“
Sejarah perkembangan penerjemahan dan penggunaan Alkitab ditinjau dari segi perkembangan dan persatuan bangsa serta kesatuan umat Tuhan diIndonesia
”
—Oleh: T.B. SIMATUPANG—
(Sambungan dari bagian 1)
Waktu Injil tiba di Indonesia untuk pertama kali pada abad ke-7 dan untuk kedua kali dalam abad ke-16, Indonesia telah memunyai perkembangan yang menarik dari segi sejarah dan dari segi agama serta kebudayaan. Injil tidak tiba di Indonesia dalam keadaan yang "kosong" dari segi agama dan kebudayaan. Dapat kita catat adanya beberapa "lapisan" dalam sejarah keagamaan dan kebudayaan kita sehingga Indonesia dapat kita lihat sebagai suatu kue lapis yang memperlihatkan lapisan-lapisan
keagamaan dan kebudayaan yang memunyai coraknya masing-masing.
Lapisan pertama ialah lapisan kebudayaan dan keagamaan Indonesia asli, yang memperlihatkan persamaan-persamaan yang mendasar di samping perbedaan-perbedaan dari suatu daerah ke daerah yang lain. Studi-studi mengenai kebahasaan dan adat-istiadat yang dahulu banyak dijalankan oleh sarjana-sarjana Belanda,
mencatat persamaan-persamaan yang pokok di samping adanya perbedaan-perbedaan dalam lapisan Indonesia asli ini di berbagai daerah dan kalangan berbagai suku. Di beberapa daerah, lapisan asli ini masih tampak pada permukaan kehidupan
kebudayaan dan adat istiadat, seperti di Tanah Batak, di Tanah Toraja, dan di Sumba. Lapisan-lapisan kedua dan ketiga yang akan kita bicarakan di bawah, tidak banyak memengaruhi keadaan dan keagamaan di daerah-daerah itu.
Lapisan kedua ialah pengaruh kebudayaan dan keagamaan yang datang dari India. Selama lebih dari seribu tahun, pengaruh kebudayaan dari keagamaan yang berasal dari India ini sangat berakar di Pulau Jawa dan Bali dan sebagian Pulau Sumatera. Lapisan ini menghasilkan Kerajaan Sriwijaya yang beragama Budha dan Kerajaan Majapahit yang beragama Hindu. Kedua kerajaan itu pernah mempersatukan seluruh kepulauan Indonesia. Sampai sekarang, pengaruh dari lapisan yang berasal dari India ini masih tetap sangat kuat di Pulau Jawa dan Bali. Seperti telah kita catat tadi, Injil telah tiba di Indonesia pada abad ke-7 dalam kurun tibanya lapisan kedua ini di Indonesia, tetapi pengaruh Injil itu hanya terbatas kepada Fansur (Barus) saja dan pengaruh itu kemudian lenyap tanpa meninggalkan bekas.
Lapisan ketiga dengan datangnya Islam. Di banyak daerah di Indonesia peta
keagamaan dan kebudayaan mengalami perubahan yang mendasar sebagai akibat kedatangan Islam itu. Muncullah banyak kerajaan Islam di berbagai daerah, tetapi tidak sempat ada kerajaan Islam yang mempersatukan seluruh kepulauan Indonesia, seperti pernah terjadi oleh Kerajaan Budha Sriwijaya dan oleh Kerajaan Hindu Majapahit. Injil tidak hadir di Indonesia selama tibanya lapisan ketiga ini.
74
Masih ada pengaruh kebudayaan yang cukup luas yang berasal dari Cina. Tetapi pengaruh ini tidak pernah sempat menjadi suatu lapisan tersendiri dalam peta
keagamaan dan kebudayaan di Indonesia. Hal Ini berbeda dengan sejarah Vietnam, di mana pengaruh kebudayaan dan keagamaan yang berasal dari Cina merupakan lapisan yang utama.
Lapisan keempat tiba di Indonesia dengan datangnya pengaruh kebudayaan dan keagamaan yang berasal dari Eropa atau lebih tepat dari Eropa Barat atau Barat yang modern. Mula-mula datang orang-orang Portugis dan kemudian orang-orang Belanda. Injil tiba di Indonesia untuk kedua kalinya bersamaan dengan kedatangan lapisan keempat yang berasal dari Eropa atau Barat modern ini.
Namun, Injil tidak identik dengan Eropa. Injil mula-mula justru telah tiba di Eropa dari Asia, yaitu dari Yerusalem. Telah kita lihat bahwa Rasul Paulus dituntun oleh Roh Kudus untuk membawa Injil dari Asia ke Eropa. Agama Kristen bukan agama Eropa. Eropa justru telah mengalami perubahan yang mendasar sebagai akibat dari datangnya kekristenan dari Asia ke Eropa. Perubahan yang sangat penting terjadi setelah
Renaissance pada abad ke-14. Sebagai hasil dari proses perubahan sejak
Renaissance itu, muncullah di Eropa apa yang disebut peradaban modern. Eropa beralih dari pramodern menjadi modern. Dengan ini, Eropa Barat mengembangkan peradaban modern yang pertama di dunia kita ini.
