• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB VI Pasal 27 ayat 1 dan 2 disebutkan bahwa :

ARAHAN PENGEMBANGAN

Cluster Banda Aceh -

Sabang

Mesjid Raya Baiturrahman, bekas-bekas tsunami, Kherkhof, Pantai Gapang, Taman Laut Pulau Rubiah, dan Pantai Iboih

Diarahkan menjadi ODTW Alam dan Budaya

Cluster Aceh Besar - Pidie

Pantai Pelabuhan Malahayati, Pantai Ujung Batee, dan Pantai Mantak Tari.

Diarahkan menjadi ODTW Alam

Cluster Bireuen – Aceh Utara – Lhokseumawe

Museum Maslikussaleh, dan Makam Malikussaleh

Diarahkan menjadi ODTW Budaya dan Minat Khusus

Cluster Aceh Timur – Langsa – Aceh Tamiang

Monumen Islam Pertama Asia Tenggara (Monisa), dan Pantai Kuala Langsa

Diarahkan menjadi ODTW Alam dan Budaya

Cluster Aceh Tengah - Bener Meriah – Gayo Lues – Aceh Tenggara

Taman Nasional Gunung Leuser Diarahkan menjadi ODTW Alam

Cluster Aceh Jaya – Aceh Barat – Nagan Raya – Aceh Barat Daya

Pantai Putih Cemara Indah, Pantai Lhok Geulumpang, dan Pantai Lagana.

Diarahkan menjadi ODTW Alam

CLUSTER OBJEK WISATA

UNGGULAN

ARAHAN PENGEMBANGAN Cluster Aceh Singkil –

Aceh Selatan

Pantai Pulau Sarok, Desa Wisata Kuala Baru, dan Taman Laut Pulau Pelambak Besar

Diarahkan menjadi ODTW Alam, Budaya dan Minat Khusus. Cluster Simeulue –

Kepulauan Banyak

Pantai Lasikin Diarahkan menjadi ODTW Alam

Sumber: Hasil Analisis, 2006

Tabel 2.6 Pengembangan Pariwisata di Prov NAD

2.4 Analisis Pemilihan Lokasi 2.4.1 Pemilihan lokasi proyek.

Lokasi merupakan faktor yang sangat menentukan untuk merencanakan sebuah gedung Art Development Center. Pemilihan lokasi yang tepat dapat menunjang dalam proses kegiatan yang berlangsung sehingga sasaran dari keberadaan Art Development Center dapat tercapai.

Berdasarkan peraturan pemerintah tentang tata ruang kota Banda Aceh, bahwa kegiatan yang bersifat sejarah dan budaya tetap dipertahankan keberadaan kawasan. Maka dari acuan peraturan pemerintah di atas dapat di pilih beberapa lokasi yang keberadaannya dalam kawasan yang diperuntukkan bagi kegiatan yang bersifat konservatif, seperti Art Development Center.

Dalam pemilihan lokasi ada beberapa kriteria yang di tinjau lebih dahulu, sebagai upaya adanya integritas antara Art Development Center dengan sasaran yang hendak dicapai, uraian tersebut dapat dilihat pada tabel berikut ini :

Kriteria Bobot Alasan

KDB rendah (40% - 60%) 3

Dengan KDB rendah memungkinkan ruang terbuka. Sehingga dapat memaksimalkan pencahayaan dan penghawaan alami.

Tingkat polusi rendah (udara dan kebisingan ) 2

Ketenangan merupakan faktor utama bagi pengunjung Art Development Center dalam menikmati pameran.

Kemudahan pencapaian 2 Tersedianya berbagai sarana infra struktur yang mendukung dalam

pencapaian ke lokasi.

Peruntukan lahan 3 Untuk memperoleh intergritas antara bangunan dengan kawasan disekitarnya.

Kemudahan dalam

pencapaian terhadap fasilitas pendukung

2

Kemudahan dalam pencapaian terhadap fasilitas- fasilitas pendukung seperti bangunan budaya yang lainnya.

Karakter sosial masyarakat 3

Sebagai faktor utama yang merupakan sasaran keberadaan Art Development Center.

Ket Nilai : - 3. Sangat Baik Tabel 2.1 Kriteria Pemilihan site - 2. Baik Sumber : (Analisis)

- 1. Kurang Baik Tabel 2.7 analisis pemilihan lokasi 2.4.2 Kriteria Pemilihan Lokasi

Sebagai sebuah bangunan publik, entertainment – edukatif untuk semua lapisan masyarakat, hal pertama yang harus dilakukan ialah memilih lokasi yang mendukung keberadaan Art Development Center beserta fasilitas pendukungnya tersebut, yaitu :

Lokasi merupakan daerah wilayah pengembangan. Berada di kawasan Cagar Budaya.

Berada di pusat kota.

Dapat dicapai dengan mudah dari berbagai tempat diseputaran kota Banda Aceh, dan transportasi menuju ke lokasi lancar.

Lokasi dekat dengan fasilitas pendukung seperti , taman Sari, Pekuburan Belanda, taman Putroe Phang, Gunongan, Museum Rumoh Aceh, Taman Budaya, Museum Budaya, sebagai bangunan dan tempat bersejarah lainnya. Dekat dengan kawasan urban dan kawasan wisata kota sebagai acuan untuk sasaran pengunjung yang diperkirakan akan menjadi pengunjung utama untuk bangunan ini.

