• Tidak ada hasil yang ditemukan

Arsitektur Nusantara pada Masa Kerajaan Hindu-Buddha

Dalam dokumen GALERI ARSITEKTUR NUSANTARA DI YOGYAKARTA (Halaman 62-71)

TINJAUAN ARSITEKTUR NUSANTARA

B. Arsitektur di Nusantara

1. Arsitektur Nusantara pada Masa Kerajaan Hindu-Buddha

Selama era kerajaan Hindu dan Buddha terdapat dua dinasti yang berkuasa sekitar abad ke-8 hingga ke-10 yaitu dinasti Sanjaya dan Syailendra. Dinasti Sanjaya beragama Hindu aliran Siwa, sementara dinasti

9

Ibid

10

commit to user 47

Syailendra menganut agama Buddha Mahayana atau Vajrayana. Peninggalan dari kedua dinasti ini berupa prasasti dan candi. Keluarga Sanjaya memiliki kekuasaan di bagian utara Jawa Tengah, dan keluarga Syailendra di bagian Selatan Jawa Tengah. Pembangunan candi terkait dengan kerajaan di Nusantara pada masa perkembangan agama Buddha dan Hindu di Indonesia. Keberadaan kerajaan-kerajaan Hindu Budha dimasa lampau diketahui dari prasasti-prasasti. Prasasti dari kerajan tertua di nusantara ditemukan di Kutei, Kalimantan Timur. Setelah itu terdapat ratusan prasasti yang bercerita tentang kerajaan-kerajaan Hindu dan Budha di Nusantara sekaligus juga bercerita tentang bangunan suci (candi). Umumnya prasasti tersebut dibuat pada abad ke-9. Berikut beberapa prasasti dan candi peninggalan kerajaan-kerajaan pada era Hindu dan Buddha atau sebelumnya.

commit to user

Arsitektur Candi a) Fungsi Candi

Kata Candi pada umumnya dianggap berasal dari kata candikagrha, nama tempat tinggal Candika, Dewi Kematian dan Permaisuri Siwa. Secara harfiah Candi bisa ditafsirkan sebagai bangunan yang digunakan untuk keperluan pemakaman, atau bahkan sebagai makam. Seringkali candi digunakan sebagai tempat pemujaan dan memuliakan raja yang sudah meninggal. Akan tetapi, Candi dibangun bukan semata hanyalah sebagai makam atau tempat pemujaan dan memuliakan raja yang sudah meninggal, lebih dari itu, candi juga difungsikan sebagai tempat pemujaan kepada para Dewa yang dilambangkan sebagai arca. Arca diletakan di ruang tengah candi dahulu kala hanya Pendeta yang memimpin acara pemuajaan yang diperkenankan masuk kedalam ruang tersebut. Candi lebih diyakini sebagai kuil atau tempat pemujaan daripada sebagai makam.

b) Tatanan, Bagian dan Konsep Arsitektural Candi

Secara vertikal, struktur Bangunan candi terdiri dari tiga bagian yang melambangkan kosmologi atau kepercayaan terhadap pembagian dunia sebagai satu kesatuan alam semesta yang sering disebut dengan ‘Triloka’ terdiri dari dunia manusia (bhurloka), dunia tengah untuk orang-orang yang disucikan (bhuvarloka) kemudian dunia untuk para dewa (svarloka).

commit to user 49

Ketiga tingkatan ini, dalam struktur candi adalah digambarkan sebagai bagian kaki, badan dan kepala. Arsitektur candi sering juga diidentikan dengan makna perlambangan Gunung Meru. Dalam mitologi Hindu-Buddha, Gunung Meru adalah sebuah gunung di pusat jagat yang berfungsi sebagai pusat bumi dan mencapai tingkat tertinggi surga. Keyakinan seolah-olah mengatakan bahwa gunung sebagai tempat tinggal para dewa. Pada bangunan candi di Indonesia, selain berbagai macam arca Budha dan para dewa yang terdapat di ruang dalam candi, elemen atau bagian bangunan yang terdapat pada arsitektur candi baik candi Hindu dan Buddha yaitu kala-mekara, peripih, stupa, ratha (mahkota), lingga dan yoni.

c) Teknik Konstruksi dan Pembangunan Candi

Bangunan candi di Indonesia umumnya dibangun dengan cara a joint vif, yaitu bebatuan yang saling ditumpuk diatasnya tanpa ada bahan pengikat. Pada awalnya teknik penumpukan batu dilakukan dengan cara membuat perkuatan dengan memotong bagian balok batu untuk membuat semacam lidah dan tekukan yang saling

Gambar iii.2. Struktur Candi

commit to user

mengunci dengan balok-balok yang bersebelahan baik secara mendatar maupun ke atas. Pada awal abad ke-9, ahli bangunan Jawa menggunakan teknik India mengenai dinding batu berdaun ganda.

Teknik ini memerlukan pembuatan sepasang dinding sejajar dan pengisian rongga diantaranya dari puing atau dari batu dengan bentuk yang tidak beraturan direkatkan dengan lumpur, kadang-kadang ditambah sedikit kapur. Lapisan luar batu biasanya diarahkan ke bagian luar dalam serangkaian bebatuan menggantung berjarak tidak rata yang menghasilkan kesan bagian luar bagikan dipahat. Setelah abad ke 9, teknik kontruksi candi agak sedikit berubah.

Pembangunan candi memiliki tata cara dan upacara ritual. Upacara yang dilaksanakan serigkali dicatat dalam tulisan batu (piagem) atau lempengan perak atau tembaga. Yang berinisiatif membangun candi pada pertama kalinya adalah bangsawan (orang suci) dengan mengajak orang-orang di kampungnya (sekelilingnya) untuk bergotong royong membangun candi. Tata cara urutan pembangunan candi seperti yang terlihat pada gambar berikut ini.