Apakah yang disebut modern itu? Pada dasarnya, peradaban yang modern itu memperlihatkan pola pikir, pola kerja, dan pola hidup baru yang paling sedikit
memperlihatkan dua ciri yang tidak terdapat pada peradaban-peradaban pramodern, yaitu ciri kerasionalan dan ciri kedinamikaan. Mengapa kemodernan itu muncul untuk pertama kali di Eropa Barat, sedangkan sebelum itu banyak peradaban di luar Eropa Barat termasuk peradaban Arab-Islam, yang lebih unggul dari peradaban Eropa Barat itu? Ada pandangan yang melihat adanya dua sumber utama bagi lahirnya kemodernan itu di Eropa Barat. Pertama, rasionalitas yang berasal dari filsafat Yunani dan kedua kedinamikaan yang berasal dari perkembangan dari suatu Alkitab yang melihat adanya dinamika perubahan dalam sejarah awal menuju suatu tujuan atau penggenapan yang terletak di depan. Dengan demikian pemikiran modern berorientasi ke masa depan, dan tidak ke masa lampau, seperti halnya dalam pemikiran pramodern yang tradisional. Setelah Eropa Barat menjadi modern, mereka menjalankan ekspansi dan eksploitasi di seluruh dunia. Rahasia keunggulan Barat selama beberapa abad tidak terletak pada ke-Baratannya, tetapi pada kemodernannya. Semua perlawanan dari bangsa-bangsa non-Barat terhadap ekspansi dan eksploitasi oleh Eropa modern itu, yang dijalankan secara pramodern, menemui kekalahan. Di Amerika dan Australia, penduduk asli praktis dimusnahkan oleh ekspansi dan eksploitasi oleh Barat modern itu. Kedua benua itu praktis menjadi perluasan dari dunia Barat. Cina tidak ditaklukkan tetapi mengalami revolusi yang berkepanjangan, yang tampaknya masih terus berlangsung sampai sekarang ini. Jepang berhasil untuk mengambil alih kemodernan dan mengalahkan bangsa Barat dalam perang Rusia 1904 -- 1905. Ini membuktikan bahwa apabila suatu
75
bangsa non-Barat berhasil menguasai kemodernan, dia tidak akan terus mengalami kekalahan dari bangsa Barat.
India, Indonesia, Vietnam, dan bangsa-bangsa lain dijadikan jajahan dalam rangka ekspansi dan eksploitasi oleh Barat modern itu, yang mula-mula dipelopori oleh Spanyol dan Portugal, yang diperintah oleh raja-raja yang beragama Roma Katolik. Raja-raja itu memerintahkan armada-armada mereka berlayar ke Amerika dan ke Asia untuk
menaklukkan daerah-daerah dan bangsa-bangsa yang mereka temui guna memperoleh keuntungan dan sekaligus guna menyebarkan Agama Kristen Katolik. Kemudian yang menjadi pelopor-pelopor dalam ekspansi dan eksploitasi oleh Barat modern itu ialah orang-orang Inggris dan Belanda, yang merupakan bangsa-bangsa Kristen Protestan. Mereka ini memusatkan perhatiannya terutama kepada keuntungan. Mereka hanya memunyai perhatian yang sangat terbatas pada penyebaran Agama Kristen Protestan melalui penaklukan seperti dijalankan oleh Spanyol dan Portugal. Apa yang dialami oleh bangsa-bangsa non-Barat dan non-modern yang lain, kita alami juga di Indonesia. Dalam semua perlawanan yang kita jalankan secara pramodern terhadap ekspansi dan eksploitasi oleh Barat modern yang datang tanpa diundang itu, kita mengalami
kekalahan. Orang-orang Portugis yang mula-mula datang menyebarkan agama Kristen Katolik di beberapa daerah, yaitu di Maluku, Flores, dan di daerah lain seperti Timor. Belanda yang tiba belakangan mengusir orang-orang Portugis dan lambat laun mereka menegakkan kekuasaannya. Di Maluku, sebagian besar orang-orang Kristen Katolik menjadi Kristen Protestan setelah Belanda berkuasa di sana, tetapi pada umumnya Belanda yang Protestan itu memunyai perhatian yang terbatas pada penyebaran agama Kristen melalui penaklukan dibandingkan dengan orang-orang Portugis. Penyebaran Agama Kristen yang kemudian terjadi di berbagai daerah adalah terutama hasil pekerjaan dari perkumpulan-perkumpulan pekabaran Injil, yang tidak ada kaitannya dengan Pemerintah Belanda. Sebagian dari perkumpulan-perkumpulan pekabaran Injil itu tidak berpangkalan di negeri Belanda, tetapi di Jerman dan Swiss. Di beberapa daerah, yang sebelumnya tidak atau hampir tidak disentuh oleh apa yang kita sebut dengan lapisan kedua dan ketiga, yaitu lapisan yang berasal dari India dan lapisan Islam, agama Kristen menjadi agama rakyat. Kita sebut sebagai contoh, Tapanuli Utara, Simalungun, Karo, Nias, Toraja, Minahasa, Sangir, sebagian Sulawesi Tengah,
Kalimantan Tengah, Sumba, Timor, Flores, Maluku, dan Irian Jaya.
