keterlindungan dari angin dan ombak sepanjang tahun serta kedalaman perairan adalah lokasi antara Pulau Belitung dengan Pulau Mendanau. Wilayah lain adalah wilayah Teluk Balok di selatan Pulau Belitung. Peta arahan kegiatan budidaya laut ditampilkan pada Gambar 36.
Gambar 36. Peta arahan pengembangan kegiatan budidaya laut Kabupaten Belitung.
Wilayah antara Pulau Belitung dan Pulau Mendanau (khususnya di Kecamatan Badau), secara aktual sudah digunakan sebagai lokasi budidaya untuk komoditas rumput laut, kerang mutiara dan ikan kerapu. Lokasi tersebut cukup ideal karena terlindung dari angin dan ombak sepanjang tahun serta memiliki parameter kualitas air yang sesuai. Selain itu, kemungkinan tercemar limbah
pertambangan timah juga relatif kecil, karena tidak ada sungai besar yang bermuara ke perairan tersebut. Jenis budidaya yang sesuai untuk dikembangkan adalah budidaya kerapu dengan KJA dan budidaya rumput laut sistem rakit.
Peranan sektor perikanan dalam pembangunan wilayah harus terus ditingkatkan karena memiliki keunggulan komparatif dan kompetitif serta merupakan sumber daya yang dapat pulih (Dahuri 2002). Sektor perikanan juga diharapkan menjadi jaring pengaman yang mampu menampung tenaga kerja pasca penambangan timah untuk tahun-tahun mendatang. Arahan kebijakan peningkatan keterkaitan sektor perikanan dengan sektor-sektor lain harus terus dilakukan, baik yang memiliki keterkaitan ke depan maupun keterkaitan ke belakang.
Sesuai pendapat Rustiadi et al. (2009) keterpaduan sektoral menuntut adanya keterkaitan fungsional yang sinergis antar sektor perekonomian sehingga setiap kegiatan pembangunan sektoral dilaksanakan dalam kerangka pembangunan wilayah. Hal ini sesuai dengan pendapat Anwar (2005) yang menyatakan bahwa dalam pembangunan kewilayahan yang berkembang akan terjadi transfer input dan output barang dan jasa antar sektor secara dinamis. Sektor-sektor yang memiliki keterkaitan ke depan dengan sektor perikanan adalah; sektor restoran, industri non migas, jasa pendidikan, kesehatan dan sosial kemasyarakatan, angkutan laut, sungai danau dan penyeberangan, jasa perorangan dan rumah tangga, serta sektor perikanan sendiri. Sektor yang layak didorong peningkatan keterkaitannya dengan perikanan adalah restoran, industri non migas, serta perikanan sendiri, karena ketiga sektor inilah yang memiliki nilai keterkaitan tertinggi dengan sektor perikanan.
Sektor pariwisata (jasa hiburan dan rekreasi) yang tumbuh cukup baik di Kabupaten Belitung (4,48%/tahun) dapat didorong peningkatan keterkaitannya dengan sektor perikanan. Selain mengandalkan alam pantai yang erat dengan potensi sumber daya perikanan, sektor jasa hiburan dan rekreasi juga erat kaitannya dengan sektor restoran yang memiliki keterkaitan paling tinggi dengan perikanan. Berdasarkan hasil analisis multiplier effect, sektor jasa hiburan dan rekreasi menempati peringkat pertama untuk parameter multiplier NTB dan pendapatan, serta peringkat kedua untuk multiplier output. Kegiatan wisata yang langsung dapat dikreasikan dengan sektor perikanan misalnya wisata memancing,
diving, dan snorkling. Namun perlu disadari bahwa kegiatan pariwisata yang terkait dengan perikanan juga berpeluang menyebabkan kerusakan sumber daya perikanan, oleh karena itu harus tetap dilakukan pengelolaan yang memperhatikan aspek keberlanjutan (Cooke and Cowx 2006).