Tidak berada pada kawasan perindustrian

1) Tinjauan Terhadap Peraturan Pengembangan Kota Madya Banda Aceh Dalam pemilihan lokasi untuk Art Development Center perlu pula diperhatikan RTRW

( Rencana Tata Ruang Wilayah):

Penentuan lokasi harus sesuai dengan kebijakan pemerintah terhadap Peraturan Pengembanngan Kota Madya Banda Aceh sesuai Dengan RTRW, wilayah Kotamadya Banda Aceh meliputi:

Undang-undang Pemerintahan Aceh No.11 Tahun 2006, No. 1 – 4 :

1. Perencanaan pembangunan Aceh/kabupaten/kota disusun secara komprehensif sebagai bagian dari sistem perencanaan pembangunan nasional dalam kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia dengan memperhatikan:

a. nilai-nilai Islam; b. sosial budaya;

c. berkelanjutan dan berwawasan lingkungan; d. keadilan dan pemerataan; dan

e. kebutuhan.

2. Perlunya peran serta masyarakat dalam perencanaan, pemanfaatan, serta pengawasan tata ruang serta pengelolaan lingkungan hidup.

3. Pelaksanaan pembangunan di Aceh dan kabupaten/kota dilakukan dengan mengacu pada rencana pembangunan dan tata ruang nasional yang berpedoman pada prinsip-prinsip pembangunan berkelanjutan, pelestarian fungsi lingkungan hidup, kemanfaatan, dan keadilan.

4. Pemerintah Aceh dan pemerintah kabupaten/kota berkewajiban melakukan pengelolaan lingkungan hidup secara terpadu dengan memperhatikan tata ruang, melindungi sumber daya alam hayati, sumber daya alam nonhayati, sumber daya buatan, konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya, cagar budaya, dan keanekaragaman hayati dengan memperhatikan hak-hak masyarakat adat dan untuk sebesar-besarnya bagi kesejahteraan penduduk.

2.4.3 Kebijakan Penataan Ruang

- Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional (RTRWN) Revisi 2004.

A. Pola Pemanfaatan Ruang

Pola pemanfaatan ruang wilayah nasional menggambarkan secara indikatif sebaran kegiatan pelestarian alam dan cagar budaya, kegiatan produksi, serta persebaran kegiatan strategis nasional. Pola ini secara spasial memperlihatkan pola persebaran kawasan lindung, pola pengembangan kawasan budi daya, dan pola pengembangan kawasan fungsional. Pola Pemanfaatan Ruang Wilayah Nasional meliputi:

- Pola Pengelolaan Kawasan Lindung

Pola pengelolaan kawasan lindung menggambarkan kawasan berfungsi lindung secara indikatif dalam ruang wilayah nasional, baik di darat, laut dan udara. Pola ini memperlihatkan keterkaitan kawasan-kawasan lindung dengan indikasi lokasi pengembangan kawasan budidaya dan sektor produksi didalamnya serta keterkaitan dengan indikasi lokasi kawasan fungsional. Kawasan-kawasan lindung lainnya seperti Kawasan Lahan Gambut, Kawasan Cagar Budaya, Kawasan Rawan Bencana (banjir, tsunami, longsor, gunung berapi dan lain-lain) belum tersedia secara menyeluruh. Misalnya di wilayah Indonesia terdapat banyak gambut seperti di Pulau Kalimantan, Pulau Sumatera dan Pulau Irian Jaya, akan tetapi data gambut yang lebih dalam atau sama dengan 3 meter belum tersedia secara menyeluruh, maka dalam pola kawasan lindung tidak diindikasikan kawasan bergambut. Demikian juga dengan kawasan cagar budaya dan kawasan rawan bencana. Kawasan lindung berskala nasional diperlihatkan pada Tabel II.1. Adapun kriteria dan prinsip pengelolaan kawasan lindung menurut RTRW Nasional dapat dilihat pada Tabell II.1.

Kawasan Lindung Nasional Provinsi Nanggroe Aceh Darrusalam (NAD)

NO NAMA KAWASAN

LINDUNG LOKASI/PROVINSI LUAS (HA)

1. TWL. Pulau Weh Nanggroe Aceh

Darussalam 3.900

Darussalam

3. TN. Gunung Leuser Nanggroe Aceh

Darussalam 623,987

4. THR. Cut Nyak Dien Nanggroe Aceh

Darussalam 6.220

5. CA. Hutan Pinus Jhantoi Nanggroe Aceh

Darussalam 8.000

6. SM. Rawa Singkil Nanggroe Aceh

Darussalam 102.500

Keterangan:

TN : Taman Nasional TWL : Taman Wisata Laut

THR : Taman Hutan Raya CA : Cagar Alam

SM : Suaka Margasatwa Sumber : RTRWN Revisi 2004

Tabel 2.8 merupakan kawasan lindung NAD

Kriteria dan Prinsip Pengelolaan Kawasan Lindung

JENIS

Dokumen terkait