Di banyak daerah lain, lahir gereja-gereja yang jumlah anggotanya relatif kecil dibanding dengan penduduk daerah itu, seperti di Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Bali, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah, Sulawesi Utara. Ada juga gereja-gereja yang mula-mula beranggotakan keturunan Cina. Di beberapa daerah gereja-gereja hampir tidak sempat berakar. Dengan demikian, telah diletakkan landasan bagi peta keagamaan dan kebudayaan di Indonesia, yang pada dasarnya masih tetap bertahan sampai sekarang ini.
Dalam hubungan itulah, kita harus tempatkan peristiwa yang terjadi 360 tahun yang lalu (sesuai tahun penulisan buku ini -- Red.), yaitu penerbitan kitab pertama dari Alkitab dalam bahasa Indonesia (Melayu). Hal itu penting sebab bahasa Melayu memunyai posisi yang penting di seluruh kepulauan Indonesia bahkan juga di beberapa daerah di luar Indonesia, sebagai bahasa pergaulan dengan bangsa-bangsa asing. Posisi bahasa
76
Melayu itu dapat dibandingkan dengan posisi bahasa Yunani di kawasan sekitar Laut Tengah sebelum dan sesudah lahirnya gereja purba. Penerbitan kitab pertama dari Alkitab dalam bahasa Melayu yang terjadi 360 tahun yang lalu telah disusul oleh upaya penerjemahan dan penerbitan yang lebih lanjut sehingga akhirnya tersedia Alkitab yang lengkap dalam bahasa Melayu. Yang paling terkenal ialah terjemahan Leydecker, yang memunyai pengaruh yang sangat luas, antara lain di bagian timur Indonesia.
Setelah pemerintahan selingan Inggris pada awal abad ke-19 berakhir, kembalinya kekuasaan Belanda telah disambut dengan pemberontakan-pemberontakan di tiga daerah, yaitu pemberontakan Paderi di Sumatera Barat, yang bercorak Islam Wahabi; pemberontakan Pangeran Diponegoro di pulau Jawa yang bercorak Islam Jawa; dan pemberontakan Pattimura di Maluku yang bercorak Kristen Ambon. Konon waktu Pattimura terpaksa harus meninggalkan Kota Saparua, dia telah meninggalkan Alkitab di mimbar gereja Saparua yang terbuka pada Mazmur 17, dengan kalimat-kalimat awalnya yang berbunyi:
"Dengarlah, Tuhan, perkara yang benar, perhatikanlah seruanku; berilah telinga akan doaku, dari bibir yang tidak menipu. Dari pada-Mulah kiranya datang penghakiman; mata-Mu kiranya melihat apa yang benar".
Melalui Mazmur 17 itu Pattimura rupanya ingin menyampaikan pesan kepada
komandan pasukan Belanda yang memasuki kota Saparua, bahwa sekalipun Belanda menang, kebenaran adalah di pihak Pattimura dan teman-teman seperjuangannya. Alkitab yang ditinggalkan oleh Pattimura terbuka pada Mazmur 17 di mimbar gereja Saparua agaknya ialah Alkitab terjemahan Leydecker.
Dalam rangka pekabaran Injil di berbagai daerah yang dijalankan secara intensif sejak abad ke-19 dan yang seperti kita lihat tadi banyak dijalankan oleh
perkumpulan-perkumpulan pekabaran injil yang tidak terkait dengan Pemerintah Kolonial Belanda, dengan sendirinya telah lahir terjemahan-terjemahan Alkitab dalam berbagai bahasa daerah. Untuk itu, bahasa-bahasa daerah itu telah dipelajari sebaik-baiknya secara ilmiah. Dalam hubungan itu, salah satu tokoh yang paling menarik ialah Herman
Neubronner van der Tuuk (1824-1894). Atas penugasan oleh Lembaga Alkitab Belanda, van der Tuuk telah memelopori upaya untuk mempelajari bahasa Batak dan kemudian bahasa Bali secara ilmiah.
Pada peresmian Perpustakaan Nasional pada tanggal 11 Maret 1989 di Jakarta, Presiden Soeharto berkata bahwa di Perpustakaan Nasional itu terdapat naskah terjemahan Alkitab dalam bahasa dan aksara Batak. Naskah itu agaknya adalah terjemahan oleh van der Tuuk, yang di Tanah Batak terkenal dengan nama Pandortuk. Di Bali dia terkenal dengan nama Tuan Dertik.