Gambar iii.3. Teknik Konstruksi Dinding Berdaun Ganda Sumber:Kopendium Arsitektur Nusantara, India, China dan Jepang.pdf

commit to user 51

d) Pembagian Kelompok Arsitektur Candi

Melihat dari masa pembangunan candi-candi di Nusantara, maka dibagi atas tiga periode, yaitu masa Klasik Awal (600 M-900 M), dimana candi Prambanan dan Borobudur dibangun pada masa ini, kemudian masa Klasik Madya (900 M- 1250 M) yaitu candi-candi yang terdapat di Sumatera seperti candi-candi yang ada di Padang Lawas, Muara Takus, dan Muara Jambi. Candi-candi yang dibangun pada Masa Klasik Akhir (1250 M – 1500 M) umumnya terdiri dari konstruksi bata yang secara meluas banyak terdapat di Jawa Timur dimana candi berundak di lereng gunung popular pada akhir periode ini. Jika dilihat dari sudut pengelompokkan langgam atau jenis serta

Gambar iii.4. Tata cara Urutan Pembangunan Candi

Sumber:Kopendium Arsitektur Nusantara, India, China dan Jepang.pdf

Gambar iii.5. Peta pengelompokan Candi

commit to user

agama yang mewakili keberadaan candi tersebut, Soekmono membagi menjadi tiga jenis yaitu jenis Jawa tengah Utara mewakili agama Hindu (Siwa), jenis Jawa Tengah Selatan mewakili agama Budha (Mahayana) dan jenis Jawa Timur mewakili aliran Tantrayana (baik Siwa maupun Budha). Pengelompokkan ini sejalan dengan pengelompokkan candi berdasarkan masa pembangunannya.

Candi-candi di Jawa Tengah Utara merupakan candi pada masa klasik awal. Candi di wilayah ini merupakan pemujaan terhadap Siwa dengan bentuk mendekati tipe candi di India. Beberapa candi yang terpenting lain pada masa dan wilayah ini adalah Candi Gunung Wukir (732 M), Candi Badut (760 M), kelompok candi Gedong Songo di lereng gunung Ungaran.

Candi-candi di Jawa Tengah Selatan merupakan candi-candi Budha pertama di Jawa atau dikategorikan sebagai candi pada masa Klasik awal. Candi yang termasuk adalah candi Kalasan(778 M),

Gambar iii.6. Candi Gedong Songo dan Candi Badut

Sumber:Kopendium Arsitektur Nusantara, India, China dan Jepang.pdf

Gambar iii.7. Candi-candi di Jawa Tengah Selatan Sumber:Kopendium Arsitektur Nusantara, India, China dan Jepang.pdf

commit to user 53

candi Sari, candi Borobudur, candi Mendut, kelompok candi Sewu, kelompok candi Plaosan. Tidak ada perbedaan yang mendasar antara candi di Jawa tengah Utara dengan candi di Jawa tengah Selatan, hanya candi di Jawa tengah Selatan lebih mewah dan lebih megah dari segi bentuk dan hiasan daripada candi di Jawa Tengah Utara. Oleh karena itu, sering tipe candi di kedua wilayah ini disatukan, perbedaan yang mendasar terlihat pada candi di Jawa Timur.

Candi-candi terpenting di Jawa Timur adalah candi-candi di sekitar Malang : candi Kidal (candi Anusapati), candi Jago (candi Wisnuwardhana), candi Singosari (candi Krtanagara). Kemudian candi Jawi, kelompok candi Panataran, candi Jabung.

Gambar iii.8. Candi Penataran dan Candi Jago

Sumber: Kopendium Arsitektur Nusantara, India, China dan Jepang.pdf

Gambar iii.9. salah satu tipe Denah Candi

commit to user

Tabel iii.2. Perbedaan bentuk dan langgam candi Jawa Tengah dan Jawa Timur.

Di pulau Sumatra seperti candi Muara takus, candi-candi di Padang Lawas terdapat beberapa candi yang digolongkan sebagai candi pada masa klasik madya. Candi ini diperkirakan dibangun pada abad ke-11 dan ke- 13.

Terdapat tipe lain dari candi yang berbeda yang sering disebut dengan pertirtaan dan candi padas. Kelompok ini dimasukan ke dalam candi pada masa klasik akhir. Pentirtaan dan Candi padas yang terkenal adalah candi belahan di lereng gunung Penanggungan dekat Mojokerto, dikenal dengan candi berundak, candi Tikus di bekas kota Majapahit (abad ke-14), dan gunung kawi di Tampaksiring (Bali). Kemudian ada lagi jenis bangunan candi yang berupa gapura, terdapat dua jenis gapura yaitu yang pertama, bagian pintu keluar masuk yang mana bagian tubuhnya terdapat lobang

Gambar iii.10. Candi Biaro Bahal 1, Padang Lawas, Sumatera Sumber: Kopendium Arsitektur Nusantara, India, China dan Jepang.pdf

commit to user 55

pintu, misalnya candi Jedong, candi Plumbangan, dan candi Bajang Ratu. Jenis gapura kedua, rupanya seperti bangunan candi yang dibelah dua atau disebut juga dengan candi bentar yang biasanya identik dengan seni bangunan pada masa Majapahit. Selain candi Waringin Lawang di Majapahit, juga terdapat di Kapal, Bali.

Dalam dokumen GALERI ARSITEKTUR NUSANTARA DI YOGYAKARTA (Halaman 62-71)

Dokumen terkait