Pengelolaan sumber daya perikanan yang bijaksana dengan melibatkan berbagai stakeholders akan menjadikan sektor perikanan mampu memberikan kontribusi secara berkelanjutan (Varjopuro et al. 2008). Pembangunan berkelanjutan menekankan keseimbangan dimensi ekonomi, sosial, dan ekologi sehingga harus dijadikan paradigma pembangunan saat ini dan masa yang akan datang (WCED dalam Dahuri 2002, Anwar 2005, dan Rustiadi et al. 2009). Berdasarkan analisis AHP, faktor-faktor yang paling berpengaruh terhadap pembangunan perikanan di Kabupaten Belitung berturut-turut adalah; faktor sumber daya perikanan (SDI), sumber daya manusia (SDM), Pasar, Sarana dan prasarana (Sarpras), serta Biaya. Oleh karena itu, arahan kebijakan yang diperlukan adalah: (1) melakukan perlindungan serta pengawasan terhadap berbagai sumber daya perikanan dari gangguan dan tindakan perusakan; (2) peningkatan kapasitas SDM; (3) membuka akses terhadap pasar serta penataan kelembagaannya; (4) peningkatan kapasitas sarana dan prasarana perikanan; dan (5) membuka akses permodalan (pembiayaan) bagi nelayan, pembudidaya ikan, serta pengusaha perikanan.
Berdasarkan faktor-faktor penentu kebijakan pembangunan sektor perikanan di Kabupaten Belitung, prioritas kegiatan perikanan yang akan dikembangkan berturut-turut adalah; kegiatan penangkapan, budidaya, dan pengolahan hasil perikanan. Prioritas tersebut cenderung mengacu pada kegiatan peningkatan produksi berdasarkan kondisi dan potensi sumber daya perikanan yang ada di wilayah Kabupaten Belitung. Produksi perikanan yang tinggi akan berimplikasi pada kontribusi terhadap PDRB yang tinggi pula, namun belum tentu akan berpengaruh positif pada keterkaitan antar sektor perekonomian. Oleh karena itu, ada kontradiksi kegiatan prioritas pembangunan antara peningkatan produksi dan peningkatan keterkaitan antar sektor. Untuk meningkatkan keterkaitan antar sektor, prioritas utama pembangunan perikanan adalah kegiatan pengolahan hasil perikanan. Melalui kegiatan pengolahan diharapkan nilai tambah yang terbentuk
akan lebih besar, karena nilai transaksi antar sektor perekonomian dalam internal wilayah makin besar, sehingga potensi kebocoran wilayah dapat dikurangi.
Parameter lingkungan perairan Kabupaten Belitung yang masih sangat baik (PPO LIPI 2005) harus dapat dipertahankan, sehingga daya dukung (carrying capacity) terhadap sumber daya perikanan tetap tinggi. Perusakan terhadap terumbu karang, padang lamun, dan mangrove secara langsung harus dihindarkan, demikian pula kegiatan lain yang dapat menyebabkan degradasi lingkungan perairan seperti pertambangan dan pembuangan limbah. Kondisi degradasi lingkungan akibat pertambangan akan sangat berpengaruh terhadap sedimentasi dan tingkat kekeruhan perairan sehingga berdampak negatif pada sumber daya perikanan secara keseluruhan (Stobutzki et al. 2006b). Oleh karena itu, pemerintah harus lebih selektif dalam memberikan izin usaha yang berdampak negatif terhadap sumber daya perikanan.
Di sisi lain, peranan pemerintah dalam menetapkan aturan dan regulasi pengelolaan sumber daya perikanan juga harus dioptimalkan dengan melibatkan keseluruhan stakeholders. Sesuai pendapat Fauzi (2005), penanganan masalah perikanan akan sangat tergantung pada bagaimana kita mampu mengambil pelajaran dari kegagalan-kegagalan yang terjadi di masa lalu maupun di tempat